09-Sugar Baby

"Rain," teriak Raiden memanggil istrinya yang sedang berada di dapur dan membantu pelayan membuat sarapan.

"Ya?" Raina menjawab tanpa menoleh ke arah suaminya, dia tetap fokus dengan masakan yang sedang dimasak.

"Hari ini biarkan aku yang mengantar kamu ke kampus." Raiden tiba-tiba berdiri di belakang Raina kemudian memeluk pinggang istrinya itu dengan posesif.

Pelayan yang melihatnya agak terkejut karena bagaimanapun mereka belum terbiasa melihat keromantisan pasangan suami istri itu. Geli saja melihat Raiden memeluk Raina dengan posesif karena di mata para pelayan, Raiden itu sudah seperti papanya Raina sendiri mengingat dia adalah sahabat baik dari ibunya Raina.

Sementara itu, Raina langsung memberontak meminta untuk dilepaskan. Dia sangat malu dipeluk seperti itu di depan para pelayan. Raina menyikut perut Raiden dan mencubit punggung tangan suaminya itu sehingga berhasil lepas dari pelukannya.

Raina kemudian berbalik dan sedikit mendongak agar bisa melihat wajah suaminya dengan bebas. "Jangan ganggu aku, Paman!" pintanya memohon dengan sungguh-sungguh. Dia lalu menarik tangan Raiden dan membawa pria itu pergi menuju ruang makan. "Tunggulah di sini dan diam, aku akan melanjutkan memasak dan setelah itu kita sarapan. Untuk ke kampus, aku akan pergi sendiri menggunakan mobilku," katanya setelah berhasil membuat Raiden duduk di kursi ruang makan.

"Aku tidak mengizinkan kamu pergi sendiri. Mau tidak mau aku akan mengantar kamu kuliah." Raiden sangat keras kepala dan jujur saja membuat Raina kesal.

"Terserah!" Raina lalu kembali ke dapur dan melanjutkan aktivitasnya.

Menu sarapan sudah selesai dibuat dan Raina langsung mengajak suami dan kakeknya makan bersama. Setelah selesai, dia pun langsung pamit pergi kuliah dengan diantar Raiden karena suaminya itu terus memaksa.

Sesampainya di kampus, Raina langsung turun dari mobil dan berlari pergi begitu saja tanpa pamit dengan suaminya.

Raiden berdecak kesal karena merasa dirinya hanya dianggap sebagai seorang sopir oleh istri kecilnya itu. Namun, dia tidak marah karena tahu Raina sedang kesal padanya sekarang.

Setelah mengantarkan sang istri, Raiden pun langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan untuk bekerja.

Sejak keluar dari mobil milik Raiden, Raina mendapat tatapan penuh interogasi dari beberapa mahasiswa lain yang melihatnya. Bahkan, ada yang terang-terangan bergosip dan menuduh kalau Raina sekarang menjadi sugar baby dari om-om berduit.

Telinga Raina sampai terasa panas mendengar ucapan mereka yang tidak benar, tetapi dia juga sangat malas untuk memberitahu mereka kalau apa yang mereka katakan tidak benar.

Raina terus berjalan menuju kelas, tetapi sebelum sampai ke kelasnya dia berpapasan dengan Kenan yang seketika itu juga langsung menghadang dan membuatnya terpaksa berhenti.

"Tolong lepaskan aku, Ken!" pintanya dengan nada rendah.

"Aku punya urusan penting denganmu, ikut aku sekarang!" Kenan langsung menarik tangan mantan tunangannya itu dan membawanya ke tempat yang cukup sepi agar lebih nyaman bicara berdua.

Raina sebenarnya tidak ingin meladeni Kenan, tetapi karena kelasnya dimulai setengah jam lagi, maka dia merasa tidak masalah kalau harus bicara dengan Kenan terlebih dahulu karena jujur dia pun penasaran kira-kira apa yang akan dilakukan Kenan dengannya. Mereka pergi ke taman dan duduk di kursi panjang yang ada di sana.

"Rain, aku membenci kamu."

"Kamu sudah mengatakan itu padaku kemarin, Ken." Raina memalingkan wajah karena tidak mau kalau Kenan melihat kesedihannya.

"Tapi–" Kenan sengaja menggantung ucapannya.

"Tapi apa?" Raina menuntut penjelasan.

"Tapi aku masih mencintai kamu, Rain. Kamu memang terkesan murah karena bisa-bisanya tidur dengan pamanmu sendiri, tetapi aku tidak bisa melupakan kamu begitu saja, aku masih sangat mencintai kamu," sentak Kenan yang sebenarnya kesal dengan dirinya sendiri yang masih saja mencintai Raina setelah gadis itu mengkhianati dirinya.

"Semua sudah berakhir, Ken. Aku sudah meminta maaf dan kamu juga membenci aku. Kamu bisa mendapat wanita mana pun yang kamu mau karena selama ini memang banyak sekali wanita yang tertarik denganmu. Tapi kalau boleh jujur, kata-kata kamu yang mengatakan kalau aku murah itu sungguh lebih menyakitkan daripada rasa bencimu kepadaku," ucap Raina dengan suara serak karena dia sedang berusaha mati-matian menahan tangis sekarang.

"Aku yang lebih sakit melihat kamu tidur dengan pria lain satu hari sebelum kita menikah!" bentak Kenan yang lagi-lagi terpancing emosinya.

"Carilah wanita lain, Ken!"

"Aku ingin, tetapi aku tidak bisa melakukannya!" bentak Kenan sambil memegang dua bahu Raina.

"Kamu bisa, keluarga kamu juga sangat benci dengan aku sekarang dan mereka pasti sudah menyiapkan wanita pengganti untuk kamu." Raina menunduk, tidak berani menatap wajah Kenan atau tangisannya akan pecah saat itu juga.

"Aku tidak bisa, Rain. Aku tidak bisa!" Kenan menarik paksa tubuh Raina sampai menabrak tubuhnya, setelah itu dia langsung memeluknya dengan sangat erat dan penuh kasih sayang walau rasa jijik dan benci itu masih sangat terasa. "Aku benci kamu, tetapi dengan bodohnya aku mencintaimu." Kenan menangis sesenggukan.

"Maafkan aku, Ken. Aku juga mencintai kamu, tetapi takdir membuat kita berpisah dan aku sekarang sudah menjadi istri orang lain. Ken, tolong lupakan aku dan anggap saja kita tidak pernah menjalin hubungan sebelumnya, kamu pria baik dan pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." Raina membalas pelukan Kenan sebentar kemudian melepaskannya. Setelah itu, dia langsung berdiri dan berlari meninggalkan Kenan di taman.

Raina takut kalau terus berlama-lama berdua dengan Kenan akan membuat dia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Raina juga takut dianggap selingkuh oleh Raiden karena sampai suaminya itu tahu tentang apa yang terjadi di taman kampusnya.

Semua sudah berakhir, kisah cinta yang indah itu sudah hancur dan menorehkan luka di hati banyak orang. Raina tidak mau semakin menyakiti hati mantan tunangannya itu karena andai mereka kembali pun, semua pasti sudah tidak akan terasa sama seperti sebelumnya.

Raina terus berlari dan masuk ke toilet untuk membasuh wajahnya karena dia tidak mau kalau orang lain tahu jika dirinya harus saja menangis. Saat dia masuk ke kelas dan dosen pembimbing datang, Raina berusaha untuk fokus walau pikirannya sedang bercabang ke mana-mana sekarang.

Yolanda yang duduk tidak jauh darinya hanya mampu menatap Raina dengan prihatin.

Setelah kuliahnya selesai, Raina langsung meninggalkan kampus dan akan langsung pulang ke tempat tinggalnya dengan ojek online. Dia bahkan mengabaikan Yolanda yang sejak keluar dari kelas terus mengikuti dan bertanya apa dia baik-baik saja atau tidak.

"Rain, aku harap kamu mau bercerita kepadaku walau tidak hari ini," teriak Yolanda ketika sahabatnya itu sudah naik ke motor ojek online dan melesat pergi.

...~tbc~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!