“Tuan, saya mau keluar. Apa yang Tuan lakukan dengan mengunci pintu ini?” Sarah mengernyitkan dahi, karena bingung dengan apa yang sudah dilakukan Gavin.
Tangan Sarah berusaha membuka pintu kamar mandi. Namun, ditarik kembali oleh Gavin. Lalu badan Sarah dihimpitkan ke dinding kamar mandi.
Mata mereka bertemu dan beradu pandang. Gavin yang sudah lama menahan nafsunya, akhirnya sekarang ada kesempatan juga.
“Tuan, tolong jangan seperti ini. Nanti kalau Ari .. ummmpppphhh..” Mata Sarah membelalak karena terkejut bibirnya langsung dilumat oleh Gavin.
Gavin semakin menempelkan badannya ke badan Sarah. Sehingga Sarah pun tak bisa bergerak untuk melawan.
Gavin sialann!! Kenapa dia jadi nafsu begini padaku? Batin Sarah.
Sarah masih saja berusaha memberontak, supaya Gavin mau melepaskan badannya. Namun, tetap saja tak berhasil.
Dengan terpaksa Sarah mengalah dan mulai menutup matanya. Dia mulai merasakan ciuman mesra Gavin di dalam rongga mulutnya.
Tanpa sadar, Sarah pun membalasnya dengan mengalungkan tangannya di leher Gavin. Tangan Gavin sekarang berpindah ke pinggang Sarah dan semakin mempererat pelukannya. Mereka pun saling menikmati setiap sesapan ciuman. Membayangkan betapa indahnya, jika mereka bisa bersama dalam satu ikatan.
Sarah merasakan dekapan yang sangat hangat, yang tak pernah dirasakan dengan pasangannya sendiri.
Pikiran mereka melayang, seolah olah inilah yang seharusnya mereka lakukan.
Nafas mereka mulai terengah engah, karena ciuman yang begitu lama.
Gavin mulai melonggarkan pelukannya dan pelan pelan melepaskan bibir lembut Sarah.
“Aku sangat mencintaimu, Sarah. Aku tak mau kamu kembali dengan suamimu. Aku berharap, kamu bisa memelukku seperti ini setiap hari.” Bisik Gavin di telinga Sarah.
Nafas Gavin terasa hangat di telinga Sarah, Dan setiap ucapannya, penuh dengan harapan.
Tangan Gavin membingkai wajah cantik Sarah dan tersenyum melihat mata indah Sarah yang selalu membuatnya terpesona.
“Tapi, Tuan Muda. Aku hanya Pelayan, aku tak setara dengan derajatmu.” Wajah Sarah berubah menjadi sedih dan ia menundukkan kepalanya.
“Kenapa kamu bicara seperti itu, Sarah? Aku tak pernah memandangmu sebagai Pelayanku. Kita semua sama, aku tak pernah membedakan derajatmu dan derajatku. Aku mencintaimu apa adanya dirimu. Dari pandangan pertama, aku sudah terpesona dengan sifat baik dan wajah cantikmu. Saat kita bertemu pertama kalinya di resto waktu itu, aku sudah sangat ingin memilikimu.” Jelas Gavin dengan mengangkat wajah Sarah dan mencium bibirnya kembali.
"Apa kamu masih ingat perkataanku kemarin, Sarah? Kalau kamu harus dihukum atas kesalahanmu. Terimalah hukuman yang akan aku berikan kepadamu." Gavin menatap mesra Sarah dan memperlihatkan senyum nakalnya.
Gavin semakin tak terkendali. Tangannya mulai menggelayar dari telinga, leher dan turun ke bawah. Dan terhenti didua benda yang kenyal itu. Gavin mulai memainkannya dengan pelan dan mesra, tangan Gavin yang satunya lagi, mulai menyibakkan baju Sarah, sampai terlihat dua benda yang membuat Gavin semakin panas. Mata Gavin semakin melebar, ketika dia melihat indahnya anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya.
Dia mulai membuka pembungkus benda kenyal itu. Dan kedua tanganya menggenggam benda yang membuatnya semakin panas itu.
"AArrrhhhh.." Suara erangan Sarah yang menggemaskan terdengar di telinga Gavin.
Gavin yang mendengarnya, menjadi semakin panas.
Sarah mulai menikmatinya dan semakin menekankan kepala Gavin untuk melakukannya lebih lagi.
Mulut Sarah menganga, mengeluarkan suara erangan mesra. Dan, merasakan nikmatnya surga dunia yang selama ini dia rindukan.
Sungguh hari yang indah bagi mereka berdua. Mereka bisa saling melampiaskan nafsu yang selama ini mereka pendam. Tanpa ada yang mengganggu.
***
Ari kembali ke hotel dengan membawa makanan di kedua tangannya. Sesampainya di depan pintu kamar, Ari memegang handle pintu dan membukanya. Dia masuk ke dalam dan melihat sekeliling ruangan tak mendapati satu orang pun di sana.
“Tuan Muda, Sarah..Kalian ada di mana? Kenapa tak ada seorang pun disini?” Teriak Ari dari ruang tamu.
Terdengar suara Ari yang memanggil mereka berdua. Gavin pun dengan tak rela melepaskan sesapannya di gundukan kenyal itu. Dan dia mengakhirinya dengan mencium bibir Sarah, sebelum Gavin menyuruhnya keluar kamar terlebih dahulu.
“Kamu keluar dulu ya, nanti akan aku susul. Supaya Ari tak curiga pada kita.” Jelas Gavin dengan mencium bibir Sarah lagi.
Sarah hanya tersenyum malu dan keluar kamar mandi terlebih dahulu. Dia bergegas merapikan bajunya yang berantakan, karena ulah Gavin tadi.
Cekleekk...
Ari kaget melihat Sarah keluar dari kamar Gavin.
“Kamu sedang apa di kamar Tuan Muda?” Tanya Ari heran, sembari memperhatikan Sarah dari ujung rambut sampai kaki.
“Aku hanya membereskan baju Tuan Muda dan merapikan kamarnya. Apa kamu lupa, kalau aku ini Pelayan pribadinya? Tuan Muda masih ada di kamar mandi, sebentar lagi dia akan keluar. Dimana makanannya, akan aku siapakan dahulu sebelum Tuan Muda keluar kamar.” Sarah berjalan ke dapur sambil menjelaskan pada Ari, apa yang sudah terjadi tadi.
Walaupun sedikit berbohong tak apa lah. Daripada ketahuan, malah jadi masalah. Batin Sarah.
Setelah makanan sudah tertata rapi di meja makan, Sarah melangkahkan kaki masuk ke kamarnya. Dia berniat untuk beristirahat sejenak di kasur empuk milik hotel yang disewa Gavin.
Sarah menata bajunya dan mulai menyalakan handphonenya. Dia melihat ada panggilan tak terjawab masuk ke handphonenya banyak sekali.
Siapa itu?
Di tempat lain.
Tian yang sudah kembali dari mencari udara segar, masuk ke dalam rumah judi lagi.
“Coba kamu telepon sekali lagi, Tian. Mungkin saja kali ini nomornya sudah bisa dihubungi.” Bujuk Riko pada Tian.
Tian mulai menekan layar handphone untuk menelepon Sarah kembali. Dan kali ini ada jawaban dari seberang sana.
📞”Halo, siapa ini?” Suara lembut Sarah terdengar diseberang telepon.
📞”Halo, Sarah. Apakah kamu bisa mengenali suaraku?” Tian mencoba bermain tebak tebakan dengan Sarah, sebelum ke inti percakapan.
📞”Ini,Tian?” Dengan suara gemetar, Sarah menyebut nama pria yang sangat dibencinya.
📞”Ha ha ha..Kau, masih mengenalku ternyata Sarah. Ku kira kau sudah benar benar melupakanku.” Tawa sinis terukir di wajah Tian.
📞”Apa yang kau mau Tian? Kenapa kau menghubungiku lagi dengan nomor lain. Sudah ku katakan, aku sudah tak bisa kembali padamu, tolong jangan menggangguku lagi. Aku ingin hidup nyaman, tanpa harus ada tekanan darimu lagi. Aku harap ini yang terakhir kau menghubungiku.”
Sarah memohon pada Tian dengan suaranya yang gemetar.
📞”Ha ha ha...Kau lucu sekali Sarah. Kita kan masih resmi menikah, kenapa aku tak boleh menghubungimu? Apa kau takut, jika nanti selingkuhanmu tahu kalau kau sudah menikah? Jika, kau ingin sekali bercerai denganku, kau harus menemuiku segera. Dan kita selesaikan urusan kita berdua saja, tanpa harus ada orang lain yang tahu.”
Dengan perasaan kesal Tian menjelaskan.
📞”Baiklah, aku akan segera menemuimu nanti. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menghubungimu untuk memberi tahu, kapan kita bisa bertemu.” Sarah menyetujuinya.
Sambungan telepon terputus.
"Ha ha ha."
Akhirnya, Tian bisa tertawa lepas dan merencanakan bagaimana dia akan mengahabisi Sarah ketika bertemu nanti.
"Kau akan menerima balasannya, setelah apa yang sudah kamu perbuat padaku, Sarah!!" Sudut bibir Tian terangkat sedikit dan memperlihatkan mata tajamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments