Chapter 9

Jam pulang kantor yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Beberapa karyawan yang tidak memiliki pekerjaan lain sudah bisa pulang tanpa beban. Namun tidak dengan mereka yang harus bekerja lembur. Yah, setidaknya ada uang lemburan di luar dari gaji bulanan.

"Hara, kau sudah mau pulang?" Choi Soobin, seorang pria bertubuh jangkung dengan surai hitam legam yang merupakan rekan kerja Hara menghampiri meja gadis itu.

Hara menoleh sesaat di sela-sela membereskan barangnya. "Oh, Soobin ... iya, aku tidak ada pekerjaan lagi."

"Mau pulang bersamaku?" ajak Soobin kemudian.

Yeji yang masih berada di meja sebelah Hara turut mendengar percakapan di antara mereka. Yeji bahkan bagaikan sosok tak kesat mata lantaran Soobin tak menyapa padanya.

Hara menggeleng pelan. "Tidak usah, aku ada urusan lain setelah ini." katanya, menolak dengan sopan.

"Kau ditolak lagi," timpal Yeji bermaksud meledek Soobin. Lantaran ajakan pria jangkung tersebut bukanlah yang pertama kali. Pun, Hara kerap menolak setiap kali diajak pulang bersama.

"Oh, ada orang di sini." balas Soobin turut meledek Yeji.

Sejujurnya Soobin tahu keberadaan Yeji di sana, namun ia sengaja mengabaikan gadis yang juga merupakan rekan kerjanya di ruangan yang sama. Sebab ia hanya fokus tertuju pada Hara.

"Maaf, ya, Soobin." lanjut Hara, sebelum Yeji dan Soobin memulai perdebatan tak berguna. Seperti yang sudah sering terjadi sebelumnya.

"Tidak masalah," jawab Soobin, disertai seulas senyum merekah, hingga menampilkan lesung di kedua pipinya.

"Kalau begitu aku duluan," sambung Soobin sembari melambaikan tangan pada Hara.

"Baiklah, hati-hati," balas Hara mengulas senyum manis mengiringi kepergian Soobin meninggalkan ruangan.

Tanpa Hara sadari, ada sosok yang berada tidak jauh dari sana tengah memperhatikan gadis itu dengan sorot mata tajam seakan ingin menerkam mangsa.

Jungkook menyempatkan diri mengamati sesaat apa yang dilakukan gadis itu dengan seorang pria---kala ia sengaja melewati ruang kerja Hara selagi menuju ruang rapat.

Sontak saja Jungkook dilanda cemburu melihat gadis itu tersenyum manis pada pria lain. Sungguh, Jungkook sangat tidak terima. Hara bahkan tidak pernah tersenyum semanis itu padanya. Jika bisa, ingin sekali rasanya Jungkook menarik gadis itu dari sana, namun apa daya Jimin mencegahnya.

"Sudah waktunya rapat, ayo."

Jungkook dan Jimin pun lantas melenggang pergi dari sana sebelum Hara ataupun karyawan lain melihat keberadaan mereka. Akan repot nantinya, lantaran kehadiran Jungkook sudah pasti disambut histeris dari para wanita. Layaknya idola yang tengah melakukan jumpa fans.

Sementara di sisi lain, Hara belum juga meninggalkan mejanya, sebab Yeji masih di sana. Temannya itu masih berkutik dengan laporan mingguan yang tak kunjung selesai juga.

"Kau masih mengerjakan laporan?" sejujurnya, tanpa bertanya pun Hara tahu apa yang dilakukan Yeji. Namun ia tetap berkata demikian untuk basa-basi.

"Iya. Deadline-ku besok, harus diserahkan ke ketua Ahn." jelasnya, sembari menghela napas frustrasi.

Hara lantas mengusap-usai surai Yeji yang panjangnya hanya sebahu itu---guna menghibur sang kawan. "Semangat," lanjutnya, disertai kepalan tangan ke udara.

"Oh, iya, ada yang ingin kutanyakan." Yeji menarik jari-jemarinya dari atas keyboard komputer. Sekalian untuk istirahat sejenak, sebelum kembali melanjutkan membuat laporan. "Apa kau tahu, Soobin menyukaimu?"

"Menyukaiku?"

"Hei, kau tidak sadar kenapa dia kerap mengajakmu pulang bersama? Dia tidak mungkin melakukan hal itu, kecuali pada gadis yang dia suka." jelas Yeji setengah berbisik. Khawatir karyawan lain akan mendengarkan percakapan mereka dan menimbulkan gosip.

Hara tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya mengedikkan bahu sebagai bentuk jawabannya.

Yeji berdecak sebal. Terkadang ia suka heran kenapa gadis tidak peka itu bisa menjadi temannya. Walaupun Yeji sendiri yang memulai untuk menjalin pertemanan dengan Hara.

Perkenalan mereka dimulai kala Hara baru pertama kali menginjakkan kaki di gedung Nam Corp untuk melakukan interview dengan Hyoseop---sebagai user untuk posisi yang Hara lamar.

Usai melewati beragam pengecekan yang dilakukan sekuriti, Hara lantas menuju meja resepsionis yang berada di lobi untuk menukar kartu identitasnya dengan kartu akses pengunjung. Agar dapat melewati pintu otomatis dan menggunakan fasilitas lift menuju lantai atas.

Baru saja akan meninggalkan meja resepsionis, Hara tidak sengaja menabrak seseorang di belakangnya yang kebetulan tengah lewat di sana. Sontak barang bawaan gadis tersebut jatuh berserakan di lantai.

Hara buru-buru berjongkok untuk membantu gadis tersebut mengumpulkan barang yang berupa lembaran kertas dokumen di tangannya, sembari meminta maaf berkali-kali.

"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak melihatmu ada di belakangku." ujar Hara, diselimuti ketakutan. Khawatir kalau-kalau Hara akan diusir dari sana bahkan sebelum interview dimulai sebab kecerobahan yang dilakukannya.

Gadis dengan potongan rambut berjenis layer hair cut tersebut menyelipkan helain surainya ke belakang telinga sembari berkata, "Aku yang minta maaf, karena jalan tidak lihat-lihat."

Setelah semua kertas terkumpul dalam genggaman, keduanya serentak berdiri berhadapan. Hara pun memberikan lembaran kertas tersebut pada sang pemilik dengan perasaan tidak tenang.

"Maaf, karenaku kau harus menyusun ulang berkas itu,"

Bukannya marah, atau setidaknya menunjukkan raut tidak mengenakan, gadis tersebut justru tersenyum santai. "Ah, ini ... tenang saja, aku belum menyusunnya. Ini hanya dokumen acak yang baru aku ambil dari sana," jelasnya, sembari menunjukkan tempat yang dimaksud dengan ibu jarinya---mesin fotokopi di sudut lobi.

"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf," katanya lagi. Entah sudah berapa kali kata maaf yang Hara ucapkan.

"Tidak apa-apa, santai saja."

"Oh, ngomong-ngomong, kau ingin melakukan interview?" lanjut gadis itu lagi selepas mengamati pakaian formal Hara yang berupa kemeja putih dibalut blezer, celana panjang bahan dengan warna abu-abu, pantofel hitam mengkilap, dan surai berwarna kecoklatan yang diikat ke belakang sebagai sentuhan akhir.

"I-- iya, aku akan menemui tuan Ahn Hyoseop." jelas Hara malu-malu.

"Wah, kebetulan! Dia atasanku di tim kami. Ayo, sekalian aku antar ke sana." ajaknya dengan senang hati.

Hara pun mengangguk mengerti, lantas mulai berjalan menyusuri lobi, menyamakan langkah kaki orang di sebelahnya.

"Oh, iya, kita belum berkenalan. Aku Kim Yeji." lanjut gadis itu lagi sembari mengulurkan tangan di tengah langkah mereka menuju lift.

"Shin Hara, panggil saja Hara." Hara sontak menyambut jabat tangan hangat tersebut. Ia tidak menyangka dipertemukan orang seramah Yeji.

Yeji sendiri masih berstatus karwayan kontrak lantaran baru satu bulan bergabung di perusahaan tersebut. Pertemuan keduanya lantas berlanjut sebab Hara resmi diterima usai dinyatakan lolos interview user. Hal lain yang tidak disangka, rupanya Yeji yang menjadi mentor untuk Hara selama satu minggu ke depan, guna mempelajari job desc apa saja yang akan Hara kerjakan.

Pun tanpa terasa, pertemanan mereka sudah memasuki bulan ke enam, bersamaan dengan masa kerja Hara yang sudah diangkat sebagai karyawan kontrak usai menyelesaikan masa probation selama 3 bulan.

"Jadi, kenapa kau menolak ajakan pulang bersama dari Soobin?" desak Yeji tak sabaran.

Hara hening sesaat sebelum akhirnya menjawab, "Entahlah. Aku hanya tidak ingin membuka diri untuk pria manapun," ia menarik napas di tengah-tengah ucapannya.

"Aku takut mereka akan kecewa setelah mengenal diriku lebih dalam."

...To be continued.......

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!