Betapa terkejutnya dia setelah melihat wajah Tuan Mudanya itu.
Ternyata dia adalah Gavin yang selalu berusaha mendekatinya.
Sarah membungkam mulutnya dengan kedua tanganya karena terkejut, dia juga mulai bingung.
Apa yang harus dilakukannya sekarang. Kalau dia tak melanjutkan bekerja di sini, dia pasti tak bisa membayar uang sewa kontrakan. Dan akan diusir dari rumah. Tetapi kalau dia tetap bekerja di sini, bagaimana kalau sampai Tian tahu? Pasti Tian akan marah besar.
Sarah berjalan mondar mandir kesana kemari memikirkan keputusannya. Sampai pada akhirnya...
“Siapa sih, berisik banget..Gak tahu apa aku masih ngantuk.” Terdengar suara Gavin yang kesal , karena langkah kaki Sarah yang sudah membuat kegaduhan.
“Maaf, Tuan Muda. Saya sudah membuat anda kesal. Saya Pelayan baru anda, Tuan. Tugas saya adalah melayani anda dan membangunkan anda setiap hari. Dan ini sudah jam 06.10 Tuan Muda, waktunya anda untuk bangun, sarapan dan berangkat bekerja.”
Sarah menundukkan kepalanya sembari memungut baju kotor yang ada di kamar Gavin.
Gavin yang masih setengah tertidur, kaget mendengar suara yang dia kenal.
Dengan cepat Gavin membuka matanya dan duduk di atas ranjang, untuk melihat siapa Pelayan barunya itu. Dan benar saja, dia tak salah dengar. Itu adalah suara Sarah, wanita yang dikenalnya.
“Sarah..Apa benar ini kamu Sarah? Atau aku hanya bermimpi melihatmu ada di kamarku?”
Gavin tak percaya jika Sarah-lah yang menjadi Pelayan pribadinya sekarang.
Sarah hanya menganggukkan kepala dan terdiam. Dia Tak berani mengatakan apapun.
Gavin menatap Sarah cukup lama. Dia merasa sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Sarah.
Gavin tersenyum melihat Sarah yang salah tingkah di depannya. “Ok, kamu bisa keluar sekarang Sarah. Aku akan mandi terlebih dahulu.”
Dengan suara lembut Gavin menyuruh Sarah untuk keluar dari kamarnya.
Sarah yang mendengar perintah dari Tuan Mudanya, langsung menganggukkan kepala dan keluar dari kamar.
Deg deg deg..
Jantung Sarah serasa mau loncat dari tempatnya. Dia memegangi dadanya karena gugup.
Badannya panas dingin karena harus bertemu Gavin setiap hari nantinya.
Di dalam kamar mandi Gavin bernyayi dan menari, karena hari ini dia sangat senang.
Setelah membuka matanya dia bisa langsung melihat orang yang dia suka.
Maklum, semenjak Mami nya meninggal, Gavin tak pernah merasakan perasaan sesenang ini lagi.
Dia selalu menampakkan wajah yang dingin ketika ada Pelayan baru ada di kamarnya.
Hanya Sarah yang bisa meluluhkan hatinya yang sedingin es di kutub utara.
Tetapi, Gavin juga masih bingung. Kenapa Sarah bisa bekerja di rumahnya? Padahal, Sarah kan sudah bekerja di resto?
“Acchhh..Terserah-lah. Yang penting aku bisa bertemu dengan Sarah setiap hari.” Senyuman kebahagiaan itu terukir di wajah tampannya.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, Gavin mulai turun untuk sarapan. Sepanjang dia menuruni anak tangga, dia masih saja tersenyum bahagia.
“Vin, kamu kenapa senyum senyum sendiri? Kamu kesurupan setan apa? Tak biasanya kamu sebahagia ini?” Papinya saja sampai heran. Anaknya ini kenapa bisa sebahagia ini. Biasanya dia paling benci, jika harus punya Pelayan baru lagi. Tapi kali ini sangatlah berbeda. Ada apa ini?
“Tak apa, Pi. Cuma ada yang bikin Gavin senang saja hari ini.” Gavin menarik kursi meja makan dan duduk di sebelah Papinya. Matanya masih saja melirik Sarah yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Sesekali Gavin melempar senyuman pada Sarah.
“Aneh kamu, Vin.” Papinya menggelengkan kepala karena merasa heran dengan tingkah anaknya ini.
“Silahkan ini sarapannya, Tuan Muda.” Sarah dengan senang hati menyiapkan sarapan untuk Gavin.
Gavin dengan senang hati juga menerima sarapan yang dibuatkan Sarah, khusus untuknya seorang.
Mata Gavin hampir keluar karena menatap Sarah tanpa berkedip.
“Ehheemmm”
Suara dehem Papi Gumalang membuyarkan tatapan Gavin pada Sarah.
Gavin adalah anak tunggal dari keluarga Gumalang yang kaya raya. Tetapi dibalik semua itu, masih ada rasa sedih yang mendalam, karena sang Mami sudah meninggal saat Gavin mulai beranjak dewasa. Maka dari itulah, Gavin menjadi pribadi yang temprament. Dia tak pernah suka, jika ada Pelayan baru untuknya.
Dia hanya mau Maminya yang menemaninya dan meyiapkan kebutuhannya.
Tetapi, semua sekarang berubah setelah Gavin bertemu dengan Sarah. Seakan dia menemukan sosok yang sama seperti Maminya.
Sarah yang pendiam, sabar, ramah dan yang tepenting dia adalah wanita tercantik kedua setelah Maminya.
Setelah selesai sarapan, Tuan Gumalang dan Gavin berangkat bekerja bersama.
Di dapur, Sarah sedang membereskan meja makan. Dia lalu mengambil minum karena haus.
“Sarah..Bagaimana sikap Tuan muda?” Tanya Bi Mira yang ada di dapur bersama Sarah.
“Baik kok, Bi. Tuan Muda tak seram dan tak galak, dia juga sopan.” Sarah menjawab dengan sudut bibir tersenyum tipis.
“Kok bisa, Tuan muda sebaik itu pada Pelayan baru?”
Bi Mira heran dengan Tuan Mudanya, sikapnya yang dingin selama ini bisa luluh begitu saja ketika melihat Sarah yang menjadi Pelayannya? Aneh sekali.
****
Di kantor, Gavin masih saja memikirkan Sarah dengan salah tingkahnya tadi. Dia tertawa geli sampai Ari Asisten pribadinya bingung.
“Bos, Anda sehat?” Karena penasaran, Ari akhirnya bertanya.
“Kamu pikir, saya sakit?” Gavin menoleh dan memicingkan matanya pada Asistennya itu.
“Maaf, Bos.” Asistennya lalu menunduk dan tak berani berkata lagi.
Mereka berjalan bersama melewati lorong gedung perkantoran. Gedung ini adalah milik Papi Gavin, yang sudah diwariskan kepadanya.
Sore harinya setelah selesai bekerja, Gavin langsung pulang ke rumah. Dengan langkah cepat, Gavin masuk ke dalam rumah. Tanpa bertanya lagi dia langsung berlari mencari Sarah ke kamar, ke dapur. Tetapi tetap tak ada hasilnya.
Sarah kemana? Kok sudah tak ada di rumah ini?
Pikir Gavin yang masih tetap mencari Sarah di setiap ruangan rumahnya.
Setelah berlarian mencari Sarah ke sana kemari namun tak ada hasil, akhirnya Gavin mencoba bertanya pada orang yang di rumah.
“Bi, Sarah ada di mana?” Dengan mata yang masih mencari Sarah ke sana kemari.
“Maaf, Tuan muda. Sarah baru saja pulang, Tuan Gumalang yang menyuruhnya pulang dahulu, karena hari ini pertama dia bekerja, jadi tak perlu menunggu Tuan muda pulang.” Dengan kepala menunduk Bi Mira memberitahunya.
Dengan perasaan kesal, Gavin pergi meninggalkan Bi Mira. Dia melangkah pergi ke kamar Papinya.
Tanpa permisi Gavin langsung menerobos masuk ke dalam kamar Papinya.
“Papi!! Kenapa Sarah sudah disuruh pulang sebelum aku sampai rumah?” Teriak Gavin di depan pintu kamar Papinya.
Papinya yang baru saja sampai di rumah dan sedang duduk sambil menyeruput kopi, terkejut mendengar teriakan dari anak kesayangannya.
“Uhuk..Uhuk..Kenapa harus berteriak, Gavin. Kamu kan bisa berbicara lebih sopan pada Papi. Apa Papi tak salah dengar? Apa yang kamu tanyakan, coba katakan sekali lagi.” Papinya tak percaya pada ucapan Gavin.
“Pokoknya, mulai besok Sarah tak boleh pulang sebelum aku sampai rumah. Oke.. Papi!!” Gavin membuat permintaan kepada papinya.
Papinya yang masih terheran dengan kelakuan anaknya ini tak bisa berkata apa apa.
Setelah membuat permintaan pada Papinya, Gavin melangkah keluar dari kamar Papinya.
Braaakkk..
Suara pintu kamar dibanting.
Papi Gumalang hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
Sesampainya Gavin di kamarnya, dia masih merasa kesal dengan Papinya.
Namun di juga senang besok akan bertemu dengan Sarah lagi.
"Sarah, aku sudah tak sabar menunggu hari esok." senyuman manis terukir di wajah tampan Gavin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Nuranita
Gavin kyk anak kecil 😂😂
2023-03-27
0
Nuranita
Cieeeh gavin 😄
2023-03-27
0