05- Kebutuhan Biologis

Tiba di penthouse, Raiden langsung mengajak Raina masuk ke sebuah kamar yang cukup besar dan mewah. Itu adalah kamar yang akan ditempati mereka berdua mulai hari ini, awalnya Raina pikir dia bisa pisah ranjang dengan suaminya, tetapi Raiden tidak membiarkan hal itu terjadi.

Raina buru-buru merapikan barang-barang miliknya ke almari pakaian yang menjadi satu dengan pakaian Raiden. Sementara tas dan sepatu miliknya dia letakkan di almari khusus dalam ruang ganti yang memang tersedia di sana. Raina cukup terkejut karena semua seperti telah disiapkan jauh-jauh hari seolah-olah tahu akan ada wanita yang tinggal di penthouse itu, tetapi ketika dia bertanya kepada Raiden, pria itu tidak mau menjawabnya dan memintanya untuk tidak banyak bertanya.

Hari pertama di penthouse mereka habiskan untuk bersantai dan terkesan sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan mereka hanya mengobrol beberapa kali itu pun bukan obrolan santai seperti suami istri pada umumnya.

Hari kedua pun masih sama saja, bahkan suasana penthouse menjadi lebih hening karena pasangan suami istri itu sama-sama saling diam dan tidak berbicara jika tidak penting.

Sampai tidak terasa satu Minggu berlalu dan Raiden mulai sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Raina sendiri kembali kuliah karena dia memang masih kuliah dan baru semester lima.

"Rain, bisa tolong pasangkan dariku?" Raiden menatap istri kecilnya yang baru saja selesai mengikat rambut.

"Memangnya tidak bisa pakai sendiri?" Raina menatap malas suaminya itu.

"Tidak, biasanya yang memakaikan dasi itu sekretaris aku," jawab Raiden berbohong, sebenarnya dia bisa memakai sendiri, tetapi entah kenapa dia ingin sekali Raina yang memakaikan agar terlihat seperti suami istri pada umumnya.

"Umur Paman Raiden kalau tidak salah sudah tiga puluh lima tahun, tetapi masa iya memasang dasi saja tidak bisa?" Raina tersenyum meledek, dia lalu berdiri dan mengambil dasi yang disodorkan suaminya itu. "Menunduk sedikit agar aku mudah memakaikannya!" perintah Raina seraya mendongak, menatap wajah tampan Raiden yang terlihat lebih muda dari usia yang sesungguhnya.

Raiden hanya tersenyum kemudian menunduk dan memerhatikan wajah Raina yang terlihat sangat serius ketika memakaikan dasinya. Bahkan tanpa permisi Raiden memeluk pinggang wanita itu dan merapatkan tubuh mereka, dia juga menghirup dalam-dalam aroma rambut Raina yang sangat harum.

"Sudah selesai," kata Raina kemudian memegang kedua tangan Raiden dan menariknya agar melepas pelukannya. Namun, bukannya melepas, Raiden justru memeluknya semakin erat dan semakin memangkas jarak di antara mereka berdua. "Paman, cepat lepaskan aku!" pinta Raina dengan ekspresi wajah yang kesal.

"Rain, kita sudah lebih dari satu Minggu menjadi suami istri, tetapi kita belum melakukan hubungan suami istri. Apa kamu tidak kepikiran untuk berbagi kehangatan dengan nikmatnya memadu kasih bersamaku?" Raiden menatap lekat kedua mata Raina yang indah dan bening. Dia mendekatkan wajah sampai dahinya menempel ke dahi Raina, dia menarik pinggang Raina sampai benar-benar menempel dengan tubuhnya dan membuat wanita itu merasakan ada sesuatu yang menonjol di bawah saja.

"Paman sudah melakukannya terlebih dahulu sebelum kita menikah dan aku rasa itu sudah cukup," jawab Raina seraya mendorong dada bidang Raiden agar tubuh mereka berjarak.

"Suami istri bisa melakukan itu berkali-kali, bahkan bisa satu, dua, tiga, atau empat kali dalam satu hari jika sanggup, Rain."

"Maaf, Paman. Aku tidak mau melayani setelah kamu mengambil sesuatu yang paling berharga dalam diriku tanpa izin. Kita memang suami istri dan hal itu memang wajar dilakukan, tetapi aku tidak mau melakukannya sampai memastikan kalau benih yang Paman simpan tidak tumbuh di rahimku." Raina mendorong tubuh Raiden dengan cukup kuat sehingga pelukan mereka berhasil terlepas.

"Maksud kamu, aku baru boleh melakukannya kalau kamu tidak hamil?" Raiden memastikan.

"Iya, Paman. Jika aku tidak hamil, maka aku mau melayani Paman, tetapi jika aku hamil, maka jangan pernah sentuh aku bahkan sampai aku melahirkan anak kita," kata Raina sungguh-sungguh. Hal itu sudah dia pikirkan matang-matang dengan banyak pertimbangan juga.

Dia tidak mencintai Raiden dan dia juga membenci pria itu. Raina akui kalau dia sudah menerima pernikahannya dengan Raiden, tetapi jujur dia belum siap menjalin hubungan yang lebih serius dengan pria itu walau sebenarnya sudah seharusnya dia mencintai Raiden.

Luka di hati Raina belum sembuh, kecewa juga belum sepenuhnya menghilang dan rasa benci itu bahkan semakin besar sekarang. Dia marah, tetapi dia juga tidak mau membuat orang lain kecewa, terutama papa dan mamanya.

"Kamu gila, Rain. Suami kamu ini pria normal dan bisa kapan saja memiliki keinginan untuk memadu kasih. Apalagi setiap malam suamimu ini tidur dengan seorang wanita dewasa yang tentunya mampu membangkitkan sesuatu di tubuhnya. Itu sudah kebutuhan biologis, Rain!" kata Raiden dengan penuh penekanan.

"Berpuasalah!"

"Untuk apa aku puasa sementara tempat untuk melampiaskan sudah ada?"

"Jadi, Paman menikahi aku tujuannya hanya untuk itu?" Raina tertawa sinis, dia lalu dengan cepat menyambar tas miliknya dan keluar dari kamar, meninggalkan Raiden begitu saja yang masih bergeming di tempatnya berdiri tadi.

...****************...

"Jadi, kamu benar-benar menikah dengan pria lain karena Kenan membatalkan pernikahan kalian?" Yolanda menggelengkan kepala sambil tertawa terbahak-bahak. Bukannya kasihan dengan nasib sahabatnya, gadis itu justru merasa lucu karena Raina malah berakhir menikah dengan pria lain dan lebih parahnya pria itu adalah pamannya.

"Ck, kalau tahu hanya akan ditertawakan seperti ini, aku tidak akan memberitahu kamu," ketus Raina sambil melipat kedua tangan di depan dada dan menatap Yolanda dengan kesal.

Yolanda itu sahabatnya, mereka kenal dari kelas satu SMP dan selalu bersama bahkan sampai kuliah seperti sekarang. Mereka sering bertengkar, tetapi tidak butuh waktu lama kembali akur sendiri, mereka juga pernah saling bermusuhan hanya karena mengidolakan orang yang sama.

"Dunia ini memang panggung sandiwara yang tidak ada tandingan, Rain. Bagaimana rasanya menikah dengan pamanku yang super duper menyebalkan itu?" kepo Yolanda, dia memang sangat akrab dengan Raiden, tetapi dia tahu kalau Raiden adalah orang yang jarang bicara panjang lebar, tegas, dingin, arogan, dan sulit didekati.

Bahkan Yolanda pernah mendengar rumor kalau Raiden bergabung dengan kelompok mafia rahasia yang bekerjasama dengan polisi dan abdi negara lainnya. Dan rumor yang lebih parah, pamannya itu dianggap sebagai penyuka sesama jenis.

"Tidak seru sama sekali," jawab Raina secepat kilat.

"Kamu tidak jatuh cinta padanya?"

"Tidak, tetapi aku akan menghormati dia sebagai suami."

"Kalian pernah berhubungan badan?" pertanyaan Yolanda semakin intim saja.

Kamu kenapa kepo banget sih Yol? Makannya kalau mau tahu nikah sana, jangan kelamaan jomblo! batin author.

"Kata Pamanmu pernah, tetapi kata aku belum." Raina menjatuhkan kepala di meja kantin dan berkali-kali membuang napas kasar.

...~tbc~...

Terpopuler

Comments

melinda

melinda

up lg

2023-04-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!