02- Malam Pertama

Dikarenakan pernikahan digelar secara sederhana dan tanpa resepsi, acara itu berakhir dengan sangat cepat.

Jika seharusnya kamar pengantin di isi dua insan manusia yang sedang kasmaran dan malu-malu karena bisa berduaan, berbeda sekali dengan suasana kamar pengantin Raina dan Raiden saat ini yang terkesan sepi dan dingin.

Raina seperti enggan bicara dengan suaminya, sementara Raiden pun seperti tidak ingin berbicara dengannya. Keduanya kini duduk di tepi ranjang dengan jarak berjauhan, jika Raina dengan dekat kepala ranjang, maka Raiden berada di ujungnya. Lama mereka terdiam, bahkan sampai tiga puluh berlalu semuanya masih sama saja.

"Rain, Hapus riasan wajahmu dan mandilah sekarang!" perintah Raiden setelah membisu lama. Rain adalah panggilan khusus dari Raiden untuk Raina setelah mereka kenal karena Raina bersahabat dekat dengan keponakan perempuan Raiden.

"Aku tidak pernah mandi dua kali sehari, Paman Rai," ketus Raina berbohong, dia sengaja melakukan itu agar Raiden marah kepadanya. Niatnya yang ingin membuat Raiden marah tidak lain adalah untuk mengumpulkan alasan seandainya dia meminta cerai lagi nanti.

"Ya sudah kalau kamu tidak mau mandi, biar aku saja yang mandi." Raiden melepas pakaiannya tanpa masuk ke kamar mandi terlebih dahulu, dia seperti sengaja menggoda Raina yang terlihat sangat membenci dirinya.

Senyum devil langsung tercipta kala dia melihat Raina menutup mata dan wajah dengan kedua tangan kemudian memalingkan wajah ke arah lain.

"Kenapa kamu menutup mata? Padahal melihatku tanpa busana pun tidak akan berdosa," goda Raiden sambil terkekeh pelan, dia memang sangat suka menggoda orang, terutama orang yang mudah terpancing emosinya karena hal itu merupakan kepuasan tersendiri untuknya.

"Cerewet sekali jadi suami," gumam Raina masih dengan memalingkan wajah dan menutup mata.

"Beraninya kamu bilang aku cerewet, ingatlah kalau lelaki cerewet ini yang akan menemani hari-harimu mulai sekarang! Kamu boleh saja membenci dan tidak mencintaiku, tetapi jangan sampai kamu tidak menghormati aku yang berstatus sebagai suamimu kalau kamu tidak mau dilaknat Allah dan malaikatnya!" hardik Raiden seraya menatap lekat Raina.

Raina terdiam, tetapi dalam hati dia terus mengumpat dengan mengucap sumpah serapah yang ditujukan kepada Raiden.

Paman Raiden sok-sokan bilang laknat Allah dan malaikatnya sementara ketika dia meniduri aku mungkin dia tidak ingat dengan laknat Allah atas dosa besar itu. Bahkan sholat lima waktu pun aku tidak yakin dia melakukannya.

Raina tersentak kaget ketika kepalanya tiba-tiba diusap dengan sangat lembut oleh suaminya.

"Aku mandi dulu, setelah itu baru kamu." Setelah mengusap kepala Raina, Raiden langsung berlalu pergi masuk ke kamar mandi.

Jujur saja jantung Raina berdetak kencang mendapat perlakuan begitu dari pamannya, walau ini bukan yang pertama dia diusap seperti itu, tetapi entah kenapa sekarang rasanya sangat berbeda, mungkin karena status mereka yang tiba-tiba berubah menjadi suami istri, padahal sebelumnya mereka hanya dekat karena selain Raiden salah paman dari sahabatnya, Raiden juga sahabat baik kedua orangtunya.

Raina baru berani membuka mata setelah memastikan kalau suaminya itu benar-benar sudah masuk ke kamar mandi. Dia lalu menatap pintu itu cukup lama kemudian membuang napas secara kasar. Raina tidak menyangka kalau dirinya benar-benar sudah menjadi seorang istri sekarang, tetapi sayangnya bukan istri dari laki-laki yang dia cintai.

Kenan, entah sedang apa kekasihnya itu sekarang–ralat mantan kekasih. Raina tahu kalau Kenan marah karena merasa dikhianati, walau Raina sendiri tidak ada niat sedikit pun mengkhianati Kenan.

Untuk Raina, Kenan adalah cinta pertamanya, mereka berpacaran cukup lama sampai akhirnya memutuskan untuk menikah. Namun, semua itu ternyata tidak berakhir dengan indah karena satu hari sebelum pernikahan Raina malah ketahuan tidur dengan paman dari sahabatnya sendiri.

"Kenapa malah jadi begini? Benarkah malam itu aku dan Paman Raiden melakukannya?" Raina sampai sekarang masih ragu kalau hal itu benar-benar terjadi.

Kata orang-orang, saat pertama kali melakukan hubungan suami itu itu pasti akan terasa sangat sakit, tetapi Raina baru sadar kalau dia tidak merasakan hal itu saat ketahuan satu kamar dengan Raiden. Namun, kalau benar mereka tidak melakukannya, lantas darah yang ada di sprei itu darah apa.

"Apa jangan-jangan sebenarnya Paman Raiden tidak meniduri aku dan kejadian kemarin itu hanya salah paham saja?" gumam Raina menebak-nebak.

"T-tapi kalau bukan, lalu kenapa aku tidak memakai pakaian sama sekali dan Paman hanya memakai celana pendek?" Dia mengusap wajahnya dengan kasar, memijit pelipis pelan karena sekarang dia benar-benar dibuat pusing setelah memikirkan hal itu.

Raina membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan membiarkan kakinya tetap menapak lantai, dia menatap langit-langit kamar dengan sorot mata menyimpan banyak beban.

"Aku sangat mengantuk sekarang," katanya lirih. Sejak semalam dia memang tidak bisa tidur dengan nyenyak sehingga rasa kantuknya saat ini membuatnya langsung tertidur dengan sangat pulas, padahal Raina belum mengganti pakaiannya.

Raina terbangun ketika merasakan wajahnya terkena tetesan air, saat membuka mata dia dibuat terkejut karena mendapati wajah Raiden tepat di depan wajahnya dan berjarak kurang dari sepuluh cm.

Glek!

Raina menelan ludahnya karena dia benar-benar terpesona dengan wajah tampan Raiden, apalagi rambut lelaki itu masih basah dan meneteskan air yang membuatnya menjadi sangat seksi.

"Rain, kenapa belum membersihkan riasan wajahmu, hm?" tanya Raiden dengan begitu lembut, tetapi suaranya terdengar seksi dan menggelitik telinga Raina.

"Menjauhlah dariku, Paman!" cicit Raina yang seketika itu juga langsung menahan dada Raiden dengan kedua tangannya agar tidak benar-benar menempel dengan tubuhnya karena saat ini kaki Raiden sudah sedikit menindihnya.

"Tidak mau," balas Raiden santai. Dia tersenyum miring lalu merapikan anak rambut Raina yang berantakan. "Ternyata kalau diperhatikan dari dekat, kamu cukup cantik, Rain," bisiknya tepat di telinga kiri Raina.

"Aku memang cantik sejak dulu, Paman."

"Oh, ya? Tapi dalam ingatanku, kamu hanyalah anak kecil yang masih bau minyak telon." Raiden terkekeh ketika mengatakannya, dia lalu bangkit dan berdiri tegak seraya melipat kedua tangan di depan dada. "Bangun, bersihkan wajahmu, kemudian mandi!" perintahnya lagi dengan nada tegas dan tidak mau dibantah.

Raina kali ini tidak membantah, dia melakukan apa yang Raiden perintahkan.

Tiga puluh menit berlalu dan dia sudah selesai dengan urusannya. Raina menatap Raiden yang dengan santainya duduk di tepat tidur sambil selonjoran dan bermain ponsel. Raina ragu apakah dia harus mendekat atau tidak, tetapi setelah berpikir cukup lama, dia akhirnya memilih mengambil selimut dan bed cover dari almari lalu menggelarnya di lantai samping tempat tidurnya.

Apa yang dilakukan Raina tidak luput dan perhatian Raiden, pria itu hanya menarik sebelah sudut bibirnya membentuk senyuman sinis dan terkesan mengejek.

"Aku akan tidur di sini," kata Raina dengan suara agak keras, sengaja agar Raiden mendengar dengan baik.

"Terserah," jawab Raiden cuek dan hal itu membuat Raina kesal sampai mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

...~tbc~...

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

SEBENARNYA LO MMG JODOH, INISIAL NAMA SAJA SAMA, DN NAMA JUGA HMPIR2 SAMA, RAINA , RAIDEN...HMPIR2 MIRIPKN..

2023-06-24

0

🍾⃝Tᴀͩɴᷞᴊͧᴜᷡɴͣɢ🇵🇸💖

🍾⃝Tᴀͩɴᷞᴊͧᴜᷡɴͣɢ🇵🇸💖

Kasian Raina kwkwkwkwk dikira dapat perhatian ternyata dengan santai terdengar kata menebalkan 'terserah! 🤣🤣🤣🤣

2023-04-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!