BUGHH
BUGHH
BUGHH
"PUNYA NYAWA BERAPA LO, HINGGA HILANGIN BENDA BERHARGA GUE, HAH?!!" Intonasi tingginya menggelegar di ruangan, matanya memerah ibarat manusia yang menjelma menjadi iblis, dengan api yang berkobar ia menghajar cowok yang sudah terkapar di bawahnya habis-habisan. Secara berkala pukulan demi pukulan sadis Adelio hantamkan pada wajah Saka hingga kepalanya tertoleh kanan-kiri pasrah menerima semua serangan, babak belur menghiasi wajahnya yang sebelumnya sudah ada kini makin parah.
Gio dan anak-anak Aodra lain yang hadir di sana meringis pelan menonton adegan action. Saka yang di pukuli oleh Adelio--pemimpin geng Aodra, mereka juga penasaran seistimewa apa pemberi teropong itu hingga membuat Adelio menggila.
Dadanya naik turun setelah puas menyalurkan kemurkaannya, Adelio sontak melepas kasar cengkraman nya pada kerah baju Saka mengakhiri serangannya, ia meludahi Saka yang terbaring lemah tidak berdaya lalu bangkit berjalan ke arah pojok, duduk di salah satu kursi panjang yang berbahan kayu.
Tangan Adelio terulur meraih sebungkus rokok dari meja yang terpatri di depannya, lalu usai menyalakan, ia menyulutkan seraya memangku kaki, punggungnya menyender di sandaran kursi berusaha menenangkan diri. Anak-anak lain membantu Saka yang nyaris kehilangan kesadarannya untuk bangun. Sedangkan sebagiannya hanya bisa melihat Adelio dengan mulut terkatup tidak berani mengeluarkan kalimat sedikit pun.
"Gio!!"
Tersentak Gio mendengar namanya di sebut oleh Adelio, meneguk ludah susah payah takut-takut ia menyahut, "I-iya, Lio? ada apa?"
"Di mana cewek yang kalian jadikan sandera?!!"
"D-digudang!!" Gio gugup setengah mati, takut akan menjadi sasaran. Sekian menit menumpulkan rokoknya, Adelio berdiri dari duduknya. Tidak luput dari perhatian para anggota Aodra ia melangkah menuju gudang, mereka dapat bernafas lega karena figur Adelio sudah menghilang dari pandangan mereka.
"Lo sih! kan udah gue bilang ambil kembali barang itu!!" Cetus Gio kepada Saka yang sedang di papah oleh dua anak Aodra, wajahnya nampak terangkat lemah sekali, terdapat bercak darah di sudut bibirnya. "G-gue kelupaan tadi karena nemu cewek itu.." lirihnya.
"Masih mudah lo udah pikun!" tandas Gio.
Tiba di gudang, kebetulan di waktu yang pas Ruby sadar dari pingsannya, ia masih menunduk mulai sedikit memberontak di kursi lapuk yang membelenggu tubuh atasnya hingga kaki, bukannya terlepas malah hanya kursinya yang goyang-goyang, dapat ia tangkap derap langkah mendekat dan sepasang kaki berhenti tepat di depannya.
Kepalanya sontak terdongak saat Adelio menjambak rambutnya hingga otomatis tatapan keduanya saling terkunci satu sama lain, kening Adelio nyaris menyatu melihat gadis yang tidak asing ini, Ruby juga tidak kalah mempekerjakan pikirannya berusaha mencari informasi cowok yang terlihat familiar di benaknya.
"Lo---?"
"Adelio?!" "Ruby?!" Ruby dan Adelio bersuara secara serempak.
***
Adelio adalah teman SD Ruby, keduanya sangat dekat karena di Australia mereka bertetangga. Setelah lulus SD mereka terpisah sebab orang tua Adelio bercerai dan Adelio memilih ikut Ibu nya yang lebih menyayanginya dari pada Ayahnya yang sama sekali tidak menginginkan akan dirinya, Ibu Adelio berasal dari negara Indonesia hingga menyebabkan Adelio berakhir tinggal di Indonesia di masa kini.
Orang yang istimewa pemberi teropong itu adalah Ruby. Adelio pengagum jutaan bintang di atas langit hingga di kelas empat SD ketika Adelio ulang tahun, Ruby yang tahu apa kesukaannya, memberikan itu sebagai hadiah. Sebenarnya, Ruby ingin memberinya hadiah teleskop tapi mengingat benda itu terlalu besar untuk di bawah ke mana-mana, sepertinya yang sederhana lebih baik.
Sang pemberi jauh dari jangkauan Adelio, tidak ada hal lain yang dapat Adelio lakukan selain hanya menjaga dan mengistimewakan teropong itu untuk mengenang Ruby.
Hingga Adelio menjadikannya sebagai mainan kalung dan ia tenggar di lehernya, membawanya ke mana-mana. Ketika tawuran, Adelio sengaja menyimpannya di tempat aman yakni di bawah pohon agar tidak rusak ketika ia bertarung.
Menciptakan kemarahan besar dalam diri Adelio kala tahu jika teropong itu hilang, masih sedikit berbelas kasih hingga tidak membunuh orang yang berani-beraninya menghilangkan benda kesayangannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments