Sebelum matahari terbit, Tian sudah bersiap untuk mengemas barang barangnya yang dia titipkan pada Riko.
Tian hanya meninggalkan selembar surat di atas sofa. Dia tak membangunkan Riko yang sedang tertidur pulas. Dia juga hanya membawa baju dan barang rampasan yang diambil dari tas Sarah semalam.
Tian keluar rumah mengenakan jaket hitam, dipadukan dengan celana jeans dan tak lupa memakai topi berwarna hitam. Dia menutup wajahnya dengan masker berwarna hitam juga, supaya tak ada yang mengenalinya. Dia berjalan kaki menuju terminal bus.
Langkah kaki Tian terasa sangat berat meninggalkan kota kelahirannya. Dan di kota inilah dia juga membunuh istrinya.
Bagaimana keadaan Sarah sekarang? Apakah dia sudah mati atau masih hidup? Apa aku sudah terlalu kejam pada Sarah? Achh..Sudahlah, biarkan saja. Semua sudah terjadi.
Selama di perjalanan menuju terminal bus, Tian selalu memikirkan keadaan Sarah. Masih terbayang bagaimana kejamnya dia semalam, saat melukai orang yang dia cintai. Ada sedikit perasaan bersalah dalam hatinya. Namun, semua sudah terjadi. Dan ini jalan yang harus dia tempuh untuk melanjutkan hidup. Dia sudah tak bisa menengok ke belakang kembali.
Walaupun dia sangat menyesal atas perbuatannya sendiri, tetap saja tak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
"Maaf, Sarah. Aku sudah gelap mata. Aku tak bisa mengendalikan emosi sesaatku. Tapi kau juga yang memulai semua ini. Jika kau tak meminta cerai dan tetap diam seperti dulu, semua ini tak mungkin terjadi. Kau juga sudah mengkhianatiku Sarah. Haaahhhhh..."
Tian menghempaskan kepalan tangannya ke udara dan menendang batu kerikil yang ada di depannya, hingga melambung jauh ke depan.
Di jalanan yang Tian lewati sekarang masih sangat sepi, hanya beberapa kendaraan saja yang lewat.
Sesampainya di terminal bus, Tian melihat jam besar yang tergantung di dinding terminal, jam menunjukkan pukul 03.45. Terminal juga masih belum beroperasi, karena masih terlalu pagi.
Tian mencari tempat untuk beristirahat sejenak. Kakinya sangat pegal, karena harus berjalan kaki dari rumah Riko ke terminal. Itu jarak yang lumayan jauh.
"Hahhh..Capek juga ternyata kabur kayak gini." Gumam Tian sambil memijit kakinya dari atas ke bawah.
Ketika Tian sedang sibuk memijit kedua kakinya, tiba tiba ada segerombolan pria berbadan kekar yang datang ke terminal, mereka seperti sedang mencari sesuatu.
Tian sedang bersantai, merokok dan meminum air mineral yang ia bawa sendiri. Salah satu dari mereka menghampiri Tian. Karena hanya Tian satu satunya orang yang bisa mereka tanya saat ini.
“Maaf, Tuan. Saya ingin bertanya, apakah Tuan mengenali orang yang ada di foto ini?” Tanya salah satu dari mereka dengan menunjukkan selembar foto.
Mata Tian membelalak dan dia juga sempat tersedak karena sangat terkejut. Ternyata orang yang sedang mereka cari adalah dirinya.
Ada apa mereka mencariku? Batin Tian sembari matanya masih melihat pria di hadapannya itu. Tetapi, dia harus bisa lebih tenang supaya tak ada yang curiga padanya.
“Maaf saya tak tahu, Tuan. Saya pendatang baru di kota ini, jadi tak mengenali siapapun di sini.” Dengan sopan Tian menjawab dan berdalih agar tak ada yang mengenalinya.
“Baiklah, terimakasih.” Pria itu akhirnya pergi setelah mendapat jawaban dari Tian.
Mereka tak menaruh curiga pada Tian. Karena di sekitar terminal lampunya tak terlalu terang dan Tian juga menggunakan masker, jadi wajahnya tak terlihat jelas oleh mereka.
Tian mengernyitkan dahi. "Kenapa orang orang itu mencariku? Apakah mereka sudah tahu kalau aku yang membunuh Sarah? Padahal semalam tak ada seorangpun yang melihat, kalau aku sudah membunuh Sarah. Apa jangan jangan Sarah masih hidup, dan dia bercerita tentang siapa yang sudah membunuhnya? Achh..Tak mungkin. Tapi, siapa mereka? Sepertinya mereka sangat berbahaya. Kalau begitu aku harus bersembunyi, sebelum mereka menyadari aku ada di sini." Gumam Tian.
Tian pergi dari tempat duduknya dan mencari persembunyian yang lebih aman. Menunggu sampai mereka pergi, baru nanti dia akan kembali ke terminal untuk pergi ke luar kota.
Setelah berjalan cukup jauh dari terminal, Tian mendapatkan tempat persembunyian di sebuah toko kecil yang sudah tak terpakai lagi. Dia membuka pintu toko yang tak terkunci dan bersembunyi di dalam sana.
"Sial, kenapa mereka bisa secepat itu tahu, kalau aku yang sudah membunuhnya." Kedua tangannya mengepal. Jantungnya berdegup kencang, sekarang dia adalah buronan.
****
📞”Halo, Tuan Muda.” Ari sedang menelepon Gavin.
📞”Iya. Ada apa, Ri?” Jawab Gavin dari seberang telepon.
📞”Kami tak menemukan pelakunya di terminal bus, Tuan. Sepertinya kita kalah cepat dari dia.” Mata Ari masih mencari ke sekeliling area terminal.
📞”Sial, kenapa kau lambat sekali!! Seperti yang ku katakan, jangan kembali sebelum kau menemukan bajingan itu!! Kau cari informasi tentang keluarganya atau teman dekatnya, mungkin saja mereka tahu keberadaannya sekarang.” Terdengar sangat dingin dan menyeramkan suara Gavin.
📞”Baik, Tuan.” Segera Ari menupun telepon.
Dia lalu berlari kembali menyisir seluruh tempat pembelian tiket bus dan tempat parkir bus.
Salah satu dari Anak buah Ari yang bernama Nino, berlari menghampirinya.
“Tuan, sepertinya pria yang memakai jaket hitam dan memakai topi hitam tadi, adalah orang yang kita cari. Karena setelah saya bertanya padanya tadi, dia langsung pergi dari sini.”
“Apa kau tak salah dengan perkataanmu?” Ari bertanya untuk lebih memastikan, bahwa itu memang benar.
“Iya, Tuan. Saya tak salah berkata.” Nino menganggukkan kepalanya.
“Apa kau melihat dia berlari kearah mana?” Ari menatap tajam pada Nino.
“Kalau tak salah lihat, tadi dia berlari ke arah pintu keluar terminal, Tuan.” Jawab Nino seraya menunjuk arah pintu keluar.
“Ok. Kamu segera mencarinya di luar terminal dan bawa beberapa dari mereka untuk membantumu. Jangan sampai lolos lagi banjingan itu. Hidup kita tergantung pada pekerjaan ini. Kalau sampai kita gagal, Bos Gavin akan menghabisi kita semua.” Ucap Ari seraya menjelaskan semua akibatnya nanti.
“Baik, Tuan.” Nino menganggukkan kepala dan bersiap untuk pergi mencari target.
Nino dan beberapa temannya berlari ke arah keluar pintu terminal bus.
Ari dan semua anak buahnya itu tak pernah melihat bagaimana wajah Tian yang sebenarnya. Mereka hanya berbekal foto yang ditunjukkan Gavin.
***
Sekarang sudah pukul 06.30. Riko bangun dari tidurnya lalu menggosok mata dan duduk di atas kasur. Setelah nyawanya terkumpul, dia mulai turun dari kasur dan berjalan ke luar kamar. Melihat Tian sudah tak ada di rumahnya, dia merasa aneh. Tak biasanya Tian sudah bangun sepagi ini, dan kenapa dia pergi tak berpamitan terlebih dahulu? Tian seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Riko merapikan sofa yang semalam dipakai Tian tidur. Tak sengaja dia menemukan selembar kertas di atas sofa.
Riko, maaf aku pergi tanpa membangunkanmu. Aku akan ke luar kota. Terimakasih sudah menjadi teman baikku selama ini. Jika suatu saat nanti ada yang datang ke rumahmu mencariku, kamu pura pura saja tak mengenalku. Jangan memberikan informasi apapun pada orang yang tak kamu kenal.
Setelah membaca surat dari Tian, Riko menghempaskan tubuhnya ke sofa. Teman baiknya sudah pergi meninggalkannya sekarang.
"Kamu sebenarnya ada masalah apa Tian. Kenapa tak bercerita padaku? Hahh..." Riko meletakkan sebelah lengannya di atas kening.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments