06-Benci

"Jadi, yang benar itu pernah atau belum Raina?" Yolanda gemas sendiri dengan jawaban sahabatnya itu.

"Aku merasa belum, tetapi orang-orang yang memergoki aku tidur di kamar yang sama dengan pamanmu itu berpikir kalau kami sudah melakukan hubungan suami istri. Yolanda, kamu pernah bilang sama aku kalau pertama kali melakukan hubungan suami istri itu pasti di wanita akan merasa kesakitan walaupun itu dilakukan dengan lembut. Kamu juga bilang biasanya kalau masih gadis bisa keluar darah dan di sprei tempat aku tidur saat itu memang ada darahnya, cuma aku tidak merasa sakit sama sekali." Raina mendongak, menatap wajah cantik sahabatnya yang terlihat sedang berpikir keras sekarang.

"Aneh sekali, apa mungkin kamu sebenarnya dijebak?" Yolanda mengutarakan isi pikirannya.

"Maksud kamu?"

"Kamu bilang kalau kamu bahkan tidak sadar kalau tidur satu kamar dengan pamanmu dan tidak tahu kenapa bisa ada di kamar yang sama dengannya, 'kan? Bisa jadi ada orang jahat yang menjebak kamu dengan membuat kalian tidur sekamar."

Perkataan Yolanda memang sangat masuk akal, tetapi siapa kira-kira orang yang tega menjebak Raina, selama ini dia tidak merasa punya musuh atau melakukan kesalahan dengan orang lain dan membuat orang lain tidak suka atau dendam padanya.

Raina memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat apakah ada orang yang mungkin tidak sengaja dia lukai atau tidak, tetapi dia memang merasa tidak pernah melukai orang lain.

"Kalau benar begitu, kira-kira siapa yang sudah menjebak aku?" tanyanya kepada Yolanda yang sekarang sibuk memakan keripik kentang.

"Rain, aku baru ingat kalau saat kamu menjalin hubungan dengan Kenan, ada wanita yang tidak menyukai hubungan kalian," celetuk Yolanda dengan sangat antusias, di bahkan sampai batuk-batuk karena tersedak keripik kentang yang dia makan tadi.

Raina buru-buru memberi minuman untuk sahabatnya itu dan setelah Yolanda minum, wanita itu kembali bicara.

"Sisil, kamu ingat dengan wanita itu, 'kan?" Yolanda menaikkan alisnya.

"Mahasiswa kampus sebelah?" tebak Raina yang langsung teringat dengan wanita itu.

"Yups, benar sekali. Dia adalah wanita yang tidak suka kamu menjalin hubungan dengan Kenan, semua orang tahu kalau Kenan dan Sisil sudah berteman sejak masih kecebong. Tidak menutup kemungkinan kalau Sisil diam-diam menyukai Kenan sehingga dia menjebak kamu agar pernikahan kalian batal." Yolanda memberi penjelasan yang benar-benar sangat masuk akal. Namun, hal itu tidak langsung membuat Raina percaya karena mereka tidak punya bukti yang mengarah ke sana.

"Kalau benar begitu, dia sudah berhasil membuat hubunganku dan Ken berakhir," cetus Raina dengan tidak bersemangat. "Aku rindu dengan Kenan dan ingin menjelaskan semuanya, tetapi itu sepertinya tidak bisa karena aku bahkan tidak tahu bagaimana kronologi yang sebenarnya tentang kejadian malam itu." Raina benar-benar sangat sedih.

"Lupakan saja Kenan, Rain! Kamu sudah mendapat pengganti yang lebih tampan dan mapan darinya. Pamanku itu benar-benar suami idaman," kata Yolanda asal-asalan.

"Bicara itu mudah, tetapi melakukannya sulit. Aku sebenarnya bisa saja melupakan semua itu dan mencintai suamiku yang sekarang, tetapi itu semua sangat sulit, Yola. Bayangkan kalau kamu tiba-tiba menikah dengan orang yang selama ini sudah kamu anggap seperti ayah sendiri, kalian dekat karena dia sahabat baik kedua orangtuamu, tetapi tiba-tiba status kalian berubah menjadi pasangan suami istri. Pamanmu menjadi menantu dari sahabat baiknya, sungguh membingungkan dan sangat rumit." Raina bahkan sampai sekarang masih belum berani menemui kedua orangtunya setelah pindah rumah karena merasa bersalah dan canggung dengan mereka.

"Benar juga sih." Yolanda mengangguk pelan.

"Satu hal lagi, Yola. Jarak umurku dengan Pamanmu itu cukup jauh. Lima belas tahun, Yola!" tekan Raina sambil membuang napas kasar.

"Saat Pamanku SMP atau mungkin kelas satu SMA, kamu baru lahir ke dunia. Bocil yang sudah akan punya bocil, lucu sekali," gumam Yolanda yang malah membayangkan sahabatnya itu akan punya anak dengan Raiden.

"Ck! Bicara denganmu malah membuat aku semakin emosi." Raina menyambar tasnya kemudian meninggalkan Yolanda begitu saja di kantin, tetapi tidak lama sahabatnya itu langsung menyusul dan merangkul bahunya sok akrab, ya walaupun mereka memang akrab sih.

...****************...

Raina baru saja keluar dari kelas ketika tiba-tiba seorang pria menarik tangannya dan memojokkan dirinya di dinding. Beberapa mahasiswa lain yang keluar setelahnya hanya menatap mereka dengan sinis, tidak peduli, dan ada juga yang jijik. Mereka pasti berpikir kalau Raina tidak tahu malu karena akan berciuman di tempat umum.

"Apa-apa kamu, Kenan!" sentak Raina ketika sadar pria yang memojokkannya tadi adalah mantan calon suaminya.

"Raina, apa kamu tidak memiliki niat untuk meminta maaf denganku setelah pengkhianatan kamu malam itu?" Kenan menatap lekat kedua mata Raina yang jernih, jujur saja dia sangat suka bertatapan dengan Raina dan memandangi mata indah itu.

Kenan sebenarnya masih sangat mencintai Raina dan berharap hubungan mereka bisa diperbaiki, tetapi dia juga kecewa karena Raina akhirnya malah menikah dengan pria lain.

Kenan sebenarnya tidak punya niat untuk membatalkan pernikahan mereka, tetapi desakan dari keluarga besarnya membuat dia mau tidak mau menurut karena diancam akan dikeluarkan dari keluarga besarnya.

Kenan tidak tahu apa yang membuat keluarganya memaksa dia untuk membatalkan pernikahan itu. Sebenarnya, keluarga Kenan lah yang meminta dia datang ke hotel dan memergoki keluarga Raina memarahi Raiden karena kepergok tidur satu sama dengan calon istrinya itu. Jika dipikir-pikir sekarang, bukankah hal itu sangat tidak masuk akal kalau dikatakan hanya sebuah kebetulan, semua yang terjadi seolah-olah sudah direncanakan sebelumnya, tetapi Kenan tidak pernah tahu fakta yang sebenarnya karena dia sudah terlanjur percaya kalau Raina berkhianat setelah dia melihat noda merah di kain sprei.

"Aku tidak pernah berkhianat dan tidak tahu kenapa bisa tidur dengan Paman Raiden," cicit Raina dengan kepala menunduk. Dia mencekeram ujung pakaian yang dikenakan untuk menahan diri tidak menangis saat itu juga.

"Tidak mungkin kamu tidak tahu, Raina. Kalian bahkan sampai melakukan hubungan suami istri!" bentak Kenan tanpa sadar karena emosinya kembali bergejolak.

"Aku minta maaf padamu kalau karena kejadian itu membuat kamu kecewa dan sakit hati padaku, Ken. Tapi, aku benar-benar tidak tahu kenapa bisa terjadi hal itu, sekarang semuanya telah berakhir dan meskipun aku ingin kembali denganmu, hal itu tidak akan mudah dilakukan karena keluargaku tidak akan pernah membiarkan aku melakukan perceraian." Raina menggigit bibirnya untuk menahan tangis, dia memberanikan diri menatap mata Kenan dan dia masih melihat jelas ada cinta untuknya di sana.

Sakit sekali, hati Raina benar-benar sakit, tetapi tidak banyak yang bisa dia lakukan karena semua sudah tidak lagi sama.

"Aku benci kamu, Raina!" setelah mengatakan itu, Kenan langsung pergi begitu saja meninggalkan Raina yang langsung berjongkok dan menangis sesenggukan.

...~tbc~...

Terpopuler

Comments

Rynda

Rynda

benci tp nyosor /Panic/

2023-10-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!