Bab. 17 Menangis kembali

Setelah mendapatkan informasi yang dia dapat. Tanpa membuang waktu lagi, Gavin melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih terpesona melihat Gavin. Walaupun Gavin berwajah dingin, tetap saja pesonanya tak berkurang sedikitpun.

“Hei..Pria tampan, bolehkah aku tahu namamu?” Teriak salah satu dari mereka.

Gavin tak menghiraukan teriakan itu dan tetap melangkah ke depan. Dia ingin secepatnya menemukan Sarah.

“Terimakasih, Nona Nona. Kalian sudah memberikan informasi yang kita butuhkan.” Ari menundukkan kepalanya pamit pada mereka.

“Iihh..Sombong banget. Udah dikasih informasi, malah main pergi saja.” Mereka kesal pada sikap Gavin.

"Tapi, pria itu memang sangat tampan. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi dengannya." Mata mereka masih berbinar melihat sosok Gavin yang mulai menghilang di kegelapan malam.

***

Malam itu, setelah kejadian.

Tian sudah berhasil menjalankan rencananya dengan sangat baik. Sekarang, dia akan menjual apa yang sudah didapatkan dari hasil menjarah tas Sarah.

Tok tok tok

“Riko, buka pintunya!!” Teriak Tian dari balik pintu.

Dengan mata masih setengah menutup, Riko berjalan ke arah pintu.

“Iissshhh, sialan!! Ngapain nih orang tengah malam begini kemari. Mengganggu orang tidur saja.” Riko mengomel karena merasa terganggu.

“Riko, cepat buka pintunya!!” Tian berteriak kembali. Dia takut, jika ada orang yang melihatnya ke rumah Riko.

Setelah Riko membuka pintu, Tian langsung menerobos masuk ke dalam rumahnya.

“Cepat, tutup pintunya!!” Ucap Tian yang melihat Riko masih terdiam di depan pintu.

"Sudah bertamu tengah malam begini, malah seenaknya saja menyuruhku." Riko masih mengoceh sambil mendorong pintunya sampai tertutup rapat.

Setelah Riko menutup pintu, dia menghampiri Tian yang sudah duduk di sofa.

“Kau sedang apa tengah malam begini datang ke rumahku?” Dengan wajah kesal Riko bertanya. Dan dia juga ikut duduk di sofa sebelah Tian.

“Aku akan tidur di sini malam ini.” Tanpa menjelaskan lebih detail, Tian lalu berbaring dan bersiap untuk tidur di sofa ruang tamu.

Riko yang mendengarnya hanya menghela nafas dan tak berkata apapun. Riko sudah paham dengan sikap Tian yang seperti itu. Dia lalu masuk ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya.

****

Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mobil terparkir rapi di parkiran rumah sakit. Mereka bersamaan keluar dari mobil, dan bergegas berlari masuk ke ruang IGD.

Sebelum masuk ke ruang IGD, Gavin berhenti sejenak di depan pintu IGD. Dia membagi tugas dengan Ari.

“Ri, kamu periksa semua pasien yang ada di ruang IGD dan aku akan bertanya pada Security yang sedang berjaga.” Gavin memberikan instruksi pada Ari.

“Baik, Tuan.” Ari menundukkan kepala dan segera berlari ke dalam ruang IGD. Dia membuka setiap tirai yang tertutup. Memeriksa satu persatu wajah pasien yang ada di IGD.

“Selamat malam, Pak.” Ucap Gavin.

“Malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Jawab Security.

“Malam ini, apakah ada wanita yang masuk ke IGD dengan kasus pembunuhan, Pak?” Dengan menguatkan hatinya, Gavin bertanya.

“Emm..Coba saya tanya dulu kebagian pendaftaran pasien ya, Pak. Saya juga baru datang, jadi tidak tahu ada pasien yang Bapak sebutkan atau tidak. Tunggu sebentar ya, Pak."

Pak Security itu menunduk dan berjalan meninggalkan Gavin di depan pintu.

Setelah lama menunggu, akhirnya Pak Security datang menghampiri Gavin.

"Saya sudah cek ke bagian pendaftaran, bahwa tadi sekitar jam 09.30 ada pasien wanita masuk ke IGD, dengan luka tusukan di dada dan perutnya, Pak.” Jelas Pak Security.

Jantung Gavin terasa berhenti berdetak, mendengar perkataan Pak Security.

“Kira kira, wanita itu masih di ruang IGD atau sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, Pak?” Gavin bertanya lebih lanjut.

Sebelum Pak Security menjawab pertanyaan Gavin, Ari sudah datang menghampiri Gavin dengan berlari.

“Tuan Muda, Sarah ada di sebelah sana.” Ari memberitahunya dengan menunjuk ke arah tirai yang tertutup.

"Kau, tak salah lihat, kan?" Gavin semakin gemetar mendapati kabar dari Ari.

"Tidak, Tuan." Jawab Ari.

“Pak, Terima kasih atas informasinya.” Setelah mendapatkan kabar, Gavin segera berpamitan dan berlari bersama Ari.

Setelah sampai di depan tirai yang tertutup, Gavin mengulurkan tangan untuk membuka tirai itu. Namun, dia tak kuasa melakukannya.

"Ari, kamu saja yang membuka tirainya." Gavin menoleh pada Ari.

"Baik, Tuan." Ari menunduk dan melakukan perintah dari Gavin.

Tirai sudah dibuka, seketika itu kaki Gavin terasa lemas tak ada tenaga. Gavin melihat Sarah yang terbaring lemas dengan wajah pucat disertai darah yang masih membekas di bajunya. Ada selang infus yang menempel di tangannya.

Gavin teringat masa lalu, di saat maminya meninggal karena sakit kanker. Dia yang setiap hari merawat Maminya di rumah sakit, sampai di mana Maminya meninggalkan dia untuk selamanya.

Gavin berjalan menghampiri Sarah dan tertunduk lesu melihat keadaannya sekarang.

Tanpa sadar, airmata Gavin mulai menetes dan membasahi wajahnya yang tampan. Walaupun Gavin berhati dingin dan tak pernah menunjukkan kelemahannya di depan orang lain, tetapi dia juga punya hati yang lembut.

“Sarah, kenapa kamu bisa seperti ini. Kenapa kamu tak memberi kabar padaku, apakah kamu tak menganggapku lagi, Sarah? Apakah sebenarnya kamu tak mencintaiku, Sarah?” Gavin meraih tangan Sarah dan mencium punggung tangannya.

Airmatanya semakin mengalir keluar tak terkendali.

Ari yang melihat Bosnya menangis seperti itu, tanpa sadar dia juga ikut meneteskan airmatanya.

Sudah bertahun tahun Ari menjadi asisten pribadi Gavin. Tetapi, baru kali ini dia melihat Tuan mudanya itu menangis untuk orang lain.

Dulu pernah menangis karena Maminya yang meninggal dan baru sekarang dia menangis kembali, karena orang yang dicintainya sedang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.

Tak lama kemudian, ada suster yang datang menghampiri mereka.

“Maaf, Tuan. Apakah kalian keluarga dari pasien?” Tanya suster itu dengan menatap lekat wajah tampan Gavin.

Gavin dengan cepat mengusap airmatanya. Takut suster itu menyadari, kalau dia sedang menangis sekarang.

“Iya, saya keluarga dari pasien, Sus.”

“Baiklah. Saya akan mengkonfirmasi, bahwa pasien harus segera mendapatkan penanganan lebih lanjut dan harus segera dilakukan tindakan operasi, Tuan. Anda juga harus segera mengurus administrasi ke bagian pendaftaran, Tuan.” Suster menjelaskan seraya memperlihatkan dokumen persetujuan.

“Dimana saya harus tanda tangan, Sus?” Ucap Gavin setelah membaca dokumen itu.

“Di sebelah sini, Tuan.” Suster menunjukkan bagian yang harus ditandatangani.

Dengan tangan yang gemetar Gavin menandatangani dokumen persetujuan tersebut.

Gavin memejamkan mata dan mendongak ke atas menahan airmatanya yang akan jatuh.

Setelah suster mendapatkan persetujuan dari keluarga pasien, dia lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.

"Aku akan mengurus administrasi dulu, Ri. Kamu jaga Sarah di sini." Gavin, mengusap kepala Sarah dan mencium keningnya. "Aku mencintaimu Sarah."

"Baik, Tuan." Ari menundukkan kepalanya.

Gavin berbalik badan dan berjalan menuju ke bagian pendaftaran.

Deerrtt..Deerrtt..

Handphone Gavin bergetar. Ada telepon masuk dari Papinya.

📞 "Halo, Pi." Gavin memulai percakapan.

📞 "Kamu di mana, Vin? Apakah Sarah sudah kalian temukan?" Suara berat Papi Gumalang terdengar dari seberang telepon.

📞 "Sudah, Pi. Sarah masuk rumah sakit. Dia ditusuk oleh seseorang. Sekarang dia akan melakukan operasi, Pi." Gavin memijit keningnya seraya menjelaskan keadaan Sarah.

📞 "Hahhh..." Terdengar suara hembusan nafas panjang di seberang telepon. "Apa kamu sudah mengetahui, siapa pelakunya?" Tanya Papinya.

📞 "Gavin, belum mengetahui siapa pelakunya, Pi. Dan kita juga belum bergerak untuk mencarinya. Gavin masih sibuk mengurus administrasi di rumah sakit."

📞 "Baiklah, segera selesaikan urusanmu dan kembalilah besok pagi ke kantor, untuk melanjutkan urusan kita yang tertunda."

Papi Gumalang menutup sambungan telepon. Dan Gavin menyelesaikan pendaftaran dan administrasi di rumah sakit.

Episodes
1 Bab 1. Awal Mula
2 Bab 2. Kejadian tak terduga
3 Bab 3. Berkenalan
4 Bab 4. Mendapat pekerjaan baru
5 Bab 5. Hari pertama bekerja
6 Bab 6. Menjadi Pelayan Tuan Muda
7 Bab 7. Pengkhianatan
8 Bab 8. Ciuman pertama
9 Bab 9. Kamu cantik sekali
10 Bab 10. Mendapatkan kesempatan emas
11 Bab 11. Di dalam pesawat
12 Bab 12. Ciuman hangat
13 Bab 13. Nafsu yang terpendam
14 Bab 14. Kesedihan dan kebahagiaan
15 Bab 15. Pertemuan yang merenggut nyawa
16 Bab. 16 Kejadian tak terduga.
17 Bab. 17 Menangis kembali
18 Bab. 18 Mengalami Trauma
19 Bab. 19 Melarikan diri
20 Bab. 20 Hasrat wanita
21 Bab. 21 Kejadian tak terduga
22 Bab 22. Keajaiban mulai datang
23 Bab 23. Airmata
24 Bab. 24. Kesedihan
25 Bab. 25 Pengkhianatan
26 Bab. 26 Sarah Pergi
27 Bab. 27 Tepat Waktu
28 Bab. 28 Tergoda Tuan Muda Tampan
29 Bab. 29 Pengkhianatan
30 Bab. 30 Semakin Rumit
31 Bab. 31 Makan dan Menginap
32 Bab. 32 Sedikit Menyesal
33 Bab. 33 Menatap Bintang
34 Bab. 34 Perkampungan
35 Bab. 35 Ibu-ibu
36 Bab. 36 Pulang
37 Bab. 37 Terasingkan
38 Bab. 38 Makan Malam
39 Bab. 39 Pindah Rumah
40 Bab. 40 Surat Perjanjian
41 Bab. 41 Keluar Dari Rumah
42 Bab. 42 Villa Gavin
43 Bab. 43 Flashback
44 Bab. 44 Pernikahan Gumalang dan Siska
45 Bab. 45 Toko Roti Siska
46 Bab. 46 Penyesalan Datang Belakangan
47 Bab. 47 Acara Pertunangan
48 Bab. 48 Gang Sempit
49 Bab. 49 Ryan..
50 Bab. 50 Bertemu Seseorang
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1. Awal Mula
2
Bab 2. Kejadian tak terduga
3
Bab 3. Berkenalan
4
Bab 4. Mendapat pekerjaan baru
5
Bab 5. Hari pertama bekerja
6
Bab 6. Menjadi Pelayan Tuan Muda
7
Bab 7. Pengkhianatan
8
Bab 8. Ciuman pertama
9
Bab 9. Kamu cantik sekali
10
Bab 10. Mendapatkan kesempatan emas
11
Bab 11. Di dalam pesawat
12
Bab 12. Ciuman hangat
13
Bab 13. Nafsu yang terpendam
14
Bab 14. Kesedihan dan kebahagiaan
15
Bab 15. Pertemuan yang merenggut nyawa
16
Bab. 16 Kejadian tak terduga.
17
Bab. 17 Menangis kembali
18
Bab. 18 Mengalami Trauma
19
Bab. 19 Melarikan diri
20
Bab. 20 Hasrat wanita
21
Bab. 21 Kejadian tak terduga
22
Bab 22. Keajaiban mulai datang
23
Bab 23. Airmata
24
Bab. 24. Kesedihan
25
Bab. 25 Pengkhianatan
26
Bab. 26 Sarah Pergi
27
Bab. 27 Tepat Waktu
28
Bab. 28 Tergoda Tuan Muda Tampan
29
Bab. 29 Pengkhianatan
30
Bab. 30 Semakin Rumit
31
Bab. 31 Makan dan Menginap
32
Bab. 32 Sedikit Menyesal
33
Bab. 33 Menatap Bintang
34
Bab. 34 Perkampungan
35
Bab. 35 Ibu-ibu
36
Bab. 36 Pulang
37
Bab. 37 Terasingkan
38
Bab. 38 Makan Malam
39
Bab. 39 Pindah Rumah
40
Bab. 40 Surat Perjanjian
41
Bab. 41 Keluar Dari Rumah
42
Bab. 42 Villa Gavin
43
Bab. 43 Flashback
44
Bab. 44 Pernikahan Gumalang dan Siska
45
Bab. 45 Toko Roti Siska
46
Bab. 46 Penyesalan Datang Belakangan
47
Bab. 47 Acara Pertunangan
48
Bab. 48 Gang Sempit
49
Bab. 49 Ryan..
50
Bab. 50 Bertemu Seseorang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!