Bab 14. Kesedihan dan kebahagiaan

Sarah terduduk lemas di lantai kamar hotel. Dia kembali menangis, ketika mengingat bagaimana Tian bisa berselingkuh di depan matanya. Dia menggenggam erat handphone yang ada di tangannya.

Hatinya terasa sangat sakit, jika mengingat semua itu.

Untuk menyegarkan pikiran yang tak karuan, Sarah masuk ke kamar mandi dan mulai menyalakan shower. Air dari shower mulai mengguyur seluruh badannya, dari ujung kepala sampai unjung kaki.

Sarah mulai menangis dalam diamnya. Air matanya menyatu dengan air shower yang jatuh membasahi tubuhnya.

Kapan semua penderitaan ini berakhir ya, Tuhan. Aku sangat membencinya Tuhan.

Air mata Sarah semakin keluar tak terkendali.

**

Gavin selesai mandi dan lalu berganti baju santai, dia lalu beranjak pergi ke dapur untuk makan malam.

"Ari, di mana Sarah? Kenapa dia tak ada di sini?" Gavin bertanya sembari menarik kursi meja makan.

"Tadi Sarah pamit ke kamar untuk mandi, Tuan. Tapi, ini sudah lama sekali, dia tak juga keluar dari kamarnya." Jawab Ari yang masih berdiri di samping Bosnya.

"Panggil Sarah, Ri. Aku akan menunggu di sini." Perintah Gavin.

Tok tok tok..

“Sarah, keluarlah. Tuan Muda sudah menunggumu di meja makan.” Panggil Ari dari luar kamar Sarah.

“Sarah..Sarah..Apa kamu tak mendengar panggilanku?” Ari kembali memanggil Sarah. Namun, tetap tak ada jawaban dari dalam kamar.

Dengan tangan kosong Ari kembali ke meja makan.

“Maaf, Tuan Muda. Tak ada jawaban dari kamar Sarah.” Ari menunduk memberi tahu Gavin.

Gavin yang mendengar kabar dari Ari, dia langsung berdiri dan melangkah menuju kamar Sarah. Dia khawatir jika terjadi sesuatu dengannya.

“Sarah, Sarah. Buka pintunya!! Kau sedang apa di kamar? Kenapa tak menjawab panggilanku. Kamu tak apa kan? Apa yang sedang terjadi di kamar?” Gavin mengetuk keras pintu kamar Sarah. Namun, semua itu nihil.Tak ada jawaban sama sekali dari kamar Sarah.

“Apa saya dobrak saja kamar Sarah, Tuan Muda?” Ari memohon izin pada Bosnya.

Dengan anggukan, Gavin memberi izin pada Ari.

Gubraaakkkk..

Suara pintu kamar hotel didobrak.

Seketika itu pintu terbuka. Namun, tak ada orang di kamar itu. Hanya ada suara air gemericik dari kamar mandi.

Gavin memberi kode pada Ari, untuk keluar kamar dan menutup pintunya.

“Sarah, apa yang sedang kamu lakukan di kamar mandi selama itu?” Gavin memanggil Sarah dari luar pintu kamar mandi.

Tetapi, tetap saja tak ada jawaban dari dalam sana. Gavin semakin bingung dan cemas. Dia dengan terpaksa membuka pintu kamar mandi yang tak terkunci.

“Astagaa!!..Sarah. Apa yang sudah kamu lakukan?” Gavin melihat Sarah yang sudah pingsan di bawah kucuran air. Dengan cepat dia mengangkat Sarah keluar dari kamar mandi.

“Ari..Ari, cepat kemari bawakan saya handuk dan air hangat!!” Teriak Gavin dari dalam kamar sembari membungkus badan Sarah dengan selimut tebal, supaya bisa mengurangi hawa dingin di badan Sarah.

Ari yang mendengar teriakan Bosnya, langsung berlari membawa handuk dan air hangat yang diminta Bosnya.

“Ini, Tuan Muda.” Ari menyodorkan handuk san air hangat pada Gavin. Dan Ari pun ikut terkejut melihat Sarah pingsan.

Namun, dia tak berani bertanya apa yang sudah terjadi. Dia menunduk dan melangkah pergi keluar dari kamar.

Gavin dengan perlahan mengusap wajah cantik Sarah dengan handuk yang sudah dibasahi air hangat. Gavin tak pernah melihat Sarah serapuh ini, wajah yang biasanya terlihat berseri seri, sekarang berubah menjadi wajah yang teramat sedih.

"Apa yang sudah terjadi Sarah? Kenapa kamu harus sampai seperti ini. Terlihat banyak sekali beban yang kamu tanggung sendirian Sarah. Aku, ingin sekali bisa meringankan beban yang kamu tanggung Sarah".

Gavin berkata lirih, dia juga ikut merasakan kesedihan yang dialami Sarah sekarang.

Gavin belum mengetahui, permasalahan apa yang sudah menimpanya. Dengan sabar Gavin mengusap seluruh wajah dan badan Sarah. Setelah selesai mengusap badan Sarah, Gavin menutup kembali badan Sarah dengan selimut. Lalu dia berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dia menyenderkan lengan kanannya di pinggiran jendela kamar. Dia sedih memikirkan keadaan Sarah sekarang.

Tak lama kemudian, mata indah Sarah mulai terbuka. Gavin yang melihatnya, langsung berjalan menghampiri Sarah dan duduk di kasur sebelah Sarah. 

“Kamu, sudah tak apa?” Tanya Gavin khawatir sambil mengusap rambut Sarah.

“Aku, kenapa? Apa yang sudah terjadi?” Sarah megerjapkan matanya mengingat terakhir kalinya, sebelum dia pingsan.

“Kamu pingsan, Sarah. Jika aku tak segera masuk ke dalam kamar mandi, apa jadinya kamu tadi.” Gavin menatap lekat wajah Sarah yang masih pucat.

Sarah hanya tersenyum melihat Gavin memasang wajah khawatir di depannya.

Gavin, kenapa kamu masih bisa berwajah tampan, walaupun sedang khawatir seperti ini? Rasanya ingin sekali bibir kamu yang rasa mint itu, datang ******* bibirku lagi seperti yang kamu lakukan tadi. Batin Sarah.

Namun, dengan cepat Sarah menggelengkan kepalanya. Untuk menyadarkan siapa dirinya.

Sarah sadar Sarah..Dia itu Bosmu. Jangan mesum di depannya.

Gavin yang melihat tingkah laku Sarah, bingung dan mengernyitkan dahi. Seolah olah dia sedang bertanya tanya dalam hatinya.

“Apa kamu sudah bisa bangun, Sarah? Aku sudah sangat lapar dan ingin sekali makan malam sekarang.” Gavin yang sedari tadi masih memandangi wajahnya, akhirnya berkata seperti itu.

Sarah yang mendengarnya, hanya tertawa geli. Kenapa Bosnya ini mau makan saja harus menunggu dia bangun dulu? Padahal, perutnya sudah tak sanggup menunggu lagi sekarang.

“Kenapa kamu tertawa, Sarah? Apa ada yang aneh denganku?” Gavin melihat ke seluruh tubuhnya, tapi tak ada yang aneh.

“Tak ada yang aneh dengan dirimu, Tuan Muda. Hanya kata katamu saja, yang aneh dan membuatku tertawa.” Sarah semakin melebarkan tertawanya. Sampai pada akhirnya mereka berdua tertawa bersama.

Setelah badannya dirasa sudah lebih enak, Sarah mulai bangun dan ingin berganti baju. Sarah menyibakkan selimut yang ada di badannya. Namun, mata Sarah membelalak ketika melihat dirinya sudah tak memakai sehelai kainpun.

"Hahh..Kenapa aku tak memakai baju? Apa yang sudah kamu lakukan Tuan Muda!!" Sarah merasa kesal pada Gavin, karena sudah membuka semua bajunya. Dan hanya tersisa selimut di badannya.

"Aku hanya menyelamatkanmu dari kedinginan, Sarah. Kamu seharusnya berterima kasih padaku, bukannya malah merasa kesal seperti itu." Jawab Gavin tanpa rasa bersalah.

"Tapi kan, tak seharusnya kamu membuka semuanya Tuan. Lebih baik, kamu tadi tak usah menolongku saja. Daripada aku harus menanggung malu seperti ini." Sarah membenamkan wajahnya ke dalam selimut.

"Kenapa harus malu Sarah? Aku sudah melihat semua yang kamu punya. Jadi, sekarang kamu tak perlu malu lagi padaku." Bisik Gavin di balik selimut yang digunakan Sarah untuk bersembunyi.

"Tuan Muda!!" Teriak Sarah.

"Ha ha ha..Kamu lucu sekali Sarah. Aku jadi ingin sekali memakanmu." Gavin tertawa geli sampai perutnya terasa sakit.

"Sudah sudah, kamu ganti baju dulu sana. Aku akan keluar. Atau aku saja yang menggantikamu baju?"

"Tuan Muda, tolonglah jangan semakin membuatku malu." Rasanya Sarah ingin menangis karena sudah sangat malu.

"Baiklah, aku akan keluar. Cepat ganti baju, jangan membuatku menunggu lebih lama lagi." Gavin berdiri dan pergi keluar dari kamar Sarah.

Setelah mendengar Gavin menutup pintu, Sarah mulai membuka selimutnya. "Apa yang sudah aku lakukan..Membuat malu saja!!" Sarah memukul kepalanya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Sarah keluar dengan pakaian yang sangat tertutup. Gavin yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Sarah duduk di seberang Gavin.

“Kamu, jangan lagi melakukan hal yang konyol seperti tadi, Sarah.” Gavin menasehati Sarah sambil melahap makan malamnya.

“Heemmm..Baik, Tuan Muda.” Dengan mulut yang masih disumpal makanan, dia menjawab perkataan Gavin.

Trriinggg, trriingg.. Saat sedang menikmati makan malam, handphone Ari berbunyi. Ternyata itu Bosnya yang menelponnya, dengan cepat Ari berlari keluar dari kamar hotel. Supaya, dua sejoli itu tak mendengar pembicaraannya.

📞”Halo, Tuan Gumalang.” Ari memulai percakapan.

📞”Kenapa kau lama sekali mengangkat telepon dariku.” Terdengar suara marah dari balik telepon.

📞”Maaf, Tuan. Saya sedang makan malam bersama Tuan Muda dan Sarah. Jadi saya harus keluar dahulu, untuk mengangkat telepon dari Anda.” Jelas Ari di telepon.

📞”Ooo..Kau awasi terus mereka. Jangan sampai mereka melakukan hal yang tak sepantasnya dilakukan, antara Majikan dan Pelayan.”

📞”Baik, Tuan Gumalang. Saya akan terus mengawasi mereka, Tuan.” Ari tersenyum kecut. Dia tak berani mengatakan yang sebenarnya terjadi di hotel.

Sambungan telepon ditutup. Dan Ari menyederkan punggungnya di dinding tembok, sejenak untuk dia berpikir.

Apa yang terjadi nanti, jika Tuan Gumalang tahu kalau mereka sedang menjalin asmara?

Ari kembali flashback, dengan kehidupan pribadinya.

Dahulu, dia juga tak direstui untuk menikahi istrinya. Mertuanya tak menyukai Ari, karena Ari berasal dari keluarga yang tak mampu. Tapi dengan bertekad keras, mereka akhirnya bersatu pada sebuah ikatan pernikahan. Perjuangan yang sangat berat dan tak sia sia.

Maka dari itu, sekarang dia ada di pihak Gavin untuk mendukungnya mendapatkan apa yang seharusnya diperjuangkan.

***

Esok paginya, seperti biasa Sarah membangunkan Gavin.

“Tuan Muda, bangun. Waktunya Anda bekerja.” Sarah melangkah masuk ke dalam kamar Gavin.

Sarah mengulurkan tangan berniat untuk membangunkan Gavin. Namun, dengan cepat Gavin menarik tangan Sarah. Dan Sarah pun terjatuh di dada Gavin. Walaupun, matanya masih terpejam, Gavin sudah bisa merasakan aura Sarah yang berada di dekatnya.

“Aku mencintaimu, Sarah. Apakah kamu juga akan mencintaiku?” Gavin membuka matanya, dan seketika itu mata mereka beradu pandang.

Gavin semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Sarah. Namun, Sarah dengan cepat mendorong bibir Gavin untuk menjauh.

“Ada apa, Sarah? Apakah kamu sudah tak mau menerima ciuman dariku?” Gavin terheran dengan sikap Sarah hari ini.

“Tak apa, Tuan Muda. Tuan Muda mandi saja terlebih dahulu. Mulut Tuan Muda masih bau, dan belum sikat gigi.” Sarah tersenyum mengejek, dengan mengibaskan jemarinya di depan hidungnya.

Dan dia melanjutkan tugasnya untuk memungut baju kotor, juga merapikan kamar Gavin.

Dari belakang, Gavin memeluk badan Sarah. Dan mencium tengkuk Sarah dengan mesra.

“Kamu sudah bisa menggodaku ya, Sarah. Ingat sarah, aku sudah pernah melihat semua yang ada di tubuhmu.” Gavin menempatkan dagunya di pundak Sarah.

“Kamu tunggu saja balasan dariku nanti, setelah aku selesai mandi.” Gavin mengecup pipi Sarah dan berjalan masuk ke kamar mandi.

Sarah memejamkan matanya, dia teringat kejadian semalam. Dia sangat malu pada Gavin.

Namun, Gavin adalah lelaki yang sangat perhatian dan romantis. Dia mencintai Sarah apa adanya. Berbeda dengan suaminya, yang selalu kasar padanya. Hanya memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri.

Sarah merasakan kebahagiaan jika bersama dengan Gavin.

Episodes
1 Bab 1. Awal Mula
2 Bab 2. Kejadian tak terduga
3 Bab 3. Berkenalan
4 Bab 4. Mendapat pekerjaan baru
5 Bab 5. Hari pertama bekerja
6 Bab 6. Menjadi Pelayan Tuan Muda
7 Bab 7. Pengkhianatan
8 Bab 8. Ciuman pertama
9 Bab 9. Kamu cantik sekali
10 Bab 10. Mendapatkan kesempatan emas
11 Bab 11. Di dalam pesawat
12 Bab 12. Ciuman hangat
13 Bab 13. Nafsu yang terpendam
14 Bab 14. Kesedihan dan kebahagiaan
15 Bab 15. Pertemuan yang merenggut nyawa
16 Bab. 16 Kejadian tak terduga.
17 Bab. 17 Menangis kembali
18 Bab. 18 Mengalami Trauma
19 Bab. 19 Melarikan diri
20 Bab. 20 Hasrat wanita
21 Bab. 21 Kejadian tak terduga
22 Bab 22. Keajaiban mulai datang
23 Bab 23. Airmata
24 Bab. 24. Kesedihan
25 Bab. 25 Pengkhianatan
26 Bab. 26 Sarah Pergi
27 Bab. 27 Tepat Waktu
28 Bab. 28 Tergoda Tuan Muda Tampan
29 Bab. 29 Pengkhianatan
30 Bab. 30 Semakin Rumit
31 Bab. 31 Makan dan Menginap
32 Bab. 32 Sedikit Menyesal
33 Bab. 33 Menatap Bintang
34 Bab. 34 Perkampungan
35 Bab. 35 Ibu-ibu
36 Bab. 36 Pulang
37 Bab. 37 Terasingkan
38 Bab. 38 Makan Malam
39 Bab. 39 Pindah Rumah
40 Bab. 40 Surat Perjanjian
41 Bab. 41 Keluar Dari Rumah
42 Bab. 42 Villa Gavin
43 Bab. 43 Flashback
44 Bab. 44 Pernikahan Gumalang dan Siska
45 Bab. 45 Toko Roti Siska
46 Bab. 46 Penyesalan Datang Belakangan
47 Bab. 47 Acara Pertunangan
48 Bab. 48 Gang Sempit
49 Bab. 49 Ryan..
50 Bab. 50 Bertemu Seseorang
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1. Awal Mula
2
Bab 2. Kejadian tak terduga
3
Bab 3. Berkenalan
4
Bab 4. Mendapat pekerjaan baru
5
Bab 5. Hari pertama bekerja
6
Bab 6. Menjadi Pelayan Tuan Muda
7
Bab 7. Pengkhianatan
8
Bab 8. Ciuman pertama
9
Bab 9. Kamu cantik sekali
10
Bab 10. Mendapatkan kesempatan emas
11
Bab 11. Di dalam pesawat
12
Bab 12. Ciuman hangat
13
Bab 13. Nafsu yang terpendam
14
Bab 14. Kesedihan dan kebahagiaan
15
Bab 15. Pertemuan yang merenggut nyawa
16
Bab. 16 Kejadian tak terduga.
17
Bab. 17 Menangis kembali
18
Bab. 18 Mengalami Trauma
19
Bab. 19 Melarikan diri
20
Bab. 20 Hasrat wanita
21
Bab. 21 Kejadian tak terduga
22
Bab 22. Keajaiban mulai datang
23
Bab 23. Airmata
24
Bab. 24. Kesedihan
25
Bab. 25 Pengkhianatan
26
Bab. 26 Sarah Pergi
27
Bab. 27 Tepat Waktu
28
Bab. 28 Tergoda Tuan Muda Tampan
29
Bab. 29 Pengkhianatan
30
Bab. 30 Semakin Rumit
31
Bab. 31 Makan dan Menginap
32
Bab. 32 Sedikit Menyesal
33
Bab. 33 Menatap Bintang
34
Bab. 34 Perkampungan
35
Bab. 35 Ibu-ibu
36
Bab. 36 Pulang
37
Bab. 37 Terasingkan
38
Bab. 38 Makan Malam
39
Bab. 39 Pindah Rumah
40
Bab. 40 Surat Perjanjian
41
Bab. 41 Keluar Dari Rumah
42
Bab. 42 Villa Gavin
43
Bab. 43 Flashback
44
Bab. 44 Pernikahan Gumalang dan Siska
45
Bab. 45 Toko Roti Siska
46
Bab. 46 Penyesalan Datang Belakangan
47
Bab. 47 Acara Pertunangan
48
Bab. 48 Gang Sempit
49
Bab. 49 Ryan..
50
Bab. 50 Bertemu Seseorang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!