Kondisi Jungkook saat ini masih sama, berkutat dalam pikirannya sendiri sembari meremat setir mobil kuat-kuat. Ia masih mengumpulkan keberanian menemui Hara---kendati mobilnya sudah tiba di depan rumah gadis itu, dan memarkirkan kendaraan roda empat tersebut di tempat yang sama. Jungkook terlalu kalut menerima kenyataan bahwa Hara melabeli memori mereka di masa lalu sebagai kenangan buruk.
Apakah aku membuatmu sangat terluka, karena meninggalkanmu saat itu?
Jika iya, bagaimana caraku menebusnya?
Ketukan tiba-tiba pada kaca mobil membuat Jungkook seketika tersentak. Ia langsung menoleh guna mencari tahu siapa pelaku yang melakukan hal tersebut. Rupanya seorang wanita paruh baya yang Jungkook temui beberapa jam lalu---bibi Mijin.
Jungkook pun lekas tanggap akan maksud kehadiran bibi Mijin. Wanita paruh baya tersebut pasti ingin bicara dengannya---atau ingin mengusirnya untuk segera pergi, sebab mobil Jungkook mungkin menghalangi jalan, entahlah. Dari pada berspekulasi yang tidak-tidak, Jungkook keluar dari mobilnya guna menemui bibi Mijin yang masih mengukir senyum ramah menampilkan garis-garis halus pada wajahnya yang mulai menua seiring bertambahnya usia.
"Kau pria yang tadi, kan?" bibi Mijin membuka percakapan begitu Jungkook baru saja menutup pintu mobil.
"I-- iya, aku yang membawa Hara ke rumah sakit. Tapi dia pulang duluan---"
"Aku tahu," potong bibi Mijin cepat, diiringi seulas senyum yang tak luput ia ukir sejak tadi. "Oh, iya. Aku tetangga Hara. Orang-orang di sini biasa memanggilku bibi Mijin." tambahnya sembari menjelaskan siapa dirinya, sebab ekspresi Jungkook menunjukkan tanya akan siapa wanita di hadapannya ini.
"Oh, begitu. Aku Nam Jungkook, Bi. Temannya Hara." Jungkook balas memperkenalkan diri diiringi jabat tangan yang disambut hangat.
Jungkook menyebut dirinya sebagai teman, lantaran akan repot jika dikenal sebagai atasan di mata tetangga Hara. Entah gosip apa yang akan menyebar nantinya. Yah, meski tidak semuanya peduli juga, sih. Sebab rata-rata penghuni komplek di kawasan rumah Hara, didominasi oleh orang-orang yang memiliki kepribadian apatis.
"Terima kasih, ya, sudah membantu Hara."
"Bukan masalah, Bi. Kebetulan aku juga ingin mampir."
"Syukurlah ada yang menolong. Ini sudah kedua kalinya Hara seperti itu. Waktu itu tidak ada yang tahu kondisinya, dia hanya sendirian di rumah. Tahu-tahu dia tertidur di lantai saat aku datang membawakan makanan. Aku benar-benar kasihan padanya," jelas bibi Mijin membuat kedua bola mata Jungkook melebar.
"Keluarganya ke mana, Bi?"
Satu tarikan napas bibi Mijin hembuskan sejenak sebelum kembali bersuara. "Ada sebuah tragedi ... keadaannya benar-benar kacau saat itu. Tapi Hara tetap bersikeras tinggal di sana setelah apa yang menimpanya,"
"Apa yang terjadi pada Hara?"
"Ah, maaf. Aku tidak enak menceritakan semuanya. Sebagai teman, kau bisa tanyakan langsung saja." usul bibi Mijin. Memang tidak ada salahnya juga bertanya langsung dari pada mendengar dari pihak ke tiga. Hanya saja, apakah gadis itu akan memberitahukannya?
"Baiklah, akan aku tanya nanti." sejujurnya Jungkook sendiri tidak yakin apakah ada keberanian untuk bertanya pada gadis itu. Sebab semakin Jungkook mencoba melangkah mendekat, semakin banyak ia mengetahui rahasia yang dimiliki Hara, pun rasanya semakin bertambah jauh jarak di antara keduanya.
"Oh, iya. Apa aku boleh meminta tolong padamu, nak Jungkook?"
"Iya, kenapa, Bi?"
"Bisakah kau membawa Hara keluar dari rumah itu?"
"Eh?"
"Bukan karena aku mengusirnya, atau tidak senang dia ada di sini ... hanya saja, aku ingin dia sembuh dari trauma. Hara sudah terlalu banyak menderita di rumahnya sendiri."
Jungkook mendadak hening. Ia tahu Hara terluka sejak lama. Tetapi berapa banyak luka yang gadis itu terima hingga saat ini? Berapa besar luka yang gadis itu miliki selama ini?
"Akan aku usahakan, ya, Bi."
"Terima kasih sudah membantu. Maaf merepotkanmu,"
"Sudah sewajarnya, Bi. Karena aku temannya."
Benar, hanya sebatas temannya. Setidaknya untuk saat ini.
"Kalau begitu aku permisi dulu," Jungkook lantas pamit undur diri dari konversasi dengan bibi Mijin.
Untunglah bibi Mijin bukan tipe ibu-ibu yang suka banyak bicara tanpa tahu waktu. Sehingga pria itu bisa meninggalkan raganya dari sana pada detik yang sama. Sebab jujur saja, Jungkook sangat canggung bicara dengan orang asing yang lebih tua. Untung saja Hara menjadi topik utama perbincangan mereka. Kalau tidak, entah bahan apa yang akan menjadi pembahasan keduanya.
Jungkook mengetuk terlebih dahulu daun pintu yang terbuat dari kayu tersebut. Siapa tahu saja kali ini Hara mengunci pintu rumahnya. Benar saja, setelah beberapa detik menunggu, terdengar suara kunci rumah yang diputar dari dalam. Hara masih menggunakan kunci manual---kendati tetangga sekitarnya sudah menggunakan kode sandi.
"Tuan Jungkook?!" respon pertama kali yang Hara berikan begitu membuka pintu adalah terperangah. Yah, siapa juga yang tidak terkejut setengah mati mendapati sang atasan mendatangi rumah karyawannya di sore hari.
"Bagaimana kau bisa datang ke sini?"
Ah, benar. Hara pingsan tadi. Bahkan gadis itu tidak ingat apa yang terjadi. Bagaimana jika Hara tahu, kedatangan Jungkook ke rumahnya bukanlah yang pertama kali.
"Apakah ada laporan yang harus aku revisi? Ataukah ada pekerjaan lain yang harus aku lakukan?"
Bahkan ketika bertatap muka berdua dengan Jungkook seperti ini, yang ada di dalam pikiran Hara hanyalah tentang pekerjaan. Tidak ada sedikitpun terselip dalam benaknya, kalau sang CEO sengaja bertemu untuk urusan pribadi.
"Benar, ada pekerjaan mendesak yang harus kau lakukan sekarang,"
Jika sudah begini, maka Jungkook akan memimpin permainan, dengan mengikuti cara berpikir gadis itu.
"Sekarang? Apa tidak bisa saat di kantor saja,"
Hara mulai dilanda panik. Perusahaan mana yang sengaja membiarkan seorang CEO mendatangi karyawan dengan sukarela untuk masalah pekerjaan, seakan tidak ada hari esok saja.
"Baiklah ... tapi kenapa kau mendatangiku? Aku hanya karyawan biasa. Kenapa tidak menemui ketua tim Ahn saja? Sepertinya dia yang seharusnya kau temui," Hara kembali berujar.
Sungguh, saat ini Jungkook ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana ekspresi panik Hara yang tergurat jelas pada wajah gadis itu. Jelas sekali Hara menunjukkan sikap tidak terima jika harus melakukan pekerjaan yang ia sendiri tidak tahu apa. Apalagi di luar jam kerja. Belum pernah hal ini terjadi padanya. Pernah, sih beberapa kali. Itu pun ketua Ahn yang melakukannya, dengan menghubungi Hara melalui telepon. Belum pernah CEO yang turun tangan langsung.
"Untuk apa aku menemui ketua Ahn? Kau yang aku butuhkan,"
Satu kalimat yang diucap Jungkook berhasil membuat Hara terperanjat. Gadis itu mulai dihujani spekulasinya sendiri. Di antara karyawan lain, kenapa ia yang harus menderita? Apakah sudah saatnya keluar dari zona nyaman? Apakah karirnya sudah saatnya harus memasuki fase penuh cobaan seperti ini?
"Baiklah, anggap saja hanya ada aku karyawan di perusahaanmu. Tapi, apa yang harus aku lakukan?"
Jungkook diam sebentar mengambil waktu untuk berpikir. Sejujurnya ia juga bingung, sebab hal ini terjadi tanpa rencana. Namun Jungkook tidak mungkin dijadikan sebagai CEO jika tidak bisa mengambil keputusan dalam waktu singkat.
"Kemasi barang-barangmu, dan segera bersiap."
"Apa?"
"Oh, tunggu---tidak perlu membawa apapun. Aku bisa menyiapkan semua kebutuhanmu di sana."
Hara tidak merespon. Ia masih terdiam bingung.
"Tunggu apa lagi, ayo!" desak Jungkook, membangkitkan lamunan Hara. "Kunci pintu rumahmu dulu,"
"Jangan lupa pamit dengan tetangga samping rumahmu," titah Jungkook lagi.
Meski bingung, Hara menuruti apa yang diperintah Jungkook. Mulai dari mengunci pintu rumah---ia bahkan tidak membawa apapun selain ponsel dan dompet miliknya yang dimasukkan ke dalam tas jinjing. Lalu berpamitan dengan bibi Mijin yang kebetulan sekali wanita paruh baya tersebut berada di halaman rumahnya.
"Bibi, sepertinya aku akan meninggalkan rumah selama beberapa hari. Tolong titip rumahku, ya,"
"Tidak masalah, Hara. Aku akan menjaganya,"
Hara memeluk bibi Mijin sejenak. "Terima kasih, Bibi!" ucapnya dengan riang, lantas berjalan mendahului Jungkook menuju mobil.
Sementara itu, Jungkook memberikan isyarat 'oke' menggunakan jarinya pada bibi Mijin sebagai tanda telah berhasil membawa Hara pergi dari rumah itu.
"Aku belum menyuruhmu masuk mobil, loh." celetuk Jungkook, bermaksud menggoda Hara saat gadis itu membuka pintu bagian depan.
Sesuai dugaan, Hara mudah sekali dibuat panik oleh hal-hal kecil. Ia lantas bersikap salah tingkah, lantaran merasa sudah lancang mendahului atasannya sebelum dipersilahkan.
Sementara Jungkook diam-diam tertawa kecil. "Aku hanya bercanda, ayo."
Hara yang tengah kikuk, bingung memilih kursi penumpang. Antara duduk di samping kemudi atau di bangku belakang.
"Di depan saja. Kalau kau di belakang, aku seperti supir." Jungkook terkekeh; Hara mematung takjub.
Meski Hara tidak mengucap sepatah kata, namun Jungkook memahami apa yang diinginkan gadis itu. Jika ada penilaian orang dengan kepekaan tinggi, sudah pasti Jungkook berada di level dewa.
Mobil berjenis sedan keluaran Eropa yang diwarnai cat hitam mengkilap---dengan 4 pintu tersebut perlahan meninggalkan komplek perumahan, diiringi suara knalpot menggema di udara.
......To be continued.........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments