"Tiara mungkin Minggu depan akan kembali, dia teramat rindu dengan orang tuanya,"jawab Zainal.
Zainal menatap Erina dengan tatapan menyelidik, sepertinya ada yang di sembunyikan olehnya.
"Apa ada sesuatu Rin? Kenapa kamu terlihat nampak murung?"
Dengan senyuman kecil, Erina menggelengkan kepalanya. "Tidak ada Kak. Aku hanya merasa kesepian! Kamu tau, mama jika dengan ku bagaimana. Rasanya beda hanya kalian berdua yang menjadi teman ku bicara,"
"Suamimu Damar! Apa dia tidak pernah mengajak mu keluar, sepertinya kamu terlihat sedang tidak baik-baik saja?" tanya Zainal memperhatikan wajah Erina.
"Adikmu akhir-akhir ini sibuk di kantor Kak. Aku tak tega jika mengganggu waktu liburnya untuk beristirahat!" jawab Erina dengan menunduk.
Entah kenapa Zainal merasa ada yang di sembunyikan oleh Erina, tapi karena adik iparnya tak mau bicara, dia tidak bisa memaksanya. Dirinya akan cari tau sendiri apa yang sudah terjadi.
"Erin, rumah ko sepi? Mama dan Dena, apa mereka sedang tidak ada?" Zainal melihat suasana rumah terlihat sunyi.
"Mereka sudah dua hari tidak pulang, katanya mau liburan seminggu atau bahkan lebih. Itu yang adikmu katakan Kak!" jelas Erina.
"Liburan? Kamu tau kemana?" Erina hanya menaikkan kedua bahunya.
"Kalau begitu, aku masuk kedalam ya Kak. Zio sudah tertidur," Zainal pun mengangguk.
Erina berjalan meninggalkan Zainal yang kini sedang mengamatinya. "Aku yakin sudah terjadi sesuatu yang tidak di ketahui Erin. Sebenarnya Damar sudah merahasiakan apa?"
Kini satu bulan sudah berlalu, Erina selalu terlihat murung. Apalagi Damar yang sering menghindar darinya, dan itu membuatnya merasa tak betah dengan keadaannya yang terus di acuhkan oleh suami. Tanpa mengetahui letak kesalahannya di mana.
Malam harinya, Damar sedang menemani baby Zio tertidur. Setelah putra kecilnya pulas, Damar pun pindah ke kamarnya, dan langsung beranjak tidur.
Erina yang sejak tadi memperhatikan suaminya dari balik cermin. Nampak Damar tak tertarik melihat penampilan istrinya yang sedang berhias, dan menggunakan pakaian tipis untuk dirinya.
Lagi-lagi Erina di buat kecewa dengan sikap suaminya yang terlihat mendiaminya.
"Mas Damar," panggil Erina, dan suaminya hanya membuka matanya saja. "Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini sikapmu berubah kepadaku,"
"Aku tidak kenapa-kenapa! Memang sikapku berubah bagaimana sama kamu?" Damar yang sudah mengubah posisi duduknya.
"Kamu gak sadar ya Mas! Sudah sebulan kamu seperti menghindar dari aku, dan kamu mendiami aku. Kalau aku punya salah ke kamu, beritahu aku!" Erina mengatakannya dengan lembut, tapi ada rasa sedikit emosinya.
"Kamu gak sadar, dalam sebulan ini kamu hanya menyentuhku dua kali. Selebihnya kamu menghindar dan setiap kali bicara nada kamu meninggi!" Erina sudah mulai tak kuat menahan air matanya, dan kesedihannya.
"Bahkan di saat aku seperti ini pun, kamu tak sedikitpun menatap aku Mas. Apa aku sudah tidak menarik lagi bagimu? Hiks ... hiks ... hiks ..." Erina sudah tak kuat menahan sesaknya akhirnya dia pun menangis.
Damar tak tega melihat istrinya menangis seperti itu, bulir bening pun juga keluar dari matanya.
"Kalau memang seperti itu, tolong kembalikan aku kerumah orang tuaku!" Damar tercengang mendengarnya. " Aku merasa seperti patung Mas berada di rumah ini, tak di anggap oleh ibumu, dan juga kamu!"
Erina meluapkan emosinya, karena dirinya sudah tak sanggup lagi, jika terus menerus diacuhkan oleh suaminya.
Damar menggelengkan kepalanya, dan segera memeluk istrinya yang menangis tersedu-sedu.
"Aku minta maaf, jika sudah membuatmu kecewa atas sikap ku akhir-akhir ini. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku sayang!" ucap Damar dengan memohon.
"Huuuuuu," Erina menangis tersedu-sedu, yang di rasanya begitu sesak. " Beberapa Minggu ini, kamu menjauh dari aku. Bahkan aku sampai tak mengenal sosok Damar, yang dulu!"
"Aku minta maaf, aku sedang menghadapi masalah di kantorku. Aku sadar, aku memang sudah menyakiti hati kamu. Tapi aku sayang sama kamu, aku tidak ingin sampai kamu pergi dari sini!"
Damar mendekap istrinya begitu erat, kecupan pun di berikan sebagai bentuk penyesalan nya. Dirinya merasa sangat menyesal telah membuat wanita yang begitu dia sayangi menangis.
Damar mengangkat istrinya dan membawa nya ke atas tempat tidur. Di sana Erina masih terisak, karena rasa sesaknya yang dia rasakan.
Merek saling menatap dengan tatapan rasa rindunya. Damar memberikan dekapan hangat dan kecupan kepada istrinya, agar istrinya tenang.
Semakin lama, kecupan dan dekapan hangat yang di berikan Damar. Menjadi semakin memanas, dan Erina merasakan sangat merindukan setiap sentuhan yang di berikan oleh suaminya.
Bahkan setiap kecupan yang di berikan, terucap kata maaf dari Damar. Entah kenapa Erina merasakan ada hal yang aneh dari suaminya.
Kini mereka berdua berada didalam satu selimut yang sama. Karena kegiatan yang mereka lakukan begitu sangat melelahkan, membuat Erina tertidur di dalam pelukan suaminya. Damar sebenarnya merasakan kerinduan teramat dalam kepada istrinya.
'Sebenarnya aku sangat merindukanmu sayang. Namun setiap kali ku menatap wajah kamu, aku selalu merasa bersalah, dan takut kehilangan kamu. Maafkan aku sayang! Aku sangat mencintai kamu.' Gumam Damar dalam hatinya, sambil mendekap erat istrinya.
Keesokkan harinya, sikap Damar sudah kembali seperti sediakala. Menjadi sosok yang hangat dan murah senyum, tak mejadi dingin seperti kemarin.
Zainal dapat melihat senyuman indah pada adik iparnya, yang selama dua Minggu kemarin sempat melihatnya murung.
Seminggu kemudian Tiara istri Zainal sudah kembali di kediaman Prasetyo. Erina terlihat bahagia, karena Kakak iparnya, sekaligus teman curhatnya datang.
Saat Tiara dan Erina sedang mengajak bermain putra mereka di ruang keluarga, dengan di teman suami mereka.
Tiba-tiba terdengar bunyi bel, Erina pun membukakan pintu. Saat pintunya terbuka, terlihat seorang wanita cantik dengan rambut sepinggang, memberikan senyuman kepadanya.
"Erina!" sapa wanita tersebut.
"Bukannya kamu temannya suamiku, yang waktu itu datang ke ulang tahun putra ku?" tanya Erina.
"Iya betul, aku Melody. Aku ingin bertemu Damar, apa dia ada?" tanyanya, membuat Erina mengangguk.
"Mas Damar nya ada, silahkan masuk!" Melody pun mengangguk dan tersenyum.
Erina mengajak Melody masuk menemui damar, yang dimana ada Zainal, Tiara Denada dua malaikat kecil.
"Damar!" panggil Melody membuat Damar pun menoleh dan terkejut dengan kedatangan wanita tersebut.
"Mel .. Melody, kamu ngapain kesini?" tanya Damar dengan sepontan, membuat Zainal menatap dengan selidik.
"Aku mencari-cari kamu Damar, di kantor kamu juga tak ada. Aku bahkan menghubungi nomor kamu juga selalu di rijek, dan terpaksa aku menemui di sini!" kata Melody dengan suaranya yang parau.
"Ada apa kamu mencari Damar sampai seperti itu?" tanya Zainal dengan tatapan menyelidik.
Damar dapat melihat wajah dingin dari kakaknya. Sedangkan Erina heran dengan sikap suaminya menjadi diam dan salah tingkah seperti itu.
"Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian, terutama pada kamu Damar!" kata Lody dengan tatapan emosi.
Tiara yang yakin sedang terjadi sesuatu antara Damar dan Melody. Akhirnya dia menyuruh ART nya untuk membawa Zio dan Arkana pergi dari sana.
Kini dua makhluk kecil itu sudah di bawa pergi, dan tinggal enam orang dewa dan tambah Bu Nurma yang hadir di sana.
Entah kenapa Erina merasa perasaannya tak tenang, seperti ada masalah besar yang datang di tengah-tengah mereka.
Sedangkan Damar sendiri merasa gelisah sejak kedatangan Melody ke rumah, dan itu membuat Erina merasa yakin kalau sesuatu sedang terjadi pada suaminya. Meskipun tak tau masalah apa yang sudah terjadi pada mereka.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
LISA
Wah jgn2 si Melodi ini blg klo hamil mesti itu ide dr Bu Nurma n Melodi setuju
2023-03-22
1