Chapter 7

Layaknya tengah dicuci otak, ucapan Jimin berhasil mempengaruhi Jungkook. Belum pernah terbesit dalam pikiran Jungkook untuk bertindak seperti yang dikatakan Jimin. Selama ini ia terlalu lugas menunjukkan ketidaksukaannya pada sang ayah. Itulah sebabnya Jiwook semakin ketat mengekangnya.

"Bagaimana?"

Detik demi detik Jimin menunggu jawaban dari sang lawan bicara, hingga akhirnya terdengar, "Kau bisa membantuku, bukan?"

Saat itu juga mereka memutuskan bekerja sama. Siapa sangka, tindakan manipulatif Jimin berhasil mendobrak pola berpikir Jungkook dalam sekejap mata. Sejujurnya, Jimin gemar membuat keadaan maupun orang-orang di sekitarnya terlihat baik-baik saja, berkat sikap memanipulasinya.

Seiring satu bulan yang dijanjikan, Jungkook kian giat memperdalam bidang bisnis demi mendapatkan kepercayaan sang ayah. Jungkook mengawalinya dengan membenahi struktur kepengurusan di perusahaan cabang, memecat pegawai korup yang menghambat kemajuan perusahaan, dan menaikkan reputasi perusahaan untuk menarik minat investor melakukan investasi di sana.

Kemajuan Jungkook pun membuat Jiwook mengulas senyum bangga dengan kinerja sang putra. Hingga Jiwook pun akhirnya memberi keputusan final dengan menjadikan Jimin sebagai sekretaris sekaligus tangan kanan Jungkook.

"Kau membuat perubahan besar, Nam Jungkook. Aku bangga padamu," puji sang ayah di tengah makan malam mereka bersama Jimin di sana. Jiwook sengaja mendatangi Jungkook di Amerika secara sukarela, lantaran putra tunggalnya itu tak memiliki waktu untuk datang ke Korea.

"Hm, baguslah. Itu semua berkat bantuan Jimin." Jungkook menjawab tanpa mengalihkan arah pandangannya dari piring.

"Jimin, terima kasih. Seterusnya aku bisa mempercayakan Jungkook padamu, bukan?"

Jimin mengulas senyum lebar. "Tentu saja, serahkan padaku."

"Tapi aku ada permintaan." seruan Jungkook membuat Jiwook dan Jimin menoleh serentak padanya. "Jangan pernah mengganggu kehidupan pribadiku, dan jangan pernah mengirim utusanmu untuk memata-matai kegiatanku. Kau bisa melakukan hal itu untukku, Ayah?" lanjutnya.

Jiwook meletakkan garpu dan pisau dari tangannya guna menimbang permintaan sang putra. "Melihat bagaimana kemajuanmu menjalankan perusahaan, yah ... tentu saja, tidak masalah."

"Jangan sampai kau melanggar janji. Perusahaanmu ada di tanganku." ancam Jungkook.

"Baiklah," jawab Jiwook singkat diiringi seulas senyum ala seorang ayah. "Oh, benar. Apa kau tidak ingin kembali ke Korea untuk mengisi jabatan CEO di sana?"

"Akan aku pertimbangkan."

"Hm, katakan saja kapanpun kau bersedia. Aku akan segera mempersiapkannya."

Usai makan malam hari itu, Jiwook benar-benar menepati janjinya. Tidak ada lagi kaki tangan yang mengawasi Jungkook untuk diadukan pada sang ayah. Hubungan Jungkook dan Jimin pun kian akrab layaknya sahabat. Bahkan Jimin pula yang memperkenalkan alkohol pada Jungkook. Ia kerap mengajak kawannya itu minum ke bar guna melepas penat sepulang kerja.

Pun, mulai sejak saat itu, alkohol menjadi hal biasa bagi Jungkook. Beragam rasa dan jenis sudah ia coba, dan pilihannya jatuh pada sampanye sebagai salah satu minuman kesukaannya.

Memasuki satu tahun hidup di Amerika, ingatan tentang Hara nyaris pudar dari lobus temporal di dalam kepalanya. Godaan wanita di bar, hampir melepaskan keperjakaan Jungkook untuk sembarang wanita. Ia pun mulai digelayuti rasa frustrasi.

"Jimin, bisakah kau mencarikan seseorang untukku?" pinta Jungkook, sepulang dari bar usai meninggalkan wanita-wanita yang menginginkan sentuhannya.

"Siapa?"

"Seorang wanita,"

Jimin yang sejak tadi tengah memotong buah, dibuat terdiam sesaat lantaran terkejut dengan pernyataan Jungkook. Selama satu tahun terakhir ini, belum pernah temannya itu berurusan dengan wanita.

"Pacarmu?"

"Entahlah, kami belum sempat memiliki hubungan."

"Oh ... di mana dia?"

"Aku harap dia masih di Korea. Kau bisa membantuku, bukan?"

Buah terakhir selesai dipotong, Jimin meletakkan pisau dari tangannya. "Bagaimana kalau ketahuan ayahmu?" katanya, sebelum memasukkan potongan buah melon ke dalam mulutnya.

"Bukankah dia sudah berjanji tidak akan mengganggu kehidupan pribadiku?"

"Kau mempercayai ayahmu?"

Jungkook turut mengambil sepotong melon guna memanjakan lidahnya dengan rasa manis. "Kita lihat saja dulu,"

"Baiklah. Besok aku akan ke Korea mengambil penerbangan awal."

"Hm, aku mengandalkanmu, Jimin."

Butuh dua hari bagi Jimin untuk mencari keberadaan Hara sebelum kembali lagi ke Amerika. Segala tindakan pun ia lakukan dengan mendatangi langsung ataupun melalui media sosial.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Jungkook, menyambut kedatangan Jimin begitu tiba di apartemen.

...To be continued.......

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!