Erina memperhatikan wajah suaminya yang terlihat gelisah, dan itu membuat dirinya yakin kalau damar sedang menyembunyikan sesuatu.
"Apa yang ingin kamu katakan kepada kami, dan Mas Damar?" Nada bicara Erina penuh dengan penekanan.
"Aku hanya ingin memberikan ini kepada Damar, selanjutnya agar suamimu yang menjelaskan!" Melody mengeluarkan secarik kertas, kali di letakkan di hadapan Erina.
Dengan rasa penasaran Erina mengambil selembar kertas di atas meja, lalu di bukanya. Mata Erina terbelalak membaca tulisan di dalamnya, dengan menutup mulutnya sendiri, dan bahkan bulir bening pun berhasil lolos dengan sempurna.
"Sayang," Damar melihat tangan istrinya bergetar, lalu mencoba menyentuhnya, namu di tepis oleh Erina.
Erina menangis sejadinya lalu Tiara yang tepat di sampingnya, menenangkan adik iparnya. Damar semakin di buat tak berdaya melihat istrinya menangis.
Zainal yang melihat Erina menangis segera mengambil kertas lalu membacanya. Matanya terbelalak saat tahu isi tulisannya, lalu menatap tajam ke arah Damar.
Dengan tangan terkepal, Zainal berdiri menghampiri adiknya. Kerah baju Damar di tarik oleh kakaknya dengan emosi.
"Apa-apaan kamu, tega sekali kamu melakukan ini kepada istrimu! Kamu tega mengkhianatinya, dengan menghamilinya. Laki-laki macam apa kamu hah ....!"
PLAK!
Zainal menampar wajah Damar dengan sangat keras, membuat Melody,Tiara, Denada, dan juga Bu Nurma tercengang melihatnya.
BUGH ...
BUGH ...
BUGH...
Zainal menghajar Damar sampai tersungkur ke lantai.
"Zainal apa-apaan kamu menghajar adikmu seperti itu!" bentak Bu Nurma.
"Mas Zainal hentikan! Damar bisa mati, jika kamu hajar seperti itu!" pinta Tiara, yang ketakutan melihat kejadian itu.
"Adik seperti dia memang harus diberi pelajaran! Karena bisa-bisanya dia menyakiti hati istrinya, dengan mengkhianatinya!" ucap Zainal dengan memaki Damar
Terlihat di sudut bibir Damar, terdapat darah segar mengalir. Akibat Zainal yang memberi pelajaran kepadanya.
Bu Nurma pun mengambil dan melihat selembar kertas dan membacanya. Terlihat senyuman di bibirnya, lalu menetap Erina dengan tatapan sinis.
'Akhirnya gadis ini akan angkat kaki juga dari sini, tanpa susah payah aku berusaha untuk mengusirnya. Sebentar lagi akhirnya aku terbebas dari gadis miskin seperti dia.
Erina pun penghapus matanya dan menatap wajah ibu mertuanya, yang menunjukkan senyum kemenangan.
Erlina menghapus air matanya, lalu tersenyum menyeringai menatap Bu Nurma.
"Bagaimana Mama? Puas dan senang melihat aku akhirnya angkat kaki dari rumah ini!" Erina mengatakan itu dengan tatapan tajam ke wajah ibu mertuanya.
Bu Nurma hanya memberikan senyuman ke arah Erina, sebenarnya dia sangat marah. Melihat wanita yang tak pernah dia suka, mengatakan itu dengan tidak sopan.
Erina pun segera meninggalkan ruangan itu, dan jalan menuju kamarnya. Sedangkan Damar yang sudah terlihat lemas akibat kakaknya telah memberi pelajaran kepadanya. Melihat kepergian istrinya dia pun segera menyusul ke kamar.
Dengan isak tangis Erina mengambil mengemasi semua pakaiannya dan juga anaknya lalu dimasukkan ke dalam koper.
Damar yang melihat istrinya sedang berkemas, membereskan baju bajunya, lalu menahan segera menahannya.
"Sayang kamu mau ke mana? aku minta maaf! Aku mohon jangan pergi, aku tidak ingin tidak ingin jauh dari kamu aku tidak ingin pisah dengan kamu dan Ezio! Tolong kasih aku kesempatan Rin!" Damar dengan mohon dan berlutut di kaki istrinya.
"Kesempatan apa Mas, yang kamu maksud? Kamu sudah menggoreskan luka dan itu teramat sakit. Semenjak kita menikah tak sedikitpun aku dihargai oleh ibumu di rumah ini. Hari ini, justru aku mendapatkan luka kembali, dari kamu!" Semua yang di rasakan Erina bertapa sakit hatinya, kini di keluarkan segalanya.
Damar mendengarkan istrinya bicara hatinya penuh rasa penyesalan. "Kamu adalah sosok laki-laki, yang ku percaya, bisa menjaga hatiku. Kamu tau, aku bertahan disini, semata-mata karena kamu. Hanya kamu yang sayang dan mencintai aku, tetapi kamu juga yang memberikan luka itu!"
Damar masih berlutut memeluk pinggang Erina, dengan menangis karena sudah menyesal.
"Lepasin aku mas, aku mohon! Biarkan aku pergi!" Erina mendorong suaminya dengan sekuat tenaga.
Akhirnya tangan Damar terlepas dari pinggangnya. Erina mengemasi baju dari lemari ke dalam koper, dan Damar selalu mengikuti setiap langkah Erina.
"Sayang ini sebuah kecelakaan," Damar coba menjelaskan.
" Iya sebuah kecelakaan yang membuat gadis itu hamil, dia sedang mengandung anak kamu Mas!"
Sambil menutup koper itu, Erina menatap wajah Damar dengan tatapan kecewa.
"Aku baru ingat! waktu itu kamu pulang pag, dan sejak saat itu kamu mendiami aku. kamu juga mengacuhkan aku, bahkan sikap kamu yang kamu berikan untukku begitu dingin. Tanpa ku tau di mana letak kesalahanku!" Erina sambil menghapus air matanya.
"Sekarang aku baru mengerti kenapa kamu seperti itu? Ternyata kamu sedang menyembunyikan masalah kalau dia mengandung anak kamu," Erina tersenyum miris, meratapi nasibnya.
"Erina maafin ! Aku moho jangan tinggalin aku!" Damar mendekap erat Erina, seraya memohon.
"Terus kamu mau aku bagaimana? Tidak mungkin aku bertahan disini, dengan kondisi yang membuatku tersiksa." Ucap Erina dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku mohon, lepasin Mas! Kamu sudah ingkar dengan janji yang pernah kamu ucapkan,"
Kini Erina melangkah, mencari anaknya. Setelah putra kecilnya sudah berada dalam gendongannya, dia pun melangkah meninggalkan rumah itu, dengan menyeret tas koper.
Semua mata tertuju padanya, Erina melangkah dengan tatapan kosong. Membuat Tiara, Dena dan Zainal tak tega melihatnya. Sedangkan Bu Nurma menatapnya dengan wajah kemenangan.
"Erina ..." Teriak Damar, manggil istrinya, dengan wajah yang terlihat kusut.
Namun Erina tak mendengarnya, dia tetap melangkah meninggalkan rumah yang baginya itu adalah neraka.
Saat hendak masuk ke mobil, Tiara memanggilnya. Erina pun menoleh, lalu kakak iparnya segera menghampirinya.
Tiara memeluknya, dan Erina pun menangis tersedu-sedu.
"Aku pamit, maafkan aku ya? Ternyata aku tidak sanggup bertahan di sini." Ucap Erina dengan tersenyum kecut.
"Erina, jangan katakan seperti itu. Kamu sudah ku anggap seperti adikku. Jaga dirimu dan Zio , aku pasti sangat merindukan kalian!" Erina mengangguk.
Damar berteriak memanggil Erina, yang kini sudah berada di dalam mobil.
"Erina sayang. Aku mohon jangan tinggalin aku!" ucap Damar menggedor kaca mobilnya.
Door ... dor... dor!
"Erina aku mohon buka pintu mobilnya! Zio sayang, ini papa nak." panggil Damar memanggil putranya, yang hanya merespon dengan tawanya.
Erina melihat putranya hanya tertawa riang, ia pikir ayahnya sedang mengajaknya bercanda.
"Jalan Pak Joko!" kata Erina, kepada supirnya.
Erina pergi dari rumah itu dengan perasaan hancur. Sedangkan supirnya tak berani berkata apa-apa karena merasa tak tega dengan istri majikannya.
Dengan menempuh perjalanan hampir tiga jam lamanya. Kini Erina sudah sampai di tempat tujuannya yaitu ke rumah orangtuanya.
Pak Bagas yang kebetulan sedang bersantai di teras rumah. Melihat ada sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Saat dia lihat ternyata putri dan cucunya, dengan cepat beliau menghampirinya.
"Erina," saat pintu pagar terbuka, dan melihat cucunya dan putri kesayangannya, datang dengan membawa koper yang cukup besar.
"Ayah," Erina pun mencium tangan ayahnya pria yang sudah merawatnya sejak kecil.
Dengan rasa teramat rindu, dan dengan perasaannya saat ini. Saat sang ayah memeluknya, Erina pun menangis. Entah kenapa pak Bagas merasakan sakit, ketika putrinya berada di dekapannya.
Bersambung
...****************...
Assalamu'alaikum! Hai hai hai...terimakasih yang sudah setia membaca sampai hari ini. Senang banget rasanya kalian mau membacanya. Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak 👍 kalian ya 🤗.
Oh iya Karena besok sudah masuk bulan ramadhan, author mengucapkan mohon maaf lahir batin ya🙏 Kalau ada salah dan kurang berkenan dalam tulisan ku.
...Mari kita sambut bulan suci Ramadhan dengan semangat. Marhaban ya Ramadhan 🙏🙏🙏...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
LISA
Tuh kan bener bgt..ternyt si Melodi hamil..Damar ini bener2 ga tegas..udh Erina jgn harapkan laki2 spt Damar..
2023-03-23
0