Akhirnya, mereka bisa duduk bersebelahan. Tetapi, tak ada satu kata yang keluar dari mulut mereka berdua.
Pesawat mulai lepas landas. Dan penumpang dihimbau untuk menggunakan sabuk pengaman. Gavin merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, ketika Sarah mulai duduk di sampingnya.
Namun, itu semua dia sembunyikan dengan melihat pemandangan di luar jendela pesawat.
Duuhh..Jantung. Kenapa, kau berisik sekali sih. Nanti kalau Sarah mendengar, akan aku taruh di mana mukaku ini? Dengan menutup mata, Gavin mengelus dadanya dan sesekali menghembuskan nafasnya. Supaya jantungnya bisa lebih tenang.
Setelah tenang, Gavin mulai menoleh ke arah Sarah. Dia melihat Sarah yang sedang ketakutan. Menurut Gavin, itu sangat menggemaskan di matanya. Ingin rasanya, dia mencium pipi Sarah yang seperti squishy yang kenyal kenyal empuk.
“Sarah, kamu takut ya naik pesawat?” Tanya Gavin sembari menempelkan lengannya ke lengan Sarah
“He he he..Iya, Tuan muda. Saya baru pertama kalinya naik pesawat, jadi masih takut.” Dengan wajah tegang Sarah menjawab.
“Tak apa Sarah, kan ada aku di sini. Kalau kau takut, pegang saja tanganku.” Gavin menyodorkan tanganya mulai mencuri kesempatan di dalam kesempitan.
“Bolehkah, Tuan muda? Saya benar benar takut, Tuan.” Wajah Sarah semakin tegang, karena pesawat semakin terbang tinggi.
Gavin mengangguk mempersilahkan Sarah, untuk menggenggam tanganya. Gavin semakin kegirangan, melihat Sarah dengan suka rela menyentuhnya. Akhirnya, Sarah menyentuhku, Ha ha ha. Gavin tertawa girang di dalam hatinya.
Ari yang sudah tertidur, tak menghiraukan dua sejoli itu sedang mesra.
“Sarah. Apakah kamu sudah resmi bercerai dengan suamimu? Dan kenapa, kamu harus pergi dari rumah?” Tiba tiba Gavin penasaran dengan kehidupan pribadi Sarah.
Sarah yang mendengar partanyaan itu langsung menoleh ke arah Gavin. Mata mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat.
Jantung mereka berdetak dengan cepat secara bersamaan. Tetapi dengan cepat, Sarah mengakhiri pandangan itu.
“Belum,Tuan. Saya pergi dari rumah karena suatu alasan.” Jawab Sarah dengan menundukkan wajahnya.
Airmatanya hampir saja jatuh, karena harus teringat kejadian yang menyakitkan itu.
Gavin sudah tak bisa menahan nafsunya lagi, untuk tidak mencium Sarah. Dia mengangkat wajah Sarah dan menariknya untuk melihat ke arahnya. Gavin kaget dengan mata Sarah yang berkaca-kaca.
"Kamu, kenapa Sarah? Apakah kata-kataku tadi sudah menyakitimu?" Gavin mengusap airmata Sarah, yang sudah saja jatuh ke pipi kenyalnya.
Dan Gavin tanpa menunggu jawaban darinya, langsung mencium bibir Sarah. Ciuman hangat mendarat di bibir merahnya.
Mata Sarah melebar karena terkejut. Kenapa, tiba tiba Gavin menciumnya. Dengan spontan, Sarah mendorong badan Gavin untuk menjauh. Seketika itu, ciuman Gavin terlepas dari bibir Sarah. Dan dia langsung memalingkan wajah dan memejamkan matanya.
Sarah, sadarlah. Dia adalah majikanmu, kau dan dia tak selevel Sarah. Sarah menepuk pipinya, untuk menyadarkan dirinya sendiri.
“Sarah, lihatlah kemari. Tatap mataku Sarah, jangan memalingkan wajah cantikmu.” Bisik Gavin di telinga Sarah.
Wajah Sarah yang semakin memerah, tak berani menoleh untuk menatap mata Gavin.
Gavin sialan! Kenapa, disaat aku lagi sedih begini, kau malah menciumku. Dan kenapa, terus membuatku melayang seperti ini. Sarah meremas ujung bajunya sendiri, karena kesal pada Gavin.
Gavin yang semakin gemas melihat tingkah laku Sarah, dia lalu mencubit pipi kenyal Sarah.
“Iisshh..Kamu gemesin banget sih. Aku tak akan kuat menahannya, jika terus berdekatan seperti ini denganmu, Sarah.” Gavin semakin menjadi tak terkendali. Otaknya sudah tak bisa berpikir jernih lagi.
Jantung Sarah berdetak semakin cepat. Rasanya, jantungnya ini bisa melompat keluar dari sangkarnya, jika Gavin terus terusan memperlakukannya seperti ini.
Di tempat judi.
“Hai, Riko. Apa kamu pernah menyimpan nomor telepon Sarah?” Tian bertanya pada Riko sembari bermain judi.
“Nomor Sarah? Coba aku lihat dulu, ada atau tidak nomornya di handphoneku.” Riko mulai membuka handphonenya dan mencari nomor Sarah.
“Kamu-kan, suaminya. Kenapa kamu bertanya nomor Sarah padaku?” Ucap Riko tanpa menoleh ke arah Tian. Karena, tangan dan matanya masih sibuk mencari nomor Sarah.
“Nomorku sudah diblokir Sarah!!. Aku tak bisa meneleponnya sekarang.” Jawabnya dengan nada kesal
Setelah beberapa saat Riko mencari nomor Sarah, akhirnya ketemu juga di daftar kontaknya.
“Tuh, nomor Sarah.” Riko menyodorkan handphonenya pada Tian.
Tanpa pikir panjang, Tian langsung mencoba menelepon Sarah. Tapi, nomor Sarah sedang tidak aktif sekarang. Sudah berkali kali Tian menelepon, namun tetap saja tak bisa tersambung.
“Aachhh, sialaann!!” Tian sangat kesal saat ini.
Hampir saja handphone Riko dibanting Tian. Namun, dengan cepat Riko menyelamatkan handphonenya.
“Jangan kau banting handphoneku!! Kalau sampai rusak, kau mau ganti rugi?” Riko mulai kesal dengan Tian.
“Nanti coba ditelepon lagi, pasti bisa tersambung. Mungkin saja, sekarang dia sedang sibuk bekerja, jadi dia tak mengaktifkan handphonenya.” Lanjut Riko menghiburnya.
Tian yang pemarah, langsung pergi keluar mencari angin segar untuknya berpikir. Bagaimana caranya bisa menemui Sarah.
***
Sudah 3 jam lamanya, mereka bertiga berada di pesawat. Dan akhirnya, pesawat mereka sampai di tempat tujuan.
Ari yang awalnya punya niat untuk membangunkan mereka, tetapi malah melihat dua sejoli itu tertidur pulas dengan bergandengan tangan, jadi tak tega membangunkannya.
“Heemm, jadi ingat masa lalu. Dulu, aku juga pernah ada dimasa masa seperti ini dengan istriku. Aku jadi kangen istriku di rumah.” Ari tersenyum, dengan pelan dan terpaksa dia membangunkan Gavin.
“Tuan Muda, Tuan Muda bangun. Kita sudah sampai.” Ucap Ari sambil tangannya menggoyangkan tangan Gavin.
“Heemm, apa kita sudah sampai, Ri?” Tanya Gavin yang berusaha bangun dari mimpi indahnya.
Ari hanya menganggukkan kepalanya dan sudut bibirnya sedikit tersenyum.
Gavin yang melihat Sarah tertidur pulas di pundaknya, langsung mencium bibir Sarah di depan mata Ari.
“Tuan Muda!!” Mata Ari melebar melihat Gavin yang semakin berani.
Ingin sekali, Gavin mencium lebih dalam bibir Sarah. Karena berhubung ada Ari yang mengawasinya, jadi dia tahan niat mesumnya itu.
“Tuan Muda, Anda..” Ucapan Ari terhenti, karena Gavin mengancamnya lagi. Ari lalu terdiam, dia tak bisa berkata apa apa lagi.
“Papi jangan sampai tahu, apa yang sudah aku lakukan pada Sarah. Kalau sampai papi tahu, aku tak akan memaafkanmu Ari.” Gavin melotot, memperingatkan Ari yang suka mengadu dengan Papinya.
Akhirnya, Ari hanya bisa tertunduk lemas, dan tak memberikan jawaban apapun pada Gavin.
Sarah yang baru terbangun dari tidurnya, bingung melihat dua pria yang sedang adu pandang itu. Seperti akan menerkam mangsanya yang sudah di depan mata.
Setelah adanya perselisihan di pesawat, mereka bertiga pun turun dari pesawat. Sarah berjalan di belakang Gavin dan di samping Sarah ada Ari yang selalu mengawasi pergerakan mereka berdua.
Sesampainya di depan pintu keluar bandara, sudah ada mobil kantor yang siap menjeput mereka, dan sekaligus mengantarkan mereka bertiga ke hotel.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang sama.
Tak berselang waktu yang lama, mobil mereka sampai di hotel. Setelah reservasi kamar, mereka bertiga naik ke lantai paling atas. Di lantai paling atas hanya ada unit Presidential Suite.
Gavin yang sudah berkeringat, langsung masuk ke kamarnya. Dia membuka baju dan bersiap untuk mandi. Kalau Sarah dan Ari, beristirahat sejenak di sofa.
"Sarah, itu kamar kamu. Hanya ada dua kamar di unit ini. Dan di sebelah sana ada dapur, dan juga bar mini untuk Tuan Muda. Kamu juga bisa memasak di sana." Ucap Ari sambil menunjuk ke arah tempat yang dia maksud.
"Hanya ada dua kamar. Kalau kamu, nanti mau tidur di mana?" Tanya Sarah dengan suara lembutnya.
"Aku akan tidur di sofa ini." Jawab Ari singkat, lalu dia melangkah pergi keluar, untuk mencari makan malam.
“Sarah, tolong ambilkan aku baju ganti. Aku sudah tak tahan dengan bau keringat ini.” Terdengar suara Gavin dari dalam kamar mandi.
“Baik, Tuan muda.” Sarah mulai membuka koper Gavin, dan mengambil baju yang ada di dalam koper itu. Lalu, Sarah berjalan masuk ke kamar Gavin, untuk meletakkan koper milik Gavin dan sekaligus memberikan baju yang diminta oleh Gavin.
Tok tok tok
“Permisi, Tuan Muda. Ini bajunya.” Tangan Sarah terulur ke dalam kamar mandi, untuk menyerahkan baju Gavin.
Tetapi dengan cepat Gavin menarik tangan Sarah, sehingga Sarah pun ikut masuk ke dalam kamar mandi. Dan Gavin langsung mengunci kamar mandinya dari dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments