Pelajaran untuk Damar

Pak Bagaskara yakin kalau sesuatu sudah terjadi pada anaknya. Namun beliau tidak ingin bertanya dulu, biarkan putrinya tenang.

"Sudah jangan nangis seperti ini, kasian anak kamu ngeliatin mamanya terus. Ada apa dengan mama aku ya?" ucap pak Bagas memperagakan suara anak kecil.

Erina pun tersenyum mendengar ayahnya bicara. "Yuk masuk!" sambil membawa anak dan menantunya.

Sedangkan tas dan kopernya dibawa dengan dibantu oleh pak Joko supir pribadi Zainal, untuk mengantar istrinya.

"Oh iya, hampir lupa." pak Bagas menoleh ke belakang. "Joko kamu mau kopi? biar dibuatkan,"

"Tidak usah Pak Bagas, saya langsung pulang saja. Terimakasih tawarannya!" jawab pak Joko. "Kalau begitu saya izin pamit, mau langsung pulang!" pamitnya.

"Terimakasih ya Pak, sudah mengantarkan saya kesini." ucap Erina, dan di angguki oleh supirnya.

"Sama-sama Bu Erin. Kalau begitu saya harus pamit ya. Assalamu'alaikum," pamitnya pak Joko.

"Waalaikumsallam! Terimakasih dan hati-hati pak Joko." timpal pak Bagas.

Kini pak Joko sudah meninggalkan rumah pak Bagas, dari dalam ada Bu Hesti ( ibu sambung) dan ketiga anaknya. Keluar saat mendengar suara Erina.

"Erina," panggil Bu Hesti menghampiri putri dan cucunya. Erina mencium tangan ibu sambungnya.

"Kak Erin," panggil seorang gadis, yang tak lain adik bungsunya bernama Kinan

"Kinan. Ya ampun kakak kangen banget sama kamu dek,"jawab Erina dengan memeluk adiknya.

"Dengan Kinan aja nih! Terus dengan Noval!" timpal adik Erina yang nomor dua.

"Noval, kakak juga kangen sama kamu Dek." Erina pun memeluk adiknya.

Erina melihat adik pertama bernama Asqia, terlihat dia menunjukkan raut wajah biasa saja.

"Asqia, bagaimana kabar kamu Dek?" sapa Erina

"Yang kamu lihat aku sekarang bagaimana!" jawabnya dengan ketus.

Pak Bagas melihat putri keduanya, benar-benar membuatnya kesal.

"Qia, bisa tidak kamu menjawabnya dengan sopan!"tegur pak Bagas.

"Aku tidak sopan bagaimana si Yah? Sekarang kak Erina lihat, aku berdiri apa terbaring lemah. Sekarang aku berhadapan dengannya? tandanya aku sehat. Begitu aja di perdebatkan segala!" cetus Asqia dengan raut wajah kesalnya.

"Asqia!" tegur Bu Hesti membuat putrinya diam dan langsung pergi meninggalkan keluarga dengan rasa kesalnya.

Erina hanya menatap kepergian adiknya dengan rasa sedih. Karena memang Asqia lah yang selalu tak suka sejak tumbuh dewasa. Padahal waktu masih kanak-kanak mereka bermain bersama.

"Sudahlah Erin, adikmu yang satu itu memang berbeda dengan yang lainnya. Sekarang kamu istirahat ya! Noval, bantu bawa tas Kakak kamu ke kamarnya.!" ucap Bu Hesti, yang di angguki oleh putranya.

Kini Erina sedang berada di dalam kamarnya. Yaitu sebuah ruangan yang pernah dia tempati waktu sebelum menikah dengan Damar. Sekarang dia harus kembali menempatinya kembali, sepulang dari sana.

Putra kecilnya yang tertidur dengan sangat pulas dan begitu tenang. Erina tersenyum melihat malaikat kecilnya, hasil buah cintanya dengan Damar. Berharap akan membesarkan dia sampai dewasa bersama-sama, namun justru kenyataannya tidak sesuai. Suami yang sangat dia percaya dan dia cintai, telah mengecewakannya.

Tok ... tok ... tok!

Suara ketukan pintu kamar Erina dari luar.

"Masuk aja, aku tidak kunci!" jawab Erina dari dalam kamar.

ceklak!

Pintu terbuka, terlihat pak Bagas dan Bu Hesti yang datang, dengan tersenyum. Erina pun membalas senyumannya.

"Ayah, ibu. Kalian belum tidur?" tanya Erina menggeser duduknya. " Sini Bu duduk!" ajak Dira menempuk di sebelahnya.

Pak Bagas dan istrinya melihat sikap putrinya sedikit berubah, merasa khawatir. Kini keduanya sudah duduk dengan posisi Erina berada di tengah-tengah mereka.

"Nak, kamu katakan sama ayah. Apa yang kamu sembunyikan dari kami? Sejak sampai di rumah kamu selalu menangis kesendirian kamu,"

Erina menundukkan kepalanya bingung ingin mengatakan apa, kepada orang tuanya.

"Ayah tau kamu sedang ada masalah? Katakan sama kami nak, apa yang sudah terjadi? Sampai kamu membawa tas besar itu!" sambil menunjuk koper hitam di sudut tempat tidur.

"Kamu kenapa sayang, kamu bisa bilang sama ibu." Bu Hesti menggenggam tangan putri sambungnya.

Terlihat pundak Erina bergetar saat dirinya tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Isak tangis pun terdengar dari mulutnya.

Hiks ... hiks ... hiks!

Erina menangis tak sanggup lagi ia menahan sakit yang saat ini dia rasakan.

"Aku pergi dari rumah. A ... aku tak sanggup lagi tinggal di sana. Hidup seatap dengan pria yang sudah mengkhianati sebuah pernikahan!" Jelas Erina dengan suara yang parau disertai tangisan.

Mereka terkejut mendengarnya. pak Bagas segera memeluk putri yang begitu amat ia sayangi. Di sana Erina kembali menangis membuang rasa sesaknya.

Bukan hanya Erina yang menangis, Bu Hesti pun juga turut merasakan kesedihan putrinya. Sedangkan pak Bagas mengepalkan tangannya mengingat manantunya sudah menyakiti hati anaknya.

"Ayah, Ibu. Boleh 'kan aku tinggal di sini kembali! Bersama dengan kalian semua?" tanya Erina dengan wajah memohon.

"Kamu boleh tinggal disini sampai kapanpun. Ayah justru senang kamu kembali, dan tidak tinggal di rumah manusia yang tidak punya perasaan seperti ibu mertua kamu itu!" ucap pak Bagas dengan emosinya.

Pastinya mereka tak keberatan jika putrinya tinggal bersama kembali.Bu Hesti ikut merasakan kesedihan putri sambungnya.

Sebenarnya dahulu ia sangat tidak menyukai dan membenci Putri sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu dengan kebaikan hati yang dimiliki Erina Akhirnya Bu Hesti sudah menganggap Erina seperti anaknya sendiri.

Sebenarnya dahulu saat Erina kecil, dan Bu Hesti pun memiliki seorang putri yaitu Asqia. Dirinya sangat tak menyukainya, bahkan anak sambungnya sering ia marahi.

Namun seiringnya waktu, Bu Hesti pun akhirnya luluh dan sangat menyayangi nya.

Next.

Sedangkan di sebuah rumah yang besar seorang pria sedang meratapi kesedihannya. Wanita yang selama ini sangat dia sayangi kini sudah pergi meninggalkannya.

"Aaaaaaaa!" teriak Damar seorang diri di kamar yang gelap dan sepi.

"Erina, jangan pergi, aku mohon kembalilah!" ucap Damar dengan tatapan kosongnya.

Damar pun akhirnya tertidur dengan membawa kesedihannya, karena istrinya sudah pergi meninggalkannya. Kini hanya ada rasa penyesalan yang menyelimuti dirinya.

Keesokan harinya, Bu Hesti dan pak Bagas sedang mengajak main cucunya, di ruang TV. Terlihat raut bahagia terpancar di wajah mereka berdua. Sedangkan Erina, yang masih berada di kamar, sedang merasa kurang sehat.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang menggedor pintu dengan sangat keras.

Tok ... tok ... tok!

"Erina!" panggil suara dari luar.

Pak Bagas dan Bu Hesti saling menatap.

"Yah, apa itu Damar yang datang?" tebak Bu Hesti.

"Kalau memang dia, itu sangat bagus. Karena aku sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepadanya!" jawab pak Bagas menahan geramnya.

Bu Hesti lalu menitipkan baby Zio kepada Kinan, si putri bungsunya. Karena tidak mungkin jika cucunya di berikan ke Erina karena kondisinya yang sedang sakit.

Pak Bagas pun membukakan pintu rumahnya dengan wajah yang garang. Damar yang melihat langsung menghampiri dan hendak mencium tangannya, namun ditepis oleh nya.

"Ayah apa Erina ada di dalam?" tanya Damar ke pak Bagas

"Mau apa kamu mencari putri saya! Belum puas kamu sudah menyakiti hatinya?" Kata pak Bagas dengan nada emosi.

"Aku akan jelaskan semua kepada ayah. Tapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk menemui Erina!" kata Damar dengan memohon.

"Kesempatan untuk apa? Untuk melihat kamu dengan selingkuhan kamu! Laki-laki macam apa kamu? Mengingkari janji yang sudah kamu ucapkan untuk menjaga putri saya dan tidak menyakiti dia. Tapi nyatanya apa? kamu sudah mengingkarinya. Sekarang putri saya sakit, semua karena ulah kamu!"

Mendengar Erina sakit, Damar terkejut mendengarnya.

"Erina sakit? Ayah izinkan aku menemui istriku, aku mohon ayah!" ucap Damar menelungkupkan kedua tangannya.

"Istri, masih bisa kamu bicara seperti itu. Setelah apa yang kamu lakukan kepada anak saya!" hardik pak Bagas ke Damar.

"Ayah aku mohon, aku ingin menemui anak dan istriku!" kata Damar dengan emosinya.

Damar mencoba menerobos masuk, namun pak Bagas menghalanginya, lalu memberikan sedikit pelajaran kepada Damar.

BUUGGH!

Damar pun tersungkur ke bawah, dengan sudut bibir mengeluarkan darah segar.

"Pergi kamu dari rumah saya! Saya tidak Sudi putri saya bertemu dengan kamu lagi!" hardik pak Bagas, lalu meninggalkan Damar yang masih tersungkur meratapi nasibnya.

Bersambung...

"

Terpopuler

Comments

LISA

LISA

Damar udh selingkuh msh aj mau menemui Erina..jelas aj Pak Bagas melarang.

2023-03-23

1

lihat semua
Episodes
1 Awal cerita
2 Ibu mertua
3 Menantu tak di anggap
4 Erina Hamil
5 Baby Zio
6 Baby Arkana
7 Ulang tahun Zio
8 Gelisah
9 Perubahan sikap
10 Damar merasa gelisah
11 Ke rumah orang tua
12 Pelajaran untuk Damar
13 Berpisah
14 Noval emosi
15 Ibu-ibu tukang gosip
16 Erina, dan Asqia
17 Kembali ke rumah lama
18 Kedatangan Zainal
19 Sebuah Rahasia
20 Tempat tinggal baru
21 Seseorang yang di kenal
22 Ferdian
23 Bunda Nabila dan Ferdian
24 Zio terus memanggil Ferdian
25 Zio sakit
26 Di perbolehkan pulang
27 Isi hati
28 Love you
29 Pulang ke rumah
30 Pergi untuk selamanya
31 Kesedihan dan ketakutan Erina
32 Pengakuan Erina.
33 Ikut bersama kamu
34 Ferdian dan pak Bagas
35 Datangnya Zainal dan Tiara
36 Sambutan Hangat
37 Permainan perdana
38 Pacaran
39 Kagum dengan istri
40 Tersimpan dengan rapih
41 Melepaskan diri
42 Kamu harus kuat
43 Bukti CCTV
44 Erina di perbolehkan pulang
45 Mendiami istrinya
46 Jalan-jalan
47 Membentak untuk pertama kalinya
48 Keributan di rumah
49 Membuat keributan
50 Aku sangat mencintai kamu
51 Kedatangan Bu Nurma dan Melody
52 Suami yang posesif
53 Dua pengawal
54 Cantik dan menggemaskan
55 Laki-laki seperti ayah
56 Kedatangan Asqia
57 Qia menginap
58 Jangan kurang ajar
59 Emosi Kinan
60 Sakit hatiku rasanya
61 Ferdian sakit.
62 Tetapi dia sudah jahat
63 Ayam goreng
64 Dokter Tommy
65 Masa lalu Ferdian
66 Nenekku 1
67 Nenekku 2
68 Ke rumah Bu Hesti
69 Pernikahan Joddy dan Kinan
70 Pertandingan
71 Session berikutnya
72 Bareng keluarga
73 Bintang Laut
74 Sengatan Cinta
75 Noval Pengganti Ayah
76 Aku berangkat ya
77 Sangat merindukan istrinya
78 Rumah sakit
79 Ferdian dan Joddy datang.
80 Berdoa untuk Erina
81 Erina membuka matanya
82 Rasa nyeri
83 Menemukan
84 Merindukan suaminya
85 Zio bersedih
86 Tiga orang tersangka
87 Istri dan anak-anakku sehat
88 Kesebuah taman
89 Erina cemburu
90 Menggoda Erina
91 Asqia tertangkap
92 Mainan barunya
93 Kebebasan Qia, dan kedatangan Adzriel
94 Gelang pemberian nenek
95 Asqia menikah
96 Tentang Noval
97 Bertemu mantan
98 Wanita satu-satunya
99 Membawa Kinan ke rumah sakit
100 Takut jarum
101 Pengumuman Novel baru gaes ....
102 Kedatangan pengantin baru
103 Asqia akan melahirkan
104 Akhir kebahagiaan keluarga.
105 Pengumuman Karya baru.
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Awal cerita
2
Ibu mertua
3
Menantu tak di anggap
4
Erina Hamil
5
Baby Zio
6
Baby Arkana
7
Ulang tahun Zio
8
Gelisah
9
Perubahan sikap
10
Damar merasa gelisah
11
Ke rumah orang tua
12
Pelajaran untuk Damar
13
Berpisah
14
Noval emosi
15
Ibu-ibu tukang gosip
16
Erina, dan Asqia
17
Kembali ke rumah lama
18
Kedatangan Zainal
19
Sebuah Rahasia
20
Tempat tinggal baru
21
Seseorang yang di kenal
22
Ferdian
23
Bunda Nabila dan Ferdian
24
Zio terus memanggil Ferdian
25
Zio sakit
26
Di perbolehkan pulang
27
Isi hati
28
Love you
29
Pulang ke rumah
30
Pergi untuk selamanya
31
Kesedihan dan ketakutan Erina
32
Pengakuan Erina.
33
Ikut bersama kamu
34
Ferdian dan pak Bagas
35
Datangnya Zainal dan Tiara
36
Sambutan Hangat
37
Permainan perdana
38
Pacaran
39
Kagum dengan istri
40
Tersimpan dengan rapih
41
Melepaskan diri
42
Kamu harus kuat
43
Bukti CCTV
44
Erina di perbolehkan pulang
45
Mendiami istrinya
46
Jalan-jalan
47
Membentak untuk pertama kalinya
48
Keributan di rumah
49
Membuat keributan
50
Aku sangat mencintai kamu
51
Kedatangan Bu Nurma dan Melody
52
Suami yang posesif
53
Dua pengawal
54
Cantik dan menggemaskan
55
Laki-laki seperti ayah
56
Kedatangan Asqia
57
Qia menginap
58
Jangan kurang ajar
59
Emosi Kinan
60
Sakit hatiku rasanya
61
Ferdian sakit.
62
Tetapi dia sudah jahat
63
Ayam goreng
64
Dokter Tommy
65
Masa lalu Ferdian
66
Nenekku 1
67
Nenekku 2
68
Ke rumah Bu Hesti
69
Pernikahan Joddy dan Kinan
70
Pertandingan
71
Session berikutnya
72
Bareng keluarga
73
Bintang Laut
74
Sengatan Cinta
75
Noval Pengganti Ayah
76
Aku berangkat ya
77
Sangat merindukan istrinya
78
Rumah sakit
79
Ferdian dan Joddy datang.
80
Berdoa untuk Erina
81
Erina membuka matanya
82
Rasa nyeri
83
Menemukan
84
Merindukan suaminya
85
Zio bersedih
86
Tiga orang tersangka
87
Istri dan anak-anakku sehat
88
Kesebuah taman
89
Erina cemburu
90
Menggoda Erina
91
Asqia tertangkap
92
Mainan barunya
93
Kebebasan Qia, dan kedatangan Adzriel
94
Gelang pemberian nenek
95
Asqia menikah
96
Tentang Noval
97
Bertemu mantan
98
Wanita satu-satunya
99
Membawa Kinan ke rumah sakit
100
Takut jarum
101
Pengumuman Novel baru gaes ....
102
Kedatangan pengantin baru
103
Asqia akan melahirkan
104
Akhir kebahagiaan keluarga.
105
Pengumuman Karya baru.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!