17- Berkelahi

"Paman tidak bisa membawa Raina pergi begitu saja karena Kak Renan memberi amanah kepadaku untuk mengantar Raina pulang!" Yolanda berlari menyusul mereka kemudian meraih salah satu tangan Raina sehingga membuat sahabatnya itu seperti diperebutkan sekarang karena baik dirinya ataupun Raiden sama-sama tidak mau melepaskan tangan Raina yang mereka genggam.

"Katakan saja padanya kalau Raina pulang denganku!" perintah Raiden terus menarik tangan istrinya.

"Tidak bisa, katakan saja sendiri kalau Paman berani!" teriak Yolanda yang terus menarik tangan Raina.

Sementara itu, Raina yang berada di tengah merasakan keduanya tangannya sakit. Tubuhnya bergerak ke kanan dan kiri karena tarikan dia orang itu. Kepalanya bahkan sampai pusing karena ulang dua orang dewasa yang memiliki sifat kekanakan itu. "Kalian, lepaskan aku!" teriaknya kemudian menghempaskan tangannya kuat-kuat sehingga berhasil lepas dari genggaman Raiden ataupun Yolanda.

Raina menatap dua orang itu nyalang dan penuh amarah. "Kalian pikir tanganku tidak sakit, hah?" Dia menuding wajah Yolanda dan Raiden bergantian. "Yolanda, aku akan tetap pulang denganmu dan untuk Paman, jangan ganggu aku!" teriaknya kencang sekali.

Raina kemudian menarik tangan Yolanda dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Sesaat dia melirik Kenan yang sejak tadi hanya diam memerhatikan mereka. "Ken, kamu juga tidak usah mengikuti aku lagi!" katanya ketus kemudian melanjutkan melangkah meninggalkan mereka.

"Aku kena marah juga," gumam Kenan sedih.

Raina pikir, dia bisa terbebas dari Raiden, tetapi dia salah karena suaminya itu tiba-tiba berlari dan tanpa aba-aba menggendongnya lalu membawa dia berjalan cepat menuju mobil.

"Paman, aku tidak mau ikut denganmu! Turunkan aku sekarang juga!" Raina terus memberontak, dia memukul dada Raiden berkali-kali dan menghentakkan kakinya agar Raiden mau melepas, tetapi semua itu percuma karena Raiden justru semakin cepat melangkah. "Kak Juan, tolong aku!" teriaknya seraya menatap Juan yang berdiri tenang di sebelah mobil.

Juan hanya mengangguk dan tersenyum tipis, tetapi tetap diam dan tidak bergerak menolongnya. Menyebalkan menang si Juan ini.

"Menurut saja sebelum aku marah padamu!" hardik Raiden terus mendorong Raina agar masuk ke mobilnya.

"Aku tidak mau, aku tidak suka dipaksa, kenapa Paman kejam padaku!" Raina menarik tangan Raiden kemudian menggigitnya keras sampai meninggalkan luka dan berdarah walau tidak banyak. Tidak hanya itu, dia juga menendang pusaka Raiden dan membuat suaminya itu meringis ngilu. "Maaf, Paman. Aku terpaksa melakukannya," katanya kemudian berlari kabur menghampiri Yolanda yang masih diam di tempat sebelumnya.

"Raina!" Raiden berlari mengejar sang istri walau pusakanya masih terasa sangat ngilu. Namun, ketika dia hendak menarik tangan sang istri, tiba-tiba Kenan menghadangnya.

"Jangan berbuat kasar dengannya atau kau akan berurusan denganku!" hardik Kenan seraya menuding wajah Raiden tanpa takut. Dia tidak suka melihat Raiden memaksa dan membentak Raina seperti itu.

"Menyingkir dari hadapanku sekarang!" Raiden mendorong kuat dada Kenan sehingga pria itu mundur beberapa langkah. Namun, ternyata Kenan tidak tinggal diam dan balas mendorongnya tidak kalah keras.

"Tidak akan!"

"Bangs*t!"

Bugh

Raiden memukul wajah Kenan dengan begitu kuat sampai membuat Kenan terjengkang ke tanah. Dia kemudian hendak berlari lagi, tetapi Kenan menjegal kakinya sehingga Raiden pun ikut terjatuh ke tanah dengan posisi tengkurap. Raiden sangat marah, dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat kemudian bangun dan kembali melayangkan pukulan ke wajah Kenan.

Kenan pun tidak tinggal diam, dia berkali-kali menepis serangan Raiden dan beberapa kali juga berhasil memukul wajah Raiden. Mereka terus berkelahi dan tidak peduli menjadi tontonan banyak orang.

"Kau hanya orang asing, tidak perlu mencampuri urusan rumah tanggaku!" maki Raiden seraya memukul ulu hati Kenan sampai lawannya itu terbatuk-batuk.

"Aku bukan orang asing, aku kekasihnya!" balas Kenan tidak mau kalah. Dia melayangkan tendangan ke arah perut Raiden, tetapi Raiden dengan sigap memegang kakinya kemudian memutarnya kuat-kuat sehingga membuat tubuh Kenan ikut memutar sampai akhirnya terbanting dengan keras ke tanah.

"Si*l!" umpat Kenan ketika merasakan seluruh tubuhnya sakit luar biasa.

Orang-orang di sana apa tidak ada yang berniat memisahkan mereka? Author dan Pembaca dibuat geleng-geleng kepala.

"Kau yang sial*n, brengsek!" Raiden menendang Kenan tanpa ampun.

"Tuan, hentikan! Anda bisa terkena pasal kalau mahasiswa itu melaporkan Anda ke polisi!" teriak Juan memisahkan keduanya.

"Kau hanya seorang pengawal, jangan ikut campur!" sentak Raiden galak sekali.

Raiden dan Kenan kembali berkelahi walau tubuh mereka sudah sama-sama babak belur sekarang, mereka baru berhenti ketika Juan meminta bantuan satpam kampus dan beberapa pria di sana untuk membantu memisahkan keduanya.

Raiden dan Kenan sama-sama saling menatap penuh permusuhan, tetapi kemudian mereka menyadari sesuatu, wanita yang membuat mereka berkelahi sudah tidak ada di sana lagi.

"Gara-gara kau istriku pergi!" Raiden menyalahkan Kenan, sementara Kenan malah tersenyum mengejek.

"Baguslah kalau dia pergi," kata Kenan santai seraya mengusap sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah.

...***...

"Yolanda, aku bawa aku pergi secepatnya mumpung mereka sibuk berkelahi!" ajaknya seraya menarik tangan sahabatnya itu dan membawa berlari.

"Ck, padahal sedang seru," protes Yolanda manyun, tetapi dia tetap menuruti kemauan sahabatnya itu. Mereka pulang ke rumah Raina menggunakan mobil Yolanda yang terparkir di seberang jalan karena sopir baru saja datang menjemput.

Selama di perjalanan pulang, Yolanda banyak bicara, sedangkan Raina menanggapi sekenanya seperti tidak tertarik sama sekali. Pikirannya sibuk tertuju kepada Raiden yang tiba-tiba datang ke kampus untuk menjemputnya. Raina yakin kalau suaminya itu pasti akan datang ke kampus lagi besok dan dia harus kembali menghindar atau Raiden akan benar-benar berhasil membawa dia ikut dengannya. Sejujurnya Raina sudah sangat merindukan Raiden, tetapi dia masih kecewa dengan pria itu dan belum siap untuk bicara hanya berdua.

"Rain, kamu menangis?" Yolanda menatap sahabatnya sedih.

"Eh?" Raina menyentuh pipinya dan ternyata memang basah. Dia bahkan tidak sadar kalau meneteskan air mata. "Aku tidak menangis kok, mungkin kelilipan debu," elaknya sambil memalingkan muka agar Yolanda tidak melihat wajahnya lagi.

"Alasan kamu terlalu kuno, Rain!" Yolanda berucap lirih kemudian memeluk sahabatnya dengan penuh perhatian. "Kalau mau menangis ya menangis saja, jangan ditahan karena takut malah akan menjadi penyakit nanti!" ucap Yolanda seraya menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu dan benar saja Raina langsung menangis sesenggukan setelahnya.

"Aku harus bagaimana sekarang, Yola? Aku rindu dengannya, tetapi untuk ikut dengan dia dan bicara berdua rasanya belum sanggup," isak Raina pilu, dia membalas pelukan sahabatnya dan tidak peduli kalau baju Yolanda basah karena air matanya.

Yolanda tidak menjawab karena takut salah bicara, dia hanya terus menepuk bahu Raina agar wanita itu tenang.

...~tbc~...

Terpopuler

Comments

Mimik Pribadi

Mimik Pribadi

Wkt 1 bln itu amat sangat cukup utk seseorng merenung,memikirkan mslh yng terjadi,wlu berat tidak sehrsnya berlarut2 karna akan sangat menyakiti keduanya,,,,alangkah baiknya cpt selesaikan Rain,jngn mlh terus dihindari,,,,,

2023-06-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!