Raiden dibuat bingung dengan sikap istrinya yang sejak pulang kuliah menjadi lebih pendiam daripada biasanya. Bahkan, Raiden sering memergoki istrinya itu melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. Raiden juga sudah berusaha mengajak istri kecilnya itu bicara tetapi semuanya percuma karena Raina bahkan tidak mau menatap wajahnya walau hanya satu detik.
"Rain, kamu ini sebenarnya kenapa?" Raiden membututi istrinya masuk ke kamar mereka.
"Memangnya aku kenapa, Paman?" Raina menunduk, enggan menatap wajah Raiden yang tampan. Raina duduk di tepi ranjang kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kamu punya masalah? Coba cerita padaku dan jangan diamkan aku seperti ini, Rain!" Raiden menarik tubuh mungil itu dan dia bawa masuk ke pelukan. "Aku tidak suka melihatmu jadi pendiam seperti ini, lebih baik kamu marah-marah atau cerewet seperti sebelum kita menikah daripada melihatmu seperti mayat hidup begini," katanya seraya mengusap puncak kepala istrinya itu berkali-kali.
Raina tidak berbicara lagi setelah mendengar ucapan suaminya. Jujur dia sebenarnya ingin pergi dari rumah dan menenangkan diri tanpa gangguan Raiden, tetapi dia tidak mau membuat semua orang khawatir kalau dirinya tiba-tiba pergi tanpa pamit.
Pengakuan Kenan tadi pagi membuatnya terus kepikiran. Hatinya terluka, tetapi juga masih mencintai pria itu. Sulit sekali untuknya melupakan asmara mereka berdua, tetapi dia juga tidak mau kembali menjalin hubungan dengan Kenan setelah semua yang terjadi kepadanya.
Amarah, benci, kecewa tertuju pada dirinya sendiri. Bukan hanya membuat malu keluarga, dia juga harus menahan kebencian dari orang-orang terdekatnya, terutama keluarga besar yang menyalahkan dirinya karena membuat dua perusahaan yang sudah memiliki kesepakatan kerjasama harus batal karena batalnya pernikahan dirinya dan Kenan.
Raina bahkan harus mendapat amarah besar dari kedua orangtunya. Mereka juga seperti enggan bertemu dengannya dan hal itu membuat Raina merasa sangat kesepian sekarang.
"Paman–" Raina menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
"Ya, Rain?" Raiden melonggarkan pelukan mereka karena dia mau memerhatikan wajah istrinya itu.
"Tolong ceritakan padaku kronologi kejadian malam itu. Aku tidak bisa mengingatnya, tetapi aku yakin Paman pasti ingat semuanya!" pinta Raina karena dia benar-benar merasa tidak pernah berhubungan dengan Raiden.
"Aku akan ceritakan garis besarnya saja. Malam itu kamu pergi entah ke mana dan pulang dalam keadaan mabuk berat–"
"Aku tidak pernah minum alkohol, jadi tidak mungkin kalau aku mabuk!" potong Raina dengan emosi yang tidak terkendali.
"Tapi pada kenyataannya kamu memang mabuk malam itu, Rain. Kamu dibawa pergi oleh seorang pria asing dan hampir saja dibawa masuk ke salah satu kamar di hotel itu. Beruntung aku malam itu ada di hotel karena sedang mengurus pekerjaan dengan klien, tetapi saat aku hendak masuk ke kamar aku melihatmu, aku lalu menghajar pria asing itu dan membawamu masuk ke kamar yang sudah aku pesan." Raiden menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
Raina memejamkan mata, mencoba mengingat, tetapi tetap saja tidak ada sedikit pun yang berhasil dirinya ingat tentang kejadian di malam itu.
"Setelah aku membawa kamu masuk ke kamar, aku meminta pegawai hotel wanita untuk melepas pakaianmu, tetapi aku lupa memintanya memakaikan jubah mandi untukmu–"
"Bohong!" potong Raina lagi, dia masih ingat ketika pagi hari terbangun karena suara berisik dari Sebastian, pakaiannya berserakan di lantai. Petugas hotel tidak mungkin melepas pakaiannya dan menghamburkan begitu.
"Malam itu setelah petugas hotel pergi, kamu menggodaku, Rain. Kamu memohon agar aku menyentuhmu, entah kamu ingat atau tidak, tetapi kamu memang melakukannya!" tekan Raiden yang terus berusaha membuat Raina percaya dengan ceritanya.
"Sangat tidak masuk akal!" sahut Raina cepat.
"Ya sudah kalau tidak mau percaya." Raiden melepaskan pelukannya kemudian dia ikut duduk di tepi ranjang. "Kamu boleh tidak percaya karena itu hak kamu, tetapi yang penting aku sudah jujur," katanya dengan sangat meyakinkan.
Raina ingin percaya, tetapi dirinya tidak mudah percaya sehingga membuatnya sangat pusing sekarang. Raina naik ke tempat tidur kemudian merebahkan diri di sana dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dia memejamkan mata dan memilih tidur walau belum mengantuk sama sekali. Bahkan, ketika Raiden ikut berbaring di dan memeluknya dari belakang, Raina membiarkan, tidak menolak, tetapi dibilang menerima juga tidak.
...***...
"Pa, mama rindu sekali dengan Raina. Ayo kita kunjungi di ke rumahnya ayah!" Sinta sudah merengek kepada suaminya sejak pagi, tetapi suaminya itu tidak mau mengabulkan permintaannya dan malah memilih menyibukkan diri dengan bekerja di kantor dan pulang setelah larut malam.
"Pergi saja sendiri kalau kamu mau pergi karena aku tidak akan pergi. Sekarang sudah larut malam dan mereka pasti juga sudah tidur, lagipula aku yakin kalau Raina dibawa tinggal ke penthouse atau tempat tinggal Raiden yang lain, tetapi tidak di rumah ayah," katanya dengan lembut agar istrinya mau mengerti dan tidak marah-marah.
"Kasihan Raina, Pa. Dia pasti tidak terbiasa hidup bersama Raiden. Lagipula aku heran kenapa papa tiba-tiba mendesak Raiden untuk menikahi dia," sungutnya kesal.
"Lama-lama Raina juga akan terbiasa. Dia pasti bisa mencintai Raiden suatu hari nanti," ucap Sebastian dengan sangat yakin.
"Papa, apa kamu tidak sayang dengan putrimu?" Sinta memukul pelan dada suaminya karena kesal.
"Tentu saja aku sayang dengannya karena dia anakku. Tapi, biarkan dia hidup sendiri tanpa kita agar kesalahan fatal seperti itu tidak terulang lagi." Sebastian menahan tangan Sinta kemudian mengecupnya penuh cinta. "Dia akan baik-baik saja, Sayang. Kamu jangan khawatir karena putri kita itu bukan orang yang lemah," katanya meyakinkan sekaligus membuat hati istrinya tenang.
Sinta mengerucutkan bibir kesal, sebenarnya dia takut kalau Raiden berbuat macam-macam kepada Raina. Di mata Sinta, Raina itu terlalu kecil untuk menjadi seorang istri dari pria yang lebih tua lima belas tahun dari usianya.
Raiden sudah dewasa dan kebutuhan biologisnya pasti sangat tinggi. Sementara Raina masih dua puluh tahun dan pikirannya juga belum sedewasa Raiden, mereka pasti sulit untuk memahami satu sama lain.
"Kamu suka anak bayi, 'kan?" Pertanyaan Sebastian jauh sekali dari pembahasan mereka.
"Iya, memangnya kenapa? Kamu mau mengajak aku membuat bayi? Aku tidak mau karena aku sedang marah denganmu, Pa!" Sinta malah asik dengan pikirannya sendiri dan membuatnya salah paham.
"Ck, papa sedang tidak ingin olahraga malam. Nanti kalau Raina hamil kita akan punya cucu, Ma." Sebastian mencubit pipi istrinya itu karena gemas dengan tingkahnya.
"Ya Tuhan, Pa. Membayangkan anakmu digagahi sahabatku saja membuatku merasa ngeri." Sinta bergidik, tubuhnya langsung merinding ketika membayangkan hal itu.
Sebastian terkekeh, pikiran istrinya itu ternyata sangat kotor karena malah berpikir sampai ke sana.
...~tbc~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments