Erina sebenarnya juga merasa tak tega dengan kakak iparnya, karena selama dirinya tinggal di rumah mertuanya. Hanya mereka berdua yang menghargai keberadaannya di sana. Pak Bagas pun juga tau, kalau Zainal dan Tiara, yang selalu menghargai keberadaan putrinya.
Pak Bagas tidak bermaksud membenci Zainal.
"Nak, tidak perlu kamu yang meminta maaf seperti ini. Karena memang itu bukan salah kamu, saya hanya kecewa dengan apa yang Damar lakukan kepada Erina. Dirinya tidak ingat kala itu memohon kepada saya, agar merestui hubungan mereka, tapi nyatanya dia mengingkari janjinya." Zainal merasa tak enak hati mendengar perkataan pak Bagas.
"Maka dari itu saya meminta maaf, atas kelakuan adik saya." Ucap Zainal dengan wajah memohon. "Erina maafkan Damar dan mama yang sudah menyakiti hati kamu!"
"Kakak kenapa kamu yang meminta maaf? Karena semuanya bukan salah kamu. Aku tidak pernah menyalahkan kamu, justru aku senang bisa kenal dengan kalian, yang lebih menghargai aku di sana." jawab Erina, menatap ke Zainal dan Tiara.
"Lagian meski kita bukan lagi saudara ipar, tapi kita masih bisa berhubungan baik saling komunikasi. Aku senang bisa dekat dan kenal dengan kalian." Erina menyentuh tangan Tiara, yang dimana wanita itu sudah di anggap sebagai kakak baginya.
Tiara pun juga turut tersenyum. "Aku juga senang, bisa kenal dengan kamu. Jujur sekarang aku jadi tidak betah tinggal di sana. Karena entah kenapa aku juga tidak menyukai keberadaan Melody di sana. Aku justru sekarang jadi jarang tinggal di sana, aku lebih sering di rumah orang tua ku. Untung saja Mas Zainal mengerti keadaanku," timpal Tiara, mengadu tentang dirinya yang tidak nyaman.
"Erina tadi ayah kamu mengatakan kalian ingin tinggal tempat lain. Memang kenapa kalau boleh tau?" tanya Tiara, sambil menyentuh tangan mantan adik iparnya itu.
Erina menceritakan semua kejadian yang dia alami. Sampai mengatakan kalau Melody Damar dan juga Bu Nurma sering datang, secara bergantian. Terkadang mereka membuat keributan dirumah itu membuat keluarganya malu dengan para tetangganya.
Erina juga mengatakan tentang banyak orang yang menilai buruk akan setatus nya yang sudah menjadi single parent. Banyak pria yang menatapnya rendah, bahkan hampir di lecehkan oleh pacar adiknya.
Zainal dan Tiara yang mendengar merasa tak tega dan turut prihatin atas kejadian yang menimpah pada Erina.
"Maafkan mama yang sudah kasar dengan kamu. Sebenarnya aku sedikit sekaligus malu akan sikap mama yang sombong dan selalu menilai seseorang dari luar saja." ucap Zainal yang menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Kak jangan bicara seperti itu, bagaimana pun beliau adalah wanita yang melahirkan kalian ..." saat itu juga Zainal memotong perkataan Erina.
"Sebenarnya dia itu bukan ibu kandungku." Ucap Zainal membuat semuanya tercengang termasuk Tiara dan Erina.
"Maksud kamu Mas?" tanya Tiara dengan rasa tak percaya.
"Sebenarnya ..." Zainal menceritakan semuanya kepada istrinya, Erina dan keluarganya.
Sebuah rahasia yang dia pendam selama ini, hanya dirinya dan ayahnya yang tau. Bahkan Damar saja tidak tau jika Bu Nurma bukan ibu kandungnya.
Flashback
Kejadian 30 tahun lalu, di saat usia Zainal tujuh tahun. Yang di mana hari paling bahagia sekaligus menyedihkan baginya.
Saat itu ibu Rania, yang tak lain ibu kandung Zainal. Mereka merasa bahagia karena akan hadir keluarga baru di tengah-tengah mereka. Yaitu akan lahirnya adik laki-laki untuk menemani hari-harinya.
Keluarga Prasetyo sangat bahagia karena hadirnya bayi laki-laki yang di beri nama Damar.
Namun kebahagiaan itu seketika berubah menjadi kesedihan yang di mana setelah melahirkan mereka kehilangan wanita yang mereka cintai. Bu Rania mengalami pendarahan sampai dokter pun tak berhasil menyelamatkannya.
Semua terpuruk akan kehilangan Bu Rania, Damar pun akhirnya terasingkan oleh ayahnya. Sedangkan Zainal yang saat itu masih kecil, bingung cara untuk merawat seorang bayi.
Saat itu Bu Nurma yang tak lain ART di rumah itu, dialah yang merawat Damar saat masih bayi. Rasa kehilangan Bu Rania membuat pak Prasetyo merasa terpuruk dan mengacuhkan Zainal dan Damar.
Hingga suatu ketika, pak Prasetyo jatuh sakit, sampai-sampai Bu Nurma lah yang rela mengurus mereka semua.
Bu Nurma merawat pak Prasetyo sampai benar-benar pulih dan akhirnya tersadar kalau dirinya sudah menelantarkan kedua putranya yang membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya.
Hingga suatu ketika, perusahaan yang dimiliki oleh Prasetyo hampir bangkrut. Karena rasa kehilangan yang membuatnya tidak memedulikan bisnis yang ia rintis dari bawah.
Pak Prasetyo pun akhirnya jatuh sakit,dan di saat itu dirinya sadar kalau Bu Nurma sudah berhasil menarik perhatiannya. Karena kebaikannya yang sudah mengurusnya dan kedua putranya, ia pun akhirnya jatuh hati dengan ART nya itu.
Beberapa bulan kemudian, Pak Prasetyo dan Bu Nurma pun menikah. Zainal dan Damar pun tak kekurangan perhatian dari orangtuanya.
Bu Nurma merawat Zainal dan Damar seperti putranya sendiri. Bahkan sampai tiga tahun kemudian, mereka di karuniai seorang putri dan di beri nama Denada. Kasih sayang yang ia berikan pun tak berkurang.
Sampai mereka tumbuh dewasa, empat tahun lalu pak Prasetyo meminta putra sulungnya untuk menerima perjodohan dengan Tiara. Zainal pun menerima apa yang di pinta ayahnya, untuk menikahi wanita pilihan orang tuanya.
Zainal yang tau akan kesehatan ayah akhirnya menikahi Tiara, gadis cantik dan baik hatinya. Sampai akhirnya ayahnya pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan meninggalkan keluarganya untuk selamanya.
Flashback of
Zainal menceritakan semuanya sampai tak kuasa menahan air matanya. Tiara sebagai istrinya ikut sedih mendengar suaminya menceritakan semuanya yang selama ini ia pendam seorang diri.
Erina dan keluarganya pun turut sedih dan prihatin saat Zainal menceritakan sebenarnya, kalau Bu Nurma itu bukan ibu kandungnya.
"Sebenarnya mama seperti itu begitu sangat menyayangi Damar. Karena dia sudah merawatnya dari bayi, dan itu membuatnya sangat menyayanginya," ada senyuman yang tersemat pada Zainal.
"Tidak seperti saya yang sedikit berontak dengan sikap mama yang terkadang membuat saya tak suka." ucap Zainal seperti sedang membuka rahasia yang selama ini di sembunyikan.
Zainal menyuruh Tiara untuk mengeluarkan sesuatu dari tasnya milik istrinya. Kini barang itu diletakkan di atas meja di hadapannya Erina.
"Ini untuk kamu, Damar menitipkan kotak ini, di suruh kasih ke kamu." Erina tau apa isi kotak tersebut. Sebuah perhiasan yang di berikan oleh Damar sebagai Mas kawin, dan hadiah spesial darinya saat itu.
"Kenapa di berikan ke aku ?" tanya Erina, sambil menatap kotak perhiasan yang kini ia pegang. Dirinya masih merasa sesak saat melihat benda-benda itu.
"Kata Damar itu hak kamu, ia tidak akan membiarkan barang itu menjadi milik orang lain. Dia mengatakan kamu boleh menjualnya suatu saat nanti, tapi setidaknya kamu terima terlebih dahulu!" pinta Zainal.
Erina pun menatap wajah ayahnya, yang menganggukkan kepalanya.
"Iya Kak, dan tolong katakan kepadanya terimakasih." Zainal pun mengangguk. "Lalu ini apa ?" tanya Erina melihat amplop berwarna coklat.
"Ini dari kami berdua, untuk Zio," jawab Tiara.
"Untuk apa kalian memberikan ini?" Erina masih belum menyentuh amplop itu.
"Itu hadiah untuk Zio, selama ini berkat dia hari-hari kami selalu bahagia. Bahkan sampai kami merasakan apa yang kamu rasakan, setelah sekian lama kami nantikan." Tiara kembali menyatakan itu.
"Maaf aku tidak bisa terima Kak! Bagaimanapun aku dan Zio tidak melakukan apapun. Semua itu karena sudah izin Tuhan memberikan hadiah kepada kalian seorang anak yang tampan," ucap Erina menyentuh pipi gembul bayi laki-laki itu.
Tiara menatap suaminya.
"Erina, anggap saja ini hadiah dari kami untuk keponakan yang sangat kami sayangi. Karena kehadirannya, hidup ku dan Tiara jadi berwarna. Kami memberikan ini tulus untuk Zio. Bukan karena kami kasian atau merasa bersalah kepadamu atas apa yang di lakukan adik dan ibu kami." Sengaja Zainal mengatakan itu, karena ia tau apa yang ada di pikirannya mantan iparnya.
"Kami mohon kamu terima ya! Kamu bisa simpan ini, untuk tabungan Zio nanti saat sekolah!" ucap Zainal dengan wajah memohon. "Jumlahnya tidak banyak, seperti apa yang Damar berikan. Tetapi setidaknya hadiah itu bisa kamu gunakan, untuk keperluan kamu dan keponakan kami,"
Erina pun merasa terharu dengan sikap dua orang yang pernah mengerti keadaannya. Sampai sekarang pun Zainal dan Tiara begitu perhatian dan peduli kepada dirinya dan juga putranya.
Bersambung
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak👍 dan komentar agar author semakin semangat. Terimakasih 🙏🙏🙏🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
LISA
Zainal & Tiara benar2 tulus dan sayang sama Erina..
2023-04-03
0