Sarah pulang dengan menggunakan kendaraan umum.
Sarah mendapatkan tempat duduk dekat dengan jendela. Dia menikmati keindahan di luar jendela bus.
Sepanjang perjalanan dia masih bingung untuk memutuskan pulang ke rumah atau mampir dahulu ke resto Bu Tika.
Akhirnya setelah berpikir panjang, Sarah memilih mampir ke resto Bu Tika.
Walaupun badannya sudah lelah karna berkeliling mencari pekerjaan. Tetapi lebih baik Sarah ke resto saja, daripada harus pulang dan bertemu suaminya.
Sesampainya di resto, Sarah berpapasan dengan Gavin di depan pintu resto.
“Hei, Sarah..” Dengan senyuman Gavin menyapanya.
Sarah hanya mengangguk memberi salam pada Gavin dan tanpa melihat wajah Gavin, dia langsung melangkah masuk ke dalam resto.
Gavin hanya berdiri mematung, melihat punggung Sarah yang berlalu di depan matanya.
Setibanya Sarah di depan dapur, ada benda terbang yang mengenai kepala Sarah yang baru saja masuk ke dapur.
“Aacchhh..” Rintih Sarah kesakitan sambil memegangi kepalanya.
“Dari mana saja kau!! Apa kau tak bilang pada suamimu kalau kau pergi keluar dan izin tak bekerja hari ini?” Pertanyaan pedas yang dilontarkan Bu Tika membuat Sarah bertanya tanya.
Ada apa ini? Apakah terjadi sesuatu? Apa yang aku tak tahu hari ini?
Sarah hanya bisa menunduk terdiam mendengar ocehan bu Tika.
“Suamimu yang gila itu datang mencarimu dan marah marah di sini. Aku sampai tak punya muka untuk melayani pelanggan hari ini. Rasanya ingin sekali aku membunuhnya!!”
Bu Tika masih melanjutkan ocehannya. Kekesalannya ditumpahkan semua pada Sarah.
Sarah hanya pasrah dan tak kuasa untuk menahan airmatanya.
Setelah puas mendengar Bu Tika mengamuk padanya, akhirnya Sarah kembali pulang kerumah.
Dengan rasa marah, kesal dan sedih, Sarah berpamitan pulang. Dia tak jadi membantu di resto.
Sarah juga lupa dengan tujuannya untuk resign, karena besok sudah tak bisa bekerja lagi di resto. Pikiran Sarah sudah tak karuan.
Sepanjang perjalanan dia hanya menangis dan merasa kesal sekali.
Hari yang seharusnya membuat dia bahagia, malah menjadi hari yang kelam. Itu semua karena suaminya yang tak tahu malu.
“Sarah, kamu kenapa? Kok kamu menangis?”
Tiba tiba terdengar suara Gavin dari arah belakang. Sarah dengan cepat menyeka airmatanya dan menoleh tersenyum kepada Gavin.
Sarah tak bisa berkata apa apa. Dia hanya diam dan tak mempedulikan Gavin yang sedang mengajaknya berbicara.
Dari kejauhan, Tian melihat Sarah dan Gavin berjalan bersamaan. Dia yang sedari tadi menunggu Sarah di pinggir jalan, malah melihat adegan yang seperti itu.
Api amarah semakin membara dalam tubuh Tian.
Siapa pria tampan yang bersama istrinya itu. Sambil mengepalkan tanganya Tian menghampiri Sarah.
Dengan kasar Tian menarik tangan Sarah. Sarah yang tak melihat ada suaminya itu terkejut, kenapa tiba tiba ada Tian di sini. Biasanya dia hanya sibuk berjudi dan tak pernah peduli dengan istrinya.
“Siapa dia? Apa karena ini kau tidak bekerja hari ini !! Dan malah asyik berkencan dengan pria itu?”
Dengan mata melotot Tian bertanya pada Sarah. Dan genggaman Tian semakin kuat di pergelangan tangan Sarah, sehingga membuat Sarah meringis kesakitan.
"Acchh..sakit Tian." Rintih Sarah menatap wajah Tian yang sangat marah saat ini.
Gavin yang melihatnya merasa kasihan pada Sarah yang sedang meringis kesakitan.
“Anda ini siapa? Tiba tiba menarik tangan Sarah dengan kasar seperti itu. Tolong jangan kasar dengan wanita. Kita bisa bicarakan semua ini baik baik. Ini hanya salah paham saja. Ini tak seperti yang kamu tuduhkan ke Sarah.”
Gavin mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
“Haahhh...Kau tak tahu aku ini siapa? Aku suami Sarah!!! Apa Sarah tak pernah bercerita padamu, kalau dia sudah menikah?”
Jawab Tian dengan senyum sinis dan mata masih melotot.
“Tak seperti yang ku lihat apanya? Jelas jelas kalian sedang berkencan. Apa yang harus dibicarakan baik baik?” Lanjut Tian dengan jari menunjuk ke wajah Gavin.
Tian dengan amarahnya tak mau mendengarkan penjelasan Gavin. Dia langsung menyeret Sarah untuk pulang.
Gavin sangat terkejut, ternyata Sarah sudah menikah. Dan dia hanya bisa menyaksikan perlakuan kasar suami Sarah. Dia tak bisa berbuat banyak untuk menolongnya. Gavin tak punya hak untuk membelanya.
Braaakkkk
Suara pintu yang didorong dengan keras. Tian merasa sudah dikhianati oleh Sarah. Dia sangat marah. Dia dengan sengaja menarik Sarah dan mendorongnya sampai tersungkur di lantai.
“Dasar wanita tak tahu diri!!! Bisa bisa nya kau berselingkuh di depan mataku, tak punya malu!! Kau itu sudah menikah. Sadar diri Sarah!!”
Dengan tangan di pinggang, Tian mulai mengamuk dan menendang, menampar, menjambak rambut Sarah. Dia juga membanting apa aja yang ada di depan matanya.
“Aku hanya berjalan saja Tian, aku tak berbuat apa apa denganya. Kenapa kamu sampai semarah ini? apa yang kamu tuduhkan itu tak benar.”
Ucap Sarah sembari menangis sesenggukkan dan menahan sakit disekujur badannya.
Dia juga tak menyangka suaminya itu menuduhnya berselingkuh.
Padahal, dia tak pernah sekali pun berfikir untuk selingkuh. Meskipun Tian selalu kasar, tetap saja dia itu masih suami Sarah.
Setelah puas menyiksa Sarah dan mengambil sisa uang yang ada di tas Sarah, Tian pergi keluar rumah dan meninggalkan Sarah yang sedang kesakitan.
Tak ada yang bisa menolong Sarah. Tetangga pun takut untuk menolongnya. Karna mereka semua diancam oleh Tian.
Dengan sisa tenaga yang ada, Sarah berdiri sendiri dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang keluar dari hidung dan badannya. Terasa remuk semua tulang Sarah saat ini.
Dia bercermin dan melihat luka memarnya diseluruh badannya.
Bagaimana besok dia akan bekerja?
Sarah terlalu malu untuk keluar dengan keadaan seperti ini.
Menangis dan hanya menangis yang bisa dia lakukan saat ini.
Di pagi hari di rumah mewah.
“Tuan Gumalang, Pelayan Tuan Muda akan mulai bekerja hari ini. Apakah Tuan perlu melihat siapa yang akan menjadi Pelayan Tuan Muda?”
Pak Hendri memberitahu pada Tuannya.
“Tak perlu. Aku percaya pilihanmu pasti tak salah kali ini.” Dengan sudut bibir terangkat sedikit Tuan Gumalang menjawab.
“Baiklah, Tuan.” Pak Hendri menundukkan kepala dan pergi keluar dari kamar.
Pagi hari Sarah sudah mulai bersiap untuk bekerja. Walaupun badannya masih sangat terasa sakit, tak dia rasakan. Sarah tetap semangat menjalani semua ini.
Dia hanya menggunakan make up tipis untuk menutupi luka memar yang ada di wajahnya. Sarah juga sudah menyiapkan makanan, supaya Tian tak mengamuk lagi.
Sarah dan Tian berpapasan di depan pintu. Tian yang baru pulang dari bermain judi dan sedang mabuk tak menghiraukan Sarah yanh keluar rumah. Sarah pun langsung pergi begitu saja.
Sarah berangkat dengan menggunakan kendaraan umum.
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya dia sampai di tempat kerja. Sebelum memasuki gerbang rumah Gumalang, Sarah merapikan lagi bajunya dan memakai parfum. Persiapan sudah selesai, dia mulai melangkahkan kaki memasuki gerbang rumah Gumalang.
“Eehh.. Sarah sudah datang. Perkenalkan saya Bi Mira. Ayo masuk, saya akan menunjukkan kamar Tuan Muda.” Sapa Bi Mira yang masih sibuk menyapu halaman. Bi Mira adalah pelayan di rumah Gumalang.
“Baik. Terimakasih, Bi Mira.” Sarah menganggukkan kepala pada Bi Mira.
Sarah berdoa di dalam hati, semoga hari ini bisa lancar bekerja. Dan dia juga berharap Tuan Mudanya tak seseram yang dikatakan oleh Pak Hendri.
Setibanya di depan pintu kamar Tuan Muda, jatung Sarah berdegup dengan kencang.
“Ini kamar Tuan Muda. Tugas Kamu adalah membangunkan Tuan Muda tepat jam 6 pagi setiap harinya. Soalnya Tuan Muda harus berangkat bekerja.”
“Kamu juga tak boleh memegang apapun yang ada di kamar Tuan Muda. Kecuali baju kotornya. Kamu sudah paham?”
"Emm.." Sarah menganggukkan kepalanya.
Setelah mendengar penjelasan Bi Mira, Sarah mulai melaksanakan tugasnya.
“Permisi, Tuan Muda. Maaf, Tuan Muda ini sudah jam 6. Tuan Muda harus segera bangun.” Dengan sopan Sarah membangunkan Tuan Mudanya.
Betapa terkejutnya dia setelah melihat wajah Tuan mudanya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Aurora
Hallo kak... Aku udah mampir kak, jangan lupa mampir juga di karya ku ya kak 🤗
2023-04-14
0