"Yolanda, kenapa putriku menangis?" interogasi Sinta setelah mengantar Raina ke kamarnya dan kembali menemui Yolanda di ruang tamu.
"Dia bertemu dengan pamanku, Tante. Paman Raiden berniat membawa dia pergi, tetapi Raina menolak dan memilih kabur ketika pamanku berkelahi dengan mantan tunangan Raina," jawab Yolanda dengan jujur, lebih baik menceritakan semuanya agar keluarga Raina juga lebih waspada.
"Kenan masih suka berkomunikasi dengan putriku?" Sinta terkejut sekaligus tidak menyangka.
"Ya, dia sering mengganggu Raina walau sering diabaikan. Sepertinya mereka sebenarnya masih saling mencintai, tetapi keadaan memaksa keduanya untuk saling menjauh dan membenci," komentar Yolanda mengutarakan apa yang dirinya pikirkan. Dia kasihan dengan Raina juga Kenan, tetapi tidak tidak bisa membantu apa-apa karena karena bagaimanapun, Kenan dan Raina tidak bisa bersama lagi.
"Saya tahu itu, terima kasih sudah menjaga putri saya dan selalu ada untuknya. Kamu sahabat yang baik." Sinta tulus mengatakannya, dia memang sangat menyukai Yolanda karena dia benar-benar tipe sahabat yang sempurna, bukan hanya sahabat di saat bahagia, tetapi duka juga.
"Sama-sama, Tante." Yolanda tersenyum manis.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Sinta tiba-tiba.
"Belum, Tante. Saya tidak punya waktu untuk mencari pacar, hehe." Yolanda mengatakannya dengan jujur, sebenarnya dia memang tidak berniat mencari pacar karena menurutnya hanya akan membuang waktu dan tenaga saja. Dia mau fokus dengan pendidikan dulu dan masalah kekasih bisa dipikir belakangan.
"Putraku juga masih lajang kalau mau tertarik dengannya." Sinta tidak berniat menggoda, tetapi tidak buruk juga kalau Yolanda menjadi menantunya.
"Tante bisa saja." Yolanda tertawa, tidak mau menanggapi dengan serius karena dia benar-benar belum kepikiran untuk memiliki kekasih.
...***...
"Parfum Papa aromanya seperti tai ayam," komentar Raina sambil menutup hidung ketika berpapasan dengan Sebastian di tangga.
"Kamu tidak sedang bercanda 'kan, Rain?" Sebastian menatap lekat putrinya.
"Apa aku terlihat sedang bercanda, Pa? Lagipula, Papa membeli parfum itu di mana? Kenapa bau seperti tai ayam begitu dipilih!" Raina masih menutup hidung, benar-benar tidak suka dengan bau parfum papanya.
"Padahal ini parfum yang kamu belikan untuk papa lima bulan lalu ketika papa berulang tahun," komentar Sebastian dengan dahi mengernyit. "Kamu tidak sedang hamil 'kan, Rain?" tanyanya penuh selidik.
"Hamil?" Raina bergumam pelan seraya menyentuh perutnya yang rata. "Tidak kok, Pa. Mungkin aku sedang masuk angin, makannya Indra penciuman aku bermasalah," katanya antara yakin dan tidak yakin.
"Kamu sakit?"
"Cuma sedikit lemas dan pusing, aku mau makan dulu, bye, Pa!" Raina berlari pelan menuruni tangga dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil salad buah di kulkas. "Pengen makan sate deh," gumamnya lirih dan kembali meletakkan salad buah tadi ke kulkas. Raina kemudian pergi mencari Sinta yang sedang bersantai di ruang keluarga. "Mama, buatin aku sate ayam dong!" pintanya merengek seperti anak kecil.
"Kenapa tiba-tiba? Mama tidak punya bahannya, Sayang." Sinta mencubit pelan pipi putrinya yang sedikit berisi. "Beli di luar saja mau?" tanyanya kemudian.
"Mau, Pa. Tapi, sama Mama perginya!"
"Iya, ayo!" Sinta menggandeng tangan putrinya dan mereka berdua pun langsung pergi keluar untuk membeli sate yang Raina inginkan. Beruntung mereka tidak perlu pergi jauh karena banyak penjual sate gerobakan.
"Pak, satenya dua porsi ya!" pinta Raina antusias.
"Iya, Mbak. Ditunggu!"
"Ya." Raina mengajak mamanya duduk, aroma asap dari pemanggangan sangat menggoda. Raina bahkan sampai berkali-kali menelan ludah dan tidak sabar ingin segera menyantap makanan itu. Saat sate sudah dihidangkan, Raina langsung berdoa kemudian memakannya dengan semangat, tetapi baru makan dua tusuk, nafsu makannya langsung memburuk dan dia menggeser piring miliknya ke arah Sinta. "Tolong dihabiskan, Ma. Raina sudah tidak mau sate lagi," katanya dengan raut wajah polos.
"Ck, kamu ini gimana sih, Nak?" Menggerutu kesal, tetapi Sinta tetap menghabiskan sate milik putrinya.
"Mama."
"Hm?"
"Aku mau martabak manis toping sambal ijo Padang," katanya dengan antusias. Membayangkan saja sudah membuat Raina menelan ludah.
"Kamu jangan aneh-aneh, Rain. Mana ada yang jual martabak manis toping sambal ijo seperti yang kamu inginkan?" Sinta geleng-geleng kepala, dibuat pusing dengan permintaan anaknya itu.
"His, mama beli dulu lah sambal ijo di rumah makan Padang, setelah itu baru pergi ke penjual martabak dan topingnya pakai itu!" pinta Raina sambil menggoyangkan tangan Sinta ke kanan dan kiri. "Beli itu ya, Ma!" pintanya dengan mata berkaca-kaca.
Sinta membuang napas kasar, tetapi dia akhirnya mengangguk mengiyakan daripada putrinya yang sudah besar itu menangis di tempat umum dan membuatnya malu. Raina terlihat sangat bahagia ketika permintaannya dituruti, sementara Sinta menahan malu ketika sampai di tempat penjual martabak dan memesan sesuai keinginan putrinya tadi.
"Anaknya lagi ngidam ya, Bu?" tebak penjual martabak seraya tersenyum ramah.
"Tidak kok, Pak," jawab Sinta cepat, tetapi beberapa saat kemudian dia langsung menatap Raina dengan penuh tanya. "Kamu hamil, Rain?" tanyanya untuk memastikan karena sikap Raina sekarang benar-benar mirip sekali dengan ibu hamil yang suka ngidam aneh-aneh.
"Tidak, Ma!" Lagi-lagi Raina menjawab seperti ketika papanya bertanya tadi. Mana mungkin aku hamil hanya setelah melakukan hubungan suami itu satu kali saja?
Raina dan Sinta pulang ke rumah membawa banyak sekali makanan yang tiba-tiba secara random dibeli Raina atas dasar ingin.
"Kalian dari mana saja? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" Sebastian bertolak pinggang di depan pintu utama rumah.
"Jajan," jawab Raina santai. "Minggir, Pa! Rain mau makan ini semua!" usirnya enteng sampai membuat Sebastian melotot karenanya. Namun, Raina tidak takut dan langsung menerobos masuk begitu saja tanpa peduli lagi dengan mama dan papanya.
"Anak kamu kenapa, Ma?" tanya Sebastian menatap istrinya bingung.
"Dia juga anak kamu, Pa!"
"Papa juga tahu, kita kan buatnya sama-sama," katanya frontal sekali, "dia kenapa sih?" tanyanya lagi.
"Mama tidak tahu, sejak tadi sudah aneh itu anak. Minta sate tapi cuma dimakan dua tusuk, minta martabak manis toping sambal hijau Padang, minta cilok saus coklat, aneh banget sumpah itu anak, Pa." Sinta kembali geleng-geleng kepala.
"Jangan-jangan kita mau punya cucu, Ma?" gumam Sebastian kebingungan.
"Mungkinkah?" Sinta tidak bisa membayangkannya Raina punya anak dari Raiden.
***
Epilog.
"Ck, bisa-bisanya Tuan Raiden memintaku membeli martabak manis toping sambal hijau Padang," umpat Juan kesal setelah memberikan pesanan majikannya itu.
"Jangan cerewet kamu, yang mau makan 'kan saya bukan kamu!" sentak Raiden, setelah itu dia melengos pergi sambil memeluk sayang martabak yang dia pesan.
Juan hanya bisa menatap kepergian Raiden sambil geleng-geleng kepala.
Dasar aneh!
...~tbc~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
melinda
aduh
ngidam ketemu babenya haha
2023-04-12
1