Di rumah Sakit.
Gavin gelisah karena belum menemukan pelakunya. Dia berjalan mondar mandir memikirkan, bagaimana caranya menangkap bajingan itu. Dia tak habis pikir, kenapa suaminya bisa setega itu pada istrinya sendiri.
Sesekali dia duduk dan memegang tangan Sarah dan mencium punggung tanganya.
“Sarah, bangunlah. Jangan tidur terlalu lama Sarah. Aku kesepian tanpamu.” Dengan wajah sendu Gavin menatap wajah Sarah yang masih pucat.
“Kamu harus balas dendam Sarah. Maafkan Aku, karena belum bisa menemukan suami bejatmu itu. Yang sudah tega membunuhmu.” Gavin mengusap wajah yang biasanya ceria sekarang menjadi pucat tak berdaya.
Drrtt... drrtt..
📞”Halo, Pi.” Gavin mengangkat telepon dari Papinya.
📞”Bagaimana keadaan Sarah sekarang, Vin?” Terdengar suara Papi Gumalang di seberang telepon.
📞”Hah..Sarah belum bangun, Pi. Dia masih koma.” Gavin menghela nafas dan menundukkan pandangannya.
📞”Tenyata sampai separah itu. Apa kamu tak mau pulang, Vin? Ini sudah pagi, kamu juga belum istirahat. Biar Bi Mira saja yang menggantikanmu.” Ucap Papinya.
📞”Tak apa, Pi. Gavin masih kuat menjaga Sarah. Papi kenapa bangun sepagi ini?” Tanyanya.
📞”Papi tak bisa tidur karena khawatir padamu. Dan Papi penasaran siapa pelaku pembunuhan itu.” Suara Papi Gumalang terdengar berat.
📞”Papi tak perlu khawatir, aku baik baik saja di sini. Papi harus bersiap sekarang, karena hari ini Papi harus menggantikanku di kantor.” Jawab Gavin mengalihkan topik pembicaraan.
📞”Hemm..Baiklah. Kamu jangan lupa makan. Dan segera temukan pelakunya.” Papi Gumalang menutup telepon.
Papi jangan sampai tahu, kalau sebenarnya Sarah sudah punya suami. Pikir Gavin sembari memijit kepalanya yang pusing memikirkan masalah ini.
Sinar matahari mulai memasuki seluruh ruangan. Hari sudah menjelang siang. Bi Mira masih sibuk merapikan baju Sarah yang akan dibawanya ke rumah sakit. Dia juga tak lupa membawa bekal untuk Tuan Mudanya.
“Bi Mira, sudah siap untuk berangkat?” Tanya Tuan Gumalang yang sedang menyeruput kopinya di meja makan.
“Sudah, Tuan. Mari kita berangkat.”Bi Mira berjalan keluar kamar dan menganggukkan kepala pada Tuan Gumalang.
Mereka pun berangkat dengan mobil yang sama. Bi Mira duduk di sebelah pak supir dan Tuan Gumalang duduk di bangku penumpang belakang.
“Bi Mira.” Panggil Tuan Gumalang.
“Iya, Tuan.” Bi Mira menoleh ke belakang.
“Apakah Sarah sudah menikah?” Tanya Tuan Gumalang.
Mata Bi Mira melotot karena kaget dengan pertanyaan itu.
Hah...apakah Tuan Gumalang tak mengetahui, kalau Sarah sudah menikah? Batin Bi Mira sebelum menjawab.
“Emm.. Sarah sudah menikah, Tuan.” Jawab Bi Mira dengan menundukkan pandangannya.
Tuan Gumalang yang mendengar jawaban dari Bi Mira langsung terdiam tak bersuara.
Apa yang sedang dipikirkan Tuan Gumalang? Kenapa dia sampai menanyakan status Sarah?
“Di mana suami Sarah sekarang? Kenapa dia tak mendatangi istrinya, padahal istrinya sedang dirawat di rumah sakit.” Tuang Gumalang bertanya lagi.
“Saya tidak tahu soal itu, Tuan. Setahu saya, Sarah keluar dari rumahnya karena suaminya berselingkuh.” Jawab Bi Mira dengan nada sedikit gemetar.
Tuan Gumalang mengernyitkan dahinya, karena tak percaya dengan cerita Bi Mira. Dan kali ini Tuan Gumalang kembali terdiam dan tak menjawab. Apa yang sebenarnya dipikirkan Tuan Gumalang?
***
Serrttt...
Suara pintu kamar dibuka. Ternyata itu Suster Nia yang masuk ke kamar Sarah. Dia adalah Suster yang bertugas memeriksa keadaan Sarah setiap harinya. Saat sedang sibuk memeriksa Sarah, entah setan apa yang sudah merasuki dirinya, tiba tiba mata Suster Nia melirik Gavin yang sedang tertidur pulas di samping tangan Sarah.
“Kamu tampan sekali. Tidur saja sudah tampan, apa lagi kalau sedang tersenyum, pasti akan lebih tampan.” Suster Nia tersenyum dan menatap lekat wajah Gavin. Hasrat wanita yang setiap kali melihat pria tampan, pasti ingin sekali menyentuhnya dan memilikinya.
Dengan hati hati tangan suster Nia terangkat dan ingin sekali menyentuh wajah Gavin.
Braakk..
Mendengar pintu dibuka dengan kasar, suster Nia menurunkan tangannya dan mengurungkan niatnya untuk menyentuh Gavin. Dia lalu mundur dan melangkah pergi.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Sus?” Tiba tiba Tuan Gumalang bertanya padanya.
“Saya sedang memeriksa keadaan pasien, Tuan.” Dengan wajah menunduk suster Nia menjawab.
“Ooh.. lalu bagaimana dengan keadaannya sekarang?” Tuan Gumalang bertanya lagi sembari melihat dengan detail pada suster Nia.
“Keadaan pasien masih sama saja, Tuan. Belum ada perubahan.” Suster Nia masih tertunduk.
“Lalu kenapa kau masih di sini, dan berani sekali kau punya niat menyentuh wajah anakku.” Tuan Gumalang melihat anaknya yang sedang tertidur pulas di samping ranjang pasien.
Suster Nia mendongak karena kaget mendengar pertanyaan itu. Dan dia tak sengaja melihat mata Tuan Gumalang yang sedang menatapnya tajam. “Eemmmm..Maaf, Tuan. Saya khilaf melihat pria tampan di hadapan saya.” Suster Nia kembali menundukkan kepalanya.
“Pergi dari sini, dan jangan sampai kau masuk ke ruangan ini lagi. Aku akan mengganti suster yang lebih baik dari kau.” Ucap Tuan Gumalang.
Sebelumnya Tuan Gumalang juga sudah memperhatikan gerak geriknya saat sampai di depan pintu kamar tadi.
Suster Nia tak menjawab ucapan Tuan Gumalang, dia hanya menganggukkan kepalanya dan langsung keluar dari kamar. Dengan perasaan kesal suster Nia berjalan keluar kamar pasien.
“Sial..Gara gara Pak Tua itu, aku tak jadi menyentuh wajah tampan pria itu.” Suster Nia mengumpat dan dia masih membayangkan wajah tampan Gavin.
“Hei, Nia. Kamu kenapa? Lagi mikirin apa? Sampai air liurmu akan menetes begitu?” Tanya suster Miya sembari tertawa lebar, melihat temannya yang sedang melamun di depan pintu pasien..
“Apakah kamu sekarang sedang mentertawakanku? Kamu sama saja dengan Pak Tua itu.” Suster Nia kesal dengan Suster Miya.
“Hah? Pak Tua? Siapa dia? Kenal di mana kamu?” Suster Miya mulai penasaran.
“Aachh..Tak tahu lah. Jangan buat aku semakin kesal saja.” Suster Nia mengibaskan tanganya dan melangkah pergi meninggalkan Suster Miya.
Di dalam kamar.
“Gavin. Gavin bangun!!” Tuan Gumalang membangunkan anaknya.
“Maaf, Tuan. Biar saya saja yang membangunkan Tuan Muda.” Bi Mira meminta izin pada Tuannya.
Tuan Gumalang hanya menganggukkan kepalanya.
“Tuan Muda, bangun. Ada Tuan Gumalang di sini.” Bi Mira menggoyangkan badan Gavin yang bersandar di ranjang pasien.
Setelah mendengar ada Papinya datang, Gavin langsung bangun dari tidur lelapnya, dia mengedip ngedipkan matanya.
“Papi, kenapa ada di sini? Bukankah seharusnya Papi ke kantor.” Gavin merenggangkan badannya karena pegal.
“Jika Papi tak ada di sini saat ini, mungkin kau akan berhasil disentuh oleh tangan nakal.” Bibir Papi Gumalang manyun mendengar sambutan dari anaknya, yang seolah olah tak mau melihat Papinya.
“Siapa yang berani menyentuhku, Pi?” Tanya Gavin seraya beranjak dari kursi lalu melangkah ke sofa dan duduk di sana.
“Kamu sebaiknya pulang ke rumah, istirahat dan membersihkan diri. Tak biasanya kamu berantakan seperti ini, Vin.” Papinya juga ikut duduk di sebalahnya.
“Biar Bi Mira saja yang menjaganya hari ini.” Lanjut Papinya.
Gavin menoleh dan menatap wajah Tua yang ada di sebelahnya. “Baiklah, Gavin ikut perkataan Papi. Tapi jaga Sarah dengan baik ya, Bi Mira. Jangan sampai ada yang menyentuhnya kecuali Bi Mira.” Ucap Gavin seraya berdiri dan berjalan menghampiri Sarah.
Gavin mengusap rambut Sarah. “Sarah, aku pulang dulu ya. Nanti aku akan kembali lagi untuk menemanimu.” Gavin mencium kening Sarah.
Papinya yang melihat anaknya mencium istri orang langsung berdiri dan menarik tangan Gavin. “Gavin, apa yang kamu lakukan. Dia sudah menikah. Apa kamu tak tahu apa status dia?” Papinya melotot pada Gavin.
Gavin tersenyum kecut mendengar ucapan Papinya. Ternyata papi Gumalang sudah mengetahui status Sarah. Batin Gavin.
“Siapa yang memberi tahu Papi, kalau Sarah sudah menikah?” Gavin menoleh pada Sarah.
“Apakah itu penting buatmu? Jawab Papi Gumalang dengan nada kesal.
“Yaa..Sudahlah, Gavin pulang saja. Malas harus berdebat dengan papi.” Gavin pun mulai melangkah pergi meninggalkan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments