16- Tinggal Terpisah

Raina menurut saja ketika dibawa pulang ke rumah orangtunya setelah mendapat izin dari dokter karena keadaannya sudah membaik. Namun, dia dibuat bertanya-tanya di mana keberadaan suaminya sekarang karena sejak keluar dari kamar dengan mamanya dua hari yang lalu, dia belum bertemu lagi dengannya. Raina ingin bertanya kepada mamanya, tetapi dia takut kalau malah hanya akan memperburuk suasana. Sekarang, dia sudah berada di dalam kamar dan kedua orangtunya juga berada di sana. Mereka duduk di tepi ranjang, sementara Raina duduk bersandar pada kepala ranjang.

"Rain, mulai hari ini dan seterusnya kamu akan tinggal bersama kami lagi. Apa kamu senang?" Sebastian mengatakannya dengan lembut dan hangat, sikapnya sudah kembali seperti dulu lagi sebelum gagalnya pernikahan Raina.

"Iya, Pa." Raina mengangguk dan tersenyum simpul seraya menatap papanya hangat.

"Kamu sedih?" tebak Sinta yang melihat putrinya tidak bersemangat sama sekali.

"Tidak, Ma. Aku senang karena hubungan kita sudah membaik." Raina memang sedih, tetapi dia tidak mau mengakui.

Sebastian dan Sinta langsung bertukar pandang dan raut wajah mereka berubah sendu. Mereka tahu kalau Raina sedang berbohong sekarang dan mungkin putrinya itu sedih karena harus tinggal terpisah dengan Raiden. Namun, mereka juga tidak bisa membiarkan Raina dan Raiden tinggal bersama dalam waktu dekat ini mengingat Raiden telah membuat Raina terluka, bukan hanya hati, tetapi fisiknya juga. Mereka sadar kalau keputusan membawa Raina tinggal bersama mereka lagi sangatlah kejam. Namun, mereka sengaja melakukan itu agar Raina bisa memenangkan diri terlebih dahulu.

"Maaf kalau keputusan kami tidak sesuai dengan keinginan kamu, Rain. Kami melakukannya demi kebaikan kalian." Sebastian mengusap puncak kepala putrinya lembut dan penuh kasih sayang. Dia sedih melihat putrinya sedih, tetapi tidak banyak yang bisa dirinya lakukan selain membawa putrinya kembali.

"Papa tidak perlu meminta maaf padaku karena sebenarnya aku juga berniat untuk tinggal di sini." Raina mengatakannya dengan jujur karena dia butuh waktu untuk menenangkan diri setelah tahu fakta jika selama ini dia telah dibohongi.

"Benarkah? Lalu, apa alasannya?" kepo Sinta dengan sangat penasaran.

"Paman Raiden membohongi aku," katanya seraya menunduk dan menahan air mata. "Satu bulan yang lalu kami tidak pernah berhubungan suami istri, kami hanya tidur di kamar yang sama dengan keaadan tidak memakai apa-apa." Raina menutup wajah dengan kedua tangan dan kemudian terisak pelan. "Dia menipuku, tetapi kenapa dia melakukan itu, Pa, Ma? Dia bahkan tidak berusaha memberitahu fakta yang sebenarnya, dia membuat aku gagal menikah dengan pria yang aku cintai, dia kejam sekali, dia jahat, tetapi kalau sekarang mau berpisah pun, aku tidak akan bisa karena beberapa hari yang lalu aku dan paman benar-benar melakukannya." Raina sebenarnya tidak ingin bercerita, tetapi dia yakin kalau kedua orangtuanya sudah tahu fakta itu sehingga mengajaknya tinggal bersama lagi.

"Maafkan papa yang saat itu tidak mau mendengarkan penjelasan kamu, Rain. Maafkan papa juga yang malah meminta Raiden untuk menikahi kamu." Sebastian langsung memeluk putrinya dan kembali meminta maaf berulang-ulang.

"Sudahlah, Pa! Toh semuanya sudah terjadi, mungkin ini memang sudah takdir Tuhan untukku." Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi hati Raina justru mengatakan yang sebaliknya.

...***...

Raiden tidak diperbolehkan bertemu dengan Raina lagi setelah kejadian itu. Dia bahkan harus dirawat selama satu Minggu di rumah sakit karena lukanya yang cukup parah setelah dipukuli dengan brutal orang mertuanya. Berkali-kali dia menghubungi Raina, tetapi istrinya itu tidak pernah mau menerima panggilan suara darinya, pesan pun tidak ada yang dibaca ataupun dibalas. Raiden tahu kalau istri kecilnya itu pasti sangat kecewa dengannya, tetapi dia berjanji akan membawa Raina tinggal bersama dengannya lagi.

Juan, orang kepercayaan Baskara–kakek Raina, juga sering datang berkunjung dan dia yang memerhatikan dirinya sejak satu Minggu yang lalu. Juan mengatakan kalau dia diminta Baskara untuk menjaga dan terus berada di sisinya. Awalnya Juan bingung karena perintah sebelumnya dia harus selalu mengawasi Raina, tetapi ketika dirinya diminta untuk berganti mengawasi Raiden, dia pun tidak bisa menolak.

"Tuan, minumlah obat Anda dulu sebelum bekerja!" perintah Juan mengingatkan.

"Hm." Raiden menurut saja karena dia tidak mau berdebat dengan Juan.

"Tuan, Anda tidak boleh mengemudi sendiri!" karang Juan seraya mengambil alih kunci mobil dari tangan Raiden. "Tuan Besar meminta saya untuk menjadi sopir Anda," katanya kemudian.

"Hm." Raiden lagi-lagi pasrah, dia pun langsung membuka pintu belakang dan duduk di kursi penumpang, membiarkan Juan melaksanakan tugasnya.

Raiden akan berangkat bekerja hari ini setelah libur selama satu Minggu penuh. Pekerjaan di kantor sudah sangat menumpuk karena ditinggalkan terlalu lama, bahkan beberapa meeting penting harus diundur sehingga Minggu ini dia akan sibuk dan memiliki waktu sedikit untuk beristirahat. Padahal, Raiden berniat untuk mengunjungi Raina di rumah mertuanya, tetapi sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat ini karena jadwalnya yang sangat padat.

Hari demi hari Raiden jalani seperti biasa walau ada rasa kehilangan ketika istri yang menemaninya tidur selama satu bulan sudah tidak ada lagi. Namun, Raiden berusaha untuk berkerja keras agar pekerjaannya cepat selesai dan punya banyak waktu untuk memperbaiki hubungannya dengan Raina. Hingga tidak terasa satu bulan sudah berlalu dan hari ini Raiden ditemani Juan akan pergi ke kampus Raina dan menjemputnya.

"Istriku belum keluar, 'kan?" Dia menatap Juan yang berdiri di luar mobil.

"Belum, Tuan. Mungkin sebentar lagi," kata Juan setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Raiden mengangguk, dia memejamkan mata sebentar sambil menunggu istrinya karena jujur saja dia sedang sangat mengantuk sekarang.

Mungkin sekitar sepuluh menit menunggu sampai akhirnya Raina terlihat keluar dari area bersama seorang wanita dan pria. Juan buru-buru membangunkan Raiden dan memberitahunya. Raiden pun dengan cepat segera keluar dari mobil dan melihat ke arah Raina dengan senyum mengembang, tetapi sesaat senyuman itu memudar ketika dia melihat Kenan sedang tertawa kepada Raina

"Si*l, ternyata kamu malah bersenang-senang dengan pria itu, Rain." Raiden mengepalkan kedua tangan penuh amarah, rahangnya mengeras, urat-urat di tangan, leher, dan wajahnya yang menegang. Raden pun tanpa membuang banyak waktu langsung menghampiri mereka dan memangil istrinya dengan suara yang cukup keras. "Raina!" panggilnya dan berhasil membuat tiga orang sekaligus menoleh ke arahnya.

"P-paman?" Raina terlihat sangat terkejut karena kedatangan suaminya itu. "Kenapa Paman ada di sini?" tanyanya dengan sedikit takut.

"Aku ke sini untuk menjemput kamu, ayo pulang bersamaku sekarang!" ajaknya sambil meraih tangan Raina dan menariknya mendekat.

"Lepaskan aku, Paman! Aku akan pulang bersama Yolanda!" sentaknya kesal, jujur saja Raina masih merasa sakit hati ketika melihat wajah suaminya secara langsung.

"Lepaskan dia, jangan kasar dengan wanita!" sentak Kenan seraya menepis kasar tangan Raiden yang menggenggam pergelangan tangan Raina.

"Diam! Saya tidak memiliki urusan denganmu!" bentak Raiden seraya mendorong bahu Kenan sampai pria itu mundur beberapa langkah. "Yolanda!" panggilnya kemudian setelah beralih menatap keponakannya itu.

"Apa!" jawab Yolanda ketus, dia berani ketus karena marah kepada Raiden yang telah membuat sahabatnya bersedih.

"Pulanglah lebih dulu karena Raina akan pulang bersama paman!" perintahnya tegas dan kemudian kembali menarik tangan Raina, memaksanya ikut ke mobil walau Raina sudah menolak.

Kenapa aku bisa punya paman yang sangat menyebalkan begitu sih? batin Yolanda.

...***...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!