“Sarah, Tuan Muda sudah bangun belum?”
Ari yang melihat Sarah keluar dari kamar Gavin langsung bertanya.
“Tuan Muda sedang mandi dan bersiap untuk bekerja.” Sarah menjawab, dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Ari berlari ke arah Gavin setelah melihat Bosnya keluar dari kamar. Mereka sangat serius membicarakan sesuatu. Wajah gavin yang biasanya santai, sekarang berubah menjadi sangat serius.
Apa yang terjadi? Kenapa Gavin bisa begitu cepat berubah menjadi dingin seperti itu? Batin Sarah.
“Aku ada urusan mendadak di kantor, jadi kamu sarapan sendiri dulu ya, Sarah.”
Gavin menghampiri Sarah yang masih sibuk di dapur menyiapkan sarapan.
Wajah Gavin berubah menjadi hangat, ketika berbicara dengan Sarah. Sarah yang masih bingung dengan perubahan Gavin, dia hanya menganggukkan kepala.
Sebelum pergi, Gavin tak lupa mencium kening Sarah dengan mesra.
Ari yang sudah terbiasa dengan pemandangan mesra itu, dia hanya memalingkan wajah supaya tak melihatnya.
Sarah tersipu malu, wajahnya memerah. Ciuman Gavin membuat jantungnya berdetak dengan cepat.
Setelah melihat Gavin keluar kamar hotel, kaki Sarah melemas. Kenapa, Gavin bisa begitu mesra menciumnya dan perhatian padanya. Padahal, Sarah belum pernah membalas cinta yang Gavin katakan berkali kali padanya.
Padahal selama 3 tahun menikah, Sarah tak pernah merasakan hal yang membuatnya bahagia seperti sekarang. Dia sangatlah bersyukur dipertemukan dengan Gavin, lelaki yang sangat mencintainya.
Setelah hampir 1minggu, Gavin mengurus perusahaan Papinya di luar kota. Sekarang, saatnya mereka pulang kembali ke kota asal, karena perusahaan Papinya sudah mulai stabil kembali.
Mereka pulang ke kota asal menggunakan pesawat. Di dalam pesawat, Gavin sangat gelisah. Sarah yang duduk di sampingnya hanya bisa meliriknya dan tak berani bertanya.
Selama 3 jam perjalanan yang di lakukan Gavin hanya melihat jam tangan di pergelangan tanganya. Dia begitu gelisah dan khawatir. Entah apa yang sudah dipikirkannya.
Sesampainya di bandara tujuan, hari sudah sangat sore. Matahari pun sudah mulai tenggelam dan hanya menampakkan warna jingganya.
Gavin berjalan terlebih dahulu. Dia tak menghiraukan Sarah yang berjalan di belakangnya. Dia terus memandang ke depan, memasang wajah dinginnya dengan tatapan tajam. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya marah.
Sampailah mereka di pintu keluar bandara. Di depan pintu keluar sudah ada mobil yang menjemput mereka.
Gavin tiba tiba berhenti dan menoleh ke belakang.
“Sarah, kamu pulang sendiri tak apa ya. Di kantor masih ada urusan yang harus aku tangani.” Tanpa senyuman Gavin melangkah pergi meninggalkan Sarah sendirian di bandara.
“Baik, Tuan Muda.” Sarah menundukkan kepalanya.
Sarah melihat Gavin masuk ke dalam mobil bersama dengan Ari. Setelah itu mobil mereka melesat jauh ke jalan raya beebaur dengan kendaraan yang lainnya dan akhirnya mobil Gavin sudah tak terlihat lagi.
Hemm..Ternyata ada masalah di kantor. Pantesan, Gavin sangat dingin dan menakutkan. Batin Sarah sambil bibirnya cemberut, karena dia tinggal sendirian sekarang.
Sarah membuka tasnya dan mengambil handphonenya, untuk memesan taxi online.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya taxi online yang dipesan Sarah sampai di pintu keluar bandara. Dia pun bergegas masuk ke dalam taxi.
Di dalam taxi, Sarah baru teringat kalau dia harus menemui Tian dan harus menyelesaikan urusan yang tertunda. Sarah menekan tombol pengaturan dan membuka nomor Tian yang sudah dia block. Lalu dia mulai menelepon Tian.
Tuttt..Tuttt..Tuttt..Suara telepon berdering ..
📞”Halo.” Terdengar suara pria dari balik telepon.
📞”Halo, Tian.” Setiap kali menyebut nama Tian, suara Sarah pasti bergetar. Seperti ingin menangis, namun tak bisa.
📞”Iya, ada apa?” Dengan santai Tian menjawab
📞”Bisakah kita bertemu sekarang di Cafe Mentari?” Tanpa basa basi lagi, Sarah langsung ke inti pembicaraan.
📞”Ok. Aku akan ke sana menemuimu. Tapi dengan satu syarat, kau tak boleh membawa siapapun saat bertemu denganku, termasuk pacar gelapmu.”
Ada rencana jahat dibalik ucapan Tian itu.
📞”Ok, baiklah. Aku akan pergi sendirian.” Sarah tak menaruh curiga pada Tian. Karena yang ada di dipikirannya hanya ingin segera bercerai darinya.
Setelah menutup telepon, sekarang Sarah beralih menekan aplikasi ojol untuk memesan ojek online. Jalanan menuju ke Cafe Mentari, di sore hari sering sekali macet. Jadi, lebih baik dia menggunakan ojek online daripada memakai bus.
Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang cukup jauh Sarah sampai di Cafe Mentari. Jarak dari Bandara ke Cafe cukup jauh. Memang sedikit melelahkan jika menggunakan ojek online.
Setibanya Sarah di Cafe Mentari, dia mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela. Dia juga memesan minuman dingin, supaya dirinya tak gugup bertemu dengan Tian nantinya.
Jangan perlihatkan lagi kelemahanmu di depan Tian. Kamu harus kuat Sarah. Kali ini kamu bisa melawan Tian. Dengan mengepalkan tangan Sarah menguatkan jantung dan hatinya.
Setelah menunggu cukup lama, Tian tak kunjung datang ke Cafe. Sarah sudah tak bisa menunggunya lagi. Dia membuka handphone dan menelepon nomor Tian. Namun, tak ada jawaban dari Tian.
Drreeettt.. Drreett...Tiba tiba ada pesan masuk dari Tian. "Sarah, aku tak bisa menemuimu di Cafe. Kita bertemu di gang buntu saja, yang dekat dengan rumah kita. Aku sudah menunggumu disini."
Gang buntu itu adalah gang di mana Sarah dan Tian pertama kalinya bertemu. Saat Sarah tak tahu jalan dan nyasar ke gang buntu itu, Tian lah yang pertama kali dia temui disana. Dan membantunya mencari jalan keluar.
Tapi, apa maksud Tian dengan menyuruh Sarah bertemu dengannya di sana?
"Heeemm.." Sarah mengembuskan nafas panjang.
Dengan langkah cepat, Sarah keluar Cafe dan menuju ke gang buntu. Sesuai pesan yang dikirim Tian.
Sesampainya di gang buntu, Sarah tak mendapati Tian di sana. Hanya ada lampu jalan yang sedikit redup, yang menambahkan suasana gang buntu itu menjadi sedikit seram. Karena hari sudah malam, rumah yang ada di area gang buntu itu, juga sudah menutup pintu semua.
Sepi. Itulah gambaran gang buntu tempat mereka akan bertemu malam ini.
Setelah menunggu lama, terlihatlah dari kejauhan sesosok pria berbadan tinggi dengan senyuman sinisnya berjalan ke arah Sarah.
“Hai, Sarah. Akhirnya kita bisa bertemu kembali.” Ucap Tian dengan kedua tangan diletakkan di depan dada.
“Langsung ke intinya saja. Aku menemuimu hanya ingin bercerai denganmu. Aku harap, ini adalah pertemuan terakhir kita.” Dengan wajah serius Sarah berkata.
“Ha ha ha...Sarah, Sarah. Apa kau setega ini tak memberiku kesempatan lagi? Kita sudah menikah selama 3 tahun. Dengan cara seperti inikah, kau ingin bercerai denganku?” Suara Tian semakin terdengar dingin di telinga Sarah.
“Lalu, apa yang kau mau? Aku sudah lelah menghadapimu. Aku hanya ingin bebas Tian!!” Sarah semakin kesal.
"Tugasmu belum selesai, Sarah. Kau belum memberiku uang untuk membayar uang sewa kontrakan. Dan kau pergi begitu saja dari rumah!! Istri macam apa kau ini!!" Mata Tian melotot ke arah Sarah.
"Seharusnya kamu berusaha mencari pekerjaan, jangan hanya mengemis uang padaku, Tian!! Ok, aku akan memberimu uang sewa sekarang. Namun, kau harus menceraikanku sekarang juga!!" Sarah pun kembali melotot pada Tian.
"Hah, kau sekarang sudah semakin berani ya, Sarah. Apakah, pacar gelapmu yang mengajarkan semua ini?" Tian meletekkan punggungnya di dinding tembok gang buntu, tak lupa dia juga menyesap sepuntung rokok.
Asap rokok menghiasi gelapnya malam itu. Mereka berdebat cukup lama.
Tian yang semakin lama mendengar ucapan Sarah, semakin tak terkendali emosinya. Tanpa basa basi, Tian mengeluarkan pisau tajam dari kantong celana belakang dan dengan gerakan yang sangat cepat dia menusukkan ke tubuh Sarah.
Sarah yang terkejut tak bisa mengelak dari pisau yang menusuk ke tubuhnya. Terhitung dua kali Tian menusukkan pisau itu ke tubuh Sarah.
Setelah melihat darah yang bercucuran keluar dari tubuh Sarah, Tian tertawa lepas.
“Ha ha ha..Mati saja kau, Sarah!! Ini kan yang kau mau, bebas dariku, Sarah. Sudah aku kabulkan semua permintaanmu. Dan, Ini juga yang terakhir kalinya kau menemuiku, ha ha ha.”
Tian tertawa, atas kemenangannya itu.
Apakah Sarah masih hidup atau sudah mati?
Tunggu bab selanjutnya ya readers😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments