03- Pelukan Hangat

Ya Tuhan, dia tadi bilang terserah, 'kan? Apa aku tidak salah mendengar kalimat keramat yang biasanya diucapkan seorang wanita itu dari mulut Paman Raiden? batin Raina dengan perasaan dongkol.

"Paman, apa Paman benar-benar akan membiarkan aku tidur di sini?" Raina menatap Raiden yang masih sibuk dengan ponselnya. Padahal awalnya dia iseng berbicara kalau akan tidur di lantai hanya karena ingin membuat Raiden yang tidur di sana, tetapi ternyata jawaban suaminya itu tidak sesuai dengan ekspektasinya karena malah menjawab dengan kata terserah. Terserah menurut Raina itu memiliki banyak arti sehingga dia bingung dan pusing sendiri dan menjadi marah kepada pamannya itu.

"Aku bilang terserah, Rain. Bukannya kamu dulu yang mengatakan akan tidur di sana?" Raiden hanya menatap Raina dengan sudut matanya seolah tidak tertarik bertatap muka.

"Tapi ini 'kan kamarku, seharusnya yang tidur di bawah itu Paman, bukan aku!" protes Raina sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai dengan sangat kesal.

"Sekarang kamarmu adalah kamar kita, sebagai suami istri sudah sepatutnya kita tidur di kamar dan ranjang yang sama, Rain." Raiden mengangkat kedua alisnya tinggi.

"Tapi kita menikah bukan karena saling mencintai, Paman. Aku bahkan mau menikah denganmu karena terpaksa dan tekanan dari papa. Andai saja papa tidak meminta kita untuk menikah, mungkin aku masih lajang sampai sekarang." Rain langsung cemberut, masih belum terima dengan semua yang terjadi padanya.

"Meskipun begitu, kita tetaplah suami istri yang sah di mata hukum agama dan negara. Lagipula mungkin tidak akan ada lagi pria yang mau menikahi kamu karena kamu sudah tidak gadis lagi sekarang." Raiden meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur kemudian dia turun dari tempat tidur dan berdiri tepat di depan Raina. Tangannya terulur menyentuh dagu Raina kemudian dia angkat sampai istrinya itu mendongak dan tatapan mereka bertemu.

"Tapi itu salahnya, Paman. Kenapa Paman malah tidur denganku yang merupakan anak dari sahabat Paman sendiri? Di mana akal sehat Paman ketika melakukan hal itu?" Raina menatap sengit Raiden, tetapi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Kamu sendiri yang memintanya kalau lupa!"

"Tidak mungkin aku memintanya, aku gadis waras, Paman!"

"Tapi itulah fakta yang sebenarnya, kamu meminta aku menyentuhmu dengan paksaan!" sentak Raiden masih dengan memegang dagu istrinya.

"Paman bisa saja menolak, Paman Raiden 'kan laki-laki dan tenaganya lebih besar daripada seorang wanita!" Raina masih saja mencari pembelaan dan memojokkan Raiden terus menerus.

"Lupakan sama semuanya, toh semua sudah terjadi dan tidak bisa diperbaiki lagi. Lebih baik kamu bersikaplah baik sebagai seorang istri sekarang!" Raiden menepuk pundak kepala Raina beberapa kali kemudian dia langsung merebahkan diri di kasur milik Raina yang tidak terlalu besar, tetapi sangat muat ditiduri dua orang.

"Paman Rai, tolong tidurlah di bawah"

"Kenapa aku harus susah payah tidur di lantai sementara ada ranjang luas seperti ini?" Raiden enggan bangun.

"Itu kasurku."

"Kasur kita berdua, Rain. Cepat tidurlah di sampingku atau tidur saja di lantai seperti kemauan kamu tadi!" perintah Raiden yang membuat bibir Raina mengerucut dan tidak lama setelah itu Raina langsung berbaring di lantai dengan alas bad cover yang digelar tadi.

Raiden membiarkan saja karena dia tidak mau memaksa Raina tidur dengannya.

Malam semakin larut, dua manusia itu sudah terlelap. Namun, sekitar pukul setengah satu dini hari, Raina terbangun dan merasakan tubuhnya sakit semua, dia juga merasa sangat kedinginan sampai akhirnya dia pindah berbaring di sebelah suaminya dan meringkuk di sana tanpa peduli dengan hal lain lagi.

Raina berusaha memejamkan mata lagi, tetapi sangat sulit sampai akhirnya diam-diam dia menyusup masuk ke dalam pelukan Raiden, menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu dan lama-kelamaan dia terlelap juga.

Saat pagi hari dan terbangun, Raina mendapati dirinya dan Raiden saling berpelukan dan ketika dia menatap wajah suaminya itu, ternyata suaminya juga sudah bangun dan menatapnya dengan hangat.

"Tidur di pelukanku ternyata membuat kamu sangat nyenyak ya?" ledek Raiden sambil mencium dahi Raina sebentar.

"Tubuhmu hangat, makannya aku bisa nyenyak," jawab Raina lirih, dia tidak munafik kalau nyaman sekali tidur dengan dipeluk suaminya sendiri.

"Kamu suka?"

"Biasa saja." Padahal tangan Raina sebagian masih melingkar di pinggang suaminya.

"Raina."

"Hm?" Raina menatap kedua mata pamannya lekat, indah sekali mata itu dan Raina merasa dirinya seolah tenggelam di sana.

"Jadi istriku yang baik mulai sekarang, bisa?" Raiden merapikan rambut Raina yang sedikit menutup wajah cantiknya.

"Kenapa memangnya Paman ingin aku jadi istri yang baik?" Raina benar-benar ingin tahu alasannya.

"Karena aku sayang sama kamu."

"Sayang sebagai apa?" tanyanya dengan menatap lekat mata pria itu.

"Sebagai istri."

"Paman, apa benar kalau malam itu kita melakukan hubungan suami istri?" Raina sampai sekarang masih ragu dan sulit percaya dengan kenyataan itu.

"Kenapa kamu bertanya hal itu? Apa kamu tidak percaya dengan apa yang telah terjadi?"

"Bukan begitu, Paman. Kata teman-temanku yang pernah melakukannya, katanya pertama kali itu akan terasa sakit, tetapi kenapa aku tidak merasakan apa pun ketika bangun tidur waktu itu?" Raina menarik napas panjang kemudian membuangnya perlahan.

"Darah di sprei sudah menjadi bukti, Rain."

"Mungkin saja itu bukan darahku."

"Lantas darah siapa?"

"Mana aku tahu."

"Rain, kamu membenciku?" tanya Raiden sungguh-sungguh.

"Iya, aku sangat membencimu karena telah merusak aku dan membuat pernikahanku dengan Kanan batal. Paman Raiden tahu 'kan kalau Kenan adalah cinta pertamaku, tetapi aku malah gagal menikah dengannya dan menikah denganmu." Raut wajah Raina langsung berubah sendu, tetapi dia bicara dengan sopan kepada Raiden, tidak seperti kemarin ataupun semalam yang tidak pernah ramah serikat pun.

"Mungkin ini takdir karena jodoh kamu yang sebenarnya adalah aku." Raiden begitu percaya diri ketika mengatakannya.

"Alasanmu!." Raina kemudian duduk dan meregangkan otot-otot tubuhnya. "Aku memang membenci dan marah padamu, tetapi aku akan mencoba hidup denganmu sebagai suami dan istri, jangan salahkan aku kalau sewaktu-waktu aku membuat Paman Raiden marah atau tidak patuh karena semua ini terlalu tiba-tiba dan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya." Raina menepuk pipi Raiden dua kali kemudian dia melompat turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.

Raiden hanya tersenyum tipis ketika mendengar kata-kata istrinya itu. Dia lalu melipat kedua tangan di belakang kepala dan dijadikan bantal. "Rain, akan kepastian kamu jatuh cinta padaku dan hanya menatap aku seorang sebagai pria yang kamu cintai," gumamnya dengan seringai tipis penuh arti.

...~tbc~...

...Likenya jangan lupa!...

Terpopuler

Comments

Rynda

Rynda

hmmm...masih misteri

2023-10-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!