Sarah hanya tersenyum mendengar perkataan Bi Mira. Dia tak menjawabnya dan malah pergi ke kamar Tuan Muda untuk membangunkannya.
Di rumah Tian.
“Sarah!!Sarah!! Kenapa tak membuatkan aku sarapan!!” Teriak Tian dari dapur rumahnya.
Setelah beberapa kali berusaha memanggil Sarah, namun tak ada jawaban.
Tian dengan rasa kesalnya membuka kamar Sarah dengan kasar.
Betapa terkejutnya dia saat melihat kamar Sarah yang sudah tak berpenghuni.
Melihat lemari baju Sarah yang terbuka dan semua pakaiannya sudah tak ada.
Braaakkk..
Suara pintu kamar ditendang.
“Siaallaann!!! Kau berani kabur dariku Sarah!! Tunggu saja apa yang akan aku lakukan pada kau, jika aku menemukan kau kembali!!”
Geram Tian menggertakkan giginya dengan kedua tangannya mengepal.
Dengan rasa kesal dan dendam, Tian melangkah keluar rumah untuk mencari Sarah. Dia mencari ke resto, di mana Sarah setiap hari bekerja.
Sesampainya di depan resto, Tian masuk ke dalam resto dan langsung mencari Sarah. Dan tanpa bertanya lagi, dia masuk ke dalam dapur.
Bu Tika yang melihat suami Sarah datang ke resto, tanpa basa basi langsung menghampirinya.
“Heeiii..Kau orang gila!! Mau apa kau di dapurku?" Tanya Bu Tika.
"Aku, sedang mencari Sarah." Tian menjawab dengan mata melotot ke arah Bu Tika.
"Oo.. Kau mencari Sarah. Dia tak ada di sini, sudah satu minggu dia tak bekerja di resto lagi. Apa Sarah kabur dari rumah? Akhirnya, anak itu berani juga kabur. Kau orang gila!! Tak perlu mencari Sarah lagi. Sarah terlalu baik buat kau!!” Bu Tika menunjuk wajah Tian dengan jari telunjuknya.
“Banyak omong kau Bu tua. Di mana Sarah bekerja sekarang!! Cepat kasih tahu aku, atau kau akan tau akibatnya!!” Ancam Tian pada Bu Tika.
“Mana aku tahu, Sarah bekerja di mana sekarang. Walaupun aku tahu, aku tak akan memberi tahu kau di mana dia bekerja.” Dengan berani Bu Tika menjawabnya dan tak menghiraukan ancaman dari Tian.
“Kau, sudah bosan hidup Bu tua? Apa kau sudah siap mati sekarang?” Dengan mengeluarkan sebilah pisau dari saku jaketnya, Tian kembali mengancam Bu Tika.
Bu Tika sangat terkejut melihat Tian mengeluarkan pisau.
Hah..Dia membawa pisau. Bagaimana ini? Melihatnya saja sudah membuat badanku gemetar, bagaimana kalau pisau itu mendarat di tubuhku? Pikir Bu Tika sambil melangkah mundur untuk mengambil barang apa saja yang bisa dipakainya untuk melawan Tian.
Praankk..Braaakkk..
Terdengar suara gaduh dari dalam dapur. Seorang pelanggan yang penasaran, dia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke dapur, melihat apa yang sudah terjadi.
Pelanggan itu pun sangat terkejut, ketika melihat kejadian di dapur itu.
“Bu Tika, awas..!!“ Seru salah satu pelanggan pada Bu Tika untuk berjaga jaga.
“Heii..Kauu!! Apa yang akan kau lakukan dengan membawa pisau di hadapan Bu Tika!!” Teriak pelanggan lain yang ikut melihat kejadian di dapur.
Karena dipergoki banyak pelanggan, Tian akhirnya memasukkan pisaunya dan berlari keluar resto untuk menyelamatkan diri dari amukan masa.
Setelah melihat Tian pergi dari dapur, para pelanggan yang melihat kejadian tadi, langsung menghampiri Bu Tika.
“Bu Tika, tak apa? Apa ada yang terluka Bu?” Tanya para pelanggan dengan wajah khawatir.
“Tak apa...Terimakasih sudah menyelamatkanku.” Bu Tika tersenyum, walaupun badannya masih sedikit gemetar karena kejadian tadi.
Di rumah mewah.
Tok tok tok
“Permisi, Tuan muda. Saya masuk ke kamar, ya.”
Sarah membuka pintu dan berjalan menghampiri Gavin yang masih tertidur pulas.
Sarah mengamati wajah tampan Gavin. Dia tidur saja tampan banget. Sudur bibir Sarah terangkat sedikit dan tiba tiba jantungnya berdegup dengan kencang.
Ada apa dengan jantung ini? Kenapa jadi tak karuan seperti ini? Sarah memegangi dadanya dengan sebelah tangannya.
Sarah jadi teringat masa lalunya, dulu dia pernah merasakan perasaan seperti ini saat pertama kalinya bertemu dengan Tian. Cinta pertamanya yang membuat hati Sarah bahagia, sekaligus yang membuat hati Sarah hancur seketika.
Tetapi sekarang dia tak mau memikirkannya lagi. Sarah ingin membuka lembaran baru yang bisa membuatnya lebih baik.
"Huuuhhh.."
Sarah menepuk dadanya untuk mengatur detak jantungnya dan nafasnya yang mulai tak beraturan.
“Tuan Muda. Bangun, sudah jam 6. Tuan Muda harus bersiap sekarang.” Dia mengulurkan tanganya untuk membangunkan Gavin.
Suara lembut Sarah terdengar syahdu di telinga Gavin. Dengan cepat, tangan Sarah ditarik oleh Gavin dan tanpa pertahanan, dia langsung terjatuh di pelukan Gavin.
Kedua Mata mereka betemu dengan jarak yang sangat dekat dan badan mereka saling menempel di atas kasur yang empuk. Jantung Sarah semakin berdetak tak beraturan. Rasanya, badan Sarah terlalu lemas untuk bangun dari badan Gavin.
Gavin pun demikian, jantungnya berdetak kencang sampai sampai Sarah mungkin bisa merasakannya.
“Sarah, aku mencintai mu. Aku sungguh jatuh cinta padamu Sarah. Aku sudah tak bisa menahan semua ini. Aku ingin kamu jadi milikku. Walaupun aku tahu, kamu sudah bersuami. Tapi, aku tak akan menyerah begitu saja.”
Bibir Gavin mulai mencium bibir Sarah yang basah dan lembut. Wangi aroma mint segar dari mulut Sarah, semakin membuat Gavin bersemangat menciumnya.
Wajah Sarah memerah dan matanya membelalak lebar karena terkejut mendapat serangan dari Gavin, dan dia juga tak bisa bereaksi untuk menolaknya.
Saat ia ingin berdiri dan melepas ciuman itu, Gavin dengan sengaja makin mempererat pelukannya dan semakin dahsyat ciumannya.
Sarah lelah memberontak, tapi tak ada hasil. Dia mulai memejamkan mata dan ikut menikmati ciuman itu. Sarah sudah pasrah pada Gavin.
Rasanya sudah lama sekali Sarah tak merasakan hal yang mesra seperti ini. Bibir mereka menyatu dalam ciuman. Gavin dengan mesra menyisir rongga mulut Sarah dengan lidahnya.
Dengan mata tertutup, Sarah merasakan lidah Gavin yang bermain di dalam rongga mulutnya.
Ciuman pertama dalam hidup Gavin, dan ciuman terindah yang pernah dia rasakan.
Setelah berciuman cukup lama, nafas mereka terengah engah. Akhirnya, Gavin mulai melonggarkan pelukannya dan melepaskan ciumannya.
Dengan cepat Sarah berdiri dan menunduk malu melihat Gavin.
“Maaf, Tuan muda. Saya sudah lancang.” Sarah merasa bersalah karena tak bisa menolak ciuman dari Gavin.
Gavin hanya tersenyum senang melihat wajah cantik Sarah.
Sarah semakin hari, semakin cantik di matanya, dengan bibirnya yang merah merona membuat Gavin seperti dihipnotis setiap kali melihatnya.
Dia tak kuasa menahan hasratnya untuk tidak mencium bibir lembut Sarah.
Rasanya tak ingin melepaskan makhluk ciptaan Tuhan yang sangatlah cantik itu.
“Aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang sudah mulai menciummu tanpa permisi. Aku sungguh mencintaimu Sarah.” Gavin semakin tergila gila dengan Sarah.
“Apakah kamu akan marah padaku, dan berhenti bekerja?” Gavin meraih tangan Sarah kembali dan mencium punggung tangannya.
Sekarang dia tak bisa menahan perasaannya lagi.
Tak apa jika Sarah sudah punya suami, dia akan setia menunggu Sarah sampai berpisah dengan suaminya.
Otak Gavin yang tak bisa berfikir dengan jernih jika sudah bertemu dengan Sarah.
Tok tok tok
Saat sedang menunggu jawaban dari Sarah, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Gavin.
“Tuan Muda, apakah Sarah sudah membangunkan Anda?” Suara Bi Mira terdengar dari luar kamar Gavin.
Dengan cepat tangan Sarah melepaskan genggaman tangan Gavin. Lalu Sarah mulai melangkah menjauh untuk membuka pintu kamar.
“Tuan Muda sedang mandi, Bi. Saya sedang merapikan kamar Tuan Muda. Maaf, kalau saya terlalu lama di kamar Tuan Muda. Saya akan keluar sekarang, Bi." Sarah menunduk menjelaskan pada Bi Mira.
Bi Mira hanya tersenyum mendengar penjelasan dari Sarah dan mengajaknya turun untuk menyiapkan sarapan pagi.
Sesampainya di dapur, Bi Mira melihat Tuan Gumalang yang sedang santai, langsung berlari menghampirinya.
“Tuan, apakah saya boleh berbicara sebentar?” Dengan sopan Bi Mira berbicara dengan Tuan Gumalang.
Setelah berbincang lama antara mereka berdua, terdengar suara Tuan Gumalang menyetujuinya.
“Kalau Sarah bersedia tinggal di sini tak apa, Bi. Malah lebih bagus ada yang membantu Bibi kalau dia tinggal di sini. Terlebih lagi, Bibi jadi ada teman ngobrol dan tak kesepian lagi.” Jawab Tuan Gumalang.
Tuan Gumalang adalah orang yang sangat baik, dia adalah ayah yang sabar. Jarang sekali Tuan Gumalang marah, terkecuali jika ada yang membuatnya tersinggung.
“Terimakasih, Tuan. Anda memang orang yang sangat baik yang pernah saya kenal.” Senyum gembira terukir di wajah Bi Mira.
Sarah yang masih sibuk menyiapkan sarapan, tak mempedulikan Bi Mira yang sedang tersenyum sendiri.
“Sarah, kamu boleh tinggal di sini selama kamu bekerja di rumah Gumalang. Saya sudah meminta izin pada Tuan Gumalang.” Bi Mira menyenggol tangan Sarah dengan bibir yang masih tersenyum.
“Heemm...Serius, Bi. Terimakasih Bi Mira, sudah membantu saya. Jadi saya tak bingung lagi mencari tempat tinggal." Sahut Sarah yang masih sibuk menyiapkan beberapa sarapan dan sesekali melemparkan senyuman pada Bi Mira.
Diruma Tian.
“Kemana kau Sarah. Kenapa kau tidak pulang ke rumah.”
Tian mulai khawatir, bagaimana jika benar Sarah pergi meninggalkannya. Dia berjalan mondar mandir ke sana kemari memikirkan nasibnya sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Neonnorey
kejam laki astagaaaaa
2023-06-12
0
Neonnorey
kenapa km katain gila sihh
2023-06-12
0