"Aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia, jika kamu bisa menepati janji kamu, Mas." Ucap Erina, Damar akhirnya membawa istrinya kedalam pelukannya.
Beberapa bulan kemudian.
Erina bersikap tidak seperti biasanya, yang biasa dia bangun awal sebelum Damar, kini terbalik.
"Sayang, bangun dong. Katanya mau temani aku jogging, tapi ini malah kamu masih bobo cantik," kata Damar, membangunkan istrinya.
"Emm! Sebentar lagi, Mas!" rengek Erina dibalik selimutnya.
"Loh sebentar lagi. Kalau begini jangan salahkan aku ya, jika aku nanti melakukan olahraga pagi disini, sama kamu!" mendengar itu mata Erina langsung terbuka.
Seketika Erina langsung terbangun, dan langsung duduk. Damar justru tersenyum melihat istrinya duduk dengan bibir cemberut.
"Ko bangun, bukannya kamu masih ngantuk ya?" tanya Damar dengan terkekeh.
"Gak jadi, aku mau bangun saja. Kalau kamu sampai berubah pikiran, aku nya yang pusing. Kamu pasti akan berubah menjadi lele nanti aku dipatil sama kamu," jawab Erina berhasil membuat Damar tertawa terbahak-bahak mendengar kata patil.
Kini Erina akhirnya ikut suaminya jogging di taman, tempat biasa untuk olahraga.Tidak seperti biasanya, Damar melihat sikap istrinya yang biasanya ikut berlari, kini hanya jalan santai, dan lebih banyak beristirahat.
Saat Damar sedang berlari dan menjauh, Erina justru berjalan menghampiri abang penjual bubur ayam. Karena sejak tadi datang, dirinya terus memperhatikan, dan ingin sekali memakannya.
"Pak bubur ayamnya 1 porsi ya," kata Erina yang memesan, sambil mencari tempat duduk.
"Iya Mbak, mau makan di sini atau di bawa pulang?" tanya abang penjualnya.
"Makan di sini aja pak," jawab Erina.
Sedangkan Damar jogging, matanya mencari dimana istrinya. Setiap tempat di lihat, tidak ada Erina di sana. Saat melihat disisi kiri, dirinya melihat seorang wanita yang dirinya kenal, dan ternyata itu adalah pujaan hatinya.
Damar pun berjalan menghampiri istrinya, dimana dirinya melihat Erina sedang asyik menikmati sarapan bubur ayam.
"Eemm ... bagus ya! Aku cariin, ternyata orangnya sedang asik makan bubur ayam, gak ngajak- ngajak aku lagi!" ucap Damar tiba-tiba duduk di sebelah sambil mencebikkan bibirnya.
"Hihihi ... iya maaf Mas aku tiba-tiba ingin sarapan bubur, mau nungguin kamu kelamaan! Mangkanya aku sendiri kesini, aku yakin kamu pasti akan cari aku," jawab Erina sambil melanjutkan makannya.
"Pede banget kamu, aku akan cari kamu. Kalau aku tinggal kamu bagaimana?" tanya Damar, dengan pandangan mata ke arah mangkuk bubur.
Damar merasa bubur yang dimakan istrinya, sudah memanggil namanya, agar ikut menyantap bubur ayamnya.
"Kamu mau Mas? Aku pesankan satu porsi lagi ya, untuk kamu?" tanya Erina, dan Damar mengangguk.
Kini keduanya sedang menikmati sarapan bubur ayamnya. Sebenarnya Damar tidak ingin sarapan bubur, karena dirinya habis membakar kalorinya, namun karena melihat istrinya begitu nikmatnya memakan bubur. Jadi dirinya tergiur menyantap makanan yang terbuat dari bahan dasar beras yang di masak.
Keesokan harinya.
Erina sedang berada di dalam tandas. Merasa bahagia dengan apa yang baru saja dia lihat, sebuah benda kecil menunjukkan garis dua. Rasa tak percaya kini dirasakannya, kalau pernikahannya akan hadir buah cinta mereka.
Damar yang mengetuk pintu, karena istrinya di dalam sudah cukup lama.
"Sayang, kamu lagi ngapain di dalam?" panggil Damar dar luar.
Tidak lamanya, pintu terbuka. Terlihat Erina yang keluar dari dalam tandas, dengan wajah menunduk dengan raut wajah sedih. Damar merasa heran dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Kamu kenapa sayang? Ko wajah kamu sedih begitu?" Damar mendekati istrinya melihat terlihat habis menangis, lalu membawanya kedalam pelukannya.
"Aku yakin, kamu pasti habis ngecek ya? Lalu hasilnya gagal lagi?" tanya Damar dan Erina hanya diam. "Sayang, aku sudah bilang, kita jalani aja jangan kamu cek terus tiap bulan! Ujung-ujungnya kamu kecewa dengan hasil kamu ini,"
Damar sudah tau, setiap bulan Erina selalu mengecek alat tes kehamilan, dan hasil selalu negatif. Itu membuatnya setiap pagi setelah habis cek, dirinya selalu menangis.
Erina ingin sekali cepat hamil dari hasil cinta mereka, namun apalah daya, tuhan belum mempercayai dirinya untuk mendapatkan malaikat kecil untuk menemani hari-harinya.
"Coba aku lihat alat itu, biar aku buang! Aku tidak ingin setiap kali kamu melihat hasilnya, kamu selalu menangis!" kata Damar dengan kesal, Erina menggelengkan kepalanya.
Damar mengambil alat itu dari tangan Erina. "Jangan di buang Mas!" pinta Erina.
"Enggak, aku ingin lihat, dan aku buang. Karena alat itu, kamu sampai menangis seperti ini!" Kata Damar, yang saat ini melihat hasil alat itu.
Damar tercengang saat melihat ternyata dua garis pada alat itu, dan segera menatap Erina yang sedang tersenyum.
"Sayang, ini?" tanya Damar, dan Erina pun mengangguk. "Jadi ini positif, kamu ...?" ada senyuman bahagia di bibir Damar.
"Iya Mas, aku hamil," jawab Erina, mata Damar pun mengembun.
Damar pastinya sangat bahagia, karena sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua. Saking bahagianya, Damar menggendong Erina ala bridal style, dan dirinya berputar.
"Hahaha ... akhirnya aku akan memiliki baby, aku akan menjadi ayah," kata Damar, dengan rasa bahagianya.
"Aaaaa ... mas, turun 'kan aku! takut aku mas, kamu gendong dan kamu berputar seperti ini." Teriak Erina, disertai tawanya.
Kini di kamar mereka hanya terdengar suara kebahagiaan, yang menyelimuti seluruh ruangan.
Saat sarapan bersama, tangan Erina dan Damar saling berpegangan tangan. Senyuman pun juga terpancar di wajah mereka.
Bu Nurma melihat kebersamaan putranya dengan Erina, nampak tak suka. Sedangkan Zainal dan istrinya nampak heran melihat Damar yang selalu tersenyum.
"Damar, kamu tidak ke kantor?" tanya Bu Nurma.
"Tidak Mah, hari ini aku mau mengantar Erina ke Dokter," jawab Damar, disertai senyuman.
"Ke Dokter?" tanya Zainal, di angguki oleh Damar. "Erina sakit, kenapa kamu antar istrimu kesana?"
Damar tersenyum, begitupun Erina. "Istriku tidak sakit, melainkan aku ingin mengantar cek kandungan,"
Mendengar itu, seluruh keluarga terkejut. Hanya Zainal dan istrinya, yang terlihat tersenyum mendengar kehamilan Erina. Tapi tidak dengan Bu Nurma dan putri bungsunya, nampak tak suka mendengar berita bahagia dari mereka.
"Kalau begitu selamat untuk kalian yang akan menjadi orang tua," Kata Zainal, membuat sang istri menundukkan kepalanya.
"Selamat juga untuk kalian, dan pasti kamu sangat bahagia, karena sudah di percaya mendapatkan titipan yang berharga dari Tuhan," timpal Tiara, membuat Zainal dan semuanya menatapnya.
"Sayang," Zainal menggenggam erat tangan istrinya.
"Aku gak apa-apa ko! Kalau begitu, maaf aku mau ke kamar dulu," ucap Tiara yang meninggalkan kursi makannya.
Sedangkan Erina hanya menundukkan kepalanya, merasa tak enak hati. Melihat kakak iparnya sedih, karena dirinya belum juga hamil. Sedangkan usia pernikahannya sudah berjalan tiga tahun lamanya.
"Maafkan aku Kak Zainal, sudah membuat kak Tiara sedih. Jujur aku tidak bermaksud membuatnya seperti itu," ucap Erina menundukkan kepalanya.
"Ya ampun Erina, kamu kenapa yang merasa bersalah. Justru Kakak senang mendengar kabar, kalau kamu sudah hamil. Berarti rumah ini akan terisi suara tangisan lucu dari anak kecil," kata Zainal, agar Erina tidak terus merasa tak enak hati. "Dengarkan Kakak ya, kamu jaga baik-baik kandungan kamu, dan kesehatanmu! Kamu juga Damar, perhatikan kehamilan istri kamu, jangan buatnya sedih!"
"Pasti Kak, aku akan jaga Erina dan kehamilannya." Ucap Damar menggenggam erat tangan istrinya.
Melihat kedua putranya begitu amat perhatian dengan Erina. Bu Nurma dan Denada, nampak tak suka melihatnya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments