08-Amarah Kekasih Raiden

"Tega kamu, Rai!" teriak seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja Raiden.

Wanita itu sangat terkejut ketika mendengar kabar kalau kekasihnya telah menikah dengan wanita lain dan parahnya wanita itu adalah anak dari sahabat kekasihnya sendiri. Sebenarnya bukan kekasih, tetapi lebih tepatnya mantan kekasih karena hubungan mereka sudah berakhir cukup lama.

"Ada apa denganmu? Kenapa datang sambil marah-marah begitu?" Raiden langsung mengalihkan pandangannya dari laptop dan menatap wanita itu dengan penuh keheranan.

"Ada apa? Ada apa? Kamu sudah menikah 'kan!" sentak wanita itu yang sekarang sudah berdiri di depan Raiden seraya menuding wajah mantan kekasihnya itu dengan penuh emosi. Wanita itu benar-benar terlihat sangat marah sekarang.

"Dari mana kamu tahu kalau aku sudah menikah?" Raiden menaikkan sebelah alisnya penasaran.

"Kamu tidak perlu tahu aku tahu dari mana tentang pernikahanmu. Rai, kamu benar-benar pria kurang ajar dan tidak tahu diri, aku ini kekasihmu dan bisa-bisanya kamu malah menikah dengan wanita lain." Wanita itu memukul dada Raiden berkali-kali dan dibiarkan saja oleh kekasihnya itu.

Raiden bahkan terkesan biasa saja ketika dipukuli, dan wajahnya juga tidak memperlihatkan penyesalan atau rasa bersalah sedikit pun. Ekspresinya cenderung ke arah kesal sekarang karena kerjanya harus diganggu oleh wanita itu.

"Raiden, aku tidak mau tahu. Kamu harus menceraikan wanita itu!" teriak wanita itu masih terus memukuli dada Raiden.

"Aku tidak akan pernah bercerai dengannya."

"Lalu bagaimana dengan aku, Rai! Kita sudah pacaran cukup lama dan kamu malah berkhianat?" Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan kekasihnya. Padahal selama ini hubungan mereka bisa dibilang baik-baik saja walau mereka jarang bertemu, apalagi bermesraan. Selama pacaran, bahkan paling jauh mereka hanya berciuman, padahal orang lain bisa berbagi kehangatan di ranjang.

Raiden pernah bilang kalau dia tidak akan merusak seorang wanita sebelum sah menjadi istrinya. Namun, sepertinya hal itu dilanggar oleh Raiden mengingat dia malah merusak keponakannya sendiri.

"Kita sudah putus sejak lama kalau kamu lupa," kata Raiden apa adanya.

"Iya aku tahu kita sudah putus, tetapi aku masih mencintai kamu, Raiden!"

"Tapi aku tidak mencintaimu, bahkan aku tidak pernah mencintai kamu sebelumnya," kata Raiden dengan begitu santai seolah tidak peduli kalau perkataannya itu akan membuat hati orang lain terluka.

"Raiden!"

Plak!

Raiden hanya terkekeh sambil mengusap pipinya yang terasa sakit. Dia lalu menatap wanita itu dengan tajam dan mampu membuat wanita itu ketakutan.

"Pulanglah dan jangan ganggu aku lagi mulai hari ini! Dulu kita pacaran karena permintaan orang lain dan sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Carilah pria lain yang lebih baik dariku dan mau mencintai kamu apa adanya dan tentunya membalas cintamu!" Raiden kemudian mengusir wanita itu pergi dari ruangannya, tetapi sedikit kesulitan karena wanita itu terus berontak dan tidak mau pergi dari sana.

"Aku tidak mau pergi!" teriaknya galak walau masih takut dengan tatapan pria itu.

"Pergi atau aku tidak akan segan menghancurkan dirimu!" ancam Raiden sungguh-sungguh. Jika dia mau, dia bisa membuat hidup wanita itu hancur sampai berpikir mati lebih baik daripada hidup.

"Aku tidak akan pergi!" Wanita itu mendorong tubuh Raiden kemudian dia langsung duduk di sofa dan melipat kedua tangannya di depan dada, kaki kanannya menindih kaki kiri dan dia menatap galak Raiden.

"Terserah!" Raiden memilih kembali duduk di kursi dan melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak peduli dengan keberadaan wanita itu karena mengusir juga percuma kalau wanita itu tidak mau pergi dan keras kepala mau tetap berada di sana.

"Rai, kamu benar-benar kejam!" teriak wanita itu penuh amarah, tetapi kali ini diabaikan oleh Raiden.

...***...

Raiden pulang ke penthouse pukul satu dini hari karena sebelum pulang dia harus mengurus mantan kekasihnya terlebih dulu. Raiden mendapati tempat tinggalnya itu kosong tidak berpenghuni. Dia mencoba mencari Raina ke semua ruangan di tempat itu, tetapi tidak menemukannya sama sekali.

"Ck, ke mana perginya anak itu?" Raiden menjatuhkan tubuhnya di sofa kemudian merogoh saku mengambil ponselnya. "Panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan masuk dari Raina," gumam Raiden dengan dahi berkerut dalam. Dia buru-buru membuka pesan itu karena sebelumnya sudah mencoba menghubungi Raina, tetapi panggilan suaranya tidak dijawab.

"Tenyata dia pergi ke rumah kakeknya," gumamnya setelah membaca pesan itu.

Raiden sebenarnya ingin menyusul Raina ke sana, tetapi tubuhnya sudah terlalu lelah dan dia juga sangat mengantuk sehingga memutuskan untuk membersihkan diri kemudian tidur.

Pukul setengah tiga dini hari, Raiden terbangun karena dia merasa sulit sekali untuk tidur nyenyak. Satu Minggu tidur bersama Raina membuatnya sangat terbiasa sehingga ketika harus tidur sendiri ada yang terasa hilang.

Raiden pun akhirnya memutuskan pergi ke rumah kakeknya Raina dan ketika sampai di sana dia langsung diantar menuju kamar di mana Raina berada dan tidur dengan sangat pulas. Raiden tersenyum tipis kemudian dia menyusup masuk ke bawah selimut yang sama dengan istri kecilnya itu lalu memeluk tubuhnya dari belakang tanpa membangunkan sang istri.

Sepertinya baru sebentar dia memejamkan mata ketika dia dibangunkan oleh Raina yang terlihat kaget karena tiba-tiba tidur satu ranjang dengannya.

"Aku masih mengantuk, Rain!" gumamnya.

"Kapan Paman datang ke sini? Kenapa aku tidak tahu?" Raina menepuk-nepuk pipi Raiden agar mata suaminya itu terbuka.

"Ck!" Raiden malah berdecak kesal kemudian menarik Raina sampai wanita itu terbaring lagi di ranjang dan dengan cepat dia peluk tubuh mungilnya seperti sedang memeluk sebuah guling. "Semalam aku menyusul kamu ke sini karena tidak bisa tidur nyenyak, aku sengaja tidak membangunkan kamu karena kamu sangat pulas," katanya dan semakin erat memeluk Raina.

"Paman, aku engap!" pekik Raina.

"Diamlah, biarkan aku tidur sebentar lagi!" kesal Raiden sambil membungkam mulut istrinya dengan tangan.

Raina pun akhirnya pasrah karena dia kasihan melihat wajah Raiden yang kelelahan. Dia memandangi wajah itu dengan seksama sampai senyuman simpul penuh luka terbit di bibirnya. Setelah puas memandangi Raiden, Raina pun ikut memejamkan mata dan akhirnya kembali terlelap.

"Ah, Paman Raiden!" teriak Raina tiba-tiba ketika merasakan dadanya digigit dengan cukup kuat oleh Raiden.

"Ssttt! Diam dan nikmati saja semuanya, Rain. Paman akan memberikan kamu kenikmatan malam ini," bisik Raiden lembut kemudian melanjutkan aksinya. Bukan hanya bibir yang tidak bisa diam, tetapi tangannya juga.

Raina awalnya pasrah dan terlena, tetapi ketika kesadarannya pulih, dia langsung mendorong tubuh Raiden kemudian buru-buru turun dari tempat tidur. "Ini sudah pagi, Paman. Aku tidak mau melakukannya seperti perkataan aku kemarin!" katanya pelan kemudian berlari masuk ke kamar mandi.

Raiden yang awalnya kecewa dan kesal malah tertawa ketika melihat dahi Raina membentur tembok yang ada di sebelah pintu kamar mandi.

...~tbc~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!