Bab 7. Pengkhianatan

Diperjalanan pulang, Sarah menikmati keindahan kota. Sekarang dia sudah tak perlu pusing lagi memikirkan biaya hidupnya. Karna gajinya sekarang sudah lebih dari cukup. Tetapi dia masih memikirkan bagaimana bisa lepas dari suaminya yang gila itu.

Sebelum pulang ke rumah, Sarah menyempatkan mampir terlebih dahulu ke resto Bu Tika. Sore hari, resto sedang ramai pelanggan.

Pelanggan resto kebanyakan orang orang yang pulang dari bekerja. Masakan Bu Tika juga rasanya enak, makanya tak jarang resto sepi pelanggan.

Sesampainya Sarah di resto, dia melihat Bu Tika yang sangat kerepotan menyiapkan pesanan dan melayani pelanggan sekaligus. Sarah tak tega melihatnya, dia langsung masuk dan membantu Bu Tika.

Dengan senyum manisnya dia menyambut beberapa pelanggan untuk masuk dan mempersilahkan duduk, tak lupa dia menyodorkan menu untuk mereka memesan makanan.

Setelah beberapa jam sibuk melayani pelanggan, akhirnya tiba juga waktu resto untuk tutup. Tak terasa hari sudah sangat malam.

"Haahhhh...."

Sarah dan Bu Tika menghela nafas bersamaan. Dan mereka juga tertawa bahagia bersama.

“Kenapa kau tak memberi kabar kepadaku, kalau kau tak masuk hari ini?” Pukul Bu Tika dengan centong sayur ke badan Sarah.

“Maaf, Bu Tika. Saya lupa memberitahu Anda, kalau saya sudah mendapatkan pekerjaan baru.” Sarah hanya menunduk dan tak berani menatap mata Bu Tika. Sarah takut kalau Bu Tika marah padanya.

“Ooo..Bagus-lah kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru. Jadi kamu tak perlu pusing lagi memikirkan biaya hidupmu.” Jawab Bu Tika dengan senyuman lebar.

Ternyata Bu Tika tak marah dengan Sarah. Malahan, Bu Tika ikut senang dia mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang lebih tinggi daripada gaji di resto miliknya.

Setelah berbincang panjang lebar dengan Bu Tika, Sarah pamit pulang. Sarah pulang dengan berjalan kaki ke rumah. Dia sudah terbiasa dengan keadaan ini.

Dengan sisa tenaga, Sarah mulai melangkahkan kaki pulang ke rumah. Ketika sedang menikmati angin malam yang dingin, tak sengaja di tengah perjalanan, Sarah melihat sesosok pria tinggi dan seorang wanita yang berpakaian agak terbuka. Pria itu berjalan sembari memeluk pinggang wanita di sampingnya.

Setelah dilihat lebih dekat, Sarah sangat terkejut. Matanya membelalak melihat pria di depannya. Ternyata, pria itu adalah suaminya sendiri.

Kenapa, Tian bisa bersama dengan wanita lain dalam keadaan mabuk seperti ini? Mereka terlihat sangat mesra. Batin Sarah.

Seketika itu hati Sarah sakit sekali, seperti ditusuk jarum berkali kali. Dia jijik melihat adegan mesra itu. 3 tahun menikah dengan Tian, dia tak pernah menyentuh Sarah dengan mesra seperti itu.

Padahal dahulu sebelum menikah, Tian adalah pria yang sangat menyayanginya, sangat peduli padanya.

Dan dia juga berjanji tak akan mengkhianati Sarah.

Tetapi sekarang berbanding terbalik, setelah menikah dengan Sarah, Tian menjadi monster baginya.

Rasa sedih, marah, kesal. Bercampur aduk menjadi satu. Sarah berjalan cepat dan melewati mereka yang sedang bercumbu mesra di pinggir jalan.

Dia lantas berlari pulang, karena tak sanggup jika harus melihat adegan mesra itu lebih lama. Sesampainya di rumah, Sarah langsung masuk ke kamar.

"AAaaaaaaaa"....Teriak Sarah di dalam kamarnya.

Saat ini dia sangat-lah marah. Dia memukul kasur berkali kali sebagai pelampiasan kekesalannya pada Tian.

Dia menangis karena sangat menyesal sudah menikahi pria yang tak tahu diri, yang hanya bisa menyakiti hati istrinya. Setidaknya, dia ada sedikit hati untuk Sarah. Walaupun sering kasar padanya, namun tak perlu berselingkuh seperti itu.

 

Di tempat lain,

Gavin yang duduk bersandar di kepala kasur, sedang melamun memikirkan Sarah.

Sarah yang begitu lembut dan cantik, mengisi seluruh pikiran dan hatinya. Gavin sudah tak sabar ingin malam segera berganti menjadi pagi hari. Supaya dia bisa bertemu dengan Sarah kembali.

Karena sudah sangat malam, Gavin mulai memejamkan mata untuk tidur. Namun, setelah beberapa saat berusaha, Gavin tetap tak bisa tidur. Dia berguling sana berguling sini.

"Acchh..Kenapa jadi tak bisa tidur." Gavin bangun dan duduk di ranjang. Dia lalu turun dari ranjang dan berdiri di depan jendela kamarnya. Gavin mulai membuka jendela. Angin malam yang dingin, masuk menerpa wajah tampannya.

Gavin memenjamkan mata dan menikmati setiap terpaan angin di wajahnya. Dia jadi teringat kembali. Saat pertama kalinya Sarah tersenyum manis kepadanya. Uuhh..Itu adalah moment yang tak akan pernah Gavin lupakan.

Sudut bibirnya mulai terangkat, ketika mengingat moment itu.

***

Tanpa sepengetahuan Tian, malam ini Sarah pergi dari rumahnya. Dia akan mencari tempat tinggal baru.

Sarah sudah tak bisa memaafkan Tian yang berani berselingkuh di hadapannya langsung.

Kalau hanya dipukul, ditendang atau dimaki, Sarah masih bisa bertahan. Tetapi, kalau sudah ada orang ketiga dalam rumah tangganya, Sarah lebih baik mundur dan merelakannya untuk orang lain.

Dengan terburu buru, Sarah merapikan baju dan memasukkannya ke dalam tas besar miliknya.

Dia harus segera pergi sebelum Tian kembali ke rumah. Karena sudah larut malam, hanya ada beberapa tetangga saja yang melihatnya keluar dari rumah dengan membawa tas besar.

“Sarah, kamu mau ke mana? Kenapa membawa tas besar seperti itu? Kelihatannya, kamu mau kabur ya dari rumah?” Salah satu tetangga yang melihatnya langsung melontarkan pertanyaan pada Sarah.

Sarah hanya tersenyum dan menundukkan kepala memberi salam. Sarah melangkahkan kaki tanpa memberi jawaban apapun ke tetangganya itu.

Sepanjang jalan Sarah memikirkan, di mana dia akan tinggal sekarang? Ini sudah larut malam. Apakah masih ada tempat yang bisa ia datangi?

Dengan berjalan tanpa arah, Sarah mencari tempat yang bisa ia tempati untuk tidur semalam saja.

Setelah berjalan cukup jauh, Sarah duduk terdiam di depan toko klontong.

“Mungkin, di sini dulu saja aku istirahat. Besok pagi aku harus berangkat bekerja.” Ucapnya, seraya merapikan alas untuknya tidur.

Semakin malam semakin dingin udara di luar. Badan Sarah mulai menggigil kedinginan. Bagaimana tidak, dia tidur hanya beralaskan kain tipis.

Sarah tak bisa tidur semalaman. Pagi pagi sekali, dia harus bergegas pergi dan mencari toilet umum untuknya mandi dan membersihkan badannya. Setelah semua rapi, Sarah berjalan kaki menuju halte bus.

Sarah melihat ke sana kemari, mungkin saja di area yang dia lewati ada rumah kosong yang bisa dia sewa. Namun, setelah sampai di halte pun dia tak menemukan rumah kosong yang bisa ia sewa.

Dengan perasaan sedikit kecewa Sarah menaiki bus yang sudah sampai di halte. Sepanjang perjalannya menuju tempatnya bekerja, dia hanya termenung mengingat nasibnya yang tak tahu harus tinggal di mana nanti.

Sesampainya Sarah di rumah Gumalang, dia bertemu dengan Bi Mira di depan pintu utama.

“Sarah, kamu mau kemana? Kenapa membawa tas sebesar itu?” Bi Mira yang penasaran memandangi Sarah yang baru memasuki rumah membawa tas besar.

“Kamu kabur dari rumah ya?” Lanjut Bi Mira.

Bi Mira tak tahu kalau Sarah sebenarnya sudah menikah. Setahu dia, Sarah masih lajang.

“Iya Bi..,Saya sudah tak bisa bertahan kalau sudah ada orang ketiga diantara saya dan suami.” Jelasnya dengan menundukkan pandangannya. Menahan rasa sakit yang tak berdarah lebih sulit, karna lebih menguras tenaga,pikiran dan hatinya.

Bi Mira terkejut mendengar perkataan Sarah. Dia membungkam mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya.

“Sarah, kamu sudah menikah? Saya pikir kamu masih lajang. Saya sangat terkejut mendengarnya. Apa kamu sudah mempunyai anak?”

Bi Mira menjadi lebih penasaran tentang kehidupan pribadi Sarah.

Sarah tersenyum mendengar perkataan Bi Mira.

“Saya sudah menikah selama 3tahun ini Bi, dan kita belum memiliki anak.” Sarah menunduk sedih mengatakannya.

“Sudah tak apa, jangan bersedih Sarah. Lalu kamu punya rencana akan tinggal di mana sekarang?”

Ucap Bi Mira menghibur Sarah yang sedang bersedih. Bi Mira selalu baik pada Sarah.

“Belum tahu Bi. Saya belum mendapatkan rumah kosong yang bisa disewa.” Jawabnya sembari bersiap untuk membangunkan Tuan muda.

“Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah ini bersama saya? Nanti saya akan tanyakan ke Tuan Gumalang, apakah boleh kamu tinggal di sini. Tetapi, bagaimana dengan suamimu Sarah? Apakah dia tidak mencarimu?”

Sarah hanya tersenyum mendengar perkataan Bi Mira. Dia tak menjawabnya dan malah pergi ke kamar Tuan Muda untuk membangunkannya.

Terpopuler

Comments

Nuranita

Nuranita

Nah gitu dong. Tinggalin Tian

2023-03-31

0

Nuranita

Nuranita

Tian nggak tau diri sumpah

2023-03-31

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Awal Mula
2 Bab 2. Kejadian tak terduga
3 Bab 3. Berkenalan
4 Bab 4. Mendapat pekerjaan baru
5 Bab 5. Hari pertama bekerja
6 Bab 6. Menjadi Pelayan Tuan Muda
7 Bab 7. Pengkhianatan
8 Bab 8. Ciuman pertama
9 Bab 9. Kamu cantik sekali
10 Bab 10. Mendapatkan kesempatan emas
11 Bab 11. Di dalam pesawat
12 Bab 12. Ciuman hangat
13 Bab 13. Nafsu yang terpendam
14 Bab 14. Kesedihan dan kebahagiaan
15 Bab 15. Pertemuan yang merenggut nyawa
16 Bab. 16 Kejadian tak terduga.
17 Bab. 17 Menangis kembali
18 Bab. 18 Mengalami Trauma
19 Bab. 19 Melarikan diri
20 Bab. 20 Hasrat wanita
21 Bab. 21 Kejadian tak terduga
22 Bab 22. Keajaiban mulai datang
23 Bab 23. Airmata
24 Bab. 24. Kesedihan
25 Bab. 25 Pengkhianatan
26 Bab. 26 Sarah Pergi
27 Bab. 27 Tepat Waktu
28 Bab. 28 Tergoda Tuan Muda Tampan
29 Bab. 29 Pengkhianatan
30 Bab. 30 Semakin Rumit
31 Bab. 31 Makan dan Menginap
32 Bab. 32 Sedikit Menyesal
33 Bab. 33 Menatap Bintang
34 Bab. 34 Perkampungan
35 Bab. 35 Ibu-ibu
36 Bab. 36 Pulang
37 Bab. 37 Terasingkan
38 Bab. 38 Makan Malam
39 Bab. 39 Pindah Rumah
40 Bab. 40 Surat Perjanjian
41 Bab. 41 Keluar Dari Rumah
42 Bab. 42 Villa Gavin
43 Bab. 43 Flashback
44 Bab. 44 Pernikahan Gumalang dan Siska
45 Bab. 45 Toko Roti Siska
46 Bab. 46 Penyesalan Datang Belakangan
47 Bab. 47 Acara Pertunangan
48 Bab. 48 Gang Sempit
49 Bab. 49 Ryan..
50 Bab. 50 Bertemu Seseorang
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1. Awal Mula
2
Bab 2. Kejadian tak terduga
3
Bab 3. Berkenalan
4
Bab 4. Mendapat pekerjaan baru
5
Bab 5. Hari pertama bekerja
6
Bab 6. Menjadi Pelayan Tuan Muda
7
Bab 7. Pengkhianatan
8
Bab 8. Ciuman pertama
9
Bab 9. Kamu cantik sekali
10
Bab 10. Mendapatkan kesempatan emas
11
Bab 11. Di dalam pesawat
12
Bab 12. Ciuman hangat
13
Bab 13. Nafsu yang terpendam
14
Bab 14. Kesedihan dan kebahagiaan
15
Bab 15. Pertemuan yang merenggut nyawa
16
Bab. 16 Kejadian tak terduga.
17
Bab. 17 Menangis kembali
18
Bab. 18 Mengalami Trauma
19
Bab. 19 Melarikan diri
20
Bab. 20 Hasrat wanita
21
Bab. 21 Kejadian tak terduga
22
Bab 22. Keajaiban mulai datang
23
Bab 23. Airmata
24
Bab. 24. Kesedihan
25
Bab. 25 Pengkhianatan
26
Bab. 26 Sarah Pergi
27
Bab. 27 Tepat Waktu
28
Bab. 28 Tergoda Tuan Muda Tampan
29
Bab. 29 Pengkhianatan
30
Bab. 30 Semakin Rumit
31
Bab. 31 Makan dan Menginap
32
Bab. 32 Sedikit Menyesal
33
Bab. 33 Menatap Bintang
34
Bab. 34 Perkampungan
35
Bab. 35 Ibu-ibu
36
Bab. 36 Pulang
37
Bab. 37 Terasingkan
38
Bab. 38 Makan Malam
39
Bab. 39 Pindah Rumah
40
Bab. 40 Surat Perjanjian
41
Bab. 41 Keluar Dari Rumah
42
Bab. 42 Villa Gavin
43
Bab. 43 Flashback
44
Bab. 44 Pernikahan Gumalang dan Siska
45
Bab. 45 Toko Roti Siska
46
Bab. 46 Penyesalan Datang Belakangan
47
Bab. 47 Acara Pertunangan
48
Bab. 48 Gang Sempit
49
Bab. 49 Ryan..
50
Bab. 50 Bertemu Seseorang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!