04- Rumah Kita

"Kenapa beberapa bajuku dimasukkan ke dalam koper? Memang kita mau ke mana, Paman?" Raina langsung menghampiri Raiden yang sedang mengemasi beberapa barang miliknya.

"Pulang ke rumah kita," jawab Raiden tanpa mengalihkan fokusnya dari pakaian Raina.

"Rumah kita? Aku tidak mau pergi, aku mau kita tinggal di sini, Paman!" Raina berjongkok kemudian menahan tangan Raiden yang sedang menyusun baju di kopernya.

"Tidak, kamu istriku sekarang dan harus tinggal denganku mulai hari ini. Papa dan mamamu juga sudah setuju dengan keputusanku dan ingat kalau kamu harus menjadi istri yang baik untukku. Sebagai seorang istri, sudah sepantasnya kamu ikut di mana pun suami kamu tinggal, Rain!" Raiden sebenarnya bukan tipe pria yang banyak bicara dan terkesan pendiam, tetapi jika bersama Raina maka sikapnya bisa berubah 180 derajat.

Raina melotot hendak protes, tetapi apa yang dikatakan suaminya itu memang benar adanya. Raina ingin menolak ikut, tetapi dia yakin kalau papanya pasti akan memaksa dia ikut dengan Raiden. Raina langsung mengembuskan napas dengan kasar kemudian melipat kedua tangan di depan dada. "Oke, memangnya kita akan tinggal di mana, Paman?" tanyanya dengan suara sendu.

"Rumah kita, bukannya aku sudah bilang tadi?" Raiden hampir saja emosi meladeni pertanyaan istri kecilnya itu.

"Maksudku, rumah kita itu di mana? Kontrakan, mansion, apartemen, penthouse, atau kolong jembatan?" tanya Raina lagi.

"Kamu mau tinggal di mana, Rain?" Raiden sekarang malah menatap istrinya itu dengan seksama, Raina terlihat cantik tanpa riasan dan wajahnya terlihat jauh lebih muda dari usianya sekarang, dia seperti gadis remaja yang masih sekolah.

"Kenapa malah jadi tanya aku? Aku 'kan akan ikut ke mana pun Paman pergi," kata Raina sambil menekan setiap kata dengan raut wajah dongkol.

"Kalau begitu diam saja dan ikut aku pergi maka kamu akan tahu di mana kita akan tinggal nanti!"

Raiden kembali mengemasi barang-barang Raina dan setelah selesai dia langsung mengajak Raina bersiap dan turun ke lantai satu tempat keluarga wanita itu sedang berkumpul untuk sarapan. Jika biasanya suasana di ruang makan sangat hangat, sekarang justru terasa sangat dingin dan mencekam, semua orang diam setelah Raina dan Raiden bergabung dengan mereka. Tatapan kebencian bahkan terlihat jelas mereka tujukan untuk Raiden dan entah kenapa hal itu membuat perasaan Raina justru tidak baik.

Raina merasa kasihan dengan suaminya yang dibenci seluruh keluarga gara-gara kesalahan yang suaminya itu perbuat, tetapi Raina juga menyalahkan dirinya sendiri karena jika bukan karena dirinya, mungkin semua ini tidak akan terjadi dan keluarga mereka masih dipenuhi dengan kehangatan seperti sebelumnya.

Semua orang fokus pada makanan masing-masing dan tidak ada obrolan sama sekali di sana. Raina menatap mama dan papanya bergantian, tetapi saat tatapan mereka bertemu, kedua orangnya justru memalingkan wajah seolah-olah tidak suka bertatapan dengannya. Terlihat sangat jelas dari raut wajah mereka jika kedua orang itu sedang sangat kecewa padanya.

Raina sangat sedih, tetapi dia sadar diri kalau semua memang salahnya. Dia hanya berharap keluarganya bisa kembali hangat seperti dulu lagi.

"Sinta, saya akan membawa Raina tinggal bersama saya mulai hari ini," kata Raiden tiba-tiba, membuka percakapan di antara keheningan yang melanda.

"Kamu sudah mengatakannya tadi dan kami juga sudah memberi izin, jadi jangan bicara lagi!" sentak Sinta sambil memalingkan wajah, dia benar-benar tidak mau menatap wajah sahabatnya lagi karena terlalu kecewa dengannya.

"Sahabatku jadi anakku, haha lucu sekali," sindir Renan seraya menatap sengit Raiden.

"Kamu jadi bingung sendiri 'kan mau memanggil kita papa dan mama atau dengan nama saja?'" Sebastian berdecak kemudian tersenyum sinis pada sahabat sekaligus menantunya itu. "Gara-gara perbuatan kamu itu, hubungan kerjasama dua perusahaan terpaksa dihentikan dan menimbulkan kerugian yang cukup besar, bahkan kami juga harus menanggung malu karena anak kami dituduh sebagai pengkhianat ulung," imbuhnya dengan kata-kata yang diucapkan begitu pedas dan menusuk.

Raina bahkan langsung menunduk ketika mendengar ucapan papanya itu. Matanya terasa panas, dia menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak menangis di sana, dia terluka, sangat-sangat terluka karena Sebastian benar-benar sangat kecewa dengannya dan Raiden.

Raina sampai sekarang memang masih belum ingat kenapa dirinya bisa berakhir tidur satu kamar dengan Raiden, tetapi hatinya masih tetap yakin kalau malam itu mereka tidak melakukan hubungan suami istri.

"Maafkan saya, Bas. Saya akan mengganti semua kerugian itu," kata Raiden dengan begitu percaya diri, walau diucapkan dengan nada rendah penuh penyesalan.

"Mengganti dengan uang ayahmu?" ketus Sinta.

"Tidak, Sin. Saya akan mengganti dengan uang saya sendiri, harta ayah adalah hartanya sendiri dan saya tidak akan pernah mengusik apa pun yang bukan hak saya." Raiden menatap Sinta sekilas kemudian tersenyum masang karena sahabat perempuannya itu benar-benar tidak mau menatapnya walau hanya satu detik.

"Maafkan Rain, Pa, Ma, Kak." Raina menatap keluarga secara bergantian kemudian dia menarik tangan Raiden untuk segera berdiri dari kursi makan. "Ayo kita pergi sekarang saja mumpung masih pagi, Paman!" ajaknya dengan suara serak dan air mata sudah mengalir cukup deras di pipinya.

"Kami akan pergi sekarang." Raiden kembali berpamitan. Setelah itu, dia pun mengajak Raina keluar dari rumah tersebut dengan merangkul bahunya, sementara barang-barang milik Raina sudah dimasukkan ke bagasi mobil oleh asisten Raiden.

"Masuklah!" perintah Raiden seraya membuka pintu mobil bagian belakang.

Raina patuh, dia langsung masuk dan duduk dengan nyaman di kursi penumpang. Tidak lama setelahnya Raiden menyusul masuk dan duduk tenang di sebelahnya, sementara asisten Raiden yang bernama Julian akan menjadi sopir untuk mereka.

"Kita akan ke mana, Tuan?" tanya Julian yang sudah siap mengemudi.

"Penthouse!" jawab Raiden cepat dan matanya fokus menatap sang istri yang menyandarkan kepala di kaca mobil dan menatap ke arah luar.

"Baik, Tuan." Julian langsung melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang menuju tempat tujuan.

Tanpa mereka sadari, sejak mereka keluar dari mansion yang selama ini Raina tinggali, Sebastian, Sinta, dan Renan menatap kepergian mereka dari balik jendela yang tirainya sengaja dibuka sedikit. Mereka terlihat sangat bersedih karena princess mereka dibawa pergi, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena memang sudah seharusnya hal ini terjadi.

"Mama sangat berharap Raina bisa hidup bahagia dengan Raiden, Pa," gumam Sinta sambil menghambur ke dalam pelukan suaminya.

"Papa juga berharap demikian, Raiden sudah berjanji kepada kita kalau dia akan membuat Raina bahagia, tetapi jika hal itu tidak dia lakukan, maka papa akan mengambil Raina secara paksa darinya," ucap Sebastian seraya memeluk tubuh istrinya itu dengan erat dan mencium puncak kepalanya beberapa kali.

...~tbc~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!