Bi Mira mondar mandir menunggu kabar dari Ari. Dia tampak gelisah memikirkan, bagaimana keadaan Sarah sekarang.
“Haduuhh.. Ari kok gak telepon lagi ya. Bagaimana keadaan Sarah sekarang? Apa aku saja yang telepon untuk memastikan kabar Sarah?”
Bi Mira mulai menekan tombol di handphonenya dan menelepon Ari.
Tutt. Tuutt. Tutt.
📞”Halo, Bi.” Terdengar suara Ari di seberang telepon.
📞”Ari, di mana Sarah? Apakah kalian sudah menemukannya?”
📞”Sarah ada di rumah sakit sekarang, Bi. Dia mengalami kecelakan. Sarah ditusuk oleh seseorang. Kita juga belum tahu, siapa pelakunya.” Jawab Ari dengan menundukkan pandangannya.
📞”Astaga!!! Lalu bagaimana dengan keadaan Sarah sekarang, Ari?” Bi Mira menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, ketika mendengar kabar mengejutkan itu.
📞”Keadaan Sarah sekarang belum sadar, Bi. Sarah masih di ruang IGD menunggu antrian untuk melakukan operasi.” Jawab Ari.
📞”Sarah.” Kaki Bi Mira seketika lemas, setelah mendengar ucapan Ari. Dia tak menyangka, bahwa separah itu keadaan Sarah.
Setelah berbicara cukup lama dengan Ari, Bi Mira menutup telepon dan berlari ke ruang tamu. Di ruang tamu ada Tuan Gumalang yang sedang duduk santai sembari menyesap segelas kopi hitam.
“Tuan Gumalang, Sarah harus di operasi malam ini.” Dengan suara gemetar Bi Mira memberi kabar pada Tuan Gumalang.
“Hemm..Saya sudah mengetahuinya, Bi." Tanpa menatap Bi Mira, Tuan Gumalang menjawab. Dia masih sibuk dengan urusan kantornya.
“Apakah, kita perlu ikut ke rumah sakit, Tuan? Tanya Bi Mira.
“Tak perlu, Bi. Kita di rumah saja, menunggu kabar selanjutnya dari mereka.” Jawab Tuan Gumalang.
“Baik, Tuan.” Dengan rasa kecewa Bi Mira mengangguk dan berbalik badan kembali ke kamarnya.
***
Pukul 11.30 giliran Sarah harus masuk ke ruang operasi. Setelah Sarah masuk ke ruang operasi. Gavin dan Ari dimohon untuk menunggu di luar ruang operasi.
Flashback on.
Gavin sekali lagi merasakan situasi yang sama, di saat maminya harus masuk ke ruang operasi juga. Dia teringat masa lalu yang paling susah untuk dilupakannya.
Di saat itu, dia merasakan titik terendah dalam hidupnya, dia harus menyaksikan Maminya masuk ke ruang operasi dan keluar tanpa bisa menggenggam tangannya lagi. Kesedihan yang mendalam tanpa orang lain bisa memahaminya, sekalipun dengan Papinya sendiri.
Gavin menahan rasa sedihnya selama 10 tahun. Dan selama itu dia masih menyimpan memory saat terakhir kali, Maminya mengucapkan kata "Sayang" padanya.
Flasback off.
Gavin mondar mandir dan sesekali duduk lalu berdiri kembali. Dan tak lupa dia melihat jam di tanganya.
Raut wajahnya menunjukkan kegelisahan. Dia memikirkan keadaan Sarah yang berada di dalam sana.
Pikirannya sudah tak karuan, dia takut Sarah tak bisa tertolong.
Ari yang melihat Gavin gelisah, dia lalu mendekat dan memberanikan diri untuk menghibur Gavin.
“Tak apa, Tuan Gavin. Sarah adalah wanita yang kuat. Dia tak akan menyerah begitu saja dengan keadaannya sekarang. Dia akan bangun dan kembali sehat, untuk membalaskan dendam pada orang yang sudah membuatnya hampir kehilangan nyawanya.” Ari tersenyum kecut pada Gavin.
Gavin yang masih gelisah tak mengatakan apapun pada Ari. Dia juga baru teringat untuk menyuruh Ari mencari, siapa orang yang sudah berani melukai wanita yang dia cintai.
Gavin punya firasat kalau suami Sarah-lah yang sudah membunuhnya. Karena hanya dia yang kemungkinan besar bisa melakukannya. Gavin juga sebelumnya sudah mengumpulkan data pribadi Tian suami Sarah. Dia menyimpan beberapa foto Tian.
“Hahhh..” Gavin menghela nafas panjang dan memejamkan matanya.
Lalu dia membuka matanya kembali untuk memberi perintah pada Ari.
“Ari, cari orang yang ada di foto ini. Dia kemungkinan yang sudah melukai Sarah!! Cari dia, walaupun harus ke ujung dunia sekalipun. Jangan kembali jika belum menemukannya!!” Sekarang wajah Gavin berubah menjadi dingin dan matanya berubah tajam, ketika teringat kejadian itu.
“Baik, Tuan. Saya akan segera menemukan pelakunya.” Ari menganggukkan kepala ketika mendengar perintah dari Bosnya dan segera menelepon anak buahnya.
Setelah menunggu 3 jam di depan ruang operasi, akhirnya Sarah di dorong keluar, menuju ruang rawat inap yang sudah Gavin booking untuk Sarah.
Gavin mengikuti rombongan Suster dan Dokter yang membawa Sarah. Sedikit senyuman tersungging di sudut bibir Gavin. Dia merasa lega melihat Sarah bisa keluar dari ruang operasi.
Tetapi, dia juga harus menunggu lagi untuk Sarah bangun dari tidurnya.
Setelah sampai di ruang rawat inap VVIP. Dokter Tio yang ikut mengantarkan Sarah, memanggil Gavin. Dokter Tio ingin berbicara tentang keadaan Sarah setelah operasi.
"Silahkan masuk, Tuan Gavin." Dokter Tio menyambut Gavin dengan sedikit senyuman.
Gavin duduk di kursi seberang Dokter Tio.
"Apa yang ingin anda sampaikan, Dok?"
Doker Tio mulai membuka dokumen yang ada di komputernya. Dia mulai mengeklik sebuah folder yang berisikan hasil dari pemeriksaan Sarah.
"Kemungkinan, Nyonya Sarah akan mengalami koma, Tuan. Karena Nyonya Sarah mengalami trauma. Psikisnya juga terganggu. Jadi, butuh waktu untuk Nyonya Sarah bisa sembuh dari luka dan traumanya itu." Ucap Dokter Tio sembari menunjukkan hasilnya.
Gavin memejamkan mata dan menghela nafas panjang.
"Apakah, tak ada cara lain untuk menyembuhkan trauma yang Sarah alami, Dok?" Saat ini hanya kesembuhan Sarah yang ia inginkan.
Sudut bibir Dokter Tio terangkat sedikit, mendengar perkataan Tian.
"Hanya ada satu cara, supaya Nyonya Sarah segera bangun, Tuan." Ucap Doktee Tio sembari melepas kacamatanya dan meletakkannya di meja.
"Cara apa itu, Dok?" Mata Gavin berbinar ketika mendengar ucapan Dokter Tio.
"Anda harus setiap hari mengajaknya berbicara, walaupun Nyonya Sarah tak bisa merespon, tetapi dia bisa mendengarnya. Itu akan membuatnya relax dan sedikit demi sedikit rasa trauma yang di deritanya bisa terobati." Dokter Tio tersenyum pada Gavin.
Gavin mengernyitkan dahi, dia sedikit tak percaya pada ucapan Dokter Tio.
"Apakah, itu benar benar bisa membuat Sarah segera bangun dari komanya, Dok?"
"Semoga saja, Tuan. Karena dengan usaha yang tak kenal lelah, akan ada hasil yang memuaskan." Ucap Dokter Tio.
Drrttt.. drrtt..
Tiba tiba handphone Gavin bergetar. Ari yang menelepon Gavin.
"Maaf, Dok. Saya harus mengangkat telepon sebentar". Gavin mulai beranjak dari kursi.
"Baik, silahkan." Dokter Tio kembali fokus pada komputernya.
📞”Halo, ada apa Ri?” Gavin memulai percakapan.
📞”Maaf, Tuan Muda. Pelakunya sudah kabur. Dan dia juga tak meninggalkan jejak, jadi kita belum bisa menemukannya.” Terdengar suara Ari dari seberang telepon.
📞”Sial!! Kita kalah cepat. Kau terus cari bukti yang mungkin saja tertinggal di sana. Sisir semua gang, rumah dan setiap toko yang berada di area lokasi kejadian. Jangan sampai lolos!!” Perintah Gavin pada Ari. Kali ini suara Gavin semakin tegas dan terdengar mengerikan.
📞”Baik, Tuan.” Telepon ditutup.
Gavin meremas handphonenya. Rasanya ingin sekali dia mencari sendiri siapa pelakunya. Tetapi Sarah lebih penting dari apapun. Saat ini Sarah tidak ada yang menjaga, jadi mau tak mau memang harus Gavin yang menjaganya sendiri.
Dirumah Riko.
Tian hanya tidur sebentar. Dia berpikir harus kemana sekarang. Dia tidak mungkin kembali ke rumahnya lagi.
Tian bangun dari tidurnya dan berjalan mondar mandir dengan gelisah memikirkan nasibnya sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments