Krrukk..Krruukk..
Perut Tian mulai berbunyi. Dia sangat lapar karena seharian belum makan sesuatu. Dia seharian hanya sibuk mencari Sarah dan sejenak lupa untuk makan.
“Sial..!!!”
Tian menendang barang apa saja yang ada di depan matanya. Tak lama kemudian ada suara teriakan dari luar.
“Sarah..Sarah..Keluar kau! Bayar uang sewa kontrakan sekarang!” Teriak ibu pemilik kontrakan.
Dengan keadaan masih marah, Tian mulai kebingungan, kenapa uang sewa kontrakan belum juga dibayar Sarah? Padahal dia sudah mendapatkan pekerjaan baru. Apa dia sengaja membuat aku semakin sengsara disini.
“Sial....!! Kau benar benar sudah berani menantangku, Sarah. Tunggu saja kau, akan ku habisi jika kita bertemu lagi!!" Geram Tian, karena menurutnya hari ini adalah hari yang sangat sial baginya. Dengan langkah yang berani Tian membuka pintu rumahnya.
“Berisik sekali kau, Bu tua!!. Sarah tak ada dirumah, jadi kau cari saja dia di luar sana.” Dengan melambaikan tangan mengusir Ibu pemilik kontrakan, Tian berbalik marah padanya.
“Beraninya kau mengusirku dan berbalik memarahiku!! Kalau begitu, kau saja yang bayar uang sewa kontrakan ini.” Amarah Ibu kontrakan semakin memuncak.
“Jika kau tak bisa membayarnya sekarang, kau pergi dari rumah ini sekarang juga!!” Lanjut ibu pemilik kontrakan mengusir Tian dari rumah sewanya.
“Kau berani mengusirku, Bu tua?!" Geram Tian dengan mengangkat jari telunjuk, menunjuk wajah Ibu pemilik kontrakan.
“Kenapa aku tak berani mengusirmu. Ini rumahku, aku punya hak untuk mengusir siapa saja yang tak membayar uang sewa padaku.” Ibu pemilik kontrakan semakin menjadi amarahnya.
“Kaauuuu!!!” Tian berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Dia mengambil pisau di dapur.
Dengan langkah cepat dia keluar rumah, dengan berani dia mengacungkan pisau itu kearah Ibu pemilik kontrakan.
“Coba, sekali lagi kau bicara padaku menagih uang sewa, pisau ini akan ku pastikan melayang kearah kau.” Ancam Tian pada Ibu pemilik kontrakan.
“Kau!! Dasar orang gilaa!! Awas saja kau, aku akan kembali ke sini lagi untuk menagih uang sewa padamu!!” Dengan tangan kosong Ibu pemilik kontrakan pergi meninggalkan Tian yang masih mengacungkan pisau kepadanya.
***
Sore hari Gavin sudah pulang bekerja. Seperti biasa, dia bergegas masuk ke dalam rumah untuk melihat apakah Sarah masih ada atau sudah pulang.
Dia mencari ke sana kemari. Namun, setelah Gavin mencari cukup lama, dia juga tak menemukan Sarah.
Gavin berpikir kalau, ayahnya-lah yang sudah menyuruhnya untuk pulang cepat seperti kemarin lagi.
Tanpa berpikir lagi, Gavin berlari keluar menghampiri Papinya yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu.
“Papi.. Papi..Kenapa Papi tak menepati janji padaku!! Kenapa Sarah disuruh pulang cepat lagi seperti kemarin?”
Papi Gumalang yang sedang menyesap kopinya terkejut mendengar Gavin yang tiba tiba datang memarahinya.
“Tenang dulu Gavin. Pelan pelan kalau berbicara pada Papi. Kamu baru pulang kerja, jangan langsung emosi seperti itu.” Papinya mencoba menenangkan Gavin, supaya emosinya tak semakin membara.
“Papi tak menepati janji !!” Dengan perasaan yang masih kesal Gavin memarahi Papinya. Dia tidak tahu kalau Sarah sekarang sudah tinggal di rumahnya.
“Coba kamu tanyakan saja pada Bi Mira, pasti dia tahu di mana Sarah sekarang.” Ucap Papi Gumalang tanpa menatap Gavin yang masih kesal padanya.
Mendengar ucapan dari Papinya, Gavin bergegas melangkah pergi tanpa mengatakan apa apa lagi.
Dengan berjalan cepat dia mencari Bi Mira.
Namun, sebelum Gavin bertemu Bi Mira, terdengar suara seorang wanita yang dia rindukan. Suara itu berasal dari pintu utama.
“Selamat sore, Tuan Gumalang.” Sarah mengangguk menyapa Tuan Gumalang yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu.
“Sore juga. Sarah, itu ada yang mencarimu sampai dia memarahi saya.” Dengan santai Tuan Gumalang berkata seperti itu.
Sarah mengerutkan kening berpikir, siapa yang sudah berani memarahi Tuan Gumalang, hanya untuk mencari Pelayan sepertinya?
“Siapa itu, Tuan?” Tanya Sarah penasaran.
“Nanti juga kamu tahu sendiri, siapa yang mencarimu.” Jawab Tuan Gumalang tanpa menoleh kearah Sarah.
Dari dalam rumah, Gavin berlari menghampiri Sarah yang masih terdiam mematung di ruang tamu.
“Sarah.”
Dengan wajah sumringah Gavin menghampiri Sarah.
Sarah tak merespon Gavin, karena masih melamun memikirkan siapa yang sedang mencarinya.
“Sarah, Sarah..Kau tak mendengarku memanggilmu?”
Gavin menepuk pundak Sarah.
Sarah terkejut, matanya membelalak setelah melihat Gavin yang sudah berdiri di hadapannya sekarang.
“Iya.. Tuan Muda. Ada perlu apa?” Dengan bingung Sarah menjawab asal.
“Kamu kenapa? Apa kamu sedang melamun sekarang? Apa yang kamu pikirkan Sarah, sampai kamu tak sadar aku memanggilmu?”
Mata Gavin berbinar melihat Sarah ada di hadapannya.
“Maaf, Tuan muda. Saya tak mendengar Anda memanggil saya.” Sarah menunduk meminta maaf pada Gavin.
Papi Gumalang yang melihat dua sejoli itu sedang berbicara berdua, dia lalu menyela tanpa dosa..
EHeeemmmm...
Dehem papi Gumalang.
“Sudah tahu kan, siapa yang mencarimu Sarah? Lalu, kalian mau berbicara sampai berapa lamanya disitu?”
Papi Gumalang hanya melirik mereka berdua sembari menyesap kopinya kembali.
Dengan wajah menunduk Sarah pamit ke belakang untuk meletakkan sayuran yang dia bawa.
"Permisi, Tuan." Sarah berjalan masuk ke dapur.
“Sarah, apa perlu aku bantu?” Dari belakang Gavin mengikuti Sarah kearah dapur.
Papi nya yang melihat kelakuan anaknya hanya menggeleng geli.
“Tak perlu, Tuan muda. Saya masih sanggup membawanya sendiri.” Sarah tersenyum pada Gavin yang berusaha meraih belanjaan dari tangannya.
“Tak apa Sarah, aku ikhlas kok membantumu.” Gavin membalas senyuman Sarah. Gavin meraih kantong belanja yang ada di tangan Sarah.
Dan tak sengaja tangan mereka bersentuhan.
Karena kaget tangan Gavin menyentuhnya, dengan cepat Sarah melepas kantong belanjaan yang ada di tangannya.
“Aaacchhhh..” Erang Gavin, ketika kakinya tertimpa kantong belajaan yang berat itu.
Sarah kaget dengan erangan Gavin. Dan dengan cepat dia melihat ke bawah pada tas belajaan yang sudah jatuh menimpa kaki Gavin.
“Hah.. Maaf maaf, Tuan muda. Saya tak sengaja menjatuhkannya.”
Sarah melongo kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Seketika itu dia berlutut untuk memungut belanjaannya yang jatuh berantakan. Sungguh dia menyesali perbuatannya.
Gavin tersenyum melihat wajah Sarah yang panik, tapi itu sangat menggemaskan di mata Gavin.
“Kenapa wajahmu begitu cantik, walaupun sekarang kau sedang panik Sarah?” Ucap Gavin dengan mata yang berbinar melihat wajah Sarah yang semakin cantik itu.
“Haahhh...?”
Sarah mendongak ke atas dan melongo karena tak menyangka Gavin akan berkata seperti itu padanya.
Tanpa sengaja mata mereka saling bertemu, dan Gavin yang melihat bibir Sarah terbuka, rasanya ingin sekali langsung menyesapnya.
Duh.. Aku tak tahan melihatmu seperti ini Sarah.
Air liur Gavin hampir menetes karena melihat bibir merah Sarah.
“Karena kamu sudah melukai kakiku, kamu harus dihukum Sarah.”
Bisik Gavin dengan nada menggoda di telinga Sarah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Neonnorey
Yo uwes Lo pak suam
2023-06-12
0