Dengan tangan bertumpu pada pembatas balkon, kepulan asap rokok juga ikut menyertai di sekitarnya. Pandangan Athala mengadah keatas. Di mana ada langit malam di hiasi taburan bintang dan sang rembulan.
Akan lebih bagus jika Athala hidup hanya menjadi hiasan langit. Ada hanya di malam hari dan tidak terbebani oleh banyak tanggungan yang harus di pikul. Cukup muncul di waktu tertentu kemudian tugas hanya berdiam diri namun indah di mata siapapun yang memandang.
Sayang sekali, itu hanya akan menjadi angan-angan untuk Athala yang tidak mungkin terwujud. Manusia ya tetaplah manusia. Makhluk yang tidak luput dari beban. Jika ingin hidup tanpa masalah maka matilah. Memasuki usia dewasa adalah fase paling berat. Tidak kenal lelah, tidak kenal letih dan penat. Cukup rehat di waktu matahari sudah pergi di gantikan rembulan kemudiaan kembali beraktivitas jika sang masa kembali berputar.
Iya, segenap makhluk hidup memang seperti itu. Dan sebagiannya, tidak. Terutama Athala. Ia menderita insomnia hingga mau tidak mau Athala mengesampingkan dampak dan harus mengonsumsi obat tidur.
Athala tidak menyadari bahwa jika mem-flashback, ia dapat tidur pulas tanpa bantuan obat ketika malam kelam terenggut keperjakaannya.
Sudah beberapa hari terlalui, bagaimana kabar gadis kecil itu? pikir Athala lalu menggelengkan kepalanya cepat menghempas pikiran itu, buat apa ia ingin mengetahui kabar gadis itu. Biarlah mau kabarnya baik-baik saja atau buruk, bukan urusannya.
"Tha, gue udah dapet informasi tentang gadis itu."
Athala menoleh begitu suara bariton Reygan terdengar di indera pendengarannya. Ia melihat Reygan yang melangkah ke arahnya dengan membawa sebuah map. Memang tidak sia-sia Athala menugaskan Reygan yang mencari informasi tentang gadis itu. Padahal Athala rasa baru sekejap, asistennya ini sudah berhasil mendapatkan apa yang di perintahkan.
"Sepertinya, kalian memang di takdir kan untuk berjodoh."
Mendengar ucapan Reygan, alis Athala mengernyit bingung apa yang di maksud oleh Reygan. Satu kali sesapan lagi, ia membuang putung rokoknya tidak lupa menginjaknya. Tangannya mengambil ali map dari pemberian Reygan.
"Oh iya, gue udah atur jadwal lo untuk besok, kita bisa berkunjung ke markas sore hari."
Athala hanya mengangguk-angguk sebagai respon dari perkataan Reygan, tangan Athala sibuk membuka map. Untuk sejenak ia meneliti dengan seksama identitas gadis yang bernama lengkap Ruby Aileen Levarendo.
"Gue dapet sebagian infonya dari salah satu murid SMA Cakrawala."
"Jadi sekolahnya di Cakrawala? tempat SMA kita dulu?"
Tidak ada yang Reygan lakukan selain hanya mengangguk membenarkan. Kelihatan mudah, tapi sejujurnya Reygan cukup bersusah payah mendapatkan identitas asli Ruby. "Sebagian identitas cewek itu palsu, gue aja sempat terkecoh. Untungnya udah kelamaan berdampingan dengan lo, kecerdasan lo nular ke gue. Masa iya dia make marga keluarga yang kabarnya udah punah sejak tiga tahun yang lalu. Kalo hanya orang biasa mah gak bakal tahu. Lumayan sulit menguak identitas aslinya tapi-- akhrinya bisa dapet juga."
"Levarendo? kayak gak asing." Gumam Athala.
"Masa lo gak inget?" sahut Reygan mengajukan pertanyaan membuat Athala memutar otaknya untuk beberapa saat.
Sepersekian detik barulah ia mengingat sesuatu. "Huh, dia?" Athala tersenyum smirk terlihat mengerikan. "Kali ini, gue gak akan biarin lo lepas lagi dari genggaman gue."
"Katanya baru-baru ini dia putus dari cowoknya, penyebabnya orang ke tiga."
Athala menoleh lagi saat mendengar kenyataan itu, "Really?" Anggukkan dari Reygan yang menjadi jawaban, seketika pikirannya berkelana kembali berputar ke malam itu, apakah itu penyebab dia pergi ke Club?
"Gila sih, lo nyelidikinya sampe ke akar-akar. Btw thanks ya." Athala berkata mengacu ke sanjungan, merangkul Reygan yang menyikut dadanya main-main.
"Elah, lo kek sama siapa aja. Sante aja kalo sama gue." Hubungan Athala dan Reygan memang akur dari SMA karena di masa itu Reygan menggelar sebagai wakil ketua dari Geng yang di pimpin oleh Athala. Hingga keduanya sering bekerja sama dalam mengatur strategi atau pun trik dalam pertarungan melawan musuh.
***
Selepas menangis menumpahkan segala emosi dan keluhan yang terpendam, dan yang paling terutama hubungan mereka bisa resmi kembali terjalin, Ruby berakhir di antar oleh Alan. Sebelum memulai perjalanan, Alan berbicara empat mata dengan Ruby, menjelaskan segala penyebab ia selingkuh, Ruby rasa dapat memakluminya. Dirinya lah yang terlalu egois lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri tanpa tahu itu menyakiti pasangannya sendiri.
Perjalanan mereka hanya ada keheningan yang di isi oleh suara musik radio mobil yang melantunkan lagu asmara mirip dengan suasana di antara mereka yang persis dengan remaja yang baru mengalami kasmaran.
Kalung dengan mainan berbentuk love yang sempat dibuang oleh Ruby kala itu, kembali mengalun indah dileher Ruby, kalung liontin itu menjadi simbol jika mereka telah kembali menjalin kasih.
Alan nampak fokus mengemudi sementara tangannya setia menggenggam tangan kecil dan halus Ruby, sesekali mendaratkan ciuman di punggung tangan mungilnya.
Terlihat tenang hanya menatap keluar jendela mobil mangamati kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang pada malam hari. Padahal bibir Ruby sudah pegal terus berkedut mengulas senyum bahagia.
Ruby akui ia memang wanita gampangan yang mudah terbuai hanya dengan kata-kata. Katakan saja ia naif, itu berlaku karena sebagian besar dorongan hatinya untuk Alan yang bernotabe sebagai lelaki nomor satu di dalam hatinya hingga dapat membuat dirinya tidak ragu sedikit pun dan meluluhkan dirinya dengan mudah.
Deringan ponsel Alan tenggelam di musik yang terputar, tapi getarannya dapat sang empu rasakan. "Siapa sih? ganggu banget." gumam Alan jengkel karena walau enggan terpaksa harus melepas tautan tangan mereka.
Menghentikan mobil di pinggir jalan agar aman, lepas mematikan musik barulah ia mengambil ponselnya di saku dan menjawab telepon yang ternyata dari Gatra.
"Lo di mana?!!"
"Gue lagi dalam perjalanan nganterin cewek gue." Alan melirik Ruby yang mencebikkan bibir sewot mendengar Alan mengakui dirinya sebagai ceweknya.
"Idihh sembarang ngaku-ngakuin gue sebagai ceweknya padahal memang iya." racaunya menye-menye.
"Kenapa Tra?"
"Buruan kesini!! lo lupa malem ini kita bakal bertarung?"
"S.h.i.t! gue lupa ba.ng.s.at!"
"Makanya cepetan, biar masih bisa ke buru. Kami udah dalam perjalanan."
"Tapi---"
Tut Tut Tut
Belum juga tuntas apa yang akan di ucapkan oleh Alan, Gatra dengan seenaknya sudah menutup panggilan. Alan meraup wajahnya gusar. Lalu bagaimana sekarang? mengantarkan Ruby tidak akan ke buru untuk ke sana, waktu sudah mepet sekali.
Alan menaruh ponselnya di laci dan meraih setir, dahi Ruby membentuk sebuah garisan bingung saat Alan malah memutar setir ke arah berlawanan dari jalan menuju rumah Flora. "Lan? kamu mau bawa aku ke mana?"
"Aku lupa malam ini ada urusan penting sama temen-temen aku. Kamu ikut aja ya? bentar doang. Kalo udah beres, aku bakal anterin kamu pulang." Alan memacu kecepatan mobilnya melaju di atas rata-rata membela jalan lalu lintas yang masih ramai oleh berbagai tranportasi yang beroperasi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments