Merajuk

Pagi ini, Jackson berangkat ke kantor dengan perasaan yang berbeda. Entahlah, dia sendiri pun tidak tahu. Semenjak ada sosok Valerie di sampingnya, membuat Jackson merasa hangat dan bahagia.

"Jack, selamat pagi...." Sapa seorang wanita yang berlarian ke arah Jackson yang baru tiba di kantor.

"Ya." Angguk Jackson tanpa mengatakan hal yang lain lagi.

"Jack, kau tahu? aku telah di tetapkan sebagai pegawai kelas 3. Astaga, aku senang sekali rasanya.... Apa kau mau merayakan hal ini denganku nanti malam?" Tanya Naomi dengan begitu antusias.

"Tidak, tunangan ku sudah menunggu di rumah." Balas Jackson yang masuk kedalam lift.

"Jack!!!! haishhh sialan!!" Marah Naomi dengan ekspresi yang begitu buruk.

"Orang seperti tuan Jack tidak mungkin buta, mana yang harus ia perjuangkan dan mana yang harus ia tinggalkan. Apalagi untuk sampah seperti mu, sangat menjijikkan!" Sindir seorang wanita yang datang bersama rombongannya.

"Kau!!!" Geram Naomi dengan menatap tajam Sophia yang hanya tersenyum penuh ejekan.

"Berkaca lah, agar kau lihat tampang dan rupa mu yang tidak sebanding dengan nona Cassilas." Sindir Sophia dengan begitu pedas, hal itu membuat Naomi mengepalkan tangannya.

"Hhh.... Wanita kampung memang tidak punya rasa malu, jangankan wajah... Otak dan keturunannya pun sangat jauh berbeda." Ucap Sophia yang ada di dalam lift bersama rekannya.

"Itu benar Bu Sophia, tapi apakah anda sudah melepas tuan begitu saja?" Heran mereka yang justru malah membuat Sophia terkekeh.

"Nona Valerie tidak sesederhana yang kalian lihat, menurut kalian.... Apakah ada seorang wanita yang sudah lama tinggal di luar negeri tanpa memiliki kekuatan apapun? nampaknya itu hanya sia-sia." Jelas Sophia.

"...." Mereka tidak bisa berkata-kata, dan lagi mereka tidak mengerti tentang apa yang di ucapkan oleh Sophia mengenai Valerie yang menurut mereka itu sangat berbelit-belit.

Tapi bagi orang cerdas seperti Sophia, dia sudah hafal betul dengan apa yang berbahaya ataupun berarti untuknya.

••••

"Nona, anda harus pergi ke Jepang untuk melakukan rapat disana. Ini kesempatan bagus untuk nona...." Senang Noah yang datang dengan terburu-buru.

"Jepang? kapan?" Tanya Valerie dengan mata yang terus berkutat pada layar komputernya.

"Besok nona, saya akan menyiapkan semua keperluan yang nona butuhkan."

"Baiklah, kau urus saja semuanya." Angguk Valerie yang tidak masalah dengan hal itu.

Saat ini, perusahaan yang ia kelola sedang sibuk-sibuknya, karena sebentar lagi Valerie akan membuka cabang baru perusahaannya di kota yang sudah ia sponsori dan ternyata itu sangat cocok untuk bisnisnya.

"Nona, ada beberapa pembisnis yang ingin bertemu dengan anda. Mereka sudah membuat janji beberapa hari yang lalu, dan sekarang mereka sudah berada di ruang rapat."

"Oke." Angguk Valerie yang mulai bersiap diri.

Langkah kakinya begitu anggun dan penuh aura pemimpin, para pegawai yang melihat sosoknya hanya bisa berandai-andai jika Valerie adalah mereka. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mencintai Valerie, namun mereka memilih untuk sadar diri karena mereka bukan Jackson.

"Halo selamat siang." Sapa Valerie yang duduk di kursi kebesarannya.

Di hadapannya ada beberapa laki-laki asing yang sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda, bahkan ada dari mereka yang tak sengaja menjatuhkan bolpoin nya karena tidak sadar dengan kecantikan Valerie.

Mereka melakukan perbincangan perbincangan lainnya yang berhubungan dengan bisnis mereka, bahkan tak heran jika Valerie mendapatkan sedikit godaan dari mereka. Hal itu berjalan dengan begitu lama, bahkan mereka melupakan jam makan siangnya.

"Terimakasih nona Valerie, kami sangat puas dengan apa yang anda sampaikan. Sampai bertemu lusa di Jepang..." Ucap mereka dengan menjabat tangan Valerie.

"Sama-sama tuan, semoga kita bisa menjadi rekan yang baik." Angguk Valerie yang tersenyum selebar mungkin.

Mereka keluar dari ruang rapat dengan terus berbincang-bincang, Valerie sengaja mengantar mereka hingga lobi.

"Kalau begitu, kami permisi nona." Ucap salah satu dari mereka dengan mengecup punggung tangan Valerie yang sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu.

Setelah melihat kepergian mereka, Valerie hendak membalikkan tubuhnya dengan menghela nafas berat. Dia sangat lapar sekarang, namun hal itu langsung hilang begitu saja saat Valerie tak sengaja bertatapan dengan seorang laki-laki yang sedang berjalan kearahnya.

"Jack?" Kaget Valerie, ini pertama kalinya Jackson datang ke perusahaannya saat dirinya memimpin perusahaan tersebut.

"Apa kau sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini?" Tanya Jackson yang membersihkan tangan Valerie menggunakan sapu tangannya, setelah itu ia buang ke tong sampah yang ada di dekat mereka.

"Itu, iya...." Angguk Valerie.

"Mulai sekarang tidak aku perbolehkan, kau hanya milikku Valerie!" Tegas Jackson dengan menatap dalam mata Valerie.

"Baiklah." Angguk Valerie dengan pasrah.

Dengan merangkul lengan Jackson dan membawanya kedalam ruangannya, para pegawai yang sudah biasa melihat Jackson nampak tak asing dan tak heran lagi, namun melihat Jackson yang bermesraan dengan Valerie, ini pertama kalinya mereka lihat.

Sosok gunung es itu kini nampak berbeda, terlihat lebih hangat saat bersama dengan Valerie.

Setelah Valerie berada di ruangannya, disana sudah tersusun makan siangnya. Valerie memilih untuk makan dan sesekali menyuapi Jackson yang terus menatapnya.

"Berhentilah menatapku dan makan dengan benar." Ucap Valerie dengan memasukkan potongan daging kedalam mulut Jackson.

"Kau akan ke Jepang besok?" Tanya Jackson serius.

"Iya, mungkin hanya satu Minggu aku disana." Angguk Valerie.

"Apakah tidak bisa jika 1 hari saja?"

"Ukhukk Ukhukk Ukhukk...."

Valerie terkejut dengan ucapan Jackson yang terdengar merengek seperti anak kecil, karena itulah dia terbatuk-batuk karena saking terkejutnya.

"Hati-hati..." Ucap Jackson dengan memberikan minum pada Valerie yang nampak tersedak.

"Kau..." Kaget Valerie dengan menatap Jackson yang selalu tampan nan sempurna.

"Kenapa? apakah ada ucapku yang salah?" Heran Jackson dengan kedua halis yang mengkerut.

"Tidak, tidak ada yang salah. Tapi untuk satu hari, apa kau gila?" Kesal Valerie.

"Kalau begitu 3 hari, bagaimana? jangan satu Minggu, itu terlalu lama." Tawar Jackson lagi.

"Tidak Jack, aku akan pergi seminggu. Mengertilah....." Ucap Valerie dengan tegas.

Hal itu membuat Jackson terdiam dan memilih untuk tidak mengatakan apapun lagi, tangannya fokus pada makanan yang ia aduk-aduk saja.

Astaga, apakah Jackson merajuk?

Valerie ingin saja menangis dengan sikap Jackson yang semakin hari semakin menyebalkan, bahkan tampang yang garang itu sudah menghilang entah kemana. Lihat saja sekarang, dia sedang merajuk seperti anak kecil yang baru saja ia marahi.

"Jack...." Panggil Valerie dengan menyentuh pundak Jackson, namun Jackson justru malah menghindar agar tidak tersentuh oleh Valerie yang lagi-lagi malah menganga tak percaya.

"Astaga......" Valerie menggelengkan kepalanya dengan pusing, dia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi Jackson yang sekarang? apakah dia harus memukul bokongnya?

Terpopuler

Comments

Septi Wariyanti

Septi Wariyanti

ikut ngebayangin mukanya Jack pas lagi merajuk pasti tambah cute

2023-05-24

0

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

Pukul bokongnya 😁😁
pukul perutnya 🤣🤣
pukul anunya 😜😜

2023-04-27

0

Benazier Jasmine

Benazier Jasmine

jakson semakin bucin sm valeria

2023-04-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!