Erina meninggalkan dapur dengan rasa sakit yang saat ini dirasakan. Dia masuk ke kamar, dengan air mata yang tak hentinya menetes. Baru kali ini merasakan dirinya tak di hargai oleh seorang ibu.
Saat berada di dalam kamar Erina menangis, karena hatinya terasa sakit. Saat ibu mertuanya, begitu sangat membenci dirinya.
"Kenapa Mama begitu tidak menyukai aku, sebenarnya aku mempunyai salah apa? Sampai dia membenci aku seperti ini, bahkan aku tak dianggap sebagai menantunya."
Setelah Erina cukup tenang, dia pergi ke sebuah supermarket, untuk membeli buah dan makanan, untuk disimpan di dalam kamarnya. Agar suatu saat, jika dirinya ingin mencari makanan, tidak perlu mengambil dari isi kulkas milik mertuanya tersebut.
Setelah sampai di Supermarket, Erina melihat begitu banyak makanan yang dia suka. Bahkan dirinya sampai tak sadar, sudah mengambil banyak Snack di dalam trolinya.
"Astaga! Banyak banget, aku sampai lupa kalau sudah berbelanja. Ya sudah tidak apalah untuk stok di rumah, aku tidak ingin mama marah ketika aku mengambil makanannya lagi," Erina melangkah ke arah kasir untuk membayar belanjaannya.
Setelah dari Supermarket, Erina kembali ke rumah. Saat turun dari taksi online, Erina membawa 3 kantong belanjaan, dan dibawa masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan saat situ Bu Nurma dan Denada adik dari Damar, memperhatikan Erina ketika membawa belanjaan.
" Wiih ... ada yang habis borong nih? Kayanya punya banyak duit sampai belanja segitu banyaknya, lihat mah!" Kata Denada saat melihat Erina datang membawa tas belanjaan.
"Ya banyak duit lah! Secara dia 'kan dinikahi orang kaya, pasti dia hambur-hamburkan uang. Coba kalau bukan Damar yang ngasih duit, mana bisa dia membeli makanan segitu banyaknya? Dia hanya gadis miskin yang tidak punya apa-apa, terus dia merasa jadi ratu deh di rumah ini." Kata Bu Nurma membuat hati Erina terasa sakit mendengarnya.
"Maaf mah sebelumnya. Sebenarnya kenapa Mama begitu tidak menyukai aku, bahkan tega mengatakan itu kepadaku. Aku membeli ini semua, uangku sendiri, selama aku bekerja, aku menyimpannya. Bukan dari pemberian mas Damar, maaf jika perkataan aku membuat Mama tersinggung. Karena aku mengatakan yang sejujurnya." Jawab Erina dengan menahan rasa gerammya.
"Ternyata kamu sudah pintar membalikan perkataan Mama!" timpal Denada. "Dasar gadis kampung, dengarkan gue baik baik! Elo kalau bukan kakak gue yang nikahin, mana bisa elo belanja kaya begini. Hidup kaya ratu, harusnya elo berterimakasih, sama nyokap gue. Kalau bukan restu darinya, mana bisa elu jadi bagian dari keluarga ini." Mereka berdua menatap Erina dengan tatapan rendah.
Ingin sekali Erina menangis saat mendengar makian dari adik ipar,dan mertuanya. Hati terasa sakit, menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Aku sadar diri, kalau aku hanya gadis kampung, yang miskin, lalu dinikahi oleh mas Damar. Aku juga bukan gadis seperti apa yang kalian inginkan, tapi aku menghargai perasaan seseorang yang aku cintai, yaitu mas Damar. Aku juga rela, jika seandainya suamiku, mengajakku pindah ke rumah yang lebih kecil, aku ikhlas. Daripada aku di hina dan di rendahkan oleh kalian." Erina dengan sedikit keberanian mengatakan itu kepada dua orang yang menghinanya.
"Heran saya bisa-bisanya, Damar menikahi gadis kurang ajar seperti kamu. Sudah miskin, gak punya sopan santu pula!" ucap Bu Nurma, menghina Erina.
"Aku sadar, aku hanya gadis miskin yang di nikahi mas Damar. Terserah kalian mau mengatakan aku apa, yang jelas aku adalah bagian dari keluarga ini. Aku menantu, sekaligus istri dari putra Mama," dengan sekuat tenaga, Erina masih berdiri tegak menghadap dua orang yang selalu menghinanya.
"Sampai kapanpun, saya tidak pernah menganggap kamu sebagai menantu saya!" dengan senyum sinisnya. "Jadi jangan harap kamu di akui di sini, karena kriteria menantu saya tidak seperti kamu.
Sebenarnya anak saya tuh sudah buta, karena salah jatuh cinta dengan gadis seperti kamu," kata bu Nurma dengan ketus
"Dengarkan dan ingat baik-baik perkataan saya! Saya akan terus berusaha untuk membuat kamu pergi dari sini! Entah Damar yang akan mendepak kamu, atau mungkin kamu sendiri yang angkat kaki dari rumah ini!" ucap bu Nurma penuh dengan ancaman.
Seketika air mata Erina berhasil lolos, dan itu membuat Denada dan Bu Nurma tersenyum sinis.
Karena tidak ingin berdebat terlalu lama, tanpa ingin menimpali, Erina pun langsung pergi ke kamarnya. Dengan perasaan hancur yang berkeping-keping mendengar perkataan ibu mertuanya yang sangat menyakitkan baginya.
Erina menangis di dalam kamar tersedu-sedu
"Ya Tuhan, kuatkan hati ini, agar aku bisa menjalani hari-hariku. Serta lembutkanlah hati ibu mertuaku. Ya Allah semoga Mas Damar selalu menjaga hatinya untuku."
Sore harinya ketika Damar pulang, Erina menyambutnya dengan senyuman. Tentunya Damar merasa bahagia, saat istrinya menyambutnya ketika pulang dari kantor.
"Sayang kamu kenapa? Mata kamu kok sembab, seperti habis menangis?" tanya Damar, saat menatap istrinya.
"Masa sih Mas? Aku gak habis menangis ko," jawab Erina, dengan tersenyum menutupi matanya yang sembab.
"Kamu gak bisa bohong sama aku! Coba katakan, apa yang terjadi?" tanya Damar dengan tatapan menyelidik. "Kalau kamu gak cerita, aku akan tanya langsung ke Mama!" Damar hendak keluar kamar, namun dihalangi oleh Erina.
"Mas, tunggu!" Erina menarik tangan suaminya agar tidak keluar.
Damar pun menghentikan langkahnya dengan berusaha sedikit tenang, dan berbalik badan menatap istrinya.
"Masih ada yang ingin di sembunyikan dari suamimu!" ucap Damar dengan tegas.
Erina hanya menundukkan kepalanya, dengan mengigit bibirnya sendiri.
"Tapi kamu harus janji sama aku, kamu gak boleh marah dengan keluarga kamu!" pinta Erina.
Sebenarnya Damar merasa kesal, pulang kerja melihat wajah istrinya yang terlihat menyedihkan. Pastinya dirinya harus berada di posisi Erina, karena dia mengerti sikap wanita yang ada dihadapannya seperti apa.
"Ya, mas janji! Tidak akan marah dengan mereka, asal kamu jujur tidak ada yang kamu sembunyikan dari aku. Karena sudah jadi kewajiban aku, melindungi kamu, jika kamu di sakiti." Ucap Damar dengan menyentuh kepala istrinya, yang tertutup hijab.
Erina pun tersenyum mendengarnya, kalau suaminya berjanji tidak akan marah dengan keluarganya.
Erina menceritakan semuanya yang terjadi, ada bulir air mata, saat menceritakan itu. Berkali-kali juga Damar menghapus air mata, dari wajah cantik istrinya.
Damar sangat tak tega mendengar cerita bertapa jahatnya, ibu dan adiknya menghina Erina.
"Maafkan, mama dan adikku ya? Aku membawamu masuk ke keluarga ini justru membuat kamu terluka oleh perkataan mereka. Maaf ya!" Damar berlutut memeluk pinggang Erina.
Isak tangis terdengar dari Damar, dan itu membuat Erina menjadi merasa bersalah.
"Mas ..." panggil Erina, karena tidak ingin suaminya yang merasa bersalah. "Jangan seperti ini, ayo sekarang kamu duduk sini!"
Damar pun kini duduk kembali menatap wajah istrinya
"Aku bahagia menjadi istrimu, pria baik, dan penyayang seperti kamu. Aku juga akan sabar menghadapi keluarga kamu, semoga mama suatu saat bisa menerimaku sebagai menantunya," ucap Erina dengan senyuman
"Tapi mama sudah membuatmu sedih seperti ini." Damar menggenggam tangannya.
"Yang terpenting bukan kamu, yang membuatku sedih dan terluka! Aku hanya minta, kasih sayangmu, perhatianmu, dan hatimu, jangan berubah. Aku ingin kamu seperti ini, aku tidak ingin jika ada kata pengkhianat yang hadir di tengah-tengah hubungan kita!" pinta Erina.
"Aku berjanji, tidak akan berubah perhatianku, kasih sayangku, dan hatiku. Semua hanya untukmu, aku juga ingin selamanya hubungan kita akan harmonis seperti ini!"
"Aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia, jika kamu bisa menepati janji kamu, Mas." Ucap Erina, Damar akhirnya membawa istrinya kedalam pelukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments