Beberapa saat sebelumnya.
Sinta mengajak Raiden ke taman karena dia ingin memastikan jika kecurigaannya tidak benar.
"Raiden, coba katakan dengan jujur apa yang membuat Raina sampai jatuh sakit begitu!" desaknya tanpa meminta Raiden duduk lebih dulu. Dia lebih memilih berdiri berhadapan dengan Raiden karena lebih nyaman.
"Saya sudah mengatakannya tadi, Sin." Raiden berbicara sopan mengingat wanita di depannya ini lebih tua darinya.
"Yakin kalau kamu tadi jujur?" Mata Sinta memicing sinis. Dia tidak akan percaya begitu saja dengan jawaban Raiden.
"Tentu saja saya jujur," kata Raiden datar dan tenang.
"Tapi kamu sedang berbohong, pasti ada hal lain yang menyebabkan Raina sakit!" bentak Sinta sambil menuding wajah sahabatnya itu.
"Oke, aku akan jujur. Aku tidak tahu berapa lama dia di kamar mandi, yang aku tahu, aku bangun tidur ketika mendengar suara tangisan dari kamar mandi dan sudah tidak mendapati Raina di sebelahku. Aku lalu masuk ke kamar mandi dan melihat Raina duduk di lantai dengan shower menyala dan mengalirkan air dingin ke tubuhnya. Dia menangis, mengumpat, dan marah padaku." Raiden mengatakannya dengan nada tinggi sehingga terkesan membentak mertua sekaligus sahabat perempuannya itu. Dia bahkan tidak bicara formal lagi dengannya.
"Kamu memaksa dia melayanimu?" Sinta masih menatap sengit sahabatnya. Membayangkan saja sudah membuatnya sangat marah, apalagi kalau apa yang dia duga benar-benar kenyataan.
"Aku tidak memaksa, dia mau melayani aku tanpa paksaan!" Raiden mengatakan dengan sebenarnya. "Semalam bahkan kami baik-baik saja setelah berhubungan," katanya dengan sangat jujur karena Raiden sendiri awalnya bingung alasan Raina sampai marah dan melampiaskan semuanya di kamar mandi.
"Dia marah setelah kalian berhubungan, 'kan?" tebak Sinta dan tidak salah, walau tidak benar juga.
"Ya, mungkin begitu." Raiden sedikit ragu.
"Dia sadar kalau masih peraw*n?" sindir Sinta yang membuat mata Raiden langsung membola.
"Bagaimana kakak tahu kalau Raina masih peraw*n?" Raiden langsung menutup mulutnya ketika sadar tidak kelepasan bicara. Padahal satu bulan yang lalu dia sudah membuat keluarganya yakin jika dia dan Raina telah tidur bersama, tetapi bisa-bisanya mulutnya malah keceplosan bicara jujur begitu.
"Sejak Raina dibawa pulang dari hotel. Awalnya kakak ragu, tetapi dari ciri fisik Raina jelas memperlihatkan kalau dia tidak seperti wanita yang baru saja berhubungan badan untuk pertama kali. Cara jalannya masih normal, tubuhnya biasa-biasa saja dan ketika aku bertanya apa dia merasa sakit atau tidak, dia selalu menjawab tidak." Sinta terkekeh sinis kemudian mendorong bahu adiknya sengit. "Tega kamu membohongi kami semua, Raiden!" kekeh Sinta dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, aku melakukannya karena tidak mau kehilangan Raina."
"Apa maksudmu?" Sinta menatap penuh tanya.
"Aku mencintai putrimu, Sin. Aku mencintainya sudah sejak lama, aku mengincar dia untuk aku jadikan istri!" bentak Raiden penuh amarah.
"Tapi dia anakku, Rai!" Sinta balas membentak.
"Ya, tapi di antara kami tidak ada hubungan darah sedikit pun. Aku hanya sahabatmu dan paman dari sahabat putrimu, aku mengetahui semuanya. Jadi, tidak salah kan kalau aku mencintai Raina?" Raiden meneteskan air mata ketika mengatakan semuanya dengan jujur, tentang dia yang sudah lancang mencintai putri sahabatnya.
"Aku tahu usia kami berjarak cukup jauh, tetapi aku aku benar-benar mencintai dia. Malam itu, aku sengaja memberi Raina obat tidur dan membawanya masuk ke kamar hotel. Aku membuka semua pakaiannya dan menodai sprei dengan darahku sendiri agar jika ada orang yang melihat kita, mereka akan mengira jika itu darah peraw*n Raina." Raiden kembali mengatakannya dengan menggebu-gebu, sekalian saja dia berkata jujur agar Sinta tahu kalau dia benar-benar mencintai Raina.
"Brengsek kamu, Raiden! Kamu telah menipu kami semua! Kakak tidak menyangka kalau kamu memang sudah sejak lama mengincar Raina. Oke, kamu memang bukan Paman Kandung Raina sehingga bisa berbuat sesuka hati seperti ini!" teriak Sinta sambil memukuli adiknya itu berkali-kali, melampiaskan amarah yang meluap dalam dirinya.
"Maaf, Sin. Aku terpaksa karena tidak mau melihat dia menikah dengan lelaki lain." Raiden menunduk, tidak berani lagi menatap Sinta seperti sebelumnya. Dia pun pasrah ketika mendapat amukan dari sahabatnya karena sadar diri kalau dirinya memang sangat brengsek.
"Kalau sampai suamiku tahu masalah ini, dia pasti akan semakin membenci kamu, Raiden!"
"Jadi, kamu menipuku, Raiden?" sentak Sebastian yang kedatangannya membuat Sinta dan Raiden kaget.
Wajah mereka terlihat pucat pasi, terutama Sinta karena takut suaminya itu akan marah dengannya.
Bugh!
Satu pukulan mendarat dengan mudah di wajah Raiden dan pria itu terlihat pasrah ketika dipukul sahabatnya. Dia hanya mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah sambil meringis karena merasa perih. Raiden sudah meringkuk, melindungi kepalanya dengan kedua tangan agar tidak sampai dipukul iparnya.
"Brengsek, tidak tahu diri, beraninya kamu!" Sebastian memukul Raiden lagi, memukul berkali-kali dengan sekuat tenaga untuk melampiaskan amarah dan rasa sakitnya. Dia bahkan harus kehilangan teman lama dan rekan bisnis karena batalnya pernikahan Kenan dan Raina. Ternyata, penyebabnya adalah Raiden hanya karena dibutakan rasa cemburu, bahkan dengan hebatnya membuat skenario seolah-olah telah tidur dengan Raina.
Sebastian sekarang sangat menyesal karena waktu itu mudah sekali percaya dengan apa yang dia lihat dan tidak mau menerima penjelasan Raina. Namun, ternyata Raina putrinya itu hanya korban dari keegoisan Raiden.
Bugh!
Sebastian tidak hanya memukul, tetapi menendang Raiden juga sampai iparnya itu babak belur.
Sinta memeluk tubuh suaminya erat agar berhenti menghajar adiknya, tetapi semua itu percuma karena tenaga Sebastian sangatlah besar.
"Siapa pun tolong bantu pisahkan mereka!" teriak Sinta kepada orang-orang yang malah diam menyaksikannya.
Akhirnya, Sebastian berhenti memukul adiknya setelah dipisahkan oleh beberapa orang atas permintaan Sinta tadi.
"Kita kembali ke kamar putrimu sekarang!" Sebastian menarik tangan Sinta dengan kasar dan meninggalkan Raiden begitu saja dalam keadaan babak belur. Namun, sebelum masuk ke ruang rawat Raina, Sebastian pergi ke toilet dulu untuk membenahi pakaiannya sekaligus membasuh wajah agar lebih segar. Setelah itu, mereka berdua pun masuk dan menatap Raina dengan pandangan iba juga merasa bersalah.
Tanpa banyak bicara, Sebastian mendekati putrinya kemudian memeluknya erat sambil berkali-kali mengatakan maaf padanya. "Maafkan papa, Rain? Maaf, maaf, maaf, dan maaf!" Dia menciumi puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, sementara Raina yang dipeluk malah terlihat kebingungan.
Sinta menatap keduanya dengan sendu, dia sudah mengetahui faktanya, tetapi dia sekarang justru bingung apakah akan membiarkan Raina tetap menjadi istri Raiden atau membuat mereka berpisah, mengingat putrinya itu sekarang benar-benar sudah menjadi istri Raiden yang sesungguhnya.
Ya Tuhan, kenapa masalah putriku harus serumit ini?
...~tbc~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
kaname senpai
ndak rumit selama raina bisa menerima raiden.toh sdah jd suami istri sah
2024-04-16
0