Melihat kedua putranya begitu amat perhatian dengan Erina. Bu Nurma dan Denada, nampak tak suka melihatnya.
"Dasar ipar tak punya perasaan! Sudah tau Kak Tiara, belum di berikan momongan, pake pamer kehamilan segala." Sindir Denada, yang tak lain adik dari Damar.
"Dena," tegur Zainal kepada adik bungsunya.
"Apa! Memang aku salah ya, bilang itu ke dia," dengan pandangan mata ke arah Erina dengan tatapan sinis. "Dia itu gadis jahat, sengaja memamerkan kehamilannya di sini. Padahal dia tau, kalau Kak Tiara suka sedih kalau di bilang tentang kehamilan. Mangkanya kita tidak pernah mengatakan itu di depannya. Malah dia bilang di sini!"
"Benar yang di katakan adik kamu Zainal. Dia sudah membuat Tiara sedih, dasar gadis tidak punya sopan!" Maki Bu Nurma.
Seketika air mata Erina lolos begitu saja, mendengar perkataan adik ipar, dan mertuanya.
"Mah, cukup! Jangan buat istriku sedih, dia sedang hamil. Mama selalu saja menghina Erina, apa salah dia ke Mama?" Damar terlihat emosi mendengar hinaan untuk wanita yang begitu sangat dia cintai.
"Mah, Erina itu juga menantu Mama, sama seperti Tiara. Kenapa Mama sangat membencinya, apalagi sekarang dia sedang mengandung." Timpal Zainal.
Bu Nurma tersenyum sinis menatap Erina.
"Hebat sekali kamu ya! Kamu pakai cara apa? Sampai kedua putraku membela kamu seperti itu!"
"Mah!" saat Damar ingin menjawab, Erina melarangnya.
"Tapi sayang, kamu selalu ..." Erina menggelengkan kepalanya.
"Jangan Mas! Mama itu orang tua kamu, aku tidak ingin kamu melawannya!" kata Erina dengan nada memohon.
Damar akhirnya diam, menuruti perintah istrinya untuk diam.
"Maaf! Kalau sarapannya jadi tidak nyaman karena aku. Kalau begitu aku izin pamit ingin masuk ke kamar," ucap Erina, yabg hendak berdiri.
"Bagus kalau kamu sadar diri! Karena kehadiran kamu, hanya membuatku menjadi tidak menikmati sarapan yang disini." Kata Bu Nurma dengan ketus.
Tanpa pikir panjang Erina melangkah menuju kamarnya, dengan rasa sakit hati yang di rasa, apa yang di katakan ibu mertuanya. Tidak lamanya, Damar datang, dan langsung memeluk erat istrinya. Karena dia tau, ucapan mamanya sudah membuatnya terluka.
"Sayang maafkan mama, karena ucapannya yang begitu kasar, dan membuat kamu terlika," kata Damar, dengan memeluk erat Erina.
Hiks hiks hiks!
Erina tidak menjawab hanya terdengar suara Isak tangis saja. Damar benar-benar merasa bersalah dengan istrinya, karena keluarganya sering berkata kasar dan membuat istrinya menangis.
Setelah cukup lama, Damar berhasil membuat Erina tenang. Terlihat wajah cantiknya sudah menunjukan senyumnya yang terlihat manis.
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya, saat Damar membukanya ada Kakak iparnya yang berada didepan kamar.
"Damar, istri kamu ada?" tanya Tiara. "Aku ingin bicara sebentar dengan Erina,"
"Masuk aja Kak! Erina di dalam," jawab Damar. " Sayang, Kak Tiara mencari kamu nih!" kata Damar, memberitahu istrinya.
"Masuk aja Kak! Kalau begitu aku ke luar sebentar," Tiara mengangguk.
Kini Tiara dan Erina sedang duduk di sofa dikamar Erina. Terlihat mata Erina yang sembab, habis menangis.
"Maaf ya, karena aku jadi kamu yang terkena marah Mama," kata Tiara menyentuh tangan Erina.
"Kakak bicara apa sih? Ini bukan salah kamu kak, justru aku yang harus minta maaf, karena sudah membuat kamu sedih." Timpal Erina.
"Kamu selalu saja seperti itu! Tadi, mas Zainal sudah menceritakan semuanya ke aku. Mama mengatakan sesuatu yang membuat kamu sedih,"
Dua wanita yang saling mengerti kondisi masing-masing, saling menghibur satu sama lain. Erina bahagia ternyata Kakak dan iparnya baik dengannya. Meskipun adik dan ibu mertuanya, membencinya, tapi setidaknya ada yang mengerti dan menghargai perasaannya.
"Kamu jangan sedih lagi ya. Pokoknya kita harus berdoa, untuk kebaikan keluarga kita ini. Pokoknya kamu jangan berpikir, tidak ada yang peduli dengan kamu, ingat masih ada aku dan mas Zainal." Ucap Tiara dan Erina pun mengangguk.
Erina dan Tiara berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.
Hari terus berganti menjadi bulan. Tak terasa kini usia kandungan Erina memasuki tiga puluh delapan Minggu. Di mana, Minggu-minggu ini Damar menjadi peran suami siap siaga.
Bukan hanya Damar saja, Zainal dan Tiara pun juga sama, khawatirnya dengan Damar. Hanya Bu Nurma saja yang tidak peduli dengan kehamilan Erina, bahkan saat menantunya akan melahirkan pun dia bersikap tidak perduli.
Dua Minggu kemudian, di kediaman keluarga Prasetyo, terdengar suara bayi yang memberikan suasana baru di rumah itu. Erina dan Damar sekarang mempunyai peran baru sebagai orang tua. Zainal dan Tiara pun juga merasa bahagia, dengan kehadiran bayi laki-laki yang terlihat lucu menggemaskan.
Bukan hanya mereka saja, Denada pun sedikit sudah mulai memberikan perhatiannya kepada kakak iparnya, meskipun kadang nada bicaranya terdengar tak mengenakan. Bagi Erina sudah membuatnya sedikit bahagia, setidaknya adik iparnya masih ingin menyapa dirinya.
Bayi laki-laki, yang di beri nama Ezio Damar Al zayyan. Membuat suasana rumah itu menjadi berwarna.
Sikap Bu Nurma kepada menantunya, tidak ada perubahan, masih bersikap acuh kepadanya. Meskipun begitu, Erina tidak ingin mengambil pusing, yang terpenting ibu mertuanya peduli dengan cucunya.
Saat jam tujuh pagi, Erina membawa baby Zio ke halaman rumah, dengan menggunakan stroller bayi. Dari dalam rumah, Bu Nurma melihat menantunya sedang membawa cucunya, dirinya pun langsung menghampirinya.
"Zio, cucu omma," panggil Bu Nurma saat melihat Erina menjemur bayinya pada sinar matahari.
Seketika troli bayi yang Erina bawa, di ambil olehnya. "Kamu masuk sana, siapkan air hangat untuk cucu saya!"
"Iya Mah." Tanpa pikir panjang, Erina segera meninggalkan ibu mertuanya dengan baby Zio.
"Satu lagi, jangan mentang-mentang kamu habis melahirkan, jangan malas untuk bergerak. Tadi saya membeli jamu, untukmu. Agar ASI kamu banyak, karena saya tidak ingin cucu saya kekurangan Asi. Mengerti kamu!" ucap Bu Nurma dengan nada ketus.
Meskipun bicaranya tak mengenakkan, tetapi bagi Erina itu adalah bentuk perhatian yang di berikan ibu mertuanya, secara tidak langsung.
"Iya Mah, nanti Erin minum jamu yang sudah Mama belikan untukku. Terimakasih sudah perhatian kepada Zio,"
"Eemm ..." jawab Bu Nurma.
Erina segera bergegas melakukan apa yang di pinta ibu mertuanya.
Kini waktu sudah menunjukkan sore hari, Baby Zio setelah bersih dan wangi di bawa bermain bersama Zainal dan Tiara. Mereka sangat bahagia dengan adanya baby Zio di tengah-tengah mereka. Setelah Zio tertidur, barulah Tiara membawanya kepada Erina kembali.
"Erina, baby kamu gemesin tau gak? Dari tadi Mas Zainal tertawa melihat anakmu merengek," cerita Tiara.
"Oh ya Kak, Zio memang sangat lucu. Mas Damar aja, selalu tersenyum ketika melihat putranya," timpal Erina.
"Aku berharap secepatnya aku di berikan momongan. Aku yakin, kehadiran Zio memberikan mukjizat untuk kita semuanya," ucap Tiara dengan wajah berbinar.
"Iya Kak, aku juga yakin seperti itu. Semoga saja baby Zio mendapatkan teman main dari dirimu mu, dan kak Zainal," timpal Erina dengan menyentuh tangan Kakak iparnya.
"Amiin ..." kata Tiara mengusap wajahnya, dan mereka pun tertawa.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments