07-Memberi Cicit Untuk Kakek

Ketika pulang ke penthouse, Raina tidak mendapati seorang pun di sana dan dia yakin kalau suaminya itu belum pulang kerja. Berhubung dia hanya sendirian, Raina pun memutuskan untuk berendam air hangat sepuasnya untuk merilekskan tubuh dan pikiran.

Satu jam berlalu dan dia sudah selesai dengan urusannya. Perutnya berbunyi minta untuk segera di isi, dia buru-buru pergi ke dapur dan mencari bahan masakan di kulkas, tetapi karena dia malas memasak yang ribet-ribet, akhirnya dia mengambil satu bungkus mie instan, satu telur, dan satu pakcoy kemudian merebus dan menyantapnya sambil menonton drama.

Hari sudah semakin malam, tetapi Raiden belum pulang juga. Raina mulai merasa kesepian dan dia sudah bosan menonton drama, dia pun mengambil ponsel kemudian menghubungi suaminya.

"Kenapa tidak diangkat sih?" gerutunya kemudian melemparkan ponsel ke sembarang arah karena kesal. Namun, tidak lama setelahnya dia mengambil ponsel itu lagi kemudian beranjak turun dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya karena dia memutuskan akan pergi sendiri ke rumah kakeknya malam itu.

"Semoga saja kakek belum tidur," gumamnya yang sekarang sudah berada di dalam mobil dan siap melaju menuju rumah kakeknya yang kebetulan tidak berjarak terlalu jauh dari penthouse.

Tiba di sana, Raina langsung disambut oleh Juan, pria berusia dua puluh delapan tahun yang bekerja sebagai pengawal kakeknya. Juan adalah anak dari asisten pribadi kakek sebelumnya sehingga dia bekerja di sana atas permintaan ayahnya sendiri.

"Kak Juan, apa kakek ada di rumah?" tanyanya setelah turun dari mobil.

"Ada, Nona. Tuan Besar sedang bersantai sekarang," jawab Juan yang kemudian mengekor di belakang Raina, mengikuti gadis itu untuk menemui kakeknya.

Senyum langsung mengembang di bibir Raina ketika dia melihat kakeknya sedang sibuk membaca sebuah majalah bisnis dengan kaca mata bertengkar di atas hidung mancungnya.

"Kakeeek." Dia berlari seperti anak kecil dan langsung menubruk kakeknya untuk dia peluk erat.

"Rain, kamu bikin kakek jantungan!" kata pria tua itu sambil terkekeh kecil, tawa khas kakek tua.

"Hehe, Rain rindu sama Kakek, sudah lama kita tidak bertemu." Raina mengerucutkan bibir dan di mata kakeknya itu sangat menggemaskan.

"Padahal Minggu lalu kita sudah bertemu. Di mana Raiden?"

"Cucu menantumu itu itu sibuk bekerja, Kek."

"Dia suami kamu kalau lupa, Rain!"

"Paman sahabatku adalah suamiku. Lucu sekali, aku sampai sekarang bahkan masih harus beradaptasi dengan status kami yang berubah menjadi suami istri. Kakek, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Raina tiba-tiba ingat dengan sebuah kejanggalan tentang Raiden.

"Apa, Rain?"

"Kenapa nama belakang Paman Raiden tidak ada nama ayahnya?"

"Itu karena bukan kakek yang memberi dia nama," jawab Kakek dengan jujur.

"Aku tahu karena kakek bukan ayahnya Paman Raiden. Apa mungkin sebenarnya Paman Raiden bukan anak kandung kakeknya Yolanda?" tebak Raina asal-asalan.

"Tidak usah dibahas, kamu kenapa tiba-tiba datang ke sini, hm?" Kakek mengusap lembut rambut cucunya itu.

"Karena aku sendirian di penthouse, kangen sama Mama tapi aku tidak berani pulang ke sana. Mama sama Papa masih kecewa denganku karena kejadian malam itu, Kak Renan juga marah. Suamiku sibuk kerja dan mungkin pulang malam atau bahkan bisa saja dia menginap di kantor dan melupakan kalau sudah punya istri sekarang. Kakek, suamiku itu ternyata sangat menyebalkan, kita tinggal serumah tetapi jarang bicara kalau tidak perlu, aku juga belum menerima dia sepenuhnya sebagai suami." Panjang lebar sekali Raina berbicara, mengutarakan semua isi hati dan pikirannya.

"Meskipun begitu, mereka sayang kepadamu, Rain."

"Aku tahu, makannya aku takut dengan mereka sekarang karena telah membuat mereka kecewa."

"Hubungan kalian pasti akan membaik seperti sebelumnya. Sekarang, lebih baik kamu fokus dengan kuliahmu dan fokus untuk memberi cicit untuk kakek kamu ini!" pinta Kakek dengan sangat serius sambil menoel hidung mancung cucu kesayangannya itu.

"Aaa, Kakek. Apa aku harus memanggil kamu malaikatku sekarang?" Raina menangkup pipinya dengan kedua tangan, bibirnya mengerucut lucu, matanya berkedip beberapa kali sehingga membuat kakeknya itu tertawa dan menepuk pelan kepalanya berkali-kali.

Juan yang berdiam diri di sana dan memerhatikan interaksi antara cucu dan kakek itu bahkan langsung tersenyum simpul, padahal dia bukan tipe orang yang mudah tersenyum atau tertawa. Juan itu tipe pengawal yang tegas dan dingin, bisa dibilang dia cenderung introvert dengan orang baru, tetapi bisa jadi ekstrovert ketika sudah kenal dekat.

"Terserah karena kamu cucu kesayanganku sekarang." Kakek mencubit gemas pipi cucunya itu.

"Kek." Raina memanggil pelan seraya menggenggam kedua tangan kakek yang kulitnya mulai keriput itu.

"Kenapa?"

"Aku sepertinya tidak bisa memberikan cicit untukmu."

"Memangnya kenapa?"

"Aku dan suamiku tidak pernah melakukan ehem-ehem," bisik Raina karena tidak mau kalau Juan mendengar ucapannya.

"Kenapa memangnya, Rain?"

"Aku belum mencintai suamiku dan mungkin aku masih butuh banyak waktu untuk mencintai dia, Kek."

"Tidak apa-apa. Kakek yakin kalau suatu hari nanti cinta akan tumbuh di antara kalian." Kakek memeluk lagi cucunya itu.

Raina diam sebentar, menikmati pelukan hangat kakeknya yang membuat dia rindu dengan pelukan papanya. Apa kabar ya papa dan mamanya sekarang, dia penasaran tetapi tidak mau mencari tahu.

"Kakek, aku minta maaf karena gara-gara aku perusahaan milik kakek jadi putus kerjasamanya dengan perusahaan milik keluarga Kenan." Raina meminta maaf dengan tulus, dia benar-benar merasa bersalah dengan semua itu.

"Tidak apa-apa."

"Kakek, aku mau menginap di sini malam ini, boleh?"

"Boleh, tidurlah di kamar papamu dulu!" perintah Kakek langsung.

"Oke, kalau begitu aku akan pergi ke kamarnya sekarang. Selamat malam, Kakek!" Raina mencium pipi kakeknya kemudian berlalu pergi menuju lantai dua tempat kamar pamannya berada.

"Malam kembali, Rain." Kakek menatap cucunya sampai tidak terlihat lagi. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Juan. "Juan, mulai dari sekarang aku tugaskan kamu untuk menjaga cucuku yang satu itu, awasi dia dan ikuti ke mana dia pergi mulai sekarang, jika Raiden memintamu untuk tidak mengawasi Raina, katakan saja padanya kalau itu perintah dariku!" tutur Kakek dengan tegas, tetapi suaranya pelan karena jika keras takut Raina akan mendengarnya.

"Siap, Tuan Besar. Saya akan melakukan perintah, Anda." Juan langsung mengangguk setuju karena tidak punya pilihan untuk menolak.

Kakek tersenyum dengan berjuta makna lalu dia bangun dari duduknya dan beranjak pergi menuju kamarnya. Dia sudah harus beristirahat sekarang agar kesehatannya tidak terganggu mengingat dirinya sudah tidak muda lagi sekarang.

Setibanya di kamar, kakek langsung duduk di tepi ranjang kemudian menatap foto dirinya, sang istri, dan kedua anaknya yang saat itu masih kecil. "Anak laki-laki kita dan kamu sudah bahagia ya di sana?" gumamnya tanpa mengalihkan fokusnya pada foto sang istri yang sedang menggendong bayi laki-laki.

Ngomong-ngomong, istrinya Kakek alias neneknya Raina sudah meninggal dua belas tahun lalu. Putra Kakek juga meninggal di usia delapan tahun karena kecelakaan sehingga mama Raina menjadi anak satu-satunya sekarang.

...~tbc~...

...Like, komen, vote, hadiah jangan lupa. Hadiah dari nonton iklan boleh banget lho....

.

Terpopuler

Comments

HotBaby

HotBaby

lanjut beb

2023-04-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!