Tiba di rumah sakit, mereka bertiga langsung pergi menuju ruangan Raina dirawat setelah bertanya kepada petugas resepsionis. Ketika mereka baru saja sampai di depan ruangan itu, pintu tiba-tiba terbuka dan Raiden keluar dari sana dengan penampilan sedikit berantakan dan raut wajah yang lesu.
"Kalian?" kejut Raiden ketika melihat keluarga Raina di depan pintu.
"Kami ke sini mau menjenguk, Raina. Minggir, Paman!" Renan mendorong tubuh Raiden ke samping kemudian dia dan kedua orangtunya langsung menerobos masuk tanpa meminta izin dulu dengan Raiden. Mereka masih kesal dengan pria itu sehingga tidak mau pura-pura baik di depannya.
Raiden menatap mereka bertiga sekilas kemudian menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Setelah itu, dia menyusul masuk dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin.
Saat Renan, Sebastian, dan Sinta masuk ke ruangan itu, mereka melihat Raina yang terbaring di atas brankar dengan infus terpasang di tangan kirinya. Ketiganya buru-buru menghampiri Raina dengan mata berkaca-kaca.
"Papa, Mama, Kakak, kalian ke sini?" Raina mencubit pipinya sendiri menggunakan tangan kanan untuk memastikan jika dirinya sedang tidak bermimpi saat ini. "Sakit," gumamnya yang kemudian langsung tersenyum karena rasa sakit itu membuktikan semuanya nyata, keluarganya datang menjenguknya dan hal itu membuat Raina sangat bahagia sampai meneteskan air mata.
"Sayang, maaf karena mama baru menemui kamu setelah satu bulan lebih. Kamu kenapa bisa sakit, Rain?" Sinta menggenggam tangan kanan Raina kemudian mengecupnya dengan lembut. Matanya basah dan air mata sudah mengalir bebas di bibi.
"Iya, Rain. Kenapa kamu bisa sakit?" tanya Renan yang berdiri di sebelah brankar seraya mengusap lembut kepala adiknya itu.
Raina terdiam beberapa saat, padahal semalam dia berniat menceritakan semua yang terjadi padanya dengan mereka. Namun, ketika mereka benar-benar bertemu, Raina malah ragu dan niatnya untuk bercerita langsung menghilang begitu saja. Dia marah, takut, kecewa, dan benci di waktu yang sama dengan keluarganya, tetapi mendapati mereka masih peduli membuat dia juga bahagia.
Raina ingin memberitahu papanya kalau ternyata selama ini papanya sudah salah paham dengan kejadian satu bulan lalu. Namun, jika dia bercerita, dia pikir sudah tidak bisa merubah semua hal karena dirinya sudah terlanjur menikah dengan Raiden, bahkan kegadisannya benar-benar sudah hilang karena Raiden.
Kalau aku menceritakan semuanya, apa Papa akan menyuruh aku dan Paman Raiden bercerai? batinnya takut.
Iya, Raina takut kalau Raiden menceraikannya setelah berhasil menjadikan dia istri sepenuhnya semalam. Raina takut menjadi janda muda dan sulit mendapat pasangan lagi karena sudah tidak gadis. Dia juga tidak mau dipandang buruk oleh masyarakat kalau menjadi janda di usia muda, padahal usia pernikahannya masih sangat muda.
"Kenapa kamu malah diam, Rain? Ayo jawab pertanyaan Mama!" perintah Renan mendesak.
"Dia demam tinggi karena terlalu lama berendam air dingin semalam," sahut Raiden menjawab lebih cepat. Dia berkata setengah jujur karena kalau seratus persen jujur takut akan memancing amarah mereka.
"Aku tidak bertanya padamu, Raiden!" bentak Sinta sangat keras sampai membuat Raina terkejut.
"Maaa!" rengek Raina pelan karena jujur saja teriakan Sinta membuat kepalanya semakin pening.
"Ya, Sayang? Maaf mama membuat kamu terkejut." Sinta langsung mengecup tangan putrinya berkali-kali, meminta maaf dengan tulus karena telah membuatnya terkejut.
"Rain, apa benar perkataan suamimu?" Renan menatap adiknya sendu.
"Iya, Paman Raiden benar. Aku berendam terlalu lama semalam sehingga membuatku demam tinggi." Raina memilih membenarkan karena dia tidak mau mencari masalah.
"Kamu bukan tipe orang yang mudah sakit, Nak," sahut Sebastian yang entah kenapa tidak terlalu percaya dengan pengakuan suami istri itu.
Raina langsung memejamkan mata, tidak berani menatap Sebastian ketika papanya itu menatap matanya dalam-dalam. Jika dia membalas tatapan Sebastian, bisa dipastikan papanya akan tahu kalau dia sedang berbohong sekarang.
Sinta tanpa sengaja melihat banyak sekali tanda merah di leher Raina ketika putrinya itu memalingkan wajah ke arah lain. Dia memerhatikan dengan seksama dan langsung paham kalau itu kiss ma*rk. Tatapannya sekarang langsung mengarah kepada Raiden yang berdiri di dekat Renan, dia menatap adiknya dengan tajam dan marah.
"Raiden!" panggilnya geram.
"Ya, Sin?"
"Keluar sekarang karena kakak mau bicara sama kamu!" pinta Sinta. Dia lalu menatap putrinya lagi dengan hangat dan penuh kasih sayang. "Rain, mama keluar sebentar!" pamitnya kemudian beranjak berdiri dan mengecup dahi putrinya sebentar sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu bersama Raiden.
Raina hanya menatap keduanya sampai menghilang di balik pintu. Dia lalu meminta tolong kepada Renan untuk membantunya duduk. "Kak, apa kalian sudah tidak marah denganku?" tanyanya takut-takut.
"Kami tidak marah, Rain. Kami hanya sedikit kecewa denganmu. Tapi, kami masih sayang menyayangi kamu," jawab Renan sambil memeluk adik kecilnya.
"Kalau Papa bagaimana?" Raina mendongak, menatap papanya yang masih diam. Kepalanya menempel di dada bidang Renan dan dia sangat suka karena bisa mencium aroma tubuh kakaknya yang khas dan menenangkan.
"Papa juga tidak marah, maaf karena papa pernah membuat kamu sedih." Sebastian mengusap pelan kepala putrinya. "Rain, papa yakin kalau sebenarnya kamu sakit bukan karena terlalu lama berendam air dingin, papa yakin ada penyebab lain yang membuat kamu sampai sakit seperti ini. Papa harap, kamu mau mengatakan alasan sebenarnya dengan jujur!" katanya lagi dengan nada lembut, tetapi penuh penekanan.
Glek!
Raina menelan salivanya dengan susah payah karena ternyata Sebastian tahu kalau dia sedang berbohong.
"Maaf, Pa. Raina tidak bisa memberitahu alasannya," katanya dengan lirih dan takut-takut.
"Jadi, kamu berbohong tadi?" Mata Renan membola, tidak terima ketika tahu dirinya dibohongi sang adik.
"Maaf, Kak." Raina menunduk.
"Jangan bilang kalau Raiden yang sudah membuat kamu sakit?" tebak Sebastian.
Raina tidak menjawab dan lebih memilih diam karena takut emosi papanya akan meledak saat itu juga.
Sementara itu, Sebastian menyimpulkan diamnya Raina sebagai jawaban 'iya' dari putrinya itu. Tangannya langsung terkepal erat dan tanpa bicara apa pun, dia langsung menyusul istrinya keluar kamar karena dia juga ingin bicara dengan Raiden saat itu juga. Sebastian menoleh ke kanan dan kiri, tetapi tidak melihat istri dan adik iparnya di sana, dia pun mencoba untuk pergi ke taman karena yakin kalau mereka pasti pergi ke sana.
Dugaan Sebastian tepat sasaran karena dia melihat Sinta dan Raiden berdiri di dekat bangku. Sebastian sempat bertanya-tanya kenapa mereka tidak duduk saja, tetapi kemudian dia tidak terlalu peduli dan memilih langsung menghampiri mereka.
"Brengsek kamu, Raiden! Kamu telah menipu kami semua! Saya tidak menyangka kalau kamu memang sudah sejak lama mengincar Raina. Oke, kamu memang bukan Paman Kandung Raina karena kamu Paman Yolanda sehingga bisa berbuat sesuka hati seperti ini!" teriak Sinta yang membuat langkah Sebastian terhenti.
...~tbc~...
...Wah, ternyata Raiden bukan adik kandung mamanya Raina gaes....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments