Selama bercerai pun, hidup Erina tak pernah tenang. Damar selalu datang disela waktunya untuk menemui Zio putranya. Namun ketika melihat melihat ibu dari putranya, dia selalu mencari kesempatan mengatakan, kalau dirinya ingin mengajak balikan kembali pada mantan istrinya itu.
Hingga dua bulan kemudian, Erina bersama kedua adiknya yaitu Noval dan Kinan sedang mengajak baby Zio untuk menikmati wahana permainan pasar malam yang berada tak jauh dari rumahnya.
Saat berada di sebuah permainan di mana Zio sedang menaiki kereta mini, yang dimana banyak anak kecil seusianya Ezio, dengan di pasangkan sabuk pengaman.
Baby Zio pun juga sudah bisa duduk dengan seimbang, dan itu membuat Erina merasa lega saat putranya naik permainan itu.
"Kak Erin aku mau beli minuman di depan sana. Kalian mau aku belikan sekalian tidak?" Tanya Noval adik Erina.
"Ya sudah boleh, kebetulan kakak juga haus, Kinan kamu juga haus 'kan? tanya Erina kepada adik perempuannya.
"Iya kak aku haus," jawab Kinan.
"Tuh Kinan juga Hau, jadi belikan sekalian ya," kata Erina dengan tersenyum.
"Siap kak! Ya sudah aku ke depan dulu ya beli minum." Erina pun mengangguk
Noval pun akhirnya berjalan untuk membeli minuman, untuk kakaknya dan juga adiknya .
Sedangkan Erina sendiri, masih memperhatikan putra kecil yang sedang menaiki kereta mini, yang berada di pasar malam. Zio terlihat tertawa ceria saat menaiki permainan itu, dengan duduk bersebelahan dengan seorang anak kecil perempuan sebayanya.
Meskipun usianya baru menginjak satu tahun, tiga bulan. Tetapi baby Zio sudah berani duduk sendiri tanpa harus didampingi oleh ibunya. Erina merasa tidak terlalu khawatir karena selain itu Ezio juga dipasangkan sabuk pengaman agar tidak terjatuh.
Setelah puas berkeliling dan menikmati permainan, yang ada di pasar malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang.
Ketika di perjalanan Erina bersama adik-adiknya sedang melangkah. Tiba-tiba di pertengahan jalan mereka dihadang dengan mobil yang berhenti mendadak
"Siapa sih ini orang! Sembarangan aja kalau menghentikan mobil. Dia pikir ini jalanan kakek moyangnya kali ya!" gerutu Noval.
"Iya sembarangan mentang-mentang orang kaya. Kalau parkir mobil suka sembarangan!" timpal Kinan yang juga ikut geregetan
"Ya sudah. Yuk kita jalan di sampingnya aja! Biarkan mobil itu berhenti di sini kita tetap lanjut jalan." Ajak Erina yang tak mau ambil pusing karena mobil itu yang berhenti mendadak depannya
Karena posisi mereka saat ini berada di belakang mobil. Akhirnya mereka bertiga melanjutkan langkahnya lewat sisi samping mobil.
Namun saat hendak melangkah. Tiba-tiba pintu mobil itu terbuka, dan terlihat kaki seorang perempuan, yang menggunakan sepatu high heels, yang akan keluar dari dalam mobil.
Saat yang mengendarai mobil itu keluar Erina terdiam, karena merasa mengenali siapa wanita itu.
"Hai Erina apa kabar?" sapa seorang gadis menggunakan kacamata dengan tersenyum.
Erina tidak menunjukkan ekspresi apapun, hanya menatap gadis itu dengan wajah datarnya. "Mau apa kamu ke sini ?" tanya Erina sambil menggendong baby Zio yang tertidur di pelukannya.
"Uuuhh ... kok jutek banget sih," kata gadis itu dengan tersenyum meledek Erina.
Saat itu juga seorang wanita paruh baya keluar dari dalam mobil, dengan tersenyum sinis menatap Erina tatapan rendah
"Hai mantan menantu," sapa wanita itu dengan tersenyum sinis.
Noval dan Kinan menatap dua orang wanita, yang kini berada di hadapannya. Mereka dengan tatapan tak suka.
Bagaimana tidak, dua wanita itu adalah Melody, wanita yang sudah merusak rumah tangga kakaknya, dan juga Bu Nurma yang tak lain ibu mertua yang berhati jahat.
Bu Nurma menatap Erina dengan tatapan rendah, dan Noval tak suka saat melihat wanita paruh baya itu. Apalagi dengan wanita di sebelahnya dengan sombong dan angkuhnya.
Erina melihat Melody yang saat ini dia lihat, berbeda. Wanita itu terlihat sombong saat ini di hadapannya. Tidak seperti saat Damar kenalkan kepadanya waktu itu, terlihat ramah, dan sopan. Sungguh berubah drastis sikapnya.
"Memang ya. Gadis seperti kamu itu cocok sekali hidup seperti ini. Kamu itu memang tidak pantas hidup bahagia dengan Damar putra saya, kita beda kasta!" ucap Bu Nurma dengan angkuh yang masih saja menghina Erina, dan untuk kali ini di depan mata kedua adiknya.
Mendengar itu entah kenapa Erina masih merasakan sakit. Namun ia berusaha bersikap biasa saja, saat wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya itu menghinanya.
Noval yang mendengarnya, merasa sangat geram. Ingin sekali ia menutup mulut wanita tua itu, dengan lakban. Apalagi saat kakaknya dihina seperti itu tepat di hadapannya, hatinya juga merasa panas.
"Hai ibu tua, hentikan ucapan anda itu! Maaf jika bicara saya kurang ajar, kepada anda. Tetapi memang manusia seperti anda itu memang pantas diperlakukan tidak sopan!" kata Noval dengan tatapan tajam menatap bu Nurma.
Pastinya Bu normal menunjukkan raut wajah yang tak suka kepada Noval yang berani mengatakan itu kepadanya. Sambil mengepalkan kedua tangannya menahan rasa geramnya.
"Hei! Berani sekali kamu mengatakan itu kepada orang yang lebih tua dari kamu. Dasar anak tak tahu sopan santun! Kamu itu ternyata mirip sekali dengan kakak kamu, yang tidak punya etika dan tata Krama terhadap orang yang lebih tua dari kamu!" hardik Bu Nurma.
Namun Noval hanya tersenyum meledek mendengar ucapannya, dan itu membuat Bu Nurma terlihat kesal.
"Ibu mengatakan kalau Bu Nurma itu orang tua. Tetapi bicara ibu itu seperti orang yang tidak berpendidikan, di mana tata krama dan sopan santun yang anda katakan kepada saya." Jawab Noval dengan wajah menantang, dan membuat wanita yang pernah menjadi mertua kakaknya terlihat kesal.
"Noval hentikan, jangan bicara seperti itu. Ayah dan Kakak tidak pernah mengajarkan kamu, untuk tidak sopan dengan orang yang lebih tua dari kamu!" kata Erina menasehati adiknya yang terlihat emosi.
Kini baby Zio berpindah dengan Kinan.
"Kakak jangan takut dengan wanita seperti dia ini. Orang seperti Bu Nurma harus di berikan pelajaran, agar dia tau rasanya di hargai!" ucap Noval dengan terlihat emosi.
"Ibu bisa dengar, kakak dan orang tua saya tidak pernah mengajarkan kami untuk tidak sopan dengan orang yang lebih tua dari kami. Tapi jika kami tidak dihargai atau di rendahkan oleh kalian! Maaf rasa hormat dan sopan saya tidak berlaku untuk anda!" Melody dan Bu Nurma terlihat kesal karena berhasil di permalukan oleh Noval di depan orang banyak.
"Noval!" tegur Erina namun adiknya sudah teramat kesal melihat sikap Bu Nurma yang menghina kakaknya.
"Kalau ibu tidak menyukai Kakak saya, tidak apa. Tapi setidaknya ibu hargai anak kecil ini, bagaimanapun dia ini adalah cucu Bu Nurma sendiri. Seharusnya anda malu untuk mengatakan itu di depan Zio, putra kak Damar. Pasti dia sangat sedih, karena mendengar ibunya selalu di benci oleh neneknya sendiri!" jelas Noval, membuat Bu Nurma terdiam dengan perkataan adik dari mantan menantunya.
Melody terlihat amat kesal dengan adik Erina yang membuatnya malu. Berniat hati ingin mempermalukan mantan istri Damar, justru kini terbalik. Semua itu karena adanya Noval di samping Kakaknya.
"Saya tidak ingin membuat keributan di sini. Saya hanya ingin memberikan kamu sesuatu!" ucap Melody dengan sombong.
Gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya sebuah undangan berwarna tosca, lalu di berikan kepada Erina.
Saat Erina lihat undangan itu, terlihat yang di mana terdapat tulisan nama Damar dan Melody di halaman depannya. Seketika tangannya tiba-tiba bergetar, nafasnya terasa sesak. Namun dengan cepat Noval mengambil kertas itu dari tangan Kakaknya.
"Seminggu lagi aku dan Damar akan melangsungkan pernikahan tentunya sangat meriah. Jika memang sempat kamu datang ya melihat kebahagiaan kami di pelaminan," dengan tersenyum sinis Melody pun segera masuk kedalam mobil, yang di mana Bu Nurma sudah masuk lebih dulu.
Kini mobil itu sudah melaju meninggalkan Erina dan adiknya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
LISA
Bener2 nyebelin bgt tuh bu Nurma n Melodi..y skrg mau nikah sm Damar n jdi org kaya mknya sikapnya berubah bgt..
2023-03-27
0