"Jungkook ... apa kau akan membenciku?"
Jungkook stagnan. Bagaimana cara Hara menatap, bagaimana suaranya terdengar, dan bagaimana gadis itu bersikap saat ini, semuanya terlihat sama persis seperti sosok Hara 2 tahun yang lalu. Mungkinkah gadis itu sudah mengingatnya kembali?
Namun belum sempat Jungkook ingin berucap, Hara tiba-tiba saja kehilangan kesadaran setelahnya. Sontak Jungkook segera meraih tubuh mungil tersebut dalam dekapannya.
"Hara,"
Tidak ada respon. Maka Jungkook pun segera mengangkat tubuh Hara dan memapahnya di depan dada, untuk dibawa menuju mobilnya yang diparkirkan tidak jauh dari rumah gadis itu.
Di saat yang bersamaan, bibi Mijin melihat Hara dibawa oleh seorang pria. Untunglah ia tidak langsung menaruh curiga pada Jungkook. Bibi Mijin justru bergegas menghampiri Jungkook dan membantu membukakan pintu mobil, guna membaringkan Hara di kursi penumpang.
"Cepatlah, bawa Hara ke rumah sakit. Aku akan mengurus rumahnya. terang bibi Mijin, sebab pintu rumah Hara terlihat masih terbuka lebar. Jungkook tidak sempat menutupnya lantaran keburu panik dengan kondisi Hara saat ini.
Jungkook pun menurut, meski diselimuti heran siapa wanita paruh baya yang tiba-tiba datang menolongnya. Pun, tanpa membuang waktu, Jungkook mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit Seoul.
Sejujurnya, kehadiran Jungkook di sana bukanlah kebetulan semata. Satu jam sebelumnya, bayi kekar tersebut sudah ribut minta dicarikan berkas lamaran milik Hara di perusahaannya. Tindakannya itu tentu saja membuat sang sekretaris yang baru pulang dari perjalanan bisnis dibuat pening tak karuan.
Sebab ucapan Yeji yang mengatakan, "Bukankah perusahaan memiliki data lengkap Hara? Kenapa tidak mencari saja di sana?"
Jungkook lantas kalap, hingga membuat divisi HRD harus turun tangan memenuhi kemauan sang atasan.
Ditambah lagi sang gadis yang dicari tidak ada di ruangan, padahal ia sudah berniat mengantar pulang. Jungkook pun kian menggebu untuk menyusul gadis itu meski sosoknya telah hilang dari pandangan.
"Kau mau ke mana?" tanya Jimin, melihat Jungkook terburu-buru mengambil kunci mobil, dompet, ponsel, dan arloji dari permukaan meja kerja.
"Aku ingin mencari rumah Hara," balasnya, sembari melingkarkan arloji berbahan stainless steel berwarna silver pada tangan kirinya.
Jika ada yang bertanya di mana arloji pemberian Hara, maka jawabannya adalah berada di laci meja kerja. Benda berharga tersebut diletakkan dengan aman bersamaan dengan kotaknya. Lagipula, Jungkook tidak diperbolehkan Jimin menggunakan arloji yang tidak berfungsi di depan kolega, sebab akan mempengaruhi penilaian mereka pada sang CEO.
"Sekarang juga?"
"Iya,"
"Biar aku antar," tawar Jimin---kendati memang sudah menjadi kewajiban untuk mendampingi ke manapun Jungkook pergi tanpa harus menawarkan diri.
"Tidak usah. Aku akan pergi sendiri,"
Ucapan Jungkook pun hanya dibalas anggukan mengerti dari sekretarisnya itu. Jimin pun tidak ingin membantah, sebab jika sudah menyangkut soal Hara, Jungkook akan melakukan segala cara.
Kiranya memakan waktu sekitar 20 menit untuk mencari---dengan bantuan map digital tentunya---Jungkook telah tiba di komplek perumahan dengan konsep yang serupa. Setiap rumah dikelilingi pagar berbahan kayu. Untuk menuju pintu utama, terdapat susunan paving block setapak dengan tanah berumput di sekitarnya, dan terdapat pohon-pohon rindang beserta tanaman lain turut menghiasi lahan kosong yang dijadikan sebagai taman kecil. Sehingga menciptakan suasana sekitarnya menjadi sejuk dan asri. Serta, lokasi kediaman di sana saling berjauhan, membuat sinar matahari dan sirkulasi udara terpenuhi dengan baik.
Kala fokus memperhatikan bangunan di sana, Jungkook menemukan sebuah rumah yang tampak menonjol dari rumah di sekitarnya. Kediaman berlantai dua tersebut memiliki cat berwarna putih yang sudah kusam seakan tidak pernah diperbarui lagi. Pintu pagar yang terbuat dari kayu sudah mulai rapuh ditelan usia dan musim, serta tumbuhan di sana terlihat layu tak terurus. Rumah tersebut terlihat sangat suram dibanding rumah lainnya.
Jungkook memastikan kembali, rumah tersebut adalah benar yang ia cari. Ia pun turun dari mobil guna mencari jawabannya---usai memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Baru saja mendekati pintu pagar, samar-samar teriakan histeris memasuki indera pendengarannya. Sontak Jungkook berlari menuju pintu utama yang setengah terbuka. Dilihatnya Hara tengah duduk meringkuk di lantai, dengan kedua tangan menutup telinga di dalam ruangan yang remang.
Hara terlihat sangat ketakutan sembari mengatakan hal-hal aneh. Entah apa yang gadis itu lihat hingga membuatnya bersikap demikian, padahal tidak ada siapapun di sana.
Kini, Hara tengah terbaring di ranjang rumah sakit usai Jungkook membawanya ke bagian Instalasi Gawat Darurat. Untunglah pelayanan di sana berjalan dengan cepat, dan Jungkook bisa meminta Hara dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VIP.
"Kondisi nona Hara saat ini baik-baik saja. Dia hanya membutuhkan istirahat yang cukup," terang seorang dokter, setelah melakukan pemeriksaan tanda vital seperti mengecek suhu tubuh, ritme jantung, frekuensi pernapasan, tekanan darah, dan denyut nadi---meskipun Hara masih belum sadarkan diri.
Jungkook yang sejak tadi duduk menunggu di samping ranjang, mengangguk pelan disertai perasaan lega. "Baiklah, terima kasih, Dok."
"Kalau begitu, kami permisi." pamit dokter pria tersebut diikuti seorang perawat wanita di belakangnya.
Jungkook kembali menatap Hara yang masih terpejam nyenyak, sembari bertanya-tanya memikirkan apa yang terjadi pada gadis itu 30 menit yang lalu. Apakah ada seseorang yang menyakitinya? Ataukah ada perampok yang menerobos masuk ke rumahnya? Entahlah. Mau dipikirkan berapa kali pun, Jungkook tak kunjung menemukan jawabannya. Hanya tinggal menunggu Hara menjelaskan penyebabnya. Itu pun jika Hara secara sukarela bersedia menceritakannya.
Satu, dua menit berlalu, Jungkook masih setia menunggu. Namun menit berikutnya tidak lagi berlaku, sebab panggilan masuk dari Jimin menggetarkan ponselnya. Jungkook lantas beranjak dari duduknya, dan keluar ruangan guna menjawab telepon yang tidak bisa ia hindari.
Di sisi lain, rupanya Hara mulai tersadar dari mimpi panjangnya. Yang dirasakan gadis itu pertama kali saat membuka matanya tentu saja perasaan terkejut dan bingung. Mempertanyakan mengapa dirinya bisa ada di sini? Ruangan apa ini? Siapa yang membawanya?
Namun sebagian pertanyaan Hara langsung terjawab setelah melihat tulisan 'Rumah Sakit Seoul' pada selimut yang dipakainya. Ia pun sontak menuju pintu geser guna keluar dari kamar---tanpa menyadari adanya keberadaan Jungkook yang masih melakukan peneleponan di depan ruangan.
Untunglah pada detik yang sama, Jungkook langsung mengetahui ada seseorang yang keluar dari ruangan. Ia mengecek sebentar ke dalam kamar untuk memastikan seseorang yang baru saja pergi, benar adalah Hara.
"Aku matikan dulu teleponnya, Jim. Nanti akan kuhubungi lagi," pamit Jungkook, mengakhiri sambungan telepon sepihak pada sekretarisnya dengan terburu-buru.
Maka tanpa membuang waktu, Jungkook segera mengejar ke mana arah perginya Hara, sebelum kehilangan jejak gadis itu. Pikir Jungkook, Hara ingin meninggalkan rumah sakit dan pulang, namun ternyata perkiraannya salah. Hara justru menuju lantai 3---mendatangi tempat bertuliskan ruang psikiatri yang tertera di depan pintu.
Jungkook pun kembali dibuat bertanya-tanya. Jika Hara memang membutuhkan perawatan medis, mengapa mendatangi psikiater alih-alih dokter umum?
Ingin mencari tahu jawabannya dengan bertanya langsung pun tidak bisa, sebab Hara sudah menghilang masuk ke dalam ruangan. Apalagi ingin mencuri dengar dari luar, ruangan tersebut kedap suara, tidak terdengar apapun dari dalam sana. Jungkook hanya bisa pasrah, sembari menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Hara di dalam sana, dan siapa yang ia temui.
"Dokter Yoon," panggil Hara, sembari mendekat pada pria berusia 30-an yang mengenakan jas putih tengah duduk di kursinya di balik meja panjang. Di atas meja, terdapat papan nama yang terbuat dari kaca bertuliskan dr. Kim Yoongi, Sp. KJ. Pria dengan kulit putih pucat tersebut adalah dokter spesialis kejiwaan di rumah sakit Seoul.
"Hara? Ada apa?" Yoongi menyambut kedatangan Hara dengan heran. Biasanya Hara akan membuat janji terlebih dahulu sebelum melakukan konsultasi. Namun jika mendadak begini, sudah pasti ada hal darurat yang ingin disampaikan gadis itu.
"Dokter ... aku melihat mereka lagi di rumah itu,"
"Maksudmu?"
"Ayah, ibuku, mereka di sana! Dan juga ... kakakku. Mereka muncul seperti halusinasi!"
...To be continued.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments