13-Demam

Setelah Raina tidak sadarkan diri, Raiden langsung menggendong istrinya itu keluar kamar mandi kemudian membaringkannya di ranjang, dia juga juga memakaikan baju untuk Raina dengan yang kering dan hangat agar istrinya itu tidak kedinginan. Setelah selesai, dia langsung mengambil minyak kayu putih dan mengusapkan ke pelipis, telapak kaki, dan perut istrinya. Raiden menyentuh dahi Raina dan terkejut karena merasa dahi istrinya itu sangat panas.

"Ya Tuhan, panasnya sampai 39 derajat," gumam Raiden setelah mengukur suhu tubuh Raina dengan termometer. Dia menatap iba Raina yang memejamkan mata dengan bibir bergumam tidak jelas. "Maafkan aku, Rain. Gara-gara aku kamu sampai sakit seperti ini," gumamnya penuh penyesalan.

Raina sekarang meringkuk di ranjang dan seluruh tubuhnya kecuali kepala tertutup oleh selimut tebal. AC juga sengaja Raiden matikan agar udara di kamar itu lebih hangat, tetapi Raina masih terlihat sangat kedinginan. Raiden pun sudah mengompresnya dengan telaten dan memberi obat penurun panas untuknya, tetapi belum ada perubahan sedikit pun.

"Shhh," gumam Raina dengan bibir bergetar.

"Rain, kita ke rumah sakit ya!" bujuk Raiden seraya mengusap lembut puncak kepala Raina.

"T-tidak mau!" tolak Raina dengan suaranya yang terdengar serak dan lirih. Dia sudah sadar sehingga bisa mendengar suara suaminya walau matanya masih terasa berat untuk dibuka.

Raiden bisa merasakan hembusan napas istrinya yang ikut terasa panas efek dari demamnya sekarang.

"Tapi panas tubuhmu tidak segera turun, aku takut kamu kenapa-kenapa nanti." Raiden mengecup lembut dahi istrinya itu. "Maaf, Rain. Setuju atau setuju aku akan membawa kamu ke rumah sakit," bisiknya kemudian menggendong Raina. Dia meminta tolong pada sopir untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit secepatnya sebelum terlambat.

Raina sebenarnya ingin menolak dan memberontak, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan itu.

Aku membencimu, Paman! gumam Raina sambil mengernyitkan dahi karena kepalanya terasa sangat pening sekarang.

Selama di perjalanan, Raina memangku istrinya dan menyandarkan kepala Raina di dada bidangnya. Tiba di rumah sakit, Raina langsung ditangani oleh dr. Samuel yang sudah lama kenal dengan Raiden. Malam itu dr. Samuel mengatakan kalau Raina harus dirawat inap setidaknya satu atau dua hari agar sembuh. Raiden pun setuju demi kebaikan istri kecilnya itu, dia juga merasa sangat bersalah karena membuat istrinya itu sakit akibat ulahnya.

Raina sudah dipindahkan ke rumah rawat VVIP dan sekarang terbaring lemas di ranjang dan tertidur pulas karena efek obat yang diberikan dokter padanya.

"Kau yang membuat gadis mungil itu sampai sakit, 'kan?" sindir dr. Samuel seraya menatap sinis Raiden.

"Ya, aku tidak akan mengelak karena faktanya memang seperti itu." Raiden menyibak rambutnya dengan gerakan kasar seraya terkekeh kecil penuh penyesalan.

"Kau menggagahi dia dengan sangat brutal?" sindir dr. Samuel lagi ketika menyadari banyak tanda merah di leher Raina yang tidak sengaja dia lihat ketika memeriksa wanita itu tadi.

"Ck, aku bukan binatang yang tega menyakiti istriku sendiri!" sentak Raiden emosi karena dia mencumbu istrinya dengan lembut, mengingat itu adalah pertama kalinya untuk Raina.

"Tapi buktinya dia sampai sakit begitu," omel dr. Samuel seperti emak-emak saja.

"Dia sakit karena berendam terlalu lama di kamar mandi." Raiden meninju pelan lengan dr. Samuel yang malah terus mengajaknya bicara. "Pergi sana, aku mau menemani istriku tidur!" usirnya sambil menahan emosi.

"Ck, oke." Dokter Samuel segera keluar dari ruang rawat Raina. Namun, ketika dia berjalan menuju ruangannya, dia baru teringat dengan sesuatu. "Bukannya istri Raiden itu anaknya Sinta, 'kan?" Matanya langsung terbelalak ketika menyadari hal itu, dia baru tahu kalau Raiden menikah ya hari ini karena tidak diberitahu oleh Raiden sebelumnya. "Setahuku Raina akan menikah dengan pria bernama Kenan tapi batal, kok malah menikah dengan Raiden?" Dokter Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pusing sendiri dengan pikirannya.

Sementara itu, setelah dr. Samuel meninggalkan kamar rawat. Raiden langsung memilih tidur dengan posisi duduk di sebelah brankar sambil menggenggam tangan kanan istrinya yang bebas dari infus.

"Cepat sembuh, Sayang." Raiden menyempatkan diri mencium dahi istrinya sebelum dia benar-benar terlelap.

...***...

Renan baru saja mau berangkat ke kantor ketika salah satu orang suruhannya yang dia tugaskan untuk mengawasi Raina secara diam-diam menelepon.

"Ya, Hallo." Renan segera menerima panggilan suara itu karena yakin kalau ada hal penting yang akan disampaikan orang suruhannya.

"Tuan Muda, saya punya informasi penting tentang Nona Muda," katanya pengawalnya langsung.

"Informasi apa? Cepat katakan dan jangan banyak basa-basi!" Renan tidak suka membuang waktunya dengan percuma.

"Nona Muda dilarikan ke rumah sakit dan sekarang dirawat di sana. Dari informasi yang saya dapatkan, beliau dirawat karena demam tinggi."

"Demam tinggi?" Renan terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa dia demam tinggi?" bentak Renan tanpa sadar, tangannya terkepal kuat karena khawatir.

"Benar, Tuan Muda. Maaf sebelumnya, saya belum tahu alasan Nona Muda bisa demam tinggi."

"Ya sudah, terima kasih sudah memberitahu saya! Terus awasi Raina dan beri kabar terbaru tentangnya!" Renan mengakhiri telepon secara sepihak. Dia lalu masuk kembali ke rumah dan pergi menemui papa serta mamanya yang masih berada di ruang makan karena mereka belum selesai sarapan.

"Mama," teriak Renan dengan napas ngos-ngosan karena tadi dia berlari dari teras ke ruang makan.

"Kenapa balik lagi, Ren?" Mama mengerutkan dahinya dan bertanya-tanya karena melihat wajah putranya itu terlihat panik.

"Ma, Raina dirawat di rumah sakit karena demam tinggi sekarang. Ayo kita ke sana dan melihat keadaannya secara langsung!" ajak Renan grasak-grusuk karena dia benar-benar panik sekarang. Bagaimana tidak panik kalau adik kesayangan dan satu-satunya itu sampai dirawat di rumah sakit, padahal adiknya itu jarang sekali sakit sebelumnya.

"Apa? Bagaimana bisa?" Sinta pun langsung ikut panik juga.

"Renan tidak tahu, Ma! Ayo cepat kita ke sana sekarang!" ajaknya lagi setengah memaksa.

"Oke-oke, kita pergi sekarang, tapi mama mau mengambil tas dan ponsel dulu ke kamar." Sinta buru-buru berlari ke kamar dan tidak lama kembali lagi menemui putranya. Sementara itu, Sebastian juga sudah bersiap karena dia akan ikut menjenguk putrinya. Apalagi dia juga sangat merindukan Raina setelah lebih dari satu bulan tidak bertemu dengannya. Satu keluarga itu pun langsung pergi menuju rumah sakit.

"Pantas saja sejak semalam perasaan mama tidak enak, ternyata salah satu anak mama sedang sakit," ucap Sinta dengan penuh kesedihan.

"Raina pasti akan baik-baik saja, Ma. Dia gadis yang kuat." Sebastian sengaja mengatakan itu untuk memenangkan sang istri.

"Raina itu tidak mudah sakit sebelumnya, pasti terjadi sesuatu dengannya sampai dia bisa sakit seperti itu," ucap Sinta dengan sangat yakin. "Kalau sampai penyebab sakit Raina adalah Raiden, mama tidak akan segan-segan membawa dia pulang ke rumah dan tinggal bersama kita lagi," katanya menggebu-gebu.

"Iya-iya, sekarang tenanglah dulu!" Sebastian memeluk istrinya yang malah semakin banyak bicara.

Kalau dugaan mama benar Raina sakit karena ulah Paman Raiden. Aku tidak akan segan-segan memberi perhitungan untuknya. Dia sudah menyakiti hati Raina sebelumnya dan aku tidak akan membiarkan dia menyakiti fisiknya juga.

Renan menekan pedal gas semakin dalam sehingga mobil melaju lebih kencang.

...~tbc~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!