Di tengah kegiatan menandatangani berkas, pergerakan tangan Jungkook tiba-tiba saja terhenti. Bukan karena pegal lantaran mengulang kegiatan yang sama sejak 15 menit terakhir. Melainkan sosok Hara telah berhasil mengusik pikiran sang CEO secara tiba-tiba.
Jungkook tidak terima, pun bertanya-tanya mengapa Hara bersikap demikian? Apakah gadis itu berpura-pura tidak mengenalnya karena tengah berada di lingkup kerja? Ataukah gadis itu menghindar sebab status jabatan mereka yang berbeda jauh? Sungguh, jika Jungkook tidak segera mencari jawabannya, ia akan semakin gila dibuatnya.
Namun sebelum Jungkook memikirkan tindakan apa yang akan dilakukannya, ia ingin menenangkan diri dengan segelas minuman beralkohol. Lantas diraihnya lah sebotol sampanye yang masih disegel---beserta gelasnya dari dalam lemari. Sebelumnya, Jungkook sudah meminta pada sekretarisnya untuk menyelundupkan beberapa botol sampanye ke dalam lemari di ruangannya itu secara diam-diam---meski sempat terjadi perdebatan ringan, hingga akhirnya menuruti kemauan sang atasan. Lagipula tidak akan ada yang tahu, ataupun melakukan pemeriksaan secara mendadak untuk menyita alkohol, bukan?
"Masih siang, kau sudah minum?" seruan tiba-tiba dari seorang pria beranama Jung Jimin---sekretaris pribadi sekaligus sahabat sang CEO, membuat Jungkook menoleh sekilas, lantas kembali menuangkan likuid sparkling tersebut ke dalam gelas.
"Sedang ingin." jawabnya singkat.
"Jangan sampai mabuk. Kau ada jadwal rapat dengan pemegang saham sore nanti." tegas Jimin memberi peringatan.
"Iya,"
Sebagai sekretaris---atau lebih tepatnya disebut sebagai pengasuh; sebab harus menjaga bayi kekar tersebut selama 24/7 dari tindakan absurd di luar nalar, layaknya bocah berumur 5 tahun, Jimin harus memastikan Jungkook tidak akan melakukan hal aneh yang akan memicu amarah sang ayah.
Sebagai sahabat, Jimin sudah sangat paham akan sikap Jiwook pada putra tunggalnya itu. Pun ia tahu bagaimana perubahan drastis yang terjadi pada Jungkook sejak tinggal di Amerika.
Kala baru 2 minggu tinggal di negeri paman Sam itu, Jungkook mulai tidak tahan dan memberontak pada sang ayah. Berkali-kali ia mencoba kabur dari apartemen tempatnya tinggal menuju bandara seorang diri. Tujuannya hanya ingin kembali pulang ke tanah kelahirannya di Korea. Pun, berkali-kali pula rencananya gagal. Anak buah Jiwook kerap berhasil menangkap Jungkook, dan membawanya kembali ke apartemen. Bahkan tempat di mana Jungkook tinggal harus dijaga ketat oleh bodyguard utusan ayahnya.
Jungkook muak diperlakukan layaknya tahanan. Tak pernah sekalipun ia diizinkan memilih ataupun memiliki kehidupannya sendiri. Jalan hidup Jungkook seakan harus berada di bawah kendali Jiwook.
Tentu saja semakin keras tindakan sang ayah, semakin brutal pula sikap yang Jungkook tunjukkan. Para pengawal Jiwook sudah kelelahan menghadapi anak bosnya itu. Bak orang yang kerasukan setan, mereka yang berjumlah 4 orang terpaksa memegangi tubuh Jungkook untuk mencegahnya kembali melakukan tindakan gila. Bahkan Jungkook telah membuat apartemennya setengah hancur, hingga sang ayah jauh-jauh datang ke Amerika untuk memberi peringatan pada Jungkook.
"Lepas! Kubilang lepas!" seruan Jungkook tak kunjung dihiraukan, hingga sang ayah tiba di sana.
"Teruslah memberontak, Nam Jungkook! Lihat sendiri nanti apa yang akan terjadi pada gadismu itu!"
Jungkook sontak terdiam. Ia lantas kembali tertunduk sembari mengepalkan kedua tangan---terlepas dari cengkeraman para pengawal di hadapan sang ayah. Ah, benar juga, perjanjian yang pernah mereka sepakati tempo hari itu. Di saat yang bersamaan, Jungkook pun hampir melupakan sosok Hara yang jauh di sana.
"Maaf. Akan kupastikan hal ini tidak akan terjadi lagi." lagi-lagi Jungkook harus mengalah, demi melindungi gadis yang dicintainya itu tidak disentuh sang ayah.
"Aku akan mengurus perusahaan dengan baik, dan akan belajar lagi dengan giat." lanjut Jungkook. Sungguh, ia lebih memilih mengorbankan dirinya sendiri daripada terjadi sesuatu pada Hara.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu?!"
"Serahkan padaku," sambung seorang pria yang entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja memunculkan diri di pintu apartemen yang terbuka lebar. Pandangan Jungkook dan yang lainnya sontak menuju pada arah sumber suara.
Saat itulah awal mula Jimin hadir mengajukan diri untuk menjadi sekretaris Jungkook. Ia merupakan mahasiswa pertukaran pelajar sekaligus tetangga yang tinggal di sebelah unit apartemen Jungkook.
Sejujurnya, Jimin sudah sering mendengar ataupun menyaksikan apa yang terjadi pada pria yang seumuran dengannya itu selama 2 minggu terakhir. Sejujurnya pula, ia merasa iba pada Jungkook. Jimin memang tidak tahu bagaimana rasanya, lantaran ia tumbuh di dalam keluarga yang baik-baik saja. Namun Jimin ingin menjadi teman Jungkook, setidaknya untuk membuat pria itu tetap waras di bawah belenggu sang ayah.
Maka Jimin memberanikan diri bicara pada ayah Jungkook dengan berkata, "Izinkan aku menjadi sekretarisnya. Dengan begitu, anda tidak perlu mengkhawatirkan putra anda di sini."
"Kau siapa?"
"Oh, maaf aku belum memperkenalkan diri. Namaku Jung Jimin, mahasiswa pertukaran pelajar Manajemen Bisnis, sekaligus tetangga di unit sebelah." jelasnya, sembari mengulurkan tangan ingin bersalaman, namun hanya diabaikan.
Jabat tangan tak bersambut itu membuat Jimin lantas menarik tangannya kembali disertai perasaan malu. Belum pernah ada yang menolaknya seperti ini. Sekali lagi, lantaran Jimin tumbuh dan kerap dikelilingi hal-hal baik.
"Lalu, apa yang membuatku harus menyetujui tawaranmu? Kuperingatkan, sebaiknya jangan ikut campur."
Jimin memutar otak, berusaha mencari jawaban yang tepat. Sulit sekali melakukan negoisasi dengan pria keras kepala itu.
"Aku bisa membantu mengatur putra anda dengan baik, tuan Nam. Jadi, anda tidak perlu jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mencemaskan dia."
Nam Jiwook terdiam. Terlihat ia tengah menimbang-nimbang tawaran Jimin. Memang bukan ide buruk, pun bukan ide yang baik pula. Mengingat kehadiran Jimin bukanlah kehendak Jiwook. Namun sebagai ayah, ia pun sadar, Jungkook tidak akan akan bisa menjalankan perusahaan seorang diri. Dibutuhkan seseorang yang akan membantu memberi keputusan dan mengatur jadwal nantinya.
"Bagaimana, tuan Nam?" desak Jimin, lantaran Jiwook terlalu larut dalam bimbang untuk membuat keputusan.
"Kuberikan waktu 1 bulan untuk melihat ada tidaknya kemajuan pada putraku. Baru aku memberi keputusan saat itu .... akan mengakhirinya, atau melanjutkannya."
Jimin mengulas senyum kegirangan, meski belum mendapat kepastian mutlak. Namun setidaknya, Jiwook akan mempercayakan Jungkook padanya.
"Baiklah. Tapi dengan syarat, jauhkan semua pengawalmu darinya. Biarkan aku seorang yang menjaganya."
"Kau yakin sanggup?" Jiwook tertawa remeh. Pengawal, serta anak buahnya saja kewalahan menghadapi Jungkook, bagaimana pria itu akan menaklukan putranya seorang diri?
"Akan kucoba."
Butuh beberapa detik bagi Jiwook untuk bersuara, hingga akhirnya berucap, "Baiklah. Kutunggu hasil usahamu di bulan depan, Jung Jimin." katanya, sembari menepuk-nepuk bahu Jimin, lantas pergi bersama para pengawalnya, menyisakan Jungkook dan Jimin di sana.
Sementara Jungkook justru tidak senang dengan kehadiran Jimin. Itu artinya akan menambah satu orang lagi yang akan mengatur kehidupannya.
"Apartemenmu terlihat hancur. Sebaiknya tinggal di tempatku dulu untuk sementara waktu, sampai selesai dibereskan." seru Jimin usai mengamati bagaimana keadaan hunian Jungkook, bak kapal pecah itu.
"Kau pikir kau siapa, bisa datang seenaknya? Apa, mengawasiku? Apa hakmu melakukan itu?"
Jimin menghela napas sebentar. Selain berusaha menghadapi ayah dari pria di hadapannya, ia pun harus berusaha lebih keras untuk menghadapi pria itu sendiri. Jika diperhatikan seksama, baik Jiwook maupun Jungkook mereka rupanya terlihat mirip. Layaknya pepatah yang mengatakan: Like father like son.
"Terserah bagaimana penilaianmu padaku. Aku hanya ingin membantu membebaskanmu."
"Kau, membebaskanku?" Jungkook tertawa remeh. "Aku sendiri pun kesulitan, bagaimana denganmu," lihat, kan? Kepribadiannya terlihat mirip dengan Jiwook.
Jimin berdiam sebentar, lantas mendekat pada Jungkook sembari mengusap-usap bahu pria di hadapannya---seakan ada kotoran yang menempel di kemeja Jungkook. "Kenapa kau tidak membuat dirimu berpura-pura mematuhi ayahmu? Buatlah dia percaya padamu. Bungkam dia dengan sikap baikmu di hadapannya." Jimin mundur selangkah ke belakang. "Semakin kau memenuhi keinginannya, kau akan semakin memiliki kebebasan pada hidupmu."
"Jika kau ingin mengalahkannya, kau harus berada jauh di atasnya." lanjut Jimin.
...To be continued.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments