Chapter 10

Setelah hari Senin berganti, kini giliran hari lain menanti untuk menjalankan tugasnya. Layaknya sudah menjadi aktivitas rutin, pemandangan seperti beramai-ramai menunggu bus di halte pinggir jalan, berdesak-desakkan menaiki kereta bawah tanah, ramainya trotoar yang didominasi pejalan kaki, hingga beragam kendaraan di jalan raya turut menghiasi kemacetan di jalan---menandakan bahwa sudah waktunya untuk bekerja kembali. Apapun latar belakangnya, di manapun lokasi kerjanya, tujuan tetap sama; mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.

Di ruangan tim 2, pagi-pagi sekali Yeji sudah berada di sana, duduk berkutat dengan komputer di depan mata. Bukan karena giat datang bekerja. Percayalah, Yeji tidak serajin itu untuk datang di pagi buta. Melainkan ia telah menginap di gedung perusahaan semalaman. Benar, gadis itu tidak pulang dan mengorbankan waktunya untuk mengabdi sebagai budak korporat demi menyelesaikan sebuah laporan. Sejujurnya, pekerjaan itu sudah bisa dicicil sejak minggu lalu, namun salahnya sendiri terus menunda, hingga tanpa terasa deadline di depan mata.

Pakaian Yeji masih sama seperti kemarin; blouse coklat lengan panjang, dan juga rok span hitam selutut. Jangan tanya ia mandi atau tidak, mengganti pakaian saja tidak dilakukan---apalagi mengganti dalaman. Hanya tinggal menunggu rasa gatal menyerang.

"Yeji, kau tidak pulang?" asal suara bersumber dari sang karyawan teladan yang selalu datang lebih awal, siapa lagi jika bukan Hara.

Yeji mendongak, menampilkan wajah memelas bak orang kurang tidur. Memang kurang tidur, sih. Terlihat dari lingkaran hitam di bawah mata yang menghiasi wajah cantiknya.

"Oh, kasihan ...." Hara menepuk-nepuk pelan puncak kepala Yeji, layaknya tengah menenangkan anak kecil. Namun buru-buru ia tarik kembali tangannya, lantaran surai Yeji terasa lengket. Sudah berapa hari temannya itu tidak keramas?

"Pagi," sapa ketua Ahn memenuhi ruangan yang masih kosong dengan suaranya. "Hara, seperti biasa datang pagi. Tidak heran kau langsung diangkat karyawan tetap," katanya, setengah tergelak. "Oh, siapa itu? Yeji tumben sekali datang pagi?" sambung ketua Ahn, terheran-heran melihat Yeji sudah di ruangan.

"Ketua Ahn, justru Yeji yang lebih dulu di sini," Hara yang bicara. "Dia bahkan belum pulang sejak kemarin." tambahnya menjelaskan.

"Benarkah?! Apa yang kau lakukan?" ketua Ahn beralih bertanya pada Yeji.

"Tentu saja membuat laporan. Hari ini deadline-nya," rengek Yeji mengharap belas kasih dari sang atasan.

"Ckckck, kasihan."

Yeji semakin cemberut lantaran kedua rekan kerjanya hanya sama-sama berkata kasihan padanya.

"Kalau kasihan padaku, beri kelonggaran waktu." pintanya kemudian, yang lebih terdengar sebagai tuntutan.

"Hm ... boleh,"

Jawaban ketua Ahn sontak membuat Yeji kegirangan. "Besok, ya?"

"Tidak bisa, jam sembilan nanti serahkan padaku."

Kegembiraan Yeji pun lenyap seketika, berganti mengulas wajah cemberutnya kembali. "Jangan jam 9, aku saja baru tidur selama dua jam."

"Jam 11?"

Negoisasi yang dilakukan dua orang di ruang kerjanya, hanya membuat Hara geleng-geleng kepala. Untunglah ketua Ahn merupakan pribadi yang fleksibel. Pria berusia 26 tahun itu bisa memposisikan dirinya dengan semua kalangan di lingkup kerja. Pun, turut mengayomi tanpa memandang jabatan rekannya apa. Meski yang paling rendah sekalipun di dalam struktur perusahaan.

"Jam 1, setelah makan siang." tegas Yeji memberi keputusan final. Berharap saja tidak ada negosiasi lanjutan yang ketua Ahn lontarkan.

"Oke," ketua Ahn Hyoseop menyetujuinya tanpa keberatan.

Jawaban sang atasan sontak membangkitkan semangat Yeji untuk segera menyelesaikan laporan yang tinggal sedikit lagi. "Terima kasih, ketua Ahn. Kau memang ketua tim terbaik!" pujinya, diiringi ibu jari mengacung ke udara. Sementara yang dipuji hanya mengulas senyum lebar tanpa suara.

...***...

Menit demi menit pada jarum jam terus bergulir. Ruangan pun sudah dipenuhi oleh karyawan, meski ada yang izin tidak masuk untuk alasan yang beragam. Entah sakit, ada keperluan, ataupun tanpa kabar.

"Yeji, kau mau kopi?" tawar Hara di sela-sela kesibukan pekerjaannya, lantaran ia ingin membasuh penat dengan menikmati minuman kesukaannya.

"Boleh. Caramel Latte, seperti biasa."

Tanpa menjawab, Hara segera melenggang menuju pantry, memilah beragam rasa yang tersedia di dalam laci. Caramel Latte dan Cappucino pun menjadi pilihannya hari ini. Dimasukkannya lah bubuk kopi dari merek ternama dalam bentuk kapsul tersebut ke dalam mesin secara bergantian, sembari menunggu hingga terisi setengah gelas.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 7 menit, kopi instan sudah siap disajikan. Hara lantas kembali ke ruangan yang terletak di seberang pantry dengan 2 gelas kopi di tangan.

Aroma kopi sontak menyapa indera penciuman penghuni ruangan, membuat sebagian dari mereka turut ingin menyesap minuman berkafein tersebut.

"Ini kopimu," Hara meletakkan gelas kopi yang berada pada tangan kanannya untuk Yeji.

"Terima kasih,"

Keduanya lantas berbincang sebentar sebelum kembali dipusingkan menghadapi pekerjaan. Sesekali terselip candaan mengiringi perbincangan.

Di waktu yang bersamaan, Jungkook kembali melewati ruang kerja di mana Hara berada dengan sengaja. Kendati ada jalan yang lebih memangkas waktu untuk menuju ruangannya---tidak, tepatnya, ruangan Jungkook berada di lantai 36, namun ia kembali menyempatkan diri mampir ke lantai 23 hanya untuk memeriksa sang pujaan hati di sana. Sorot matanya lantas tertuju pada gadis bersurai coklat yang tengah bergurau dengan rekan di sebelahnya.

"Jimin,"

"Iya?" tak lupa, sang sekretaris mau tidak mau turut dilibatkan memenuhi hasrat keinginan Jungkook. Meski enggan.

"Gadis di sebelah Hara itu siapa?"

Mata Jimin menyipit---kendati matanya sendiri sudah berukuran kecil dari sananya---disertai mencondongkan tubuhnya sedikit, guna memfokuskan penglihatan dengan jarak 5 meter dari tempatnya berdiri.

"Oh, itu Kim Yeji. Karyawan itu satu bulan lebih dulu berada di sini dari Hara." jelasnya membuat pria di sampingnya hanya mengangguk mengerti.

Mereka lantas beranjak pergi usai memenuhi rasa penarasan, sebelum ada yang menyadari keberadaan mereka di sana. Dikhawatirkan orang lain di lantai tersebut akan iri, menganggap sang CEO hanya memperhatikan tim 2.

"Apa jadwalku hari ini, Jim?" tanya Jungkook begitu memasuki ruang kerjanya, lantas bersandar pada sofa empuk setelahnya.

Jimin pun menarik tablet yang sejak tadi berada dalam dekapannya, lantas mulai  menggulirkan layar pada benda elektronik berbentuk kotak tersebut.

"Untuk beberapa jam ke depan kau harus meninjau laporan mingguan divisi Strategi dan Pengembangan Operasi Layanan dari tim 2. Lalu meninjau hasil rapat dengan pemegang saham kemarin ...," Jimin bergeming sejenak. Memeriksa kembali daftar Jungkook hari ini, memastikan tidak ada yang terlewat atau tertinggal. "Itu saja." tambahnya mengakhiri.

Jungkook pun menanggapi dengan anggukan. "Siapa penanggung jawab laporan mingguan divisi itu?"

Jimin kembali mengamati layar pada tablet. "Kim Yeji, di bawah tanggung jawab Ahn Hyoseop."

"Kim Yeji?" nama itu terdengar tidak asing. Ah, benar. Gadis yang mereka bicarakan beberapa menit lalu.

Sang sekretaris hanya mengangguk heran. "Iya."

"Minta dia sendiri yang menyerahkan laporannya padaku."

"Kau yakin? Tapi regulasi perusahaan mengharuskan atasan mereka yang menyerahkannya. Lalu untuk apa ada ketua tim kalau karyawannya sendiri yang mengantar langsung?"

"Anggap saja sebagai permintaan pribadi."

Jika sudah menyangkut kepentingan pribadinya, Jungkook tidak ingin ada yang membantah perintahnya. Meski harus menyalahi aturan perusahaan sekalipun.

"Apa karena dia teman Hara?" seperti yang Jungkook duga. Jimin memang pintar membaca situasi. Tidak heran ayah Jungkook mempercayai Jimin sepenuhnya.

"Kau sudah tahu tanpa harus dijelaskan, bukan?"

"Sampaikan pada ketua tim Ahn untuk meminta Yeji yang datang sendiri ke sini." lanjut Jungkook lagi, lantas beralih menuju meja kerja yang terletak di belakang tempatnya duduk.

...To be continued.......

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!