Raina sedikit kesal ketika mendapat tamu dadakan di malam hari, tetapi dia juga senang setelah tahu alasan kakeknya berkunjung karena khawatir dengan dirinya. Namun, yang membuat Raina kesal adalah kakeknya itu tidak datang sendirian, tetapi dengan Raiden juga yang sejak masuk ke rumah terus memberikan senyum manis padanya. Wajah suaminya itu terlihat sangat tampan dan memuakkan di waktu yang sama sampai-sampai Raina ingin sekali mencakar wajah itu saking kesalnya.
Niat hati ingin menenangkan diri, tetapi Raiden tidak pernah kehabisan akal untuk bertemu dengannya. Suaminya itu sepertinya benar-benar niat sekali untuk membawa Raina tinggal bersama lagi dan jujur saja sebenarnya Raina sangat senang mendapat perhatian itu, tetapi dia belum bisa kalau tinggal berdua karena takut malah akan semakin benci dengan suaminya.
"Ayah harusnya tadi memberitahuku dulu kalau mau datang ke sini." Sinta menatap papanya lekat dan khawatir.
"Bukan kejutan namanya kalau memberitahu dulu," jawab Baskara dengan senyum hangat yang khas.
"Ayah juga kenapa datang dengan Raiden?" Sinta protes, dia bahkan menatap sengit sahabat baiknya itu karena masih kesal dan kecewa dengannya.
"Biar ada temannya," jawab Baskara dengan begitu santai, beliau bahkan masih tetap tersenyum hangat walau wajah putrinya itu ditekuk kesal. "Ayah dengar, kalian memisahkan Raina dan Raiden secara paksa? Coba beritahu ayah apa alasannya!" lanjutnya dengan ekspresi wajah langsung berubah serius.
Sinta dan Raina reflek langsung menatap Raiden dengan begitu sengit dan berpikir kalau pria itu pasti sudah mengadu kepada Baskara. Namun, yang ditatap malah cengengesan dan meledek keduanya dengan menjulurkan lidah. Namun, ketika Baskara menoleh ke arah Raiden, pria itu langsung memperlihatkan ekspresi sedih agar Baskara menjadi lebih simpati dengannya.
Syukurin, aku punya pendukung sekarang, batin Raiden bahagia.
Gila, ternyata Paman punya sisi begitu ya? Raina melotot kesal.
"Ayah dengar kabar dari mana?" Sinta menatap papanya dengan penuh interogasi.
"Raiden yang bilang," jawab Baskara dengan lancar sambil melirik Raiden yang langsung melotot kesal karena tidak menyangka kalau Baskara itu akan berbicara jujur, padahal dia sudah mengatakan kepada Baskara agar tidak mengatakan hal itu kepada keluarga Raina.
"Kami memisahkan mereka karena Raiden telah membuat Raina sakit dan kecewa, Ayah." Sinta memilih jujur daripada papanya itu tahu dari orang lain.
"Kenapa?"
"Dia menipu kami semua." Sinta menjawab cepat setelah membuang napas kasar.
"Menipu bagaimana?" Kakek jadi penasaran karena beliau tidak tahu menahu tentang tipu menipu itu. Kakek kemudian menatap Raiden dan menuntut penjelasan darinya. "Kamu menipu mereka, Rai?" tanyanya dengan nada tegas dan membuat suasana di ruang tamu berubah sangat mencekam.
"Aku–"
"Kakek ingat alasan aku menikah dengan Paman karena apa?" Raina memotong ucapan Raiden karena dia tahu kalau suaminya itu akan mengelak.
"Karena kalian sudah tidur bersama," jawab Kakek sesuai yang dirinya tahu selama ini.
"Nah, sebenarnya aku dan Paman tidak pernah melakukannya, Kek. Aku baru tahu setelah berhubungan dengannya dan ternyata aku masih peraw*n." Raina mengepalkan tangan, masih sangat sakit hati ketika mengingatnya. Dia menggenggam tangan Sinta untuk menahan amarah agar tidak meledak saat itu juga. Raina menceritakan kembali semuanya dengan jujur, begitu juga dengan Sinta yang ikut membeberkan fakta dengan penipuan yang dilakukan sahabatnya itu kepada mereka semua.
Raina bahkan sampai terkejut ketika mendengar cerita Sinta yang tidak dia ketahui sebelumnya, cerita Sinta yang mengatakan kalau Raiden sengaja menjebak Raina karena sudah lama menaruh perasaan untuknya. Raina menatap Raiden dengan tatapan tidak percaya, dia tidak tahu kalau Raiden ternyata sangat jahat karena membuat pernikahan antara dirinya dan Kenan batal karena skandal yang diciptakan pria itu. Dengan penuh amarah, Raina beranjak berdiri kemudian berjalan cepat menghampiri Raiden dan memberi tamparan keras untuknya.
Plak!
"Aku tidak menyangka kalau ternyata Paman yang membuat Kenan berpikir aku murahan karena kejadian malam itu!" teriak Raina dengan air mata berjatuhan. "Kenapa Paman jahat sekali denganku, harusnya kalau Paman benar-benar mencintai aku dengan tulus, Paman harusnya membiarkan aku bahagia dengan pilihanku, bukan malah melakukan sesuatu yang menjijikkan seperti itu!" bentaknya keras, Raina bahkan berkali-kali memukul kepada dan dada Raiden saking marahnya dia dengan pria itu.
Raiden membiarkan Raina melakukannya dan dia juga tidak menghindar dari pukulan yang diberikan istri kecilnya itu.
Raina terus melampiaskan amarah sampai tenaganya terkuras dan akhirnya dia pingsan setelah merasa pusing secara tiba-tiba.
...***...
Raina terbangun di sebuah ruangan yang cukup asing untuknya karena itu bukan di ruang tamu ataupun di kamar. Dia memerhatikan sekitar dan menyadari kalau dirinya ternyata berada di rumah sakit. "Mama." Raina langsung memanggil Sinta yang sedang berdiri dengan posisi membelakangi dirinya sambil berbicara dengan seorang perawat wanita.
"Rain, kamu sudah sadar, Sayang?" Sinta langsung duduk dan menggenggam tangan putrinya. "Kamu masih pusing atau memiliki keluhan lain?" tanyanya dengan begitu cepat sampai Raina menelan ludah karena mamanya malah mirip seorang rapper sekarang.
"Sedikit pusing, tetapi kenapa aku sampai dibawa ke rumah sakit? Apa aku sakit parah, Ma? Apa aku terkena kanker otak sampai-sampai harus dirawat di sini?" tanyanya parno sendiri karena yang dia rasakan sekarang adalah sakit kepala. Isi pikirannya berubah negatif sekarang dan Raina benar-benar sangat takut kalau apa yang dia pikirkan sebuah kebenaran.
"Tidak, Sayang! Kamu baik-baik saja, tidak sakit keras seperti yang kamu pikirkan." Sinta buru-buru menkonfirmasi agar putrinya itu lebih tenang. "Kamu hanya terlalu kelelahan dan banyak pikiran," lanjutnya sambil mengecup punggung tangan putrinya berkali-kali.
"Apa hanya itu, Ma? Tidak ada yang lain?" tanya Raina dengan dahi berkerut.
"Kalau itu, biarkan suamimu yang memberitahu karena dia lebih berhak daripada mama," kata Sinta sambil memalingkan wajah ke arah lain, dia juga melepaskan genggaman tangannya kemudian berdiri dan pergi keluar dari ruangan itu tanpa bicara ataupun pamit dahulu sehingga membuat Raina terbengong karena bingung dengan sikap mamanya yang tiba-tiba berubah aneh.
Mungkin sekitar tujuh menit setelah Sinta keluar, seseorang masuk ruangan itu dan tersenyum hangat kepadanya. Raina langsung memalingkan wajah, tidak mau bertatap muka dengannya.
"Jangan ke sini, pergi saja sana!" usir Raina ketus.
"Tidak mau," tolak orang itu keras kepala. Dia duduk di kursi yang ada di sebelah brankar kemudian meraih tangan Raina dan menggenggamnya. "Terima kasih banyak, Rain. Terima kasih karena sudah membuat aku sangat bahagia sekarang karena dirimu," kata orang itu dengan mata berkaca-kaca dan terlihat merah.
"Istrimu sakit dan itu membuat kamu bahagia? Dasar psikopat!" Raina menarik tangannya dengan kasar, tetapi tidak membuat tangannya lepas dari genggaman Raiden.
"Bukan itu yang membuat aku senang, Rain. Aku tentu sangat sedih karena kamu sakit, tetapi aku bahagia karena hal lain," kata Raiden dengan cepat.
"Memangnya Paman bahagia karena apa?" Raina akhirnya menatap Raiden karena dia penasaran dengan suaminya itu. "Cepat jawab atau aku akan semakin marah dan benci denganmu karena terlalu banyak basa-basi dan membuat kepalaku sakit lagi karena dipaksa untuk berpikir!" desak Raina sekaligus mengeluh.
"Rain, sebelumnya maaf karena aku sudah jahat padamu, tetapi sekali lagi terima kasih banyak karena kamu sekarang sedang mengandung anakku–"
"Maksudnya, aku hamil?" potong Raina dengan mulut menganga.
"Iya, Sayang. Kamu hamil, kamu hamil anak kita." Raiden mengangguk antusias.
"Haha, Paman pasti sedang bercanda, 'kan? Aku mana mungkin hamil anakmu, kita bahkan baru melakukannya satu kali, jadi mustahil kalau benihmu tumbuh di rahimku." Raina terus tertawa tidak percaya, tetapi air matanya mengalir deras di waktu yang sama.
"Paman serius, Rain!" tekan Raiden seraya berdiri kemudian memeluk istrinya itu erat-erat.
"Tidak, Paman. Aku tidak mau hamil!" teriak Raina menggema.
...~tbc~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments