Braaakkkk ...
Terdengar suara gebrakan meja dari dalam gubuk kecil.
“Siaalll..Kenapa aku selalu kalah terus!!” Tian mengamuk karena kalah judi lagi.
Sudah berkali kali dia kalah, tapi tetap saja dia ketagihan untuk bermain judi.
“Sabar, nanti juga ada saatnya kau menang Tian.” Ucap salah satu temannya sembari tertawa lebar.
"Ha ha ha ha.." Teman teman Tian tertawa bersama.
Tian yang mendengar mereka mentertawakan dirinya, dia jadi semakin merasa kesal. Lalu dia keluar dan pergi meninggalkan tempat judi.
Tian Pulang ke rumah dengan bau alkohol dan jalannya pun sempoyongan.
Sudah terbiasa, Tian pulang dengan keadaan mabuk seperti itu. Seolah olah dia tak punya beban, dan hanya ingin selalu bebas.
Di resto,
Hari sudah semakin larut malam. Tetapi, pria tampan tadi, tak kunjung pergi dari resto. Padahal, resto sudah hampir tutup.
Sarah tidak tahu, jika pria tampan itu sedang menunggunya untuk berkenalan, sekaligus mengajaknya pulang bersama.
Setelah semua pekerjaan di resto selesai , Sarah berpamitan pulang pada Bu Tika. Lalu melangkah keluar resto, dan dengan santai dia melewati pria tampan itu yang sedang jongkok di samping pintu.
Pria tampan itu bergegas berdiri, ketika melihat Sarah berjalan keluar resto.
Matanya berbinar dan tersenyum melihat wajah cantik Sarah.
“Hai.. Bolehkah aku tahu, siapa namamu?” Ucap pria tampan itu dengan sedikit memiringkan kepalanya.
Sarah berhenti melangkah. Rasanya hanya ada dia dan pria itu di depan resto sekarang.
Sarah pun menoleh pada pria itu.
Apakah benar dia yang sedang ditanya? Batin Sarah.
“Kamu, berbicara denganku?” Sarah bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iyaa..Apakah aku boleh berkenalan denganmu?” Jawab pria muda itu sambil mengulurkan tangannya.
Sarah merasa bingung, kenapa pria tampan seperti dia ini, mau berkenalan dengan seorang pelayan yang berpakaian lusuh seperti Sarah?
Apakah dia sedang bermimpi? Ataukah hanya halusinasi?
Sarah mencubit tangannya sendiri, untuk menyadarkan dirinya. Bahwa, tidak ada seorang pria tampan berkemeja rapi, yang mau berkenalan dengannya.
“Haii..Kamu sedang melamun? Memikirkan apa?” Dengan lembut pria itu menyadarkan Sarah. Tangannya masih terulur menunggu jawaban dari Sarah.
Sarah kaget, ini nyata!! Tak mimpi dan tak halusinasi. Dia lalu bergegas menjawabnya.
“Iyaa...Boleh. Kenalin aku Sarah.” Dengan mengulurkan tangan, Sarah tersenyum manis pada pria itu.
“Kalau Aku, Gavin Gumalang. Boleh aku mengantarkanmu pulang?”
Gavin menerima uluran tangan Sarah, dan merasakan kehangatan tangannya. Terasa seperti mendapatkan energi baru yang selama ini hilang dalam dirinya. Hatinya semakin berdebar ketika menyentuh tangan Sarah.
“Maaf, anda tak perlu mengantarkan saya pulang. Saya bisa pulang sendiri.”
Sarah menolak dengan sopan permintaan Gavin. Lalu, dia melepaskan tangan Gavin dan menunduk memberi salam pada Gavin. Lalu Sarah melangkah pergi meninggalkan Gavin yang masih berdiam diri di depan resto.
Gavin masih tertegun dengan penolakan Sarah dan mulutnya menganga. Karena selama ini, Gavin tak pernah sekalipun ditolak wanita manapun. Justru, wanita wanita itu berlomba untuk mengejar cinta Gavin. Tetapi, berbeda dengan Sarah. Wanita cantik itu tak memperdulikannya dan tanpa basa basi langsung menolaknya.
Gavin yang lebih suka menghadapi tantangan, dia mulai penasaran dengan Sarah. Dan dia juga bertekad untuk mendapatkan hati Sarah.
Dia tak bisa menyerah begitu saja. Dia harus berhasil, bagaimanapun caranya nanti.
***
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Sarah sampai di rumahnya.
Ketika Sarah membuka pintu rumahnya, tercium bau alkohol yang menyengat. Sarah sudah tak heran dengan bau seperti ini. Dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini selama 3 tahun menikah dengan Tian. Untuk saat ini dia hanya bisa diam dan tak bisa berbuat apa apa.
Setelah menutup pintu, Sarah melangkah memasuki rumahnya.
Sarah melirik Tian dengan sudut matanya, dia sedang berbaring di atas sofa ruang tamu.
“Sarah! Habis darimana saja kau. Jam segini baru pulang!”
Sarah Tak peduli dengan apa yang dikatakan Tian. Dia terus melangkahkan kaki memasuki kamar. Terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan dari Tian.
"Haahhhhhh..."
Sarah menghela nafas panjang, dan mulai berbaring di atas kasur. Sarah teringat dengan Gavin yang tiba tiba mendekatinya tadi. Sarah berharap, ini hanya sekali Gavin mendekatinya. Dia tidak mau jika sampai Tian tahu, kalau ada pria lain yang mendekatinya.
Tak terasa, setelah beberapa saat melamun, mata Sarah mulai terpejam. Dengan tertidur, Sarah bisa dengan bebas melepaskan lelahnya sepanjang hari ini.
Malam pun berganti Pagi hari. Matahari dengan sangat cepat menyebarkan sinarnya yang kemilau.
Tok tok tok
Di pagi hari, sudah terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras dari luar rumah.
“Sarah, bayar uang sewa kontrakanmu sekarang!! Kau sudah menunggak 2 bulan!!”
Teriak seorang wanita yang menagih pembayaran uang sewa.
Sarah yang baru saja bangun dari tidurnya, hanya melamun mendengar suara teriakan itu. Dia masih mengumpulkan nyawanya untuk bisa berdiri dari tempat tidurnya.
Ketika semua sudah terkendali, Sarah melangkah keluar kamar untuk melihat siapa yang sepagi ini sudah datang kerumahnya dengan berteriak.
Sebelum membuka pintu, Sarah mengintip dari balik jendela. Dia terkejut, matanya melebar dan mulutnya menganga. Dia melihat tamunya itu ternyata, Bu Gina pemilik rumah yang ia sewa.
Dengan rasa bingung dan takut, Sarah memberanikan diri membuka pintu. Dia menggigit bibirnya sendiri dan mengambil nafas dan menghembuskannya, untuk merendakan rasa takutnya.
“Ehh..Bu Gina. Emmm, Bu Gina saya belum ada uang sekarang. Bu Gina bisa kasih saya tenggat waktu lagi gak? 2 minggu lagi saya akan bayar Bu.”
Dengan melemparkan senyuman dan kedua tangan dikatupkan di depan dada, Sarah memohon waktu lagi pada Ibu pemilik kontrakan.
Saat ini Sarah tak memegang uang banyak. Karena uang Sarah sudah menipis, setiap hari Tian selalu meminta uang padanya. Dia juga belum terima gaji dari resto Bu Tika.
“Minta waktu terus, kapan kau mau membayarnya!!” Bu Gina meletakkan tangannya di pinggang sambil melotot pada Sarah.
“2 minggu lagi ya, Bu. Pasti saya akan membayarnya.” Sarah menampakkan wajah memelasnya.
“Ok, saya kasih kamu waktu 2 minggu mulai dari sekarang. Kalau sampai kau tak bisa menepati janji, kau akan tau akibatnya Sarah!!”
Dengan kesal, Ibu pemilik kontrakan melenggangkan kakinya meninggalkan rumah Sarah.
Sarah berpikir keras, bagaimana bisa dia membayar uang sewa kontrakan dalam 2 minggu ini.
Padahal, dia saja masih belum tahu kapan akan mendapatkan uang sebanyak itu. Gaji dia di resto, tak bisa membayar penuh tagihan kontrakannya.
Dia mondar mandir di depan pintu sembari berpikir, harus mendapatkan uang sebanyak itu di mana? Apa harus dia mencari pekerjaan yang lain. Yang bisa memberinya gaji tinggi.
Sarah memejamkan mata dan menyenderkan punggungnya di dinding tembok. Kepalanya mendongak ke atas, dia berpikir, harus bagaimana menghadapi semua ini.
Sangat berat beban yang ditanggungnya saat ini. Mempunyai anak saja, tak pernah terpikirkan olehnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
aldi alwan
sampai kamu miskin juga gak bakalan menang Tian😂😂
2023-03-24
0