Tian tertawa atas kemenangannya itu.
Tian seperti sudah dirasuki setan yang sangat kejam. Dia tak ada ampun buat Sarah. Padahal, yang selama ini memberinya uang dan menafkahi dirinya adalah Sarah, istrinya sendiri.
Tapi, kenapa dia sampai tega membunuh Sarah? Apa dia selama ini memang tak punya hati untuk Sarah?
Sarah yang merasakan tubuhnya mulai lemas dan tak punya tenaga lagi, hanya bisa mendengarkan suara Tian yang tertawa. Dan pandangan matanya sudah mulai pudar dan tak ada cahaya lagi.
Melihat Sarah yang sudah tak berdaya, Tian mulai mengambil tas Sarah dan membongkar isi tasnya. Tian mengambil uang dan handphone milik Sarah.
“Lumayan, bisa dijual lagi untuk main judi, ha ha ha.” Tian tertawa sembari memasukkan barang curiannya ke dalam kantong celananya.
Sarah seperti sedang bermimpi buruk. Tapi kali ini, dia tak bisa bangun dari mimpi buruknya itu. Sarah sudah pasrah jika ini memang takdir yang ditentukan Tuhan untuknya. Tapi dia juga selalu berdoa, jika Sarah diberi kesempatan untuk hidup kembali nanti , dia akan memilih untuk tidak mengenal pria brengsek yang sudah membunuhnya itu.
Setelah mengambil semua isi tas Sarah sampai tak tersisa, Tian pun langsung mengambil langkah seribu. Berlari secepat mungkin, sebelum ada orang yang melihatnya.
Sekarang tinggal Sarah sendirian terbaring di atas aspal yang dingin di gang buntu itu, dengan darah yang masih bercucuran keluar dari tubuhnya. Hanya Tuhan dan kesunyian malam yang menjadi saksi bisu atas kekejaman Tian.
****
Tuan Gumalang berjalan cepat menyusuri lorong perkantoran dengan diikuti Asisten pribadinya, Deri namanya. Dia ingin segera menemui anaknya yang sekarang berada di kantor, mengurus perusahaan yang tiba tiba kacau karena ulah orang orang jahat.
Sesampainya mereka di depan pintu ruangan Gavin. Deri yang dari tadi hanya mengikuti di belakang Bosnya, sekarang maju lebih dulu untuk membuka pintu ruangan itu.
“Gavin, bagaimana dengan perusahaan. Apakah sudah stabil kembali?” Tanya Papinya sembari melangkah masuk ke ruangan dan menghampiri Gavin yang sedang duduk di kursi panasnya, dengan menatap layar laptop.
“Tinggal sedikit lagi, Pi.” Gavin memijit dahinya karena pusing memikirkan perusahaannya yang tiba tiba terjadi masalah.
Di rumah Tuan Gumalang,
Tut..Tut..Tut..
Bunyi handphone Bi Mira yang sedang menelepon Ari.
📞”Halo, Bi.” Terdengar suara Ari di seberang telepon.
📞”Ari, Bibi mau tanya. Apa Sarah tak ikut pulang denganmu dan Tuan Muda?” Tanya Bi Mira.
📞”Eemm.. Sarah tadi pulang sendiri, Bi. Karena Tuan Muda tiba tiba mendapat kabar ada masalah di kantor, jadi kita langsung pergi. Memangnya, ada apa Bi?” Ari mulai penasaran, kenapa Bi Mira menanyakan Sarah padanya.
📞”Sudah selarut ini, Sarah belum juga pulang, Ri. Bibi khawatir, kalau sampai terjadi sesuatu pada Sarah.” Dengan wajah khawatir Bi Mira menjawab.
📞”Sarah belum pulang kerumah, Bi?” Mata Ari melebar karena terkejut, mendengar perkataan Bi Mira.
📞”Iyaa, Ri. Tolong cari ya, di mana Sarah sekarang. Handphonenya juga tak bisa dihubungi.” Bi Mira berjalan mondar mandir karena semakin khawatir pada Sarah.
📞”Baiklah. Bi Mira tenang saja dulu, saya akan melapor pada Tuan Gavin tentang kejadian ini. Nanti kita akan segera mencari Sarah sampai ketemu.”
Setelah berbicara pada Bi Mira, Ari menutup telepon dan bergegas berlari masuk ke ruang kantor Gavin.
“Maaf,Tuan Muda. Ada masalah dengan Sarah.” Ari menunduk memberi kabar pada Gavin.
“Ada masalah apa dengan Sarah?” Gavin menatap tajam pada Ari.
Gavin yang dari tadi masih sibuk dengan laptopnya jadi teralihkan, setelah mendengar ucapan Ari.
“Sudah selarut ini, Sarah belum sampai rumah, Tuan.” Ucap Ari.
“Apaa!!!” Serempak Tuan Gumalang dan Gavin terlonjak kaget, mendengar kabar dari Ari.
"Kemana dia, sudah malam begini belum juga pulang ke rumah?" Tanya Tuan Gumalang.
"Bi Mira bilang, kalau handphone Sarah juga tidak bisa dihubungi, Tuan." Imbuh Ari
“Menyusahkan saja, Hah!” Tuan Gumalang duduk kembali di sofa.
"Pi, Gavin mau mencari Sarah dulu. Urusan kantor, nanti Gavin lanjutkan setelah Sarah ketemu." Ucap Gavin seraya melangkahkan kaki keluar ruangannya.
"Pergilah. Semoga cepat ditemukan Sarah. Urusan kita belum selesai Gavin." Papinya pusing memikirkan masalah yang datang tanpa henti.
“Baik, Pi. Ari, siapkan mobil sekarang, kita harus mencari Sarah sampai dapat.” Lanjut Gavin memberi perintah.
Ari yang mendengar perintah itu, langsung berlari ke parkiran mobil. Mobil melesat dengan cepat keluar dari parkiran.
Setelah Gavin memasuki mobil, dia mencoba menelepon Sarah. Namun nomor Sarah memang tak bisa dihubungi. Gavin semakin khawatir, dan menyesal kenapa tadi dia meninggalkan Sarah sendirian. Seharusnya dia mengantarkan Sarah pulang terlebih dulu.
“Tuan, kita mau mencari Sarah ke mana?” Tanya Ari sembari tetap fokus menyetir mobil.
“Kita cari ke resto yang biasa aku datangi.” Gavin menatap langit malam dibalik jendela mobil.
“Baik, Tuan.” Ari langsung melaju dengan kencang menuju resto.
Tak perlu waktu lama untuk sampai di resto. Sesampainya di sana, Gavin dan Ari turun dari mobil mencari orang yang mungkin bisa mereka tanyai. Namun, mereka tak melihat siapa pun di sana. Karena sudah larut malam resto juga sudah tutup dan jalanan sekitar area resto juga sudah sepi.
Gavin mondar mandir di depan resto. Berpikir, kemana lagi dia harus mencari Sarah.
“Tuan Muda, kita harus mencari Sarah ke mana lagi? Ini sudah sangat malam.” Ari bertanya pada Gavin
Tiba tiba Gavin teringat dengan jalanan menuju rumah Sarah. Mungkin saja Sarah pulang ke rumahnya malam ini.
“Ayo, ikuti aku.” Gavin berjalan di depan Ari dan melangkah dengat cepat.
“Baik, Tuan.” Ari mengikuti Gavin dari belakang
Mereka berjalan menyusuri trotoar dan sampailah mereka di gang kecil yang menuju rumah Sarah. Tak sengaja Gavin mendengar salah satu wanita yang sedang berjalan kaki berbicara pada temannya.
“Hei, kamu tahu gak? Tadi tuh ada wanita yang dibunuh di gang buntu sana, darahnya banyak banget. Iihhh... merinding aku melihatnya.” Ucap wanita itu
“Emang, iya? Kok aku gak lihat tadi? Apa dia selamat?” Timpal temannya.
“Iyaa..Tapi untung saja dia bisa diselamatkan. Dan langsung di bawa warga ke rumah sakit terdekat.” Lanjut mereka
Gavin yang mendengar percakapan mereka, langsung menghentikan langkahnya. Dia lalu menghampiri segerombolan wanita itu.
“Maaf, Nona. Apakah saya boleh bertanya?” Gavin berbicara pada salah satu dari mereka.
Waahh.. ganteng banget pria ini. Siapa namanya? Boleh gak ya aku kenalan sama dia. Pikir mereka, karena terpesona melihat Gavin. Beberapa wanita itu tersenyum genit melihat Gavin berbicara pada mereka.
Gavin mengernyitkan dahi, terheran melihat kelakuan mereka. Ditanya malah senyum senyum genit tak jelas seperti itu.
“Maaf, Nona. apakah saya boleh bertanya?” Gavin sekali lagi bertanya pada mereka.
“Eemm..Boleh kok pria tampan. Kamu mau bertanya apa pada kami?” Jawab salah satu dari mereka.
“Apakah wanita yang kalian bicarakan tadi, berambut panjang dan cantik?” Gavin dengan cepat bertanya sebelum mereka melamun kembali.
“Aku tak tahu dia berambut panjang atau cantik. Tapi, yang aku dengar dia membawa tas. Dan tas itu hanya berisi pakaiannya saja, barang berharganya sudah tak ada.” Jawab wanita itu.
Bawa tas yang berisi pakaian? Jangan jangan itu benar Sarah! Batin Gavin.
“Apakah kalian tahu, wanita itu di bawa kemana?” Tanyanya lebih lanjut.
“Dia di bawa ke rumah sakit terdekat sini. Coba saja kamu cari di sana.” Ucap wanita yang lainnya .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments