“Karna kamu sudah melukai kakiku, kamu harus dihukum Sarah.” Bisik Gavin dengan nada menggoda di telinga Sarah.
Wajah Sarah seketika berubah jadi memerah setelah mendengar perkataan Gavin.
“Hukuman apa itu, Tuan?” Tanya Sarah, sembari berdiri dan meletakkan belanjaannya di atas meja dapur.
“Nanti kamu juga akan tahu Sarah.” Dengan senyum nakalnya Gavin menjawab, dan dia pergi meninggalkan Sarah yang masih berada di dapur dengan wajah yang penuh tanda tanya.
Ditempat lain.
“Dari mana saja kamu, kenapa kamu baru kemari?” Tanya salah satu teman Tian.
“Haaahhh..Aku lagi pusing, Sarah tiba-tiba pergi dari rumah. Dan Ibu pemilik kontrakan selalu datang menagih uang sewa.” Tian duduk di kursi dan bersender di dinding tembok sembari memijit pelipisnya.
“Sarah kabur dari rumah? Yang benar kamu Tian? tadi aku baru saja bertemu dengannya di pasar. Dia sedang berbelanja bahan makanan, aku kira itu untuk dibawa pulang kerumahmu.” Jawab temannya dengan nada tak percaya pada ucapan Tian
Dengan mata mendelik Tian menahan amarahnya.
“Apa kamu benar melihat Sarah?” Tian mengepalkan tangan sembari memukulkan ke meja yang ada di hadapannya.
“Heemm..Mana mungkin aku berani berbohong kepadamu.” Jawab temannya sambil mengambilkan air minum untuk Tian
“Apa kau melihat dia pulang ke arah mana?” Tian semakin penasaran ke mana Sarah pergi.
“Aku tak melihatnya lagi, karena aku juga sibuk dengan belanjaanku sendiri.”
Brakk...
Tian menggebrak meja judi karena sangat marah dengan Sarah yang tak pulang, tapi masih bisa berbelanja.
Di mana dia tinggal sekarang. Tian masih bertanya tanya dalam hatinya.
Di rumah Gumalang.
Malam itu Sarah dan Bi Mira sedang sibuk di dapur.
“Sarah, kamu tak pulang? Ini kan sudah larut malam.” Terdengar suara Gavin dari arah belakang.
“Sarah sekarang tinggal di rumah ini Tuan Muda”. Sela Bi Mira yang juga mendengar pertanyaan itu.
“Serius, Bi? Sarah sekarang tinggal di rumah ini?” Gavin tak percaya, jika Sarah sekarang tinggal di rumahnya selama dia bekerja.
Ketika mendengar kabar itu , tiba-tiba Gavin merasakan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan.
Dia terus tersenyum menatap Sarah. Bi Mira yang menyaksikan situasi malam itu berpikir,
Apakah, Tuan Muda menyukai Sarah yang sudah bersuami? Apakah Tuan Muda tak tahu jika Sarah sudah menikah? Heemm..Aneh sekali mereka.
Semakin penasaran Bi Mira dengan sikap Tuan Mudanya yang selalu tersenyum setiap kali menatap Sarah.
Sarah hanya tersenyum manis dan mengangguk memberi salam pada Gavin. Lalu dia pergi terlebih dahulu, meninggalkan Gavin dan Bi Mira yang masih berada di dapur.
“Tuan Muda. Apakah Tuan muda menyukai Sarah?”
Bi Mira sudah tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya itu.
“Memangnya kelihatan ya Bi, kalau saya menyukai Sarah?” Tanya Gavin memastikan.
“Jadi benar. Tuan Muda menyukai Sarah?” Dengan suara lantangnya Bi Mira mengatakan itu.
"Sshhuutt, jangan terlalu keras suaranya Bi. Nanti kalau sampai Papi tahu soal ini, dia bisa marah besar dan bisa mengusir Sarah dari rumah ini.” Ucap Gavin dengan meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya sendiri.
Bi Mira yang melihat instruksi dari Tuan Mudanya langsung mengangguk mengerti. Ketika Gavin sedang asyik mengobrol dengan Bi Mira, tiba-tiba terdengar suara Papinya dari ruangan yang berbeda.
“Gavin, kamu sedang apa di dapur? Kemarilah, Papi ingin mengatakan sesuatu padamu.” Panggil Papi Gumalang dari arah ruang kerja.
“Ada apa Pi? Apakah ada yang penting?” Tanya Gavin seraya melangkahkan kaki ke ruang kerja dan duduk di sofa.
Papi dengar gak ya, apa yang dikatakan Bi Mira di dapur tadi? Haduuhhh.. kacau kalau sampai Papi dengar. Dengan menutup mata, Gavin berpikir.
“Besok kamu harus keluar kota, untuk mengurus perusahaan Papi yang sedang ada masalah.” Ucap Papinya setelah melihat Gavin duduk.
“Kenapa harus aku, Pi? Kenapa tak Papi saja yang pergi dan menangani masalah itu sendiri?” Protes Gavin pada Papinya.
“Hahh.. Papi sudah tua dan cepat lelah, kalau harus mengurus 2 perusahaan sekaligus, Vin. Hanya kamu harapan Papi yang bisa diandalkan.” Jawab Papinya dengan menyerahkan berkas pada Gavin.
“Aku kan juga mengurus perusahaan di sini, Pi. Mana bisa aku meninggalkan perusahaanku disini untuk mengurus yang jauh di sana?” Gavin mencari alasan, supaya Papinya tak menyuruhnya pergi ke luar kota.
Dia tak akan bisa fokus bekerja, jika tak melihat Sarah dalam waktu yang cukup lama.
“Ayoo lah nak, bantu Papi. Itu juga akan jadi perusahaanmu nantinya, Vin.” Papi Gumalang memohon pada Gavin.
Gavin tak tega, jika melihat Papinya memohon padanya. Dia saat ini sedang berpikir keras, untuk mencari alasan. Bagaimana caranya, jika dia pergi ke luar kota, dengan membawa Sarah.
Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya terlintas ide yang bagus di pikiran Gavin.
“Oke, aku akan pergi ke luar kota. Tetapi, aku pergi dengan membawa Sarah Pelayanku.” Dengan sudut bibir tersenyum sedikit, Gavin melontarkan permintaan pada Papinya.
“Bagaimana, Pi? Apakah Papi setuju dengan kesepakatan ini?” Gavin memastikannya.
Gavin mulai membuat kesepakatan pada Papinya.
Papi Gumalang sedikit mengernyitkan dahi.
Anaknya, kenapa sekarang tergantung sekali dengan Pelayannya itu? Tak seperti Gavin biasanya, yang tak peduli dengan orang lain dan yang selalu bersikap dingin.
Papi Gumalang berpikir, jika dia tidak menyetujui kesepakatan itu, maka perusahaannya yang akan jadi korban. Dia juga tidak punya pilihan lain, selain menyetujuinya.
Dan pada akhirnya, dengan sangat berat hati Papi Gumalang menyetujui permintaan Gavin, untuk membawa Sarah ikut pergi dengannya.
“Oke, kamu boleh membawanya. Tapi dengan satu syarat, kamu tak boleh mempunyai perasaan apapun pada Sarah.”
Peringatan Papinya membuat Gavin tak ingin dengar. Tetapi, kalau dipikir lagi ini kesempatan emas untuk bisa dekat dengan Sarah.
Terserah papi mau bicara apa, yang penting aku bisa lebih dekat dengan Sarah. Ucap Gavin dalam hati.
“Aku akan mempercayakan Ari untuk mengawasimu, selama kamu di luar kota nanti. Dan, sekaligus untuk menjagamu.” Tegas Papinya dengan wajah serius.
Gavin mengangguk dan dia juga harus berpikir keras, bagaimana caranya supaya bisa berkencan dengan Sarah tanpa Papinya tahu.
Setelah rapat singkat selesai, Gavin langsung ke kamar Bi Mira. Sarah satu kamar dengan Bi Mira sekarang.
Tok tok tok
“Sarah, apakah kamu sudah tidur?” Gavin mengetok pintu kamar Bi Mira.
Sarah turun dari ranjang dan bergegas membuka pintu, melihat siapa yang memanggilnya.
“Tuan Muda?”
Sarah kaget melihat Gavin yang berada di luar kamarnya. Dia juga heran, kenapa sudah larut malam begini, Gavin datang ke kamarnya.
“Kamu, malam ini harus bersiap untuk merapikan bajumu. Karena, besok kamu harus ikut denganku ke luar kota untuk beberapa hari.” Mata Gavin yang hanya terfokus pada bibir merah Sarah, dan ingin sekali menyentuhnya.
“Kenapa, saya harus ikut Tuan?” Sarah bertanya, karena dia mempunyai firasat tak enak dengan ajakan Gavin kali ini.
“Kamu bekerja di sini untuk melayaniku kan? Mulai sekarang dan seterusnya kemana pun aku pergi, kamu harus ikut denganku.” Dengan mengulas senyuman Gavin menejelaskan pada Sarah.
“Baik, Tuan Muda. Saya akan ikut kemana pun Tuan Muda pergi.” Dengan pasrah Sarah harus mengikuti apa yang dikatakan Tuan Mudanya. Sarah mengangguk menyetujui perkataan Tuan Mudanya. Dia juga tak punya alasan untuk menolak.
“Baguss, kalau kamu sudah mengerti. Kamu harus bersiap sekarang. Dan kamu juga harus ingat, kalau kamu masih harus dihukum karena kesalahanmu tadi.” Sudut bibir Gavin terangkat, dan senyuman nakal terukir di wajah tampannya.
Gavin kembali ke kamarnya dengan perasaan gembira. Ingin sekali dia loncat kegirangan tetapi takut ketahuan orang rumah, nanti martabatnya akan jatuh jika ada yang tahu.
Sarah mengernyitkan dahi, setelah mendengar ucapan Gavin. Apa yang akan dilakukan Tuan Muda padaku nanti?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Neonnorey
hallo Thor aku mampir lagi, aku suka ceritanya Thor, oiya mampir jg ke novelku ketika kakakku menyentuhku ya Thor, kita saling dukung, nanti aku mampir lagi
2023-06-12
0