Kini mereka sudah sampai rumah, Erina membawa putranya ke kamar yang sudah tertidur.
Erina menangis mengingat kenangan dia bersama Damar terlihat bahagia.
Terdengar suara ketukan pintu dari kamarnya.
"Erina, apa ayah boleh masuk?" suara seseorang dari luar.
"Masuk aja yah." Jawab Erina dari dalam.
Pak Bagas akhirnya masuk ke dalam kamar putrinya, dan melihat Erina sedang menangis sambil menatap putra kecilnya.
"Erina sayang kamu kenapa? Tadi kata Noval, kalian bertemu dengan mertuamu dan gadis itu. Mereka juga menghina kamu?" tanya pak Bagas.
Erina kini mengubah posisinya menjadi duduk, di samping ayahnya. Lalu ia segera menghapus air matanya
"Iya Ayah! Tadi sepulang dari pasar malam, saat di jalan kami berpapasan dengan Bu Nurma. Aku tau mereka hanya ingin membuatku kesal, dengan memberikan undangan pernikahan, yang akan di selenggarakan seminggu lagi ." jawab Erina dengan menundukkan wajahnya.
Pak Bagas tau kalau putrinya masih meras sedih, karena belum bisa menerima suaminya sudah berkhianat.
"Erina kenapa kamu menangis? Apakah kamu masih belum rela, kalau Damar akan menikahi gadis itu?" tanya pak Bagas dengan menatap putrinya.
Erina tidak dapat menjawab pertanyaan ayahnya. Pak Bagas segera memeluk putrinya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Ayah mengerti nak kondisi kamu saat ini. Kamu belum siap menerima kenyataan Damar menikah lagi, tapi lambat laun kamu pasti bisa ikhlas." Kata pak Bagas, Erina pun mengangguk.
"Ayah yakin setelah kejadian ini, kamu dan putramu akan mendapatkan kebahagiaan. Semoga kamu menemukan pria baik yang benar-benar sayang kamu dan menerima anak kamu," ucap ayah, mendoakan putrinya.
"Amiin ... " jawab Erina.
Seminggu kemudian adalah acara resepsi pernikahan Damar dan Melody. Yang di mana sang pengantin wanita terlihat bahagia. Namun tidak dengan Damar yang menunjukkan wajahnya tanpa senyuman kebahagiaan.
Sedangkan Zainal dan Tiara, nampak tak suka. Yang menyaksikan adiknya bersanding dengan Melody, dengan pilihan mamahnya.
'Sebenarnya aku tidak ingin pernikahan ini terjadi. Aku hanya ingin Erina yang menjadi istriku, bukan dia. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Apakah aku sanggup menjalani rumah tangga dengan Melody. Sedangkan di hatiku aku saat ini hanya ada Erin ibu dari anakku. Kalau bukan karena kecelakaan malam itu, mungkin aku masih berkumpul dengan istri dan Zio.' ucap Damar dalam hatinya.
Terlihat wajah Damar tak menunjukkan wajah bahagia menikah dengan Melody, yang saat ini sedang mengandung anaknya.
Walaupun saat ini Damar sedang duduk bersama Melody di atas pelaminan, dengan pernikahan yang cukup mewah. Namun pikirannya hanya memikirkan Erina.
Sedangkan dikediaman pak Bagaskara dimana Erina, nampak tak semangat. Karena hari ini adalah acar pernikahan Damar dengan Melody, pria yang selama ini dicintainya.
Hari-hari terus berganti, kabar Erina yang sudah menjadi single parent, sudah terdengar pada semua tentang.Bahkan kabar kalau Damar sudah menikah lagi juga sudah tersebar.
Banyak orang yang membicarakan Erina, yang katanya pacaran bertahun-tahun, menikahnya hanya sebentar.
Bukan hanya itu, banyak pria yang saat melihat Erina selalu menggodanya.
Hingga suatu ketika, di saat Erina sedang membeli sayur. Banyak ibu-ibu yang berbisik- bisik membicarakannya.
"Bu hati-hati di tempat kita ada janda baru, dan masih panas. Kita harus waspada jagain suami kita, jangan sampai dia menggaet laki kita." Sindir salah satu ibu yang menggunakan daster kuning.
"Bener kamu Lusi, apalagi dia masih muda cantik pula. Pasti deh diam-diam dia mencari kesempatan sama laki-laki. Apalagi dia butuh cuan, untuk membiayai kebutuhan anaknya. Secara dia gak keja, mau punya duit dari mana? Mau nadah terus sama ayahnya, emang gak malu." kata ibu-ibu yang memakai baju merah yang terus menyiyir Erina.
"Astaghfirullah, saya tidak seperti itu. Kenapa kalian bisa menilai saya seperti itu. Saya masih punya harga diri saya juga tidak akan menggoda suami kalian!" celetuk Erina yang terlihat kesah dan menahan air matanya.
"Hei Erina, kamu tersinggung ya kami bicara tentang janda. Sorry deh kalau kamu merasa," kata ibu memakai baju kuning.
Erina tak ingin menimpali ibu-ibu yang selalu menjadi tukang gosip. Dengan menahan rasa kesalnya, ia pun segera membayar belanjaannya. Setelah itu pergi meninggalkan tempat itu, si ibu-ibu tukang ghibah.
Erina berjalan sambil menghapus air matanya, saat mengingat apa yang sudah di katakan ibu-ibu di warung.
Setelah sampai rumah Erina meletakkan belanjaannya di dapur, lalu segera masuk ke kamarnya. Bu Hesti yang melihat putrinya sambungnya merasa heran.
"Erina kenapa?"
Karena penasaran, akhirnya Bu Hesti segera menghampiri Erina di kamarnya.
"Erin, ini ibu nak," suara Bu Hesti dari luar kamar.
"Masuk Bu,"
Erina segera menghapus air matanya, saat ibunya masuk ke dalam kamarnya. Lalu duduk di sampingnya. Bu Hesti tersenyum menatap putri sambungnya terlihat seperti habis menangis.
"Kamu kenapa? Apa Damar selalu menggangu kamu lagi.?" tanya Bu Hesti.
"Tidak Bu, Damar mengganggu ku waktu dua hari yang lalu saat Noval menolong ku,"jawab Erina dengan suara yang serak habis menangis.
"Lalu kenapa kamu menangis Nak?" tanya Bu Hesti kembali.
Erina pun menceritakan apa yang terjadi, saat ibu-ibu membicarakan dan menilai buruk dirinya.
"Astaghfirullah, Bu Lusi keterlaluan. Tidak kapok kemarin sudah ibu labrak, sekarang berulah kembali!" Bu Hesti merasa geram mendengarnya.
"Ya sudah jangan khawatir, nanti kita bicarakan masalah ini dengan ayah kamu." Usul Bu Hesti membuat Erina menganggukkan kepalanya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
LISA
Yg sabar n kuat y Erin..Tuhan pasti membls perbuatan Damar n Melodi jg mantan mertuanya
2023-03-27
0